
Semalaman Raga memeluk Ira yang terus ketakutan setelah melihat leser berwarna merah itu.
Setelah kejadian di mana Ira di cekik oleh penunggu hutan air terjun SiPiso-piso, kini Ira semakin takut.
Ira tak sekalipun melepas Raga. Sudah dua hari ini mereka didalam hutan. Besok, adalah hari terakhir mereka berkemah di air terjun Sipisopiso.
Raga menghela nafasnya berat. Melihat Ira yang tidak mau lepas darinya membuat Raga sangat kepayahan.
Saat mandi diikuti Ira. Saat wudhu pun sama. Bahkan ketika Raga buang air besar pun Ira ikut.
Sama sekali ia tak ingin melepas Raga. Raga jadi malu sendiri dengan tingkah Ira. Mandi pun harus dilihat Ira.
Bahkan buang air besar pun di tepi air terjun Ira ikut. Jangan tanya seperti apa Raga bisa buang air besar.
Raga terpaksa memeluk Ira dari belakang sakit takutnya gadis itu tak mau ditinggal oleh nya.
Kadang Raga jadi salah tingkah karena kelakuan Ira. Bagaimana tidak, Ira ingin mencoba untuk memandikan Raga, jika Raga tidak bisa mandi.
Begitu juga dengan buang air besar. Ira juga mau nyebokin Raga. Asalkan Raga tidak meninggalkan nya.
Raga hanya bisa pasrah sekarang. Besok. Ya, besok. Mereka akan keluar dari gubuk itu. Saat ini mereka berdua sedang mandi di tepi aliran air terjun Sipisopiso.
Ira tak mau jauh dari Raga. Seperti urat malunya sudah putus saat ini. Ira memilih mandi dengan menggunakan bajunya yang sudah koyak di dada nya.
Jika dipakai lumayan. Tapi ini hanya ia lilitkan di depan dada. Seperti melilit handuk. Rambut hitam yang tergerai membuatnya tambah seksi di depan mata Raga.
Raga menahan nafasnya saat Ira mengajaknya untuk mandi bersama. ''Ayo, kak! jangan lama-lama! aku takut kalau si merah itu datang lagi!'' ucapnya dengan terus menatap kesana kemari dengan awas.
Ira terus menggenggam tangan Raga. Tidak peduli jika saat ini Raga hanya memakai CD saja.
''Pulang dari sini, aku akan segera menikahi mu, Ra!'' ucap Raga membuat Ira menoleh.
''Apa kak??'' tanya nya.
Raga menghela nafasnya. ''Tidak ada apa-apa. Ayo mandi! Biar kakak cuci rambut mu. Ayo!'' titahnya pada Ira.
Ira mengangguk patuh. Mereka kini duduk di pinggir bebatuan dengan Ira duduk di depan Raga, sedang Raga mulai membasahi rambut Ira dengan air yang mengalir.
Raga menggunakan tempurung bekas makan mereka digubuk untuk dijadikan gayung. Ira terkekeh melihat nya.
Raga menahan nafasnya saat tangan Ira menyentuh paha nya. ''Kak??''
''Hem,'' sahut Raga.
Ira menoleh. ''Besok kita pulang??''
''Ya, besok kita pulang. Balik ih! ini rambutnya masih banyak buih shampo nya.'' sahut Raga masih dengan memijat lembut kepala Ira.
Ira terkekeh. Kadang bisa melihat Ira seperti itu membawa kebahagiaan tersendiri untuk Raga.
Semua itu hanya pada siang hari saja. Tapi malam?? Ira selalu ketakutan. Ia tidak mau jauh dari Raga.
Apalagi selama dua malam ini mereka terus diganggu oleh makhluk tak kasat mata di hutan itu.
Walau Timong dan sekawanan monyet lain masih terus disana, itu tak menyurutkan langkah penghuni hutan itu untuk mengganggu Ira.
Jika Raga tidak kuat, mungkin ia juga akan sama seperti Ira.
Selesai dengan mandinya, mereka kini kembali lagi ke gubuk tua. Disana Timong dan sekawanan monyet sudah menunggu mereka dengan banyak bahan makanan.
Ira tersenyum melihat itu. Ia mempercepat langkahnya menuju Timong. Tapi belum lagi ia sampai kesana, Ira melihat sesuatu melayang sangat tipis di tali jemuran.
Ira memicingkan matanya melihat kain itu. Raga yang keheranan pun ikut juga melihatnya. Raga tersenyum saat melihat kain tipis itu.
Ternyata Timong berhasil mendapatkan nya. ''Ayo! kamu harus berterima kasih kepada Timong! karena dialah yang menemukan hijab mu yang hanyut itu.''
__ADS_1
Ira menoleh dan melihat Raga yang sudah berada disampingnya. Dengan tangan kanan Raga sudah nangkring di pinggang ramping Ira.
''Benarkah??''
Raga mengangguk dan tersenyum. ''Ya, ayo!'' ajaknya.
Sampai disana, Timong langsung saja memeluk Ira dengan erat. Ira tertawa begitu juga dengan Raga.
''Terimakasih, terimakasih Timong!'' ucap Ira sembari memeluk tubuh monyet itu.
Timong membalas nya dengan pekikan khas suara monyet. Membuat telinga Ira berdenging. Ira jadi cemberut.
''Ishh.. pengang nih telinga ku!'' gerutu Ira pada Timong, namun tak melepaskan pelukannya dari tubuh halus Timong.
Ira semakin erat memeluk Timong. Ya, Timong adalah hewan peliharaan Raga saat ia masih berusia delapan tahun.
Saat berusia sepuluh tahun Raga terpaksa melepaskan Timong, karena Timong saat itu pernah melukai anak tetangga nya.
Dengan terpaksa, Raga harus melepas kan nya ke hutan. Hutan Berastagi pada saat itu. Raga sangat kehilangan Timong.
Sampai-sampai ia demam memikirkan Timong. Tapi apalah daya, ia terpaksa melepaskan Timong demi keselamatan nya.
Padahal semua itu bukanlah salah Timong. Tapi salah anak tetangga Raga itu. Raga tau, tapi mereka tetap Keukeh ingin membuang Timong.
Maka dari itu, dari pada dibuang ke tempat yang tidak jelas Raga memilih agar Timong dilepaskan di hutan.
Hutan Berastagi. Dan tak disangka, lima tahun berlalu namun Timong masih bisa mengingat Raga.
Majikan nya. Majikan yang sangat menyayangi nya. Bahkan ketika ia dilepas, Raga mengikutinya dari belakang dengan berlari dan menangis meraung.
Itu sebabnya, sampai saat inipun Timong masih bisa mengenali Raga.
''Timong, bisakah besok kamu nunjukin kami jalan pulang??'' tanya Ira sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Timong.
Timong berteriak histeris, kemudian ia melompat ke tubuh Raga. Dan memeluk pemuda tampan itu dengan erat.
''Hahaha... ya, ya,.. dialah sekarang majikan mu!'' sahut Raga saat melihat Timong begitu senang karena dicium Ira.
Setelah nya ia turun dan mengambil hijab Ira dan menyerahkan pada Ira. ''Terimakasih!'' ucap Ira dengan tulus.
Timong mengangguk.
Keesokan paginya.
Hari ini cuaca nya begitu dingin. Dari semalam, Ira mulai kambuh lagi. Ia bergumam-gumam tak jelas.
Raga semakin sakit melihat pujaan hatinya itu. Timong pun sama. Ia hanya bisa terdiam melihat Ira yang semakin parah dari hari kemarin.
Raga menghela nafasnya. ''Ayo sayang! kita pulang. Timong akan menuntun kita untuk keluar dari hutan ini. Kamu jangan takut, ia tidak akan datang. Sebentar lagi pukul enam. Mereka akan berangkat pukul sepuluh pagi. Ayo! kita akan terlambat nantinya.'' imbuh Raga saat melihat tatapan Ira yang begitu kosong.
Sebelum pergi, Raga menulis sesuatu di kertas untuk sang empunya gubuk. Raga tau, pasti pemiliknya akan datang hari ini.
Tepat seperti dugaannya, jika sang pemilik telah tiba disana, tapi tak berani mendekat karena melihat sekawanan monyet yang begitu banyak membuat lelaki paruh baya itu ketakutan.
Ia berlari kembali pulang. Biarlah nanti agak siangan pikirnya.
Setelah menulis sepucuk surat, Raga mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah.
Ia letakkan di atas kertas itu, kemudian mereka keluar dengan mengikuti petunjuk jalan dari Timong.
Mereka berdua di kawal depan belakang boleh sekawanan monyet. Di depan Timong dan anak-anak nya.
Sedangkan di belakang ada monyet jantan. Sesuai dengan permintaan Ira, Timong bersedia menjadi penunjuk jalan untuk mereka pulang.
Hampir dua jam mereka berjalan, kini Ira sudah merasakan lelah. Raga yang melihatnya tak tega.
__ADS_1
Ia berjongkok di depan Ira, dan mulai menggendong nya dari belakang. Perjalanan mereka masih jauh.
Butuh waktu satu jam lagi untuk sampai di tempat kemah mereka. Karena mereka tersesat terlalu dalam ke dalam hutan SiPiso-piso.
Bahkan konon katanya, jika sudah tersesat di dalam hutan itu tidak bisa kembali lagi. Ada yang bisa kembali, namun sama seperti Ira.
Timong terus saja melihat Ira yang di gendong Raga. Entah apa maksud dari tatapan nya itu, Ira pun tak paham.
Ira hanya bisa tersenyum lembut menatap Timong. Timong tau itu. Ia terus saja berjalan. Hingga satu jam kemudian, mereka sudah masuk ke perbatasan antara hutan dan tempat perkemahan mereka.
Ternyata, Timong melewati jalan pintas agar lebih cepat sampai. Raga tercenung melihatnya.
''Timong??''
Tapi Timong hanya menatap lurus ke depan. Di mana ia melihat dua orang sedang menatap kearah mereka.
Ira turun dari gendongan Raga dan berlutut di hadapan Timong.
''Timong, sampai kapan pun aku tak akan pernah melupakan mu! Karena mu, kami bisa keluar dari hutan itu. Semoga suatu saat jika aku berkunjung ke tempat lain lagi, aku harap kamu juga ada disana.. kakak sayang Timong..'' lirih Ira dengan memeluk Timong begitu erat.
Dua orang disana mematung melihat tingkah Ira yang sedang memeluk seekor monyet.
''Terimakasih..'' bisik Ira lagi dengan air mata yang sudah bercucuran.
Aku juga sayang kakak, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Aku beruntung bisa bertemu dengan kalian berdua.
Kalian berdua orang baik, kalian memang ditakdirkan bersama. Jaga diri baik-baik. Apapun yang terjadi, tetap percaya pada Abang Raga.
Cup.
Timong mengecup kening Ira, membuat gadis itu mematung karena mendengar bisikan Timong.
Timong melompat ke pelukan Raga, dan mencium keningnya. Setelah nya ia turun dan berlari masuk kedalam hutan.
Raga menatap sendu pada monyet peliharaan nya itu. Sedangkan Ira, ia berlari mengejar Timong.
''Jangan pergi Timong...'' pekiknya saat menyadari jika Timong sudah pergi. Dan bergelantungan di pohon besar.
Raga memeluk Ira yang terus memberontak ketika melihat Timong pergi. Ia kembali terisak.
Kenangan yang sama terulang lagi. Tidak dengan nya. Tapi dengan Ira. Ira masih saja meronta meminta Timong untuk kembali.
Tapi Timong hanya menatap nya sekilas kemudian berlalu pergi. Meninggalkan sepasang anak manusia yang menangis karena kepergian nya.
''Raga!!''
''Iraa!!''
Pekik dua orang yang tidak jauh dari mereka. Raga menoleh begitu juga dengan Ira. Seketika raut wajah keduanya berubah menjadi datar dan dingin.
Wahyu terkejut melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu. Ia menatap kemana arah mata Raga dan Ira melihat.
Saat Wahyu berbalik, terlihat dua orang gadis sedang menunggui mereka dengan cemas. Mereka menghampiri Raga.
''Akhirnya kamu selamat Raga!!'' pekik nya begitu senang.
''Ayo sayang! Dan kau! Tunggu pembalasan ku!''
Deg.
💕
Alhamdulillah.. selamat...
TBC
__ADS_1