Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Tangisan Raga


__ADS_3

Ragata sesegukan setelah membaca surat itu. Surat cinta yang ditujukan sang istri untuk nya.


Tangannya terkepal erat, menggenggam kertas berwarna merah jambu kesukaan Ira itu.


Harum mawar dari kertas itu begitu menusuk relung hatinya. Wangi yang selalu ia rindukan di setiap malamnya.


Ragata menangis tak karuan. Ia memukuli dadanya yang begitu sesak karena membaca surat Ira. Sang istri tercinta.


''Tidaaaaaakkkkk... Iraaaaaaaaa... haaaaa... hunnyyy.... jangan pergiiiiii... kembaliii... iraaaaaaaaa...''


Deg!


Deg!


''Ragata!!!'' pekik ummi Hani saat mendengar suara jeritan Raga yang begitu menyayat hati.


Rayyan menunduk, tubuhnya berguncang. ''Maaf ummi... Abang tidak bisa menahan kakak untuk pergi... hiks.. maaf.. Abang kira, semua ini memang kak Raga pelakunya. Ternyata Abang salah .. maaf ummi.. Abang tidak bisa menahan Kakak hiks.. hiks..'' Isak Rayyan dengan air mata bercucuran.


Putra sulung Papi Gilang ini, sama seperti saudaranya yang lain. Hatinya begitu lembut. Mudah sekali tersentuh.


Apalagi menyangkut rasa sakit. Karena dia juga sudah merasakan sakit yang seperti ini. Sangat sakit.


Ditinggal pergi, dikala kita sangat mencintai nya. ( Kisah Rayyan sebentar lagi akan othor rilis. Othor siapkan Mak, papinya dulu, kakaknya, dan juga bang Lana )


''Ya Allah.. By.. putra kita...'' lirih ummi Hani dengan tubuh berguncang.

__ADS_1


Abi Hendra pun ikut menangis. Mendengar suara raungan Ragata yang begitu menyayat hati.


Bik Surti terkejut mendengar suara raungan itu. Ia membeku di tempat saat ketiga orang di sofa ujung sana juga ikut terisak.


Suara raungan dan pekikan memanggil nama Ira terus bergema. Bik Surti pun ikut menangis.


Ia berlalu menuju ke dapur dan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan nya. Ia menulikan telinga nya kala mendengar suara raungan sang majikan.


Sementara di dalam kamar rahasia milik Ragata, ia semakin menangis histeris. Melupakan tlrasa sesak dan rasa bersalah yang begitu menghantui nya saat ini karena Ira pergi dari kehidupan nya.


''Tidaaaaaakkkkk... iraaaaaaaaa... kembaliiiii... aku membutuhkan muuuuu... aaaaa... kembaliiiii... haaaaa.....'' tangisan Ragata begitu menyayat hati.


Siapa pun yang mendengar nya pasti tidak akan bertahan. Mereka pun akan ikut menangis.


Ia kesulitan bernafas. Ira tersengal-sengal. Ia memukul dadanya berulang kali. Sekelabat bayangan menghampiri diri nya.


''Hu-hubby...'' lirih Ira terbata karena lehernya terasa seperti di cekik.


''Allahu-ak-bar!!! Hubby...'' pekik Ira di dalam Mushola tempat mereka sedang singgah.


Para ustadzah yang sedang berwudhu pun terkejut dengan suara lengkingan Ira. Mereka bersama berlari mendekati Ira.


Dan betapa terkejutnya mereka, Jika Ira sedang memukul dadanya dengan kuat hingga terdengar suara seperti di pukul berulang kali.


Air matanya bercucuran di wajah halusnya. Sangat sesak. Tak tau harus berbuat apa. Semua yang ada disana membatu melihat keadaan Ira.

__ADS_1


''Allahu-ak-bar! Hubby.. ber-hentiiii... sakit! hiks.. hubby!!! ber-hentiiii...'' pekik Ira lagi sambil memukul dadanya berulang kali.


Seakan tersadar, Ragata berhenti. Ia juga ikut memukul dadanya dengan kuat. ''Sakit hiks Hunny.. sakkiiiiitttt... hiks.. tega hiks kamu hiks tingga-lin hiks akuuu.... iraaaaaaaaa... aaaaa..'' Raung Ragata dengan suara lirih.


''Ber-henti Hubby.. sakkiiiiitttt... A-ku akan kem-ba-bali lagi padamu hiks.. biar-kan a-ku per-giiii..'' lirih Ira dengan terus memukul dadanya yang begitu sesak.


Sangat sakit rasanya. Sesak sekali. Nafasnya seperti tidak mau keluar. Sangat sulit menghirup udara.


''Iraaaaaaa... Hunny... jangan pergi.. aku membutuhkan mu.. jangan lagi.. aku tak sanggup hidup tanpa mu.. cukup sudah delapan tahun kamu meninggalkan ku. Jangan lagi sekarang Hunny... Hiks.. Hunny... hiks..'' Isak Ragata lagi.


Begitu juga dengan Ira. ''Aku tidak akan meninggalkan mu. Aku pergi untuk sebentar. Mengertilah. Inilah yang aku takutkan, Jika aku memberi tahu mu. Makanya aku lebih memilih mengirim surat saja untukmu.. tolong... biarkan aku pergi...'' Isak Ira dengan bersujud disajadah nya.


Seakan tau jika itu adalah Ira, Ragata pun merebahkan dirinya di sajadah. Tempat dimana ia sedang duduk saat ini.


Ummi Hani, Abi Hendra, dan Rayyan tersedu melihat kerapuhan Ragata. Para penumpang di dalam travel pun ikut tersedu melihat Ira.


Gadis cantik berniqob itu terus menyebut nama sang suami hingga tidak sadarkan diri. Semua yang disana kaget melihatnya.


Mereka berusaha untuk menyadarkan Ira. Tapi tak kunjung sadar. Begitu juga dengan Ragata.


Seolah terikat, mereka berdua bisa merasakan sakit yang sama di saat mereka sedang terluka karena jalan takdir yang memilih seperti itu.


💕💕💕💕


Nyesek banget othor nulis part ini. Hiks.. 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2