
Mendengar keributan diluar ruangan, Ira dan Raga saling pandang. ''Kayak suara ummi dan Abi, deh?''
Raga mengangguk setuju. ''Buka gih, pintunya. Tadi kamu kunci 'kan ya?'' Ira mengangguk.
Dengan segera Ira turun dari ranjang, ia membuka pintu ruangan itu dan melihat ummi Hani sedang memukul Abi Hendra dengan galak.
Plaakk..
''Hahaha... kamu emang nikmat Hunny! Kok marah sih? Dimana nya ucapan aku yang salah coba?'' tanya Abi Hendra sambil memegang tangan ummi Hani dengan lembut.
Abi Hendra terkekeh, ''Ini pipi kok merah gini sih? Kamu apakan tadi? Pakai blush-on??'' goda Abi Hendra lagi.
Ummi Hani melengos. Ira tertawa. Saat itu juga Abi Hendra dan ummi Hani terkejut, kemudian terkekeh melihat Ira tertawa.
''Awas ih! ummi mau masuk Abi!'' ketus ummi Hani.
Abi Hendra tak mengizinkan nya. Ia semakin gencar menggoda ummi Hani. Ummi Hani jadi malu di depan Ira.
''Tunggu Hunny! Abi belum selesai loh.. kita lanjut lagi dirumah ya? Masih pingin..'' godanya lagi
Ira semakin tertawa. Ummi Hani semakin malu dengan tingkah absurd sang suami. ''Diam Abi! ih, malu sama mantu!'' tegur ummi Hani.
Abi Hendra semakin tertawa. ''Hahaha .. ngapain malu? Wong, sama suami sendiri? hem? Cup!''
Ummi Hani melototkan matanya. ''Abi!''
Ani Hendra terkekeh ia berlalu dengan mengedipkan mata nakal pada ummi Hani. Ummi Hani melengos lagi.
Ira semakin tertawa begitu juga dengan Raga. ''Hahaha.. Abi dan ummi sama kayak Mak dan Papi. hihihi...'' Ira cekikikan melihat tingkah absurd dua paruh baya itu.
''Itu belum seberapa nak.. kamu belum tau seberapa absurd suami kamu itu. Sekarang aja dia masih sakit. Coba nanti jika sudah sembuh, pastilah kamu tidak akan dilepaskan olehnya!'' celutuk Abi Hendra, membuat Raga melototkan matanya.
''Abi!!'' tegur ummi Hani lagi. Ira semakin tertawa. Raga pun ikut tertawa melihat dua paruh baya itu.
''Gimana tadi sama terapinya? Berjalan lancar?'' tanya Abi Hendra
Raga mengangguk, ''Lumayanlah Bi.. bisa untuk berdiri saja itu sudah lumayan bagus. Ya.. walau harus dilatih terus sih. Dan juga harus rajin di basahi dengan air wudhu. Salah satu manfaat air wudhu adalah untuk melancarkan peredaran darah dan juga melemaskan seluruh otot-otot yang kaku. Abang percaya Bisa, jika Abang sembuh dan akan mengobati Ira. Bukan kah tujuan Abang sebenarnya adalah ini?''
Abi Hendra dan ummi saling pandang. Mereka berdua menatap Ira. Ira tersenyum. ''Ira udah tau ummi.. sekarang dia baru ingat, jika Abang adalah pemuda kecil tampan yang dulu pernah menabrak dan menolongnya. Yang ia beri gelar My Prince Kak Ragiiii!!'' ketus Raga.
Ira tertawa terbahak. Entah mengapa ia sangat suka memanggil Raga dulunya dengan sebutan Ragi?
''Yang kayak aku bakteri penghancur saja! Memangnya aku bakteri khusus melumatkan tepung ketan hingga menjadi tape?!'' ketus Raga lagi semakin kesal.
__ADS_1
Abi Hendra dan ummi Hendra tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Raga. Begitu juga dengan Ira.
''Kamu memang penghancur Kak Raga! Masih mau ngelak?'' goda Ira dengan tersenyum menggoda Raga memainkan alis matanya.
Raga melengos, tapi tersenyum. Ummi Hani tersenyum melihat tingkah mereka berdua. ''Ya, sudah. Kalian sudah sarapan?''
Ira mengangguk begitu juga dengan Raga. ''Tadi kami dibawakan sarapan oleh Kak Zafa, ummi. Dan juga bubur Kak Raga udah disiapin oleh rumah sakit. Sekalian aja kami makan bersama,'' jelas Ira membuat ummi Hani mengangguk.
''Okelah kalau begitu, kami berdua langsung saja ke kantor. Ini sarapan kalian yang nggak jadi di makan, makan aja nanti untuk makan siang kalian. Kami ke kantor dulu ya, Abi ada meeting penting pagi ini,'' ujar ummi Hani.
Dengan segera ia mendekati Raga untuk di kecup kening putra sulungnya itu. Begitu juga dengan Ira.
''Ummi berangkat, ya?''
''Iya ummi. Hati-hati!''
''Assalamualaikum..'' ucap Abi Hendra dan ummi Hani.
''Waalaikum salam... By?''
''Hem?''
''Bobok lagi yuk!'' ajak Ira dengan segera Ira masuk kedalam pelukan Raga dan menelusup wajahnya ke ceruk leher Raga.
''Hemmm... wangi tubuhmu candu ku By...'' sahut Ira dengan mata melemah.
Raga terkekeh, ''Begitu juga denganku! Harum tubuhmu sudah menjadi candu untukku. Sehari tidak memelukmu, rasanya terasa hampa sekali. Setiap malam saat berada di Inggris, kakak selalu memeluk baju gamis yang sering kamu pakai,'' Raga terkekeh
Begitu juga dengan Ira. ''Kita sama By. Sama-sama membutuhkan satu sama lain..'' lirih Ira dengan mata suudah terpejam.
Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh ringkih Raga. ''Tidurlah. Kita butuh tidur yang banyak, sebelum nanti kita harus begadang semalaman.''
''Eh? Begadang? Begadang buat apa??'' tanya Ira dengan wajah begitu mengantuk.
Ragata terkekeh lagi. ''Begadang membuat kamu kelelahan! Begadang untuk menghasilkan pahalanya yang banyak. Juga untuk bercocok tanam.''
''Hah? Apa hubungannya By, begadang dengan bercocok tanam? Tanam padi kah? Tapi kenapa harus malam-malam?'' tanya Ira lagi semakin membuatnya terkekeh geli.
''Ya.. adalah Hunny. Begadang mencetak penerus baru Ragata Hariawan yang akan aku salurkan ke dalam rahimmu! Selama ini kita 'kan belum pernah melakukan nya?''
''Eh?'' Ira terkejut mendengar ucapan Raga. Pipinya berubah menjadi merah merona dan terasa panas hingga ke telinganya.
Raga tertawa-tawa negara tingkah Ira yang begitu pemalu. ''Kelihatan nya aja kamu nakal! Ternyata eh ternyata... kamu belum paham juga ya tentang hal itu? haha... manis sekali! Aku suka!'' Raga tergelak kencang hingga kepalanya mendongak ke atas.
__ADS_1
Walaupun ia terlihat begitu kurus, namun tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Ragata Hariawan.
''Hunny...''
''Eum?''
''Sekarang aja yuk? Tuh, lihat tower alami ku sudah berdiri setinggi pohon kelapa! Boleh ya?'' goda Raga pada Ira.
Ira mendelik menatap Raga. ''Ini dirumah sakit, By! Kamu gimana sih? Nanti aja saat kamu pulang dari rumah sakit, kita bisa melakukan sepuasnya! paham?!''
Raga tertawa. Ia semakin Suka melihat Ira salah tingkah seperti itu. ''Hunny.. please.. Can you help me?'' goda Raga lagi.
Ira mendelik lagi. ''No Hubby! No!''
Raga tergelak keras. Suara tertawa Raga. hingga terdengar ke seluruh ruangan itu. ''Hunny...''
''Udah ah! Tidur By! Tidur!''
''Hahaha.. kamu kenapa sih? Aku mau nyuruh kamu ambil air putih loh.. kamu mikirin apa sih??'' goda Raga lagi.
Wajah Ira semakin merah padam. ''Oke! Aku keluar!'' ketus Ira menahan rasa malu di wajah nya.
Raga gelagapan. ''Nggak! Kamu nggak boleh keluar! Kamu tetap disini! Aku tak mengijinkan mu keluar Hunny!'' tegas Raga.
Ira yang sudah berdiri dan membelakanginya berhenti melangkah. Ira mengulum senyum. Ia pura-pura kesal pada Raga dengan memasang wajah datar.
''Baik! Aku akan disini! Tapi jangan menggodaku seperti tadi lagi!'' ketus Ira
Raga mengulum senyum nya. ''Ya, aku tak akan mengganggu mu lagi. Kemari. Kita tidur lagi. Ayo!'' bujuk Raga.
Wajahnya begitu meyakinkan saat ini. Ira mengangguk patuh dan mulai menaiki ranjang Raga lagi.
Dengan segera mereka tidur lagi seperti tadi. Sesekali tubuh Raga terguncang karena terkekeh.
Ira yang sadar menegurnya kembali. ''Tidur Kak Raga!'' tegas Ira dengan mata terpejam.
Mulut Raga berhenti tertawa. Ira tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya. Sementara Raga, ia puas sekali bisa menggoda sang istri hari ini.
Ia semakin erat memeluk tubuh Ira. Berharap sakit nya itu cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali.
💕💕💕💕💕
Garing ah! Senyum mulu nih bibir! 😁😁😁
__ADS_1