Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Flashback 5


__ADS_3

Keesokan Paginya di apartemen Ragata.


Ragata terbangun saat mendengar suara berisik dari luar apartemen miliknya. Dengan segera ia bangkit dan menoleh pada Sonia.


Deg!


''Astaghfirullah Al adzim.. Sonia... wanita ular ini benar-benar!!'' ucap Ragata.


Dengan segera bangun dari ranjang dan memakai bajunya yang entah di buang kemana oleh Sonia tadi malam.


Ragata mengambil baju di dalam lemari nya dan menuju ke depan. Dimana suara berisik dari luar begitu terdengar.


''Buka!!! Dokter Ragata!! Buka pintunya!!'' seseorang itu memekik dari pintu apartemen milik Ragata.


Ragata mengernyitkan dahinya saat mendengar suara seseorang yang begitu di kenal nya.


Dengan segera ia membuka pintu apartemen miliknya dan..


Ceklek!


Bugh.


Bugh.


''Bajingan!! kau telah menodai adikku hingga hamil? huh?!?''


Deg!


Ragata terkejut mendengar ucapan orang itu. Ia mematung melihat beberapa orang Indonesia termasuk ke tiga sahabatnya berdiri dengan wajah datar disana.


Bahkan wajah Riki begitu merasa bersalah. ''Ada apa ini?'' Pikir Ragata.


''Bangun kau! Brengsek!! Kurang ajar kau!! Kau telah menipu kami semua! Kau telah menodai adikku! dan sekarang kau masih bisa tidur dengan nyenyak?! huh?! Mana adikku?! Sonia!!'' pekik Sandi kakak lelaki Sonia.


Ia masuk menuju ke kamar Raga dan mendapati Sonia menangis sesegukan disana.


Raga semakin terkejut melihat nya. Kamar yang sudah berantakan semakin berantakan karena ulah Sonia.


Baju berserakan dimana-mana. Semua buku Raga berserakan. Belum lagi foto Ira dan dirinya hancur berkeping-keping dilantai.


''Kapan wanita ular ini melakukan semuanya? Bukannya tadi aku bangun gadis ini belum bangun?'' gumam Ragata dalam hati.

__ADS_1


Ia menatap datar pada Sonia yang masih tersedu dilantai nan dingin. Dengan lingerie warna hitam yang sudah koyak di bagian lengan nya.


Ragata memutar bola mata malas. Sementara Sandi semakin geram melihat siakp Ragata. ''Kau...!'' tunjuknya pada Ragata.


''Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?! Kau sudah menodai nya hingga dia hamil?! Lalu, kau ingin membunuh nya?! Kau ingin melenyapkan bukti ini?! Bukti kelakuan bejatmu selama tinggal disini? Cih! Aku tak menyangka, jika paras tampan seperti mu hanya kedok belaka! Inilah kelakuan mu! Kelakuan bejatmu! Beraninya kau mengajarkan agama padaku! Tapi bagaimana dengan ini? heh?!'' seru Sandi pada wajah Ragata.


Ragata menatap datar padanya. ''Kau harus bertanggung jawab Ragata! Kau harus Menikahi adikku segera! Aku tidak mau bayi dalam kandungan nya itu tidak punya Ayah dan akan di hina nanti ke depannya! Nikahi adikku Ragata!!'' pekik Sandi tepat di wajah Ragata.


Ragata mengepalkan tangannya. ''Aku tidak akan menikahi gadis yang tidak pernah aku sentuh sama sekali! Cari pria yang telah menodai adikmu! Tapi bukan aku orangnya!'' tegas Ragata.


Ia menatap sandi tak kalah tajam. Sonia semakin terisak. Riki menghela nafasnya. Tangannya semakin basah karena keringat dingin.


Ragata menatap aneh padanya. ''Riki!'' panggil Ragata.


Riki tersentak kaget. ''Ya, Ga! A-aku.. I-itu... se-sebenarnya... I-istri .. I-ira...'' jawab Riki tergagap.


Ragata semakin merasa aneh dengan sikap Riki. ''Ada apa?!'' tanya Ragata lagi.


''I-itu.. I-ira... Istri ka-kamu...''


''Jawab yang benar Riki!!'' sentak Ragata.


''Menikah lah dengan Sonia! Jika ingin istrimu tetap selamat! Ceraikan istrimu! Jika tidak, orang-orang Papa sandi akan membunuh istrimu Ga!''


''Apa?!?!'' pekik Ragata begitu terkejut.


''Apa maksudmu?!'' tanya Ragata lagi.


''Apa maksudnya? Maksudnya ialah... istrimu akan mati saat ini juga jika kamu tidak menikahi adikku!!''


''Apa?!?'' pekik Ragata lagi bertambah terkejut.


''Lakukan Ga! lakukan! Keluarga kita dalam bahaya! Aku baru dapat kabar, kalau Opa putra mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab! Tolong Ga! Tolong aku! Keluarga juga dalam bahaya! Tolong Ga .. hiks.. Tolong...'' Isak Riki.


Ia mendekati Ragata dan memeluknya. Ia berbisik lirih di telinga Ragata. ''Ikuti permainan nya! Dan kita akan mendapatkan buktinya! Tolong aku ga... Tolong... kelurga ku Ga..'' Riki berbisik dan di akhir kalimatnya ia sengaja mengeraskan suaranya agar Sandi dan Sonia tidak curiga.


Ragata mengepal kan kedua tangannya. ''Aku tidak akan menikahi Sonia. Tapi aku bersedia bertunangan dulu dengannya.''


''Nggak! Aku nggak mau!!'' pekik Sonia berpura-pura. Ragata tau itu.


''Terima atau tidak sama sekali! Aku bisa apa coba? Aku Seorang Lelaki. Seorang lelaki Tidak di cap buruk! Tapi wanita lah yang selalu di cap buruk! Jika disini sudah terbiasa dengan hal itu, tapi tidak di Indonesia Sonia! Terima? Atau...'' tekan Ragata.

__ADS_1


Sengaja membalikkan keadaan. ''Sabar Ga... Sabar... sebentar lagi.. bukti itu akan kita dapatkan!'' gumam Raga dalam hati.


''Aku tidak mau bertunangan, Kak! Aku mau Ragata menikahiku sekarang juga!'' Keukeh Sonia dengan air mata buaya nya.


Ragata semakin geram. Sementara Sandi, menatap nyalang pada Ragata. ''Kau...!'' tunjuknya pada Ragata.


''Dengar Sonia! Aku tidak bisa menikahimu begitu saja sementara kedua orang tuaku tidak bersama ku. Apa yang akan mereka lakukan jika sampai aku menikah tanpa sepengetahuan nya! Apakah kamu mau, pernikahan kita tidak direstui? Kamu Taukan seperti apa ummi ku?'' tanya Ragata sengaja membawa ummi Hani dalam masalah ini.


''Maafkan aku ummi.. aku terpaksa..'' lirihnya lagi di dalam hati.


''Kau jangan berbohong Ragata! Aku ingin bukti! Buktikan padaku jika kau akan menikahiku!''


''Apa bukti yang kau inginkan?!'' tanya Ragata dengan mengepalkan kedua tangannya.


''Aku terpaksa..'' lirih Ragata lagi.


''Aku ingin... kau menceraikan istrimu dan menjadikan aku istrimu satu-satunya! Buang wanita itu dari kehidupan mu! Jika tidak.. Maka aku sendiri yang akan membunuh nya!''


Deg!


Deg!


Ragata semakin mengepalkan kedua tangannya. ''Baik! Jika itu yang kau inginkan! Maka akan ku pastikan! Ketika kita pulang dari sini, aku akan segera menceraikan istriku! Dan sebagai gantinya, kau harus mau bertunangan saja dulu denganku. Sambil aku membujuk kedua orang tuaku agar mau menerima mu. Bagaimana?''


Sonia tersenyum smirk. ''Baik. Mulai sekarang, kau sudah menjadi tunangan ku! Dan aku ingin lihat, apakah kau menepati janjimu untuk melupakan istrimu? Atau kau masih ingin melihat nya! Akan ku pastikan, jika Sampai itu terjadi, jangan salahkan aku Jika aku sendiri Yang akan membunuhnya! Kau harus melupakan nya Ragata! Kau harus melupakan nya!'' tekan Sonia.


Semakin membuat Ragata naik pitam. Wajahnya merah padam saat ini. ''Baik! Ingat janjimu Sonia! Jangan lakukan apapun pada Ira selagi kita masih disini! Urusan Ira biarkan itu menjadi urusan ku! Kau cukup tau jika aku akan tetap menjadi suamimu! Dan kau akan menjadi istri satu-satunya dari Ragata Hariawan!'' Tukas Ragata dengan suara dinginnya.


Riki menatap takut pada Ragata saat ini. ''Maaf...'' lirih Riki melalui gerakan halus di bibirnya.


''Sekarang kembali lah ke apartemen mu! Dan kamu Sandi! Kamu boleh mengawasi ku selama dua puluh empat jika kau tidak percaya padaku! Kau boleh menyadap ponsel ku! Ini!'' Ragata memberikan ponsel miliknya pada Sandi untuk segera dipasang kan alat penyadap di ponsel milik Ragata.


''Sudah selesai bukan? Pergilah! Aku harus membereskan sisa kekacauan yang di buat oleh adikmu! Dan ya! Ganti pintu apartemen ku dengan yang baru! Kau harus bertanggung jawab Sonia! Karena kau apartemen ku jadi hancur berantakan seperti ini!''


''Tidak masalah! Ayo, Kak! Kita kembali ke apartemen ku! Biarkan di membereskan sisa pertempuran kami tadi malam! By baby!!'' ucap Sonia.


Dengan segera ia berlalu meninggalkan Ragata yang kesal karena menahan amarahnya.


''Astaghfirullah... Astagfirullah... astagfirullah...'' lirih Ragata. Ia memilih duduk untuk mengurangi rasa marah di hatinya saat ini.


💕💕💕💕

__ADS_1


Jangan lupa jempol dana kembang nya ye?


Othor jadi tukang palak nih? hihihi..


__ADS_2