Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Sinar leser


__ADS_3

''Tidaaaaaakkkkk...''


''Sayaaaaannggg...''


''Iraaaaaaa...''


Raga berlari seperti orang kesurupan, dengan ember masih di tangannya. Raga berlari secepat mungkin agar bisa melihat keadaan Ira.


Karena ia takut, Ira akan kembali kambuh lagi. Setibanya disana, Raga memelankan langkah nya untuk lari.


Ia memicing ketika melihat Ira sedang bercengkrama dengan semua monyet itu. Ira tertawa melihat tingkah semuanya itu.


Raga berjalan perlahan, Timong yang tau Raga sudah kembali ia bangkit berlari dan menubruk tubuh Raga.


''Timong...'' lirih Raga saat melihat jika Timong lah yang memeluknya.


Raga tersenyum dan mengusap lembut monyet kesayangan nya itu. ''Kamu datang kemari , hem?? Dasar! aku pikir, kawanan monyet mana tadi!''


Plaakk


''Aduhhh.. kamu kok di geplak sih Timong?! Ishhh... sakit ini! Nggak asik ah!'' keluh Raga dengan sedikit menggerutu.


Padahal ia sangat senang, ketika tau jika Timong tadi pergi karena ingin melihat pujaan hatinya.


Ira terbengong melihatnya. Timong masih saja memeluk tubuh Raga, dengan sesekali menggeplak kepala pemuda itu.


Tapi Raga hanya tertawa saja. ''Terimakasih,'' ucapnya pada Timong.


Timong memekik dengan suara khas nya. Ira tertawa melihat monyet itu. Timong yang mendengar suara Ira.


Melompat hingga jatuh ke pangkuan Ira.


''Astaghfirullah! kamu ih!''


Monyet itu memekik senang. Semua monyet yang melihatnya ikut memekik juga. Raga hanya tertawa saja.


Gubuk tua yang tadinya sunyi kini menjadi riuh karena kawanan monyet itu.


''Ra...''


Ira menoleh. ''Dapat hijab nya??''


Ramah menggeleng. ''Kakak udah keliling mencari nya, tapi tak juga di temukan..'' lirih Raga sembari menunduk.


Ira tersenyum. Timong menatap Ira. ''Ya sudah, usah di pikirkan. Kalau memang masih ada, pasti bakalan ketemu. Kakak lapar??'' tanya Ira dengan sedikit meringis.


''Astaghfirullah! kamu kan belum makan sedari kemarin?? Ayo kita makan! Apa yang kamu masak??''


''Kolak ubi!'' sahut Ira santai.


Raga terkejut. ''Kolak ubi?? Gimana bisa?!''


''Hehehe... Ira gitu loh.. ayo! Tapi entah seperti apa rasanya, aku tak tau.'' imbuhnya sembari berlalu ke belakang dan membawa mangkuk berisi kolak itu ke depan Raga.


Timong duduk tak jauh dari Raga. Ia masih melihat apa yang akan Ira perbuat selanjutnya.


Ira kembali lagi ke dapur, dengan membawa beberapa mangkuk kayu. Seperti tempurung kelapa yang sudah dibersihkan.


Raga mematung melihat nya. ''Kamu dapat ini dari mana??'' selidik Raga.


''Ada tuh didalam lemari kayu dipojok ruangan? Semuanya lengkap disana, mulai dari gula, garam, hingga minyak makan pun ada!'' sahut Ira tanpa melihat Raga yang terkejut lagi.


''Sayang! Kamu ngambil punya orang loh..''


''Bagaimana dengan ubi ini?? Kan ngambil punya orang juga?? Sama aja kan??'' sahut Ira.


Raga meringis. ''Hehehe..''


''Ck! Ayo makan!'' Ira menyodorkan semangkuk kolak yang ia buat dengan tangannya sendiri.


Timong masih menatap Ira, Ira dengan cekatan mengisi mangkuk itu dengan semua kolak buatan nya.


Raga yang melihatnya heran. ''Itu untuk siapa??''


''Timong! Mana anak-anak mu?? Bagikan ini pada mereka ya?? Setelah kamu dan anak-anak mu, baru yang lain!'' serunya pada Timong.


Timong memekik senang. Ia memanggil semua anaknya untuk makan bersama mereka.

__ADS_1


Raga terbengong melihatnya. ''Sayang.. kamu??''


Ira menggeleng dan tersenyum. Raga pasrah. ''Ayo sini kakak suapi! Kita makan sepiring berdua biar lebih romantis!'' celutuk Raga


Membuat Ira tersipu malu. Pipinya merah merona. Raga terkekeh. Semua itu tak luput dari perhatian Timong.


Kolak semangkuk dibagi rata oleh Ira untuk kawanan monyet. Ia sangat senang jika monyet itu menyukai kolak buatannya.


Timong yang melihat Ira tertawa, tertegun. Ia menatap Raga yang juga sedang menatapnya. Timong keluar dengan monyet jantan diantara monyet yang lain.


Separuh dari mereka berlalu meninggalkan Ira dan Raga. Raga terdiam. Ada apa? Pikirnya.


Sore harinya.


Waktu sudah beranjak sore. Semburat jingga sudah menimbulkan warna keemasan nan jauh disana.


Melihat itu, Raga menghela nafasnya. Setelah nya ia berlalu memasang lampu teplok yang tersedia disana.


Para kawanan monyet itu masih berada di sana. Mereka semua seperti bertugas menjaga rumah itu.


Baru sebentar Raga merebahkan tubuhnya di dekat Ira, mereka berdua di kejutkan dengan suara pekikan monyet yang begitu heboh.


Raga bangkit dan berlari keluar. Sesampainya disana, Raga terbengong melihat apa yang ada didepannya saat ini.


Begitu juga dengan Ira. Ia melihat sekawanan monyet sedang membawa banyak buah-buahan.


Raga menatap Timong yang juga sedang menatapnya. ''Kamu dapat darimana buah-buahan ini?'' tanya Raga dengan wajah datarnya.


Timong menunduk. ''Kak... jangan seperti itu.. nggak baik ah! Timong udah berusaha untuk membawa buah itu kemari, jangan marah ya??''


Timong mendongak. ''Kamu mencuri, Timong??'' tuduh Raga


Membuat Ira melototkan matanya.


Plaakk


''Aduhh! sakit sayang!'' pekik Raga.


Ira melotot dan berkacak pinggang. ''Biarin!'' ketusnya.


Timong mendekat dan memeluk Ira. Ia menggeleng saat berada di pelukan Ira. Ira menghela nafasnya.


Ira menatap Raga tajam. Raga terkejut melihat nya. Ia berdehem untuk mengurangi rasa terkejutnya.


''Kamu kak! asal tuduh aja!'' sewot Ira.


Raga mendelik. ''Ayo Timong, kita makan! panggil anggota mu yang lain ya??'' Timong menggeleng.


''Kenapa??'' Timong melepaskan pelukannya dan mengambil satu buah jambu dan ia suapi ke mulut Ira.


Ira tertegun melihatnya. ''Terimakasih, terimakasih Timong!'' Ira memeluk Timong dengan erat, dibalas lebih erat oleh Timong.


Raga tersenyum melihat nya. Setelah nya, Ira dan Raga mulai makan buahnya ditemani oleh sekawanan monyet.


Selesai makan, Raga berwudhu begitu juga dengan Ira. Ia terpaksa memakai bajunya yang sudah koyak untuk sholat.


Untuk hijab, Ira gunakan kain sarung sebagai penutup kepalanya seoerti ninja. Sebenarnya Raga ingin tertawa melihat itu, tapi karena Ira begitu serius jadi ia hanya bisa mengulum senyum dan sedikit terkekeh.


Timong terus saja menatap keluar. Matanya begitu awas. Raga melihat keluar tapi tidak ada apapun.


Mereka mulai melaksanakan sholat. Selesai sholat, Ira teringat akan baju mereka yang dijemur diluar tapi belum diangkat.


Ira keluar tanpa sepengetahuan Raga. Timong mengikuti nya. Saat sedang mengangkat jemuran itu, Ira menoleh ke depan.


Seakan ia merasa seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu. Matanya mendongak. Dan tepat didepan sana, terlihat sebuah sinar seperti sedang menuju ke arah Ira.


Tubuh Ira gemetar. Karena melihat sinar yang sama.


Ya, itu Sinar yang sama saat Ira jatuh ke air terjun.


Timong yang melihat itu memekik ketakutan. Raga mendengar jika Timong menjerit lebih keras dari biasanya, berlari keluar.


Tiba diluar, ia melihat Ira berdiri kaku dengan mata menatap ke depan. Raga panik melihat itu. Ia segera merengkuh Ira dan mengangkat nya masuk kedalam.


Kawanan monyet semakin berteriak histeris. Suara pekikan monyet seperti pertanda bahaya.


Begitu juga dengan Timong. Matanya terus menatap ke depan sedang mulutnya terus mengeluarkan suara yang begitu ketakutan.

__ADS_1


''Kenapa Timong?? Ada apa??'' tanya Raga.


Timong tak menyahut ia terus melompat kesana kemari sembari memekik keras, membuat Raga kebingungan.


Timong semakin takut kala melihat sinar laser itu berjalan mendekati mereka. Raga semakin bingung di buatnya.


''Timong! Ada apa?!'' sentak Raga, membuat Timong berhenti dan menunjuk kedepan.


Raga menoleh dan melihat seperti sinar berwarna merah.


''Sinar leser??'' gumamnya, membuat Timong semakin histeris.


''Astaghfirullah! jangan bilang, jika itu...'' mulut Raga terdiam, saat seluruh monyet ketakutan.


Semua kawanan monyet menjerit terus tanpa henti membuat Ira di dalam sana memekik juga. Raga terkejut.


Ia berlari kedalam dan melihat Ira seperti sedang di cekik sesuatu. Raga melotot melihat nya.


''Astaghfirullah al'adhim... Allahu Akbar!!!'' pekik Raga.


Ira terhempas jatuh keranjang tak sadar kan diri. Raga memeluk Ira dengan erat.


''Ternyata inilah penyebab nya! Kau mencoba mengganggu istriku, hem?? Baik! Akulah lawan mu! jika berani hadapi aku!'' ucap Raga dengan wajah datar dan dingin.


Tatapan matanya begitu menakutkan. Timong yang melihatnya beringsut mundur kebelakang.


Raga terus menatap sinar leser itu tanpa takut. Sedangkan sinar leser itu semakin membesar menurut pandangan Raga.


Ya, Sinar leser itu berhasil menembus kawanan monyet yang menghalang nya tadi. Setelah lolos, ia mencekik Ira di dalam sana.


Ternyata itu hanya pengalihan saja. Yang sebenarnya ialah, yang mencekik Ira itulah yang sebenarnya.


''Kau ingin menghabisi istri ku, hem??'' tanya Raga lagi dengan wajah datar.


Sinar leser semakin membesar. ''Baik! A'udzubillahiminassyaithonirrajim, Bismillahirrahmanirrahim, Allahu la Ilaha Illa huwal hayyul qaiyyum...'' Raga membacakan ayat kursi sambil menatap sinar leser itu.


Sinar itu sesekali meredup dan menyala lagi. Semakin kuat Raga membacanya semakin meredup cahaya itu.


''Terakhir!'' ucap Raga lagi saat melihat sinar itu semakin meredup.


''Kau akan ketakutan setengah mati! Aku tak takut padamu! Aku hanya takut pada Allah! Penguasa alam semesta!'' ucap Raga lagi.


Ia mulai melantunkan surah Al-Baqarah yang dihafalnya dua hari kemarin sebelum berangkat ke air terjun Sipisopiso.


Karena ummi dan abi nya berpesan, agar Raga berhati-hati. Karena yang di masuki Raga adalah kawasan tanpa penghalang apapun.


Dalam artian, disana tidak terdengar suara adzan sama sekali. Dan beruntungnya, Raga menurutinya.


Dan benar!


Saat ini ia sedang di datangi oleh makhluk tak kasat mata karena mencium aroma ketakutan dari tubuh Ira.


Semakin kita takut pada nya, semakin besar pula kekuatan nya. Dan semakin mudah membuatnya melukai kita.


Demikian juga sebaliknya, semakin kita tidak takut padanya, semakin lemah pula kekuatan nya.


Sama seperti Raga sekarang ini.


💕


Kisah diatas nyata ya. Othor sendiri yang mengalaminya.


Beda tempatnya aja! 😄😄


Padahal saat itu othor sedang mengandung anak ketiga, anak yang sekarang ini.


Tapi karena keyakinan othor lebih kuat pada sang pemilik alam, makanya othor bisa selamat.


Hingga semua demit itu tak berani mengganggu othor.


Bukan othor sombong, tapi itu memang benar ada nya. Keyakinan akan Allah SWT.


Itu saja! 😁😁


Like dan komen ye??


TBC

__ADS_1


__ADS_2