
''Hah! Baik! Aku akan bersabar. Aku akan bersabar dengan kelakuan mu, Ragata. Bukan salahmu yang tidak mengenali diriku. Tapi inilah kejutanku untukmu. Aku harus kuat, menjalani sisa hari ini sebelum aku pergi dari sini. Sampai hari itu tiba, aku harus bersabar. Sampai dimana sabar itu lelah menghadapi diriku. Aku akan tetap dirumah ini, dengan atau tanpa persetujuan mu. Niatku masih seperti awal pernikahan kita. Aku akan menunggumu mengatakan nya sendiri padaku. Jika kau sudah tidak menginginkan ku lagi, maka aku yang akan pergi dari rumah ini karena permintaan mu.'' Ira mengusap kasar buliran bening yang mengalir di pipinya.
Ia keluar menuju dapur dan menemui Bik Surti disana. Ia tersenyum sekilas dan mulai memasak lagi.
Sementara dua orang itu, tidak terlihat batang hidungnya. Ira menghela nafas kasar. ''Non?'' panggil Bik Surti.
Mata tua itu mengembun. ''Aku tak apa Bik.. inilah ujian dalam rumah tanggaku. Tetap disini ya Bik? Temani Kakak?''
''Tentu, Non. Bibik akan selalu disini Selama Non juga disini. Tapi jika non pergi, maka Bibik pun akan ikut pergi. Bibik nggak sanggup Non dapat majikan galak seperti itu. Hiks..''
Ira terkekeh, ia memeluk Bik Surti dengan sayang. ''Nggak boleh ngomong begitu Bibik. Ayo ah! Kita masak lagi! Sebentar lagi Maghrib. Kak Raga pasti akan turun setelah sholat Maghrib untuk makan malam,'' Imbuhnya.
Dengan segera ia mulai meracik makanan lagi yang akan ia masak untuk makan malam Raga.
Bik Surti menatap nanar pada putri majikannya ini. ''Terbuat dari apa hati kamu Non? Suami pulang bawa perempuan lain, kamu masih baik begini? Semoga kelak, Den Ragata akan menyesal telah menyia-nyiakan Non Ira yang begitu baik ini. Bibik berdoa, semoga masalah ini diketahui oleh kedua orang tua kalian. Dan den Raga akan menyesal nantinya! Dan saat itu terjadi, Bibik akan ikut bicara nanti untuk membela Non Ira.'' gumam Bik Surti di dalam hati.
Selesai dengan masakannya, Ira kembali ke kamar tamu karena sudah memasuki waktu Maghrib.
Ia berwudhu dan mulai melaksanan ibadahnya. Setelah selesai, ia berzikir sebentar. Untuk ketenangan hati menghadapi kemelut rumah tangganya.
Ira keluar dari kamar tamu saat Ragata dan gadis itu turun kebawah dan menuju meja makan.
Melihat itu, Ira dengan segera menyediakan piring, gelas serta mangkuk cuci tangan. Ragata tertegun.
Ia menatap Ira yang sedang cekatan mengangkat segala sayur serta lauk pauknya. ''Kenapa aku merasa begitu dekat dengan mu.. harum tubuhmu seperti tubuhnya. Tatapan mata itu...'' lamunan Ragata terputus saat gadis itu merengek meminta untuk diambilkan makan oleh Ragata.
__ADS_1
Bik Surti yang paham dengan segera menghidangkan makanan ke piring nya. Gadis itu menatap tajam pada Bik Surti.
''Aku tak menyuruhmu untuk mengisikan piring makan ku! Tapi aku menyuruh suamiku untuk melakukan itu!'' ketusnnya dengan suara naik satu oktaf.
Ira berbalik dan menatap tajam pada gadis itu. ''Tidak pantas seorang istri meminta suaminya untuk menyuguhkan makanan. Yang seharusnya melayani suami itu adalah kita sebagai istrinya! Jika kamu belum siap menjadi seorang istri, makanya jangan berbuat kesalahan! Kesalahan yang kan membuatmu menjadi seorang ibu rumah tangga! Yang kau sendiri pun belum siap untuk menjalaninya!''
Deg, deg, deg.
Jantung Raga berdegup kencang ketika mendengar suara lembut nan tegas itu. Ragata menatap dalam pada manik mata hitam yang sedang berdiri di samping kirinya saat ini.
''Apa kau bilang?! Kau seorang pembantu! Jaga ucapan mu terhadap majikan mu!''
''Kenapa? Kau tidak suka suka? Jika kau tidak suka, silahkan keluar dari rumah ini! Rumah ini tidak membutuhkan majikan seperti mu yang tidak tau sopan santun dan tidak punya etika! Sekolah saja di luar negeri, tapi kelakuan? Nol besar!'' tegas Ira lagi masih dengan Suara lembutnya.
Gadis itu melototkan matanya. ''Kau...! Berani sekali kau mengajariku! heh?!'' sentak gadis itu.
Dengan segera ia berlalu meninggalkan Ragata yang tertegun karena perkataan nya. Tanpa sadar bibirnya menyebut sebuah nama yang begitu gadis itu benci.
''Hunny...'' lirih Raga masih dengan menatap punggung Ira yang sudah berlalu meninggalkan nya.
''Apa?! Apa kamu bilang?! hah?! Kamu bilang, kamu sudah melupakan gadis mura Han itu! Tapi kenapa sekarang kamu menyebut nya sih?! jangan bilang, jika hubungan mu dan gadis itu belum berakhir?!'' tebak nya.
Raga terkejut, dengan segera ia merubah raut wajahnya menjadi tersenyum kembali. ''Hubunganku dengannya sudah berakhir dua tahun yang lalu sayang.. jangan marah ah! Ayo kita makan?'' ajak Ragata.
Gadis itu mendelik kesal. ''Aku tidak mau makan!'' ketusnya.
__ADS_1
Ragata menghela nafas berat. ''Jika kamu tidak mau makan tak apa. Tapi pikirkan bayiku yang ada dalam kandungan mu? Mau kamu aku pergi meninggalkan mu setelah bayi itu lahir?'' tanya Ragata dengan lembut, namun tersirat seperti sebuah ancaman untuknya.
''Kamu mengancam ku?!'' pekiknya garang.
''Astaghfirullah.. Sonia! berhenti lah! Lupakan sejenak emosi mu itu! Ayo kita makan! Aku sangat lapar..'' lirih Ragata dengan sendu
''Aku tidak mau makan! Jika kamu ingin makan, silahkan saja! Aku mau ke kamar!'' ucapnya ketus
Dengan segera Sonia berlalu meninggalkan nya dan pergi masuk ke kamar. Ragata mengepal kan kedua tangannya.
''Ya Allah... sabar...'' gumamnya, masih terdengar oleh Bik Surti.
Ia melihat Ragata yang begitu tertekan karena gadis itu. ''Ada apa ini? Kenapa Den Raga begitu tertekan dengan gadis itu. Seharusnya jika dia mencintai gadis itu, pastilah ia tidak akan kesal dengan gadis itu. Ada yang aneh disini. Tapi apa? Biar nanti ku selidiki!'' gumam Bik Surti.
Sementara Ira yang mendengar semuanya semakin tersakiti. Ia menekan dadanya yang begitu sesak agar bisa berkurang walau sedikit.
Ia melihat sekilas bayangan Bik Surti melewatinya dengan melamun, dengan segera ia menyibukkan tangannya lagi pada mangkuk cuci piring yang ada di westafel itu.
Sementara Ragata memilih pergi keluar dan duduk di teras depan rumah mereka. Ia duduk sambil melamun.
Melamunkan tentang kejadian beberapa saat lalu sebelum ia pulang kerumah mereka dengan membawa Sonia ke rumah baru miliknya dan milik Ira.
Sementara Ira, melihat jika Makanan yang di meja Tidak di sentuh sama sekali, menghela nafas berat.
Ia menyusun semua makanan itu dan menutupnya dengan tudung saji. Mana tau Ragata nanti lapar dan makan. Pikirnya.
__ADS_1
Setelah itu, ia memilih masuk kekamar dan berwudhu. Sementara Ragata masih duduk melamun seorang diri menatap rembulan yang bersembunyi di balik awan hitam.
Sehitam perjalanan hidupnya saat ini bersama sang pujaan hati.