Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Pulang


__ADS_3

''Raga!!! Akhirnya kamu pulang juga!! Kamu sangat khawatir menunggu mu disini.'' ucapnya begitu manja pada Raga.


Gadis itu mendekati Raga dan ingin merangkul nya. ''Stop! tetap disitu!'' cegah Raga saat gadis itu ingin mendekati nya.


Wajah datar Raga sudah begitu kentara saat melihat siapa lagi yang datang untuk menemui mereka.


''Ya ampun! Raga!!! Senang nya bisa lihat kamu!! Kami semua disini sangat peduli pada mu, tapi kami tak berani masuk ke hutan..'' lirihnya dengan wajah sendu.


''Heleh! dasar bermuka dua!'' celutuk Risa.


Membuat gadis bernama Rania itu melotot ke arah nya. Ira menatap datar pada mereka berdua.


''Ga.. maaf...'' ucap Wahyu sembari menunduk.


''Tak apa, Yu. Ayo kita kembali!'' titah Raga dan dingguki oleh Wahyu dan Risa.


''Ayo sayang!'' titahnya pada Ira.


Ira hanya diam saja. Ia tetap menatap pada dua gadis yang sedari tadi terus saja menatap Raga.


''Ra...'' panggil Risa.


Ira menoleh dan mengangguk. Mereka berdua jalan tanpa melihat Raga dan Wahyu disana.


Sedangkan dua gadis itu tersenyum senang ketika melihat Ira pergi bersama Risa. Mereka berdua berniat ingin membujuk Raga agar mau duduk bersama mereka.


Tapi jangan kan untuk mengajak duduk, Raga malah tidak menganggap mereka sama sekali.


''Raga!!! kok di tinggal sih??'' ucap Rania saat melihat Raga pergi begitu saja darinya.


Gadis itu terus mengejar Raga, hingga..


''Urusan kita belum selesai! Tunggu pembalasan ku!'' ucap Raga begitu dingin hingga rasanya menusuk ke jantung.


Deg, deg, deg.


Jantung kedua gadis seperti ingin lompat keluar saat Raga mengatakan jika mereka masih belum selesai urusan nya.


''Pe-pembalasan??'' beo Nessa.


Raga tak peduli, baginya sekarang Ira. Ira masih dalam kondisi yang tidak stabil.


''Apa maksudnya itu Rania?? Apakah Raga sudah tau jika kita yang menyebabkan Ira masuk ke hutan??''


''Entahlah! Ayo, bus kita akan segera berangkat.'' sahut Rania sembari mengajak Nessa untuk segera kembali.


Sedangkan Ira dan Risa sedang di hadapkan pada pak Madan. Pak Madan melihat sekilas pakaian Ira.


Pak Madan menghela nafasnya. ''Ira .. apa yang sebenarnya terjadi?? Bolehkah kamu ceritakan sedikit, bagaimana dan kenapa bisa kamu masuk ke hutan seorang diri??'' tanya pak Madan untuk memastikan.


Ira hanya diam. Matanya menatap kosong pada pak Madan. Pak Madan tau, pasti terjadi sesuatu dengan putri Alisa ini. Pikirnya.


Melihat Ira yang hanya diam saja, membuat dewan guru yang lain jadi merasa kesal.

__ADS_1


''Ck! Bukannya menjawab, malah diam aja!'' ketus ibu Prita.


Ia kesal melihat yang hanya diam saja. Raga dari kejauhan melihat Ira sedang di tanyai berlari mendekati Ira.


Belum sampai disana, ia sudah mendengar suara teriakan Ira memanggil Raga. Raga berlari untuk menyongsong tubuh Ira yang sudah gemetar ketakutan.


''Kak Ragaaaa... tidaaaaakkk... aaaaa.. pergi!! pergi kamu!!! aaaaa...'' pekikan Ira mengundang seluruh murid untuk turun dari bus, agar melihat ada apa sebenarnya.


Seluruh siswa dan siswi berhamburan melihat Ira yang sudah terduduk menelungkup kan wajahnya ke bawah lutut.


Raga yang melihat Ira seperti memeluk Ira dan berbisik padanya. ''Tenang sayang.. kakak disini.. kita pulang ya??'' lirih Raga begitu pelan ditelinga Ira.


Dengan tubuh gemetar Ira mencoba melihat Raga, tapi sayang yang terlihat olehnya warna merah seperti yang terlihat ketika di dalam hutan kemarin malam.


Tubuhnya kaku menggigil, Ira menggigit bibir bawahnya hingga terluka saking takutnya. Semua murid dan dewan guru terdiam melihat tingkah Ira.


''Ra! lihat kakak!'' titah Raga menangkupkan kedua tangan nya di pipi Ira.


Ira menoleh karena mendengar suara Raga, tapi matanya awas melihat yang di depan sana.


''Lihat sini! lihat kakak! jangan lihat itu!'' titah Raga. Ira menurut.


Ia menatap Raga yang juga sedang menatapnya dengan tersenyum lembut. Semua yang melihatnya tertegun.


Tau jika itu Raga, Ira langsung saja memeluk tubuh Raga. Karena tidak siap, Raga dan Ira terjungkal kebelakang.


Karena Raga mendekati nya dalam keadaan berjongkok. Melihat itu semakin terkejut lah semua murid dan juga Dewan guru.


Semua yang melihatnya terbengong. Rania dan Nessa semakin terkejut dengan perbuatan Ira.


Ia berinisiatif ingin melepaskan tubuh Ira dari Raga.


''Lepas!!'' paksa Rania.


Ira terkejut. Tubuhnya semakin bergetar karena takut. Raga menatap nyalang pada Rania.


''Jangan sentuh tunangan ku!!'' seru Raga dengan begitu dingin namun penuh penekanan.


Rania terkejut mendengar nya. Melihat tatapan Raga padanya, membuat nyali nya ciut.


Belum lagi pengakuan Raga terhadap Ira. Pak Madan yang mendengar nya menghela nafasnya.


''Ga.. ayo kita pulang! Bus akan segera berangkat. Ajak Ira ya?? Ayo! yang lain juga harus masuk ke bus! Sekarang!'' tegas pak Madan tak ada bantahan.


Semuanya mulai mundur dan masuk ke bus satu persatu. Raga masih mencoba membujuk Ira.


Berhasil.


Hanya saja, Ira tak mau melepaskan Raga sama sekali. Ia bahkan memeluk Raga lebih erat lagi.


Dewan guru yang melihatnya semakin geram. Tapi tidak berani membantah apa yang pak Madan katakan.


Mereka akan di adili saat sampai di sekolah nanti. Begitu kata pak Madan.

__ADS_1


Raga melihat seorang guru begitu marah melihat Raga memeluk Ira. Raga menanggapi nya dengan wajah datar dan terkesan dingin.


Setelah Ira bisa di bujuk, kini mereka menaiki bus dan Raga meminta ia dan Ira duduk paling depan.


Agar memudahkan Ira untuk bisa melihat pemandangan yang ada. Begitu pikirnya. Pak Madan menyetujui.


Beliau memilih duduk di sebelah kursi Tag dan Ira. Pak Madan masih bingung dengan sikap Ira yang begitu cepat berubah jika bersama Raga.


Di perjalanan tidak ada yang berani bersuara. Semuanya hening, karena melihat Ira yang masih memeluk Raga dengan erat.


Bahkan wajah Ira sudah masuk keceruk leher Raga. Raga tak peduli dengan tatapan semua orang.


Baginya keselamatan Ira sekarang ini. Saat dirasa sudah terlelap, Raga menoleh pada Wahyu yang kebetulan sedang duduk dengan pak Madan yang juga sedang menatap mereka.


''Udah telpon Abi dan Ummi ku kan, Yu??''


''Udah, mereka saat ini sudah menunggu kita di sekolah. Maaf Ga..'' sahut Wahyu sembari menunduk kan kepalanya.


Raga menghela nafasnya. ''Bukan salah mu. Tapi ini permintaan ku! jika aku tak melarang kalian, pastilah kalian akan masuk ke hutan juga. Lalu, apa yang akan terjadi? Kalian juga akan tersesat dan ketakutan seperti yang Ira alami sekarang. Jika bukan karena seseorang, maka Ira tidak akan masuk ke hutan dan juga tersesat disana.'' sahut Raga, ia menghela nafas yang begitu sesak di dadanya saat mengingat bagaimana Ira pada saat itu.


''Apa yang terjadi??'' tanya pak Madan, akhirnya buka suara setelah lama ia terdiam mendengar kan cerita raga pada Wahyu.


Raga menatap pak Madan dan juga Wahyu. Lalu menghembuskan nafas berat saat ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Raga pun mulai menceritakan, bagaimana saat itu Ira masuk kesana karena seseorang mengatakan jika ia tidak bisa keluar dari hutan dan memintanya untuk menyusul Raga kesana.


Tapi sayang nya itu bohong. Ira juga mengalami kecelakaan dan hampir mati. Belum lagi diganggu oleh makhluk tak kasat mata di dalam hutan itu.


Hingga mereka berhasil keluar dari hutan lebat itu karena petunjuk dari seekor monyet yang merupakan hewan peliharaan Raga saat dulu masih kecil.


Raga tidak menceritakan bagaimana mereka mandi dan yang lainnya. Itu hal pribadi mereka, tidak boleh di ketahui oleh orang lain.


Mendengar cerita Raga, pak Madan terkejut begitu juga para murid yang lain. Wahyu semakin merasa bersalah.


''Maaf Ga.. jika waktu itu aku memberitahukan hal ini kepada pak Madan, kalian pasti tidak akan mengalami hal buruk semacam itu..'' lirih Wahyu dengan mata berkaca-kaca.


''Tak apa, Yu. Semua ini takdir dan doa seseorang!'' sahut Raga melihat Risa.


Risa terkejut. ''Ja-jadi...''


Raga menoleh padanya dengan datar. ''Maafkan aku kak...'' lirih Risa dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi mulusnya.


Raga menghela nafasnya. Sedangkan pak Madan semakin tak mengerti dengan ucapan Raga.


Risa tak tau, jika doanya akan terkabul. Jika saja ia tau seperti itu jadinya, maka ia takkan mendoakan hal buruk pada kedua sahabatnya itu.


Ya, Ira sahabatnya bukan Raga.


💕


Hayoo Risa... doa mu loh itu...


TBC

__ADS_1


__ADS_2