
''Raga! apa sih yang sedang kamu pikirkan?! Haishhh... ini di gubuk tua loh.. di hutan pula!'' ucapnya dengan sedikit kekehan di bibirnya.
Ira menggeliat karena merasakan tak nyaman pada baju nya yang basah. Raga yang paham, mencoba mencari sesuatu didalam ransel itu.
Raga membongkar semua isi ransel Ira. Ia melihat jika ada sebuah selimut, kain sarung, sajadah, serta baju ganti dua pasang untuknya dan juga Ira.
Berikut dengan CD nya. Raga yang melihat itu terkekeh. ''Ternyata kamu sudah menyiapkan semuanya ya?? Hmm...'' ucap Raga, ia mengambil handuk, kain sarung dan selimut.
Ia letakkan di tepi ranjang dimana Ira tidur. Setelah nya ia mengambil kayu putih serta baby oil.
Entah untuk apa baby oil, yang jelas Ira membawanya hingga ke tempat mereka berkemah.
Raga mengambil sepasang baju ganti Ira lengkap dengan CD nya. Saat menyentuh benda segitiga itu, Raga merasakan sesuatu yang entah seperti apa.
Tak ingin berpikir macam-macam, Raga kembali mengambil baju ganti untuk nya dan juga CD nya.
Raga terkekeh kecil. Sungguh, calon istrinya ini sangat perhatian terhadap nya. Padahal di dalam ransel Raga sudah tersedia semua, karena ummi Hani sudah menyiapkan segalanya.
''Ummi...'' lirih Raga.
Sedangkan ummi Hani disana, semenjak sore hari sudah mulai tak karuan. Ia terus memikirkan Raga.
Dan pada saat ia bangun karena merasakan haus, ummi Hani turun ke dapur ingin minum. Ummi Hani pun minum, tapi minum itu menyembur keluar lagi.
Ummi Hani tersedak hingga matanya memerah menahan perih di kerongkongan nya.
''Sayang!'' pekik Abi Hendra, karena melihat ummi Hani yang kesulitan bernafas.
Abi Hendra mengusap-usap tubuh ummi Hani, membuat ummi Hani terbatuk batuk. ''Kenapa sampai tersedak gini sih?? Bahaya loh..''
''Nggak tau By.. perasaan ku sejak sore tadi sudah nggak enak!'' sahut ummi Hani mencoba untuk bernafas dengan baik.
''Mau yang enak??'' tanya Abi Hendra sembari menarik turun kan alisnya.
Ummi Hani menghela nafas panjang. ''Ummi serius By! ini tentang Raga dan... Ira!''
Abi Hendra terkejut. ''Apa maksud mu??''
''Entah mengapa, perasaan ummi mengatakan jika Raga dan Ira sedang membutuhkan pertolongan kita? Nggak tau aja, By! Ummi takut, kalau.. terjadi sesuatu dengan mereka!''
Abi Hendra memeluk ummi Hani. ''Buang jauh-jauh pikiran mu itu, ayo! kita sholat! Kita doakan anak dan mantu kita agar mereka selamat dan sehat saat mereka kembali dari acar camping sekolahnya.''
__ADS_1
Ummi Hani mengangguk. Kemudian mereka berlalu dan mulai melakukan ibadah malam. Karena waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit.
Raga saat ini masih berkutat dengan ponselnya. Ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Wahyu dan pak Madan.
Belum lagi pesan dari Mak mertuanya dan juga Abi Hendra. Raga menghela nafasnya. Sejenak ia berfikir,, setelahnya ia ingin mengirim pesan kepada ummi Hani.
Entah kenapa pikirannya saat ini tertuju pada ummi Hani. Pesan itu terkirim tapi hanya centang satu. Karena memang di daerah itu sekarang tidak ada sinyal.
Ada. Tapi sesekali. Raga meletakkan ponsel itu dan mulai mengganti baju Ira. Tangan nya gemetar saat membuka kancing baju Ira.
''Maafkan kakak sayang... kakak terpaksa melakukan ini... hanya ini jalan satu-satunya agar kamu tidak masuk angin dan lebih parah lagi kamu demam.'' ucapnya sembari tangan nya terus bergerak melepas kancing baju Ira.
Sebelum membuka baju Ira, terlebih dahulu Raga menutup tubuh Ira dengan selimut. Setelah tertutup, baru Raga melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh Ira.
Raga menahan nafasnya saat ingin membuka pakaian dalam yang ada di dada Ira dan juga CD nya.
''Aduh... gimana buka in nya coba? Kalau tertutup seperti ini kan susah? Ishhh...'' gerutu Raga lagi tapi tangan itu masih berada didalam selimut sedang berusaha membuka pakaian dalam Ira.
Saat tangan nya menyentuh sesuatu yang kenyal, Raga tersentak. Ia berhenti sesaat. Ia jadi gugup.
''Hufffttt... come on Raga... kamu pasti bisa! kita coba lagi!'' Serunya pada diri sendiri.
Ketika benda penutup dada itu terlepas, kini bagian bawah pula. Jantung Raga semakin bertalu-talu.
Hufffttt...
Hufffttt...
Wajahnya kini merah padam. Jika saja ada Abi Hendra maka habislah Raga. Karena Abi Hendra sangat suka menggoda dirinya.
''Ma-maaf Ra...'' lirih Raga yang masih saja bergerak menarik CD Ira dari dalam selimut.
Raga menahan nafasnya saat merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Ira. Tubuhnya berdesir.
''Astaghfirullah!! Nggak! Nggak boleh! Haishhh.. kenapa terlalu banyak sih godaan nya?!'' gerutu Raga masih saja menarik CD itu pelan-pelan.
Setelah selesai, Raga menghembuskan nafas lega. Kemudian ia mulai memakaikan Ira baju kaos miliknya dan juga celana pendek milik Ira.
''Sudah selesai! Sekarang giliran ku! Kira-kira disini ada air nggak ya?? Aku mau sholat isya. Udah ashar sama Maghrib bolong, masa isya juga?'' gumam nya pada diri sendiri.
Ia melangkah ke belakang dan beruntung nya Raga, ada air di dalam kendi tanah liat yang begitu besar.
__ADS_1
Terdapat sebuah corong seperti kran. Raga membuka penyumbat itu, dan mulai membersihkan dirinya.
Setelah selesai ia berwudhu dan mulai melaksanakan sholat isya sekaligus sholat malam.
Selesai dengan ibadahnya, kini Raga ingin tidur. Tubuhnya begitu lelah. Matanya sudah berat tidak sanggup terbuka lagi.
''Hoooaammm... ngantuk aku. Tidur ah! Dibawah aja, dekat sama Ira. Untuk jaga-jaga, takutnya Ira kambuh lagi seperti tadi.'' imbuhnya pada diri sendiri.
Raga mengambil ransel dan meletakkan dilantai yang beralaskan tikar barum itu. Raga mulai masuk ke alam mimpi saat kepalanya menyentuh bantal.
Rasanya baru sebentar Raga tertidur, kini ia dikejutkan dengan Ira yang menggumam tidak jelas.
Sesekali memekik takut. Raga tersentak dari tidur nya mendapati Ira yang sudah gelisah di dalam tidurnya.
''Astaghfirullah! kamu Kenapa sayang?'' Ia bangkit dan duduk disebelah Ira.
Ia meletakakn tangannya di kening Ira, terasa begitu panas.
''Ya Allah.. benarkan dugaan ku, jika kamu pasti demam kan?? Apa kamu juga bawa obat demam??'' gumam nya pada Ira yang masih mengigau sedari tadi.
Raga merogoh isi ranselnya dan membuka kotak P3K. Raga melihat isi didalamnya ternyata hanya ada obat-obatan lain.
Tidak ada obat penurun panas. Raga bingung harus apa. Lama ia berfikir, setelah mengingatnya apa yang pernah ummi Hani lakukan pada adiknya, Raga beranjak untuk membuat kompres untuk Ira.
Raga mengambil air dari kendi dan mengisinya ke dalam mangkuk plastik yang tersedia disana.
Kemudian ia mulai mengompres dahi Ira. Lama ia berkutat dengan itu. Hingga matanya terkantuk-kantuk.
Tapi Ira tidak menunjukkan kesembuhan. Raga semakin khawatir. ''Apa yang harus aku lakukan ya Allah..'' lirih Raga.
Ia mengambil ponselnya dan melihat masih pukul setengah tiga dini hari. Dengan kata lain, Raga baru tertidur satu jam saja.
Bingung harus melakukan apa, akhirnya Raga memutuskan suatu hal yang sulit untuk ia lakukan.
''Apakah aku harus melakukannya??''
Eh?
💕
Abang mau buat apa?? Jangan macam-macam bang!
__ADS_1
Itu anak gadis orang loh! 😄😄
TBC