
''Untuk apa kamu kemari!'' ketus Papi Gilang.
Algi dan Nara terkikik geli melihat Papi Gilang jutek seperti itu pada menantu sulungnya.
''Raga kesini untuk menjemput Ira, Pi, Mak. Apakah Ira ada?''
''Abang tak perlu lagi kesini. Kak Ira tidak ada disini. Dia baru saja pergi meninggalkan kita semua!''
Ddddduuuaaarrrr...
''Apa?!'' pekik Ragata. Tubuhnya oleng ke belakang dan jatuh terduduk di rumput yang tumbuh di halaman rumah mereka.
''Ya, Kakak pergi karena kebodohan Abang! Kakak pergi dengan membawa luka hatinya akibat perlakuan Abang!''
Ddddduuuaaarrrr...
Runtuh sudah bumi Raga. Ragata terhenyak mendengar ucapan Rayyan.
''Enggak! Itu nggak mungkin! Ira tak mungkin meninggalkan ku! Enggak!'' bantah Ragata berulang kali.
Rayyan terkekeh sinis melihat kelakuan Ragata. ''Nikmati hidup mu Kak Ragata! Selamat menikmati wanita selingkuhan mu itu! Selamat bersenang-senang dengan dosa! Ada pahala malah mengejar dosa! Entah terbuat dari apa hati kakak ku itu! Bahkan saat dia pergi pun masih mengingat dirimu! Jika aku menjadi Kak Ira, aku tidak sudi kembali lagi padamu Bang Raga! Kau terlalu lemah jadi seorang Lelaki! kau bodoh Bang Raga! Bodoh!''
Deg!
''Ar Rayyan!!!'' seru Mak Alisa dengan suara meninggi.
Rayyan terkejut. Ia menatap Mak Alisa dengan raut wajah terkejut. ''A-ada apa Mi? Wajah ucapan Abang salah? Yang Abang katakan. benar adanya Mami. Makanya-,''
''Cukup Ar Rayyan putra Bhaskara! Kembalikan pada Mami surat pemberian Kakak mu! Kamu tidak bisa memegang amanahnya! Masuk!''
Deg!
Papi Gilang, Rayyan dan Algi terkejut melihat wajah Mak Alisa berubah menjadi datar dan dingin seperti itu.
''Mami?? Mami memarahi Abang? Hanya karena Bang Raga? Seseorang yang sudah menghancurkan hidup Kakak??''
''Masuk!!'' tegas Mak Alisa lagi. Ia menatap tajam pada putra sulung Gilang itu. Ia menoleh pada dua orang yang memandangnya dengan wajah terkejut.
''Kalian berdua juga masuk! Nara yang kecil saja tau untuk masuk! Mengapa kalian masih disini?! Jika kalian tidak ingin berbicara dengannya, biarkan Mami yang berbicara! Mami tidak bisa membenci sesuatu yang sudah menyatu dengan kehidupan putri Mami! Dia memang salah, tapi apakah kalian tau apa yang menjadi penyebab nya?!''
''Sayang...''
''Mami....'' panggil mereka bersamaan.
__ADS_1
''Masuk! Jika Papi tetap ingin disini, silahkan! Tapi jangan ganggu pembicaraan Mami dan Ragata! Pilihannya ada pada kalian!'' tegas Mak Alisa lagi.
Rayyan menyerah kan amplop berwarna putih kepada Mak Alisa. ''Maaf Mami..'' bisik Rayyan di telinga Mak Alisa.
Cup!
Kecupan singkat di dahi Mak Alisa di berikan oleh Rayyan. Mak Alisa menoleh. ''Masuk lah. Biar Mami yang berbicara padanya, hem?'' ucapnya dengan lembut pada Rayyan.
Wajah Rayyan yang semula mendung, kini jadi tersenyum kembali. Walaupun wajah Mak Alisa tidak tersenyum saat ini, tapi tetap bertutur lembut pada Rayyan.
''Ya, Abang masuk. Ayo Dek!'' ajaknya pada Algi. Algi mengangguk, dengan segera mereka masuk dan menutup pintu dengan rapat.
Tinggallah Mak Alisa, Papi Gilang, dan Ragata yang sedang menatap kosong pada jalanan dirumah nya.
''Nak??''
''Ira pergi Mak? Meninggalkan ku? Untuk selamanya?'' tanya Ragata dengan tatapan kosongnya.
Mak Alisa menggamit lengan Ragata dan membawanya duduk di kursi panjang di dekat taman bunga milik Mak Alisa.
''Duduk,'' titahnya.
Ragata menurut. Ia duduk. Namun wajah sendu itu begitu terlihat.
Ragata menoleh. ''Benarkah?'' tanya Raga dengan harapan hanya tinggal satu persen lagi.
''Mak sangat mengenal dirimu Ragata. Sangat mengenal dirimu. Mak yakin, kamu pasti punya tujuan mengapa kamu melakukan semua ini. Tapi ingatlah nak.. perbuatan mu itu tetap tidak di benarkan. Kamu tetap salah. Karena telah membawa masuk wanita lain ke dalam rumah kalian.'' tuturnya lagi, masih dengan lembut.
Ragata menoleh, air mata itu mengalir deras di pipinya. ''Abang terpaksa Mak, hiks. Wanita itu mengancam Abang. Jika Abang berani bertemu dengan Ira, maka dia akan membunuh nya.. hiks..'' Isak Ragata persis seperti Rayyan saat menangis.
''Astaghfirullah al'adzim..'' ucap Mak Alisa dan Papi Gilang bersamaan.
Sedangkan Rayyan yang sedang berjalan membawa nampan minuman untuk Ragata dan kedua orang tuanya mematung di tempat.
Dengan air mata bercucuran, Ragata menceritakan semua yang terjadi selama diluar negeri.
Bagaimana Sonia mengancam nya sampai penjebakan itu terjadi. Dan saat ia membawa pulang wanita itu pun dalam keadaan penuh tekanan.
Mak Alisa menangis tersedu. Ia memeluk tubuh Ragata dengan erat. Papi Gilang pun ikut menangis.
Ternyata yang terlihat tidaklah sama seperti apa yang Ragata sembunyi kan. Rayyan meneteskan air matanya.
Ingin sekali menyusul Ira. Tapi tidak mungkin. Karena Ira sudah pergi, dan akan kembali pada waktu yang sudah di tentukan.
__ADS_1
Mak Alisa menceritakan perihal kepergian Ira karena tugas dan akan kembali setahun lagi. Membuat Ragata semakin terpuruk.
Dia meraung-raung dalam pelukan Mak Alisa dan Papi Gilang. Rayyan yang sudah tidak tahan pun ikut memeluk nya.
Mereka tersedu melihat keadaan Raga yang begitu lemah dan terpuruk saat ini. Berulang kali Mak Alisa katakan, jika Ira akan kembali lagi padanya.
Tapi Raga tidak mendengar lagi. Seakan tuli telinganya untuk mendengar nasihat Mak Alisa.
Ia semakin tersedu dan tersedu. Menyesali semua perbuatan nya yang membuat sang istri terluka.
''Iraaaaaaa.... tidaaaaakkk... haaaaa.. jangan pergiiiiii... aaaaaaaa...'' Raung Ragata lagi.
Ia memukul seluruh tubuhnya, Mak Alisa kaget melihat itu. Begitu juga dengan Gilang dan Rayyan. Dengan segera mereka berdua memeluk tubuh Ragata yang semakin lemah karena menangis.
''Maaf Bang.. aku tidak bisa menahan kepergian Kakak... tapi aku berjanji! Aku akan membawa kakak kembali padamu. Maafkan aku Bang! Aku salah paham padamu. Hiks..'' Isak Rayyan dengan air mata terus bercucuran.
Sementara Ragata semakin terpuruk dengan luka dihati nya. Sang bidadari pujaan hati harus pergi karena kesalahannya.
Ia akan begitu jika dihadapkan pada kenyataan kalau Ira pergi meninggalkan nya. Ingatkan saja dulu, bagaimana Ragata dipaksa oleh Ira untuk meninggalkan nya.
Bagaimana Ragata bisa pergi, sementara seluruh hidupnya sudah ia berikan kepada bidadari hatinya?
Kekasih masa kecilnya?
Darah mereka pun sudah menyatu. Hanya tubuh saja yang belum menyatu. Jika sudah bersatu, maka akan semakin kuatlah Ragata dan juga Ira dalam menghadapi terjangan badai di dalam biduk rumah tangga mereka.
Mak Alisa pun ikut merasakan sedih, melihat Ragata terpuruk seperti itu. Sedikit tidaknya, ia tau seperti apa Ragata.
Ragata Hariawan.
Pemuda bertubuh tinggi dan berparas tampan, memiliki sisi lemah saat bersama keluarga nya.
Terutama sang istri. Ira Sarasvati.
Ia terkenal dingin datar pada semua orang, namun akan lembut pada orang yang ia sayangi.
Satu yang mereka tidak tau, jika Ragata punya kisah masa lalu yang menyebabkan nya takut akan kehilangan Ira untuk yang kedua kalinya.
💕💕💕💕💕
Satu aja ye?
Othor mau nyiapin di Annisa dulu. Besok othor tambah lagi seperti biasa.
__ADS_1
Selamat membaca.. 🤗🤗🤗