
''Ayo kita pulang. Ummi sama Abi udah nunggu kita itu disana.'' Tunjuk Raga pada Ira.
Ira mengangguk patuh. ''Oke. Ayo kita pulang! Aku juga kangen sama adek Rayyan. Hihihi...'' Ira terkikik geli mengenang Lana pada saat datang ke pesantren nya untuk menemui dirinya.
Pada saat itu Lana datang dengan Mak Alisa serta dan juga Baby Ray. Putra pertama Papi Gilang.
''Kak. Temani Abang ke kamar mandi yuk? Abang tak tau dimana kamar mandinya.'' ucap Lana pada Ira.
Ira yang sedang mengikuti Rayyan mendelik tak suka pada Lana. ''Ishh.. baru aja kakak pegangin adek. Kamu udah nagajakin aja ke kamar mandi!'' ketus Ira.
''Ishh.. kebelet ini kak! Ayu ah!''
''Ck! Iya, iya! Ayo! Kamu jalan duluan!''
''Kakak.. kalau Abang yang akan duluan gimana tau kamar mandi nya dimana?'' sungut Lana.
Ia masih berusaha menahan sesuatu yang ingin segera di keluarkan. ''Aduh... ayok ah!'' ajak Lana lagi.
''Iya, iya! Bawel!'' sahut Ira.
''Taunya gini, kenapa nggak sama kak Raga aja tadi ke kamar mandi nya? Dia kan lagi juga kebelet BAB, Abang! Ishh..'' gerutu Ira lagi.
''Hishh.. ayok ah! Abang nggak tahan nih.. Aduhh...'' keluh Lana, ia semakin tidak tahan dengan kantung kemih nya yang sudah penuh.
''Tuh, udah sampai! Masuk gih! Kakak tunggu diluar sini. Santri wanita dilarang masuk kedalambkamar mandi santri Lelaki.''
''Oke!'' sahut Lana.
Dengan segera ia masuk ke kamar mandi dan menunaikan hajatnya. Lima menit kemudian, Lana keluar namun sayang karena lantainya yang begitu licin Lana jatuh terduduk.
Brruukk..
''Astaghfirullah! Abang!'' pekik Ira
Dengan terpaksa ia masuk ke dalam kamar mandi para santri laki-laki. Tiba disana, ia melihat jika sudah ada Raga yang menolong Lana.
__ADS_1
''Kamu kenapa Dek?''
''Ssstt.. terpeleset Bang! Ini siapa sih yang bertugas menjaga kebersihan di sini?! Masa' iya baru aja bertamu udah dikasi cium lantai? Ishh...'' gerutu Lana.
Raga dan Ira tertawa. Dan kebetulan dari luar terlihat jika ada seseorang yang sedang melihat Raga dan Ira di dalam kamar mandi berdua.
Disana cuma terlihat Raga dan Ira sedang berdua di dalam kamar mandi santri laki-laki. Sedangkan Lana , tubuhnya tertutup oleh tubuh Raga yang sedang jongkok melihat kondisi Lana.
Mengingat itu, Ira terkekeh kecil. ''Kamu kenapa Hunny?'' tanya Raga keheranan.
Ira terkikik geli. ''Tak apa By. Hanya sedang mengingat Abang saja.'' jawab Ira.
''Hoo .. Ya sudah. Hari ini aku pulang kerumah ummi ya? Adik-adik ngajak aku jalan-jalan.'' lirih Raga begitu pelan.
Ira tersenyum. ''Ya, pergilah! Tak apa aku tinggal sama Mak. Kan ada adek Rayyan? Ya kan Dek?'' ucap Ira dengan segera mengoceh pada Rayyan.
Raga menghela nafasnya pelan. ''Maaf...'' lirih Raga.
''Tak apa By. Pergilah! Ummi sudah menunggu mu disana!'' tunjuk Ira pada kedua mertuanya.
''Waalaikum salam.. hati-hati Abang Raga!'' kata Ira dengan melambaikan tangan Rayyan pada Raga.
Raga tersenyum, namun sendu. Dengan segera Raga pergi meninggalkan Ira dan Mak Alisa.
Sejak kejadian dimana Ira menerima Raga kembali, Mak Alisa jadi irit bicara pada Raga. ''Kamu tak apa, Nak??''
Ira tersenyum, ''Kakak tak apa, Mak. Inilah keputusan kakak. Jika kakak sudah berani berbuat, maka kakak harus berani menanggung nya. Ayo kita pulang, Mak?''
Mak Alisa mengangguk, ''Ya, ayo!'' jawab Mak Alisa.
Dengan segera mereka keluar dari pesantren itu. Sedangkan mobil Ummi Hani sudah tak terlihat lagi.
Ira menghela nafas panjang. Sesak di dada yang dirasakan saat ini. Bohong jika Ira baik-baik saja.
Mulut tertawa hati menangis.
__ADS_1
Terlalu banyak masalah yang dihadapi olehnya seorang diri. Tapi ia tak mau menunjukkan itu kepada Mak Alisa.
Takut jika Mak Alisa akan gelisah nantinya. Dan semakin dingin kepada Raga. ''Aku harap, kamu tidak pernah berubah, By.. aku memberikan mu kesempatan kedua untuk kamu bisa membuktikan ucapan mu beberapa saat yang lalu. Jika sampai kamu berubah, maka jangan salah kan aku, jika aku pergi dari hidupmu selamanya. Aku akan bertahan dengan s gala ujian dalam rumah tangga kita. Tapi tidak dengan perselingkuhan. Jika sampai itu terjadi, maka aku akan pergi dari hidupmu. Aku tak akan bertahan Ragata.''
''Demi keutuhan rumah tangga kita, aku rela sering terluka dalam hubungan ini. Berat sekali memiliki suami seperti mu. Kamu bukanlah sesuatu yang mudah ku dapat, tapi sesuatu yang sulit ke genggam. Sekarang kamu ada dalam genggaman ku, aku tak akan melepaskan mu. Tapi jika kau yang mencoba untuk melepaskan diri dari ku, maka aku sendiri yang akan melepaskan mu. Walaupun nantinya, kamu berusaha untuk mendapatkan ku kembali, maka itu adalah usahamu. Aku akan bertahan. Kuatkan aku ya Allah..'' lirih Ira dalam hati nya, sambil berceloteh dengan Rayyan.
Mak Alisa tau jika Ira terluka lagi karena Raga. Tapi ia tidak bisa melarang jika semua itu keinginan Ira.
Dari kejauhan sebuah mobil warna merah mengikuti mobil mereka. Mereka beriringan. Kakek Kosim tau itu.
Ia tersenyum tipis melihat Ira sedang tertawa dengan Rayyan namun terselip sendu di kedua matanya.
''Semoga kamu bahagia nak nantinya.. Kakek selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua..'' lirih pak Kosim dalam hati.
Hari ini dua keluarga pulang bersama selama seminggu. Waktu yang singkat untuk liburan. Liburan yang tidak akan terjadi lagi setelah ini.
Mereka tiba dirumah, hampir Maghrib. Dengan segera Ira turun dan membawa Rayyan masuk ke dalam.
Di ikuti Mak Alisa, Mbak Sus, dan Kakek Kosim.
Aku akan bertahan, karena kamu yang memintanya. Aku akan pergi, karena kamu memintanya. Sampai saat itu terjadi, aku akan bertahan dengan mu.
Ira Sarasvati.
💕💕💕💕💕
Maaf ya. Semalam othor nggak update.
Insyaallah .. hari ini double.
Dukung terus karya ini dengan cara like dan komen.
Vote dan Rate tentunya. Othor sangat berharap dengan kalian mendukung karya receh othor ini, othor akan lebih semangat lagi dalam menulis.
Dan akan banyak memunculkan cerita-cerita baru setelah ini.
__ADS_1
Luv yu all.. 😘😘