
''Anda kenapa Pak Armand? Ada yang ingin di bicarakan? Jika iya, Ayo kita ke depan! Tidak baik jika berdua seperti ini! Dikamar mandi lagi!'' ketus Ira namun berwajah datar.
Pak Armand yang masih merasakan sakit di dagunya menoleh pada Ira. Ia menatap sayu pada Ira. ''Menikah lah denganku!''
Deg!
Deg!
''Apa?!'' sahut Ira begitu terkejut.
Ia menatap Pak Armand dengan wajah datar dan dingin saat ini. Pak Armand menghela nafasnya.
''Saya benar-benar serius dengan ucapan saya, Ira Sarasvati!''
Lagi, jantung Ira berdegup kencang. Rasanya seperti ingin melompat keluar. Ira berbalik dan berjalan keluar meninggalkan Pak Armand yang mematung di pintu kamar mandi.
Sadar jika gadis dia inginkan telah pergi, dengan segera ia mengejar. Dengan cepat ia menarik lengan Ira hingga Ira menubruk tubuh nya.
Seseorang disana mengepalkan tangannya erat. Ingin menghampiri, namun para wali murid masih ramai disana.
Ia menatap datar dua orang yang sedang tertegun itu. Sadar jika posisinya salah, Ira mendorong Pak Armand hingga menjauh dari tubuhnya.
Saking kuat dorongan itu, hingga Pak Armand menubruk dinding pembatas pintu kamar mandi milik santri wanita.
__ADS_1
Seseorang disana terkekeh kecil. ''Mana Ira, Raga?'' tanya ummi Hani.
''Eh? Ummi! Sudah tiba kah? Ira sedang ke kamar mandi kebelet katanya!'' jawab Raga.
''Hoo.. ya sudah, kamu tunggu saja disini. Ummi akan ke depan untuk menemui Abi mu.''
''Ya,'' sahut Raga. Ia menoleh kembali pada dua orang disana yang masih berdebat. Tak tahan dengan kelakuan satu orang guru itu, Raga mengayunkan kakinya untuk mendekati Ira.
Sementara Ira sedang didesak oleh Pak Armand. ''Tunggu, Ra! Saya serius dengan ucapan saya. Saya ingin menikahi mu. Dengan segera saya akan datang kepada kedua orang tua mu, untuk melamar mu!''
Ira terkekeh. ''Anda salah minum obat Pak? Maaf! Saya tidak berminat!'' imbuh Ira dengan segera ia membalikkan badan dan pergi dari hadapan Pak Armand.
''Saya tulus ingin menikahi kamu, Ira. Saya rela menutupi aibnya mu selama kamu tinggal di pesantren ini! Saya bersedia menjadi suami penutup aib mu!''
Deg!
''Saya tau kamu Ira. Setiap malam kamu pasti bertemu dengan pemuda itu di dalam mesjid setiap sholat tahajud. Saya selalu melihat kalian jalan berdua setiap pagi. Saya juga pernah melihatmu dengan santri disini di kamar mandi berdua!''
Deg!
Lagi, Ira mengernyitkan dahinya. Tak lama ia terkekeh saat mengenang jika dulu, Lana pernah datang menjenguk nya. Dan juga pemuda itu tak lain adalah Ragata. Suaminya.
''Kamu bukan hanya ditiduh berzin* tapi kamu juga di tuduh membawa pengaruh buruk untuk santri lain. Saya bersedia menikahi kamu, karena saya yakin kamu tidak seperti itu. Semua itu gosip mura han! Dan sudah tersebar di pesantren ini! Sengaja saya menunggu kamu disini, agar kita bisa berbicara berdua seperti ini. Saya tulus ingin membantu mu Ira.''
__ADS_1
Lagi, Ira terkekeh. ''Itu tidak akan pernah terjadi Pak Armand. Karena saya-,''
''Hunny!'' panggil Ragata.
Ucapan Ira terputus Karena mendengar suara Ragata memanggil nya. Ira menoleh dan tersenyum. ''By! Ummi udah datang?''
''Sudah! Ayo kita Pulang! Tak baik disini berdua dengan guru agama kita! Yang ada nanti kamu di cemooh lagi oleh mereka yang tidak tau!'' ketus Raga.
Wajahnya masam melihat Pak Armand. Ira terkekeh geli. Ia menatap Pak Armand, ''Urusan saya dengan anda sudah selesai Pak Armand! Jika anda ingin tau, mengapa saya menolak anda, itu karena pemuda tampan inilah jodoh saya! Ayo By! Jangan cemberut ah! Nggak enak banget sih ini muka?'' ledek Ira pada Raga yang berwajah masam.
Ira mencubit gemas pipi Raga membuat Raga mendelik. Dengan gerakan cepat, Raga mengecup sekilas pipi Ira.
Membuat sang empu melotot. Raga tertawa dan berlari. ''Hubby! Awas kamu!''
Deg!
''Hubby? Hunny? Apakah mereka berdua... ah enggak! Bukannya mereka berdua itu saudara ya? Tapi ... kenapa aku melihat jika santriku itu menatap Ira dengan tatapan lain? Ck! gagal maning! gagal maning! ish.. nanti sajalah ku coba lagi!'' gerutunya dengan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Walau sesekali ia menoleh ke belakang, melihat Ira yang masih bergurau di depan kedua orang tua nya.
Ternyata, Pak Armand tidak tau, jika pemuda yang sering menemuinya itu setiap sholat tahajud adalah Ragata.
Ira terkikik geli mengingat malam itu.
__ADS_1