Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Aku milikmu!


__ADS_3

Warning !!


Area 21+ Yang masih bocil jangan dibaca yah. Othor kagak mau tanggung jawab!


Skip aja!


💗💗💗💗💗


Ragata membantu Ira membuka gaun pesta yang melekat di tubuh ramping nya. Kancing baju yang berada dibelakang itu begitu banyak


''By?''


''Hem?'' sahut Raga dengan tangan masih membuka kancing itu satu persatu.


''Susah ya? Di gunting ajalah!'' kesal Ira.


''Hah? Kenapa harus di gunting? Aku bisa loh.. membukanya?'' jawab Raga ia masih saja berkutat dengan kancing baju itu satu persatu.


''Ck! Para orang tua suka banget sih menyiksa aku dengan baju seperti ini? Ishh.. gerah ih! Mau mandi, By..'' rengek Ira.


Cup!


Ia mengecup bahu polos Ira yang sudah terbuka separuh. Ira terkejut. Bulu halusnya berdiri.


Cup!


Raga mengecup lagi bahu polos itu dengan tangan masih bergerak membuka kancing baju Ira yang terakhir.


Cup!


Bibir bawah Raga semakin nakal saja. Ira merinding disko. Jantung nya sudah tidak bisa terkontrol lagi.


''By...''


''Hem?'' sahut Raga masih sibuk dengan bahu polos milik Ira. Ira mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa geli yang entah seperti apa.


''Jangan disini.. dikamar ya? Kita belum sholat loh..'' ucap pira lagi masih dengan memegang bajunya yang hampir terlepas semua.


Raga berhenti. Kemudian ia terkekeh. ''Maaf hunny. Udah kangen banget sama yang ini. Terakhir kali saat aku mau ke Inggris waktu itu. Hemmm.. kangen banget sama kamu!''


Ira memutar bola mata malas, ''Sebulan kita berdua di rumah sakit, emangnya nggak puas ya?'' tanya Ira, ia bergerak melangkahkan kakinya untuk naik ke tangga.


Raga pun mengikutinya dengan ekor baju Ira, ia yang memegangnya. Satu persatu tangga dinaiki.


Tiba di depan pintu kamar utama, Ira mematung. Raga tersenyum.


Cup!


Lagi kecupan singkat itu ia berikan pada bahu polos Ira. Ira menoleh, ''Di sini?''


Raga menggeleng, ''Bukan. Kamar kita di ujung sana. Ngapain kamu berhenti disitu?''


Ira terkekeh, ''Kirain kamar bekas wanita itu jadi kamar kita!''


Raga tertawa, Ira berjalan menuju ke kamar mereka. Kamar rahasia mereka. Tiba di pintu yang sudah di ubah oleh Raga itu, Ira menekan kode password nya.


Klik!


Pintu terbuka. Ragata melotot pada Ira yang sedang nyengir kuda. ''Dari mana kamu tau jika itu kode password kamar rahasia ini? Dua kali aku ganti, dua kali kamu bobol! Ck!'' decak Raga dengan kesal.


Ia mendorong Ira untuk masuk ke kamar mereka.

__ADS_1


Cetak!


Saklar lampu Ira hidupkan. Lagi, mulut mereka berdua menganga. ''Siapa yang hias kamar ini By?''


Raga menggeleng. ''Apa jangan-jangan... Papi dan kedua adikmu? Lana dan Rayyan?'' tebak Raga.


Ia bisa menebak itu karena melihat tulisan Lana disana.


SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU UNTUK KAK IRA & BANG RAGA!! SEMOGA KALIAN SUKA... 💗💗😊


JANGAN MARAH YE... 😁


Ira dan Raga terkekeh-kekeh membaca tulisan yang ada di kepala ranjang mereka. ''Ayo, kita mandi air hangat dan juga sholat isya yang sudah tertinggal terlalu lama.'' imbuh Raga. Ira mengangguk.


Raga membantu Ira membuka gaun berat itu. Setelah semua terbuka, Raga memberikan Ira kain panjang yang tersedia disana.


Sempat heran, namun tidak ambil pusing. Yang penting tubuh Ira tertutupi. Cukup lima belas menit mereka mandi bersama.


Selesai mandi mereka melakukan sholat isya sekaligus sholat tahajud karena sudah masuk waktu tahajud.


Selesai sholat, Ira duduk di depan meja riasnya dan memakai skincare nya hingga selesai.


Semua itu tidak luput dari tatapan Raga. Ira ingin membuka gelang emas yang ada ditangannya, tapi Raga melarang.


''Jangan dibuka. Biarkan saja. Untuk kedepannya, kamu jangan pernah melepas gelang pemberian Nenek, ya? Kalau cincin boleh kamu lepas, karena terlalu banyak dan risih Kakak lihat nya!'' kata Raga dengan sedikit terkekeh.


Ira menurut. Ia membuka seluruh cincin pemberian keluarga nya tersisa hanya cincin mahar dari Raga saja.


Selesai dengan cincin itu, Ira mendekati Raga yang sudah menunggu nya sedari tadi. Ira tersenyum manis.


Wajah kuning Langsat, mata bulat, hidung tidak terlalu mancung, bibir tipis menambah daya pikat saat Raga menatap nya dengan dalam.


Ira mengangguk malu. Wajah itu bersemu merah. Raga meyapit dagu manis itu. Tangan kirinya ia sentuh tangan Ira yang menganggur.


Ia pegang tangan halus itu dengan lembut, kemudian ia berbisik di telinga Ira.


''Bimillahi allahumma jannibissyaithoonaa wa jannibissyaithoonaa maarozak tonaa..''


Artinya : ''Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkan lah kami dari ( gangguan ) setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang akan Engkau anugerah kan kepada kami.''


Raga mulai mengecup dahi Ira, kedua matanya, hidungnya dan terakhir putik merah jambu yang selalu Raga rindukan saat jauh darinya.


Ia memagut dan mengecup lembut putik merah jambu yang sudah halal untuknya itu. Tangan kiri nya mengelus tubuh Ira bagian belakang, membuat tubuh semampai itu seperti mendapat sensasi baru.


Hal ini sudah Ira rasakan dulunya. Masih teringat sampai sekarang, saat malam terakhir Raga menginap bersama nya.


Raga hampir saja membobol gawang milik Ira, jika Ira tidak menahan nya. Beruntung nya saat itu, Ira masih sadar.


Tapi tidak dengan kali ini. Malam ini ia menyerahkan seluruh hidup dan tubuhnya untuk suaminya seorang.


Suami yang sedari ia berumur tiga belas tahun sudah sah menjadi miliknya. Cinta masa lalu hingga berujung ke pernikahan.


''Ughh.. by...''


''Hem? Kenapa? Kakak baru mulai loh..'' goda Raga sambil tangannya terus bergerak untuk menyentuh apapun yang ia jumpai.


Ira sudah tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini. Ia benar-benar terlena dengan sentuhan Raga.


Setiap lekuk tubuhnya Raga kuasai tanpa terlewat sedikit pun. Hingga sesuatu yang dulu pernah di inginkan oleh Sonia kini resmi menjadi miliknya.


Rasa sakit yang tak tertahankan dari dorongan benda tumpul milik Raga, membuat Ira menangis.

__ADS_1


Raga ingin berhenti tapi tidak di izinkan oleh sang istri. ''Maaf hunny.. aku menyakiti mu. Ini hanya sebentar kok. Sabar ya? Cup!''


Raga mengecup lagi putik merah jambu milik Ira yang sudah membengkak itu. Sesuatu dibawah sana masih berusaha ingin masuk kerumahnya.


''Sssssttt.. sempit bangettttt hunny... ughhh..'' geram Raga pada benda yang bersifat elastis itu.


Ira mencengkeram erat tubuh Raga.


Ah...


Pekik Ira di dalam kamar itu. Raga tidak ingin menahan Ira dengan membungkam bibir Ira. Buat apa di bungkam? Toh, kamar mereka itu kedap suara.


Ira terisak. Raga terdiam. Susah payah menjebol palung surga milik Ira. Hingga percobaan yang kesekian kalinya, Raga berhasil membobol tanggul milik sang istri yang begitu sempit.


Cup!


Raga mengecup kening Ira dengan sayang. ''Maaf...'' hanya itu yang bisa Raga katakan


Sementara Ira masih terisak. ''Tak apa By! Aku ikhlas! Sekarang, aku milikmu! Seutuhnya menjadi milikmu! Selama hampir sebelas tahun aku menjaga diriku hanya untuk halal kamu sentuh, by.. lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Aku milikmu sekarang. Cup!'' Ira membalas kecup mata elang yang sedang menatap nya dengan mata berkaca-kaca.


''Terimakasih hunny .. Terimakasih... aku mencintaimu hunny. Sangat mencintai mu. Sungguh! Pertemuan ku pertama kali denganmu, aku sudah terpikat oleh pesona mu. My Queen.. Cup!'' kambali ia kecup putik merah jambu itu yang semakin membengkak karena ulahnya.


Setelah itu terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi sejak satu tahun lalu. Kini mereka telah bersatu.


Tubuh, hati dan jiwa mereka sudah bersatu. Mereka bergelut dengan rasa yang bergelora. Rasa yang dulu begitu Raga inginkan, namun tidak bisa terjadi.


Sering kali kecewa, tapi tidak bisa berbuat apapun karena Ira masih sekolah saat itu. Dan ummi Hani pun melarang nya untuk disentuh.


Tunggu sampai Ia pulang dari luar negeri baru bisa di sentuh. Ummi Hani punya tujuan itu. Dan ya, sekarang, tujuan itu tercapai.


Tujuan yang begitu mulia dan berpahala bagi sepasang suami istri. Tapi akan berdosa bagi yang melakukannya tanpa ikatan pernikahan yang sah.


Acara bercocok tanam itu terus berlanjut. Raga dan Ira tidak sadar akan waktu. Mereka masih mereguk manisnya madu pernikahan.


Lagi dan lagi. Tidak mau berhenti. Benar kata Raga, pantang sekali dirasa, pasti akan mau lagi dan lagi.


Dan inilah yang terjadi pada pasangan pengantin usang ini. Mereka masih hangat-hangat nya. Masih baru dan amatir, tapi semua itu terpuaskan karena mereka melakukan nya dengan ikhlas tanpa paksaan.


Hingga pergulatan itu berhenti saat suara alunan merdu di seluruh penjuru terdengar. Pasangan baru itu baru tumbang setelah puas mereguk rasa manis madu di dalam pernikahan.


Raga tertawa saat mendengar alunan merdu itu. Begitu juga dengan Ira. Yang berarti mereka tidak tidur satu malam.


''Ayo, mandi besar dulu. Setelah ini baru lanjut tidur.'' Ira memejamkan kedua matanya.


Raga terkekeh. ''Kamu masih ingatkan apa yang kakak katakan padamu dulu?''


''Hem.. Kamu tidak akan berhenti jika sudah merasakannya!!''


Raga tertawa. Ira pun ikut tertawa. Setelah itu mereka berdua mandi besar dan menunaikan sholat subuh.


Baru setelah nya mereka akan tidur. Untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah satu harian karena acara resepsi dan juga mereguk manisnya madu pernikahan.


💕💕💕💕


Maaf ye telat!


Maklum, othor lagi cari wangsit untuk malam bahagia mereka berdua!


Jangan minta yang hot! Othor tak pandai bust yang hot hot.


Hot hot pop! Makin gaya makin ngepop! eh? 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2