Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Pindah apartemen


__ADS_3

Setelah kepergian mereka dari rumah Sonia, kini Ragata sudah memiliki apartemen sendiri.


Tinggal di kawasan apartemen dengan penjagaan ketat khusus para pengusaha. Dan beruntung nya Abi Hendra di kenali di apartemen itu sebagai tamu kehormatan dari pemilik apartemen itu sendiri.


Dan saat ini, mereka sedang ngumpul bersama disana dan makan siang bersama di apartemen mewah milik Ragata saat ini.


Para tetua sibuk dengan percakapan bisnisnya, sementara Raga duduk termenung seorang diri.


Pemilik apartemen yang ternyata keturunan Indonesia itu, juga memiliki seorang putri dan sekampus dengan Ragata.


''Kenalkan ini putriku, Katrina.'' ucap Tuan Dewa pemilik apartemen yang di tempati Raga saat ini.


''Hallo Om, Tante. Senang bertemu dengan kalian berdua.'' ucap Katrina sambil menyodorkan tangannya pada Abi dan ummi Hani.


Abi Hendra hanya mengangguk saja dan tidak mengulurkan tangannya. Abi Hendra memiliki firasat buruk juga dengan hal ini.


Entah kenapa, semenjak perkataan Ira seminggu yang lalu, kini Abi Hendra begitu menjaga jarak dengan para gadis muda.


Ummi Hani hanya tersenyum melihat sikap Abi Hendra. ''Salam kenal juga Katrina.'' sambut ummi Hani.


''Itu putra Tante ya?'' tanya Katrina .


''Ya, dia sedang dalam bersedih karena ISTRINYA sedang marah padanya. Maklum, anak muda.'' sahut ummi Hani, sengaja untuk menekankan pada Katrina status Raga saat ini.

__ADS_1


Ia juga merasa khawatir. Benar kata Ira. Pesona Ragata begitu kuat di kota ini. Ummi Hani menghela nafasnya.


''What? Sudah menikah? Masih muda loh.. itu nggak mungkin tante!'' bantah Katrina sambil tertawa mengejek pada ummi Hani.


''Aku tidak butuh kepercayaan mu untuk percaya jika aku sudah menikah atau tidak! Cukup aku dan keluarga ku yang tau. Jika kau keberatan, silahkan keluar! Pintu disana! Dan ya. Jika kalian tidak ingin menerima penyewa sepertiku, baik. Aku akan pergi dari sini. Inggris ini kota besar! Ayo Ummi, Abi! Kita pergi! Bosan aku selalu berhadapan dengan orang yang bermuka dua seperti ini!''


Deg!


Gadis seumuran Ragata itu terkejut. Secepat kilat ia merubah ekspresi nya menjadi tersenyum kembali. Tidak seperti tadi. Tersenyum, tapi mengejek.


Raga menatap datar pada gadis itu.


''Kamu-,''


''Ayo Ummi, Abi. Kita pergi. Sudah berulang kali aku katakan, jika aku tidak mau tinggal di tempat mewah seperti ini. Aku lebih baik tinggal di kontrakan bersusun Kumuh namun setiap orang yang ku temui cuek dan tidak bermuka dua. Aku Pergi! Assalamualaikum.''


Lagi, Ragata menolak apartemen pemberian rekan bisnis nya itu. Sebelum pergi, Abi Hendra semapt meminta maaf atas perkataan Ragata baru saja kepada pemilik apartemen itu.


Tiba di dalam mobil, Abi Hendra buka suara.


''Jika tau seperti ini kejadian nya, kenapa dulu kamu sangat ingin kuliah disini? Bukankah di Indonesia juga banyak?'' tanya Abi Hendra saat mereka sudah berjalan keluar apartemen rekan bisnis nya itu.


''Aku terpaksa melakukan semua ini karena istriku Abi. Jika bukan karena nya, aku juga tidak mau harus sekolah jauh darinya seperti ini.'' Jawab Raga dengan menahan sesak di dada saat mengingat Ira.

__ADS_1


''Ummi paham nak.. tapi kan tidak mesti di Inggris?''


''Hanya Inggris yang punya kualitas itu, Ummi. Maka dari itu aku terpaksa mengambil langkah ini. Walaupun berat tetap harus ku jalani. Demi Istriku.'' lirih Raga dengan mata menatap keluar jendela mobil yang ditumpangi nya.


Abi Hendra dan ummi Hani hanya bisa pasrah saat ini. Benar apa kata Raga. Semua yang ia lakukan ini demi Ira.


Ira Sarasvati. Adik kecil yang pernah ia temui dan ia tabrak dulunya saat ia pergi bersama Opa dan Omanya.


Mengenang beberapa tahun silam itu, Raga tersenyum lembut saat melihat Ira menangis tanpa henti karena Kakinya yang terluka karena berdarah.


Gadis kecil berhijab, sudah memikat hatinya pada saat ia masih duduk di kelas empat SD. Gadis yang dulu sering ia cerita kan kepada ummi dan Abi nya ketika mereka jalan-jalan ke taman kota Medan.


''Aku merindukan nya Ummi.. dan sekarang? Aku harus apa? Apakah aku sanggup melewati ini tanpa kabar darinya? Selama ini aku bertahan karena nya.'' lirih Raga lagi masih dengan tatapan mata kosong.


''Bersabarlah nak. Semua yang manis dan indah itu tidak semerta-merta kita dapatkan dengan mudah. Ada harga yang harus di bayar mahal saat kita harus mendapatkan itu. Tapi percayalah. Setiap yang kamu perjuangkan demi istrimu, pasti Allah akan membantu mu. Abi yakin, kamu pasti bisa! Semangat!'' seru Abi Hendra.


Pada saat ini Mereka sudah tiba di apartemen yang lainnya. Hanya berjarak tiga puluh menit dari kampus Ragata.


Apartemen kali ini tergolong bebas. Raga menyukai suasana di apartemen ini. Setelah membayarnya, dengan segera ia masuk dan mulai menyusun semua alat tulis serta bukunya.


Sementara Ummi Hani dana Abi Hendra sedang berbelanja keperluan Ragata saat di apartemen itu nantinya.


Tanpa ia sadari, di apartemen inilah yang akan membuat hidupnya hancur tak bersisa. Memantik api dalam sekam. Hingga marak dan terbakar karena sengaja ia tumpahkan minyak di atasnya.

__ADS_1


Akankah Ragata mampu menahan bara api dalam sekam ini?


Ikuti terus kelanjutannya!


__ADS_2