Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Berdamai Dengan Takdir


__ADS_3

Dua Minggu sudah Lana dirumah sakit. Dirinya yang dikatakan koma oleh dokter kini telah sadar karena keajaiban yang datang pada mereka.


Hari ini Lana pulang dari rumah sakit. Raga menyusul Mak Alisa yang masih membenahi pakaian Lana.


''Sudah siap?'' tanya Raga saat ia baru masuk ke dalam ruangan itu.


Mak Alisa mengangguk, sedangkan Lana wajah nya datar tanpa ekspresi. Raga sedih melihat itu.


Teringat akan perkataan Lana dua Minggu yang lalu, begitu menyayat hati.


Flashback.


Raga yang baru saja tiba dirumah sakit karena harus pulang dulu mengantar Ira dan ummi Hani di kejutkan dengan Lana yang jatuh tak berdaya di lantai nan dingin.


Ia bergegas berlari dan mendekati Lana. ''Astaghfirullah Dek! Kenapa keluar! Kamu masih sakit! Mana mak? Ya Allah.. hidung mu berdarah Bang! Ayo Abang bantu!'' Ucap Raga saat melihat Lana jatuh terkapar tak berdaya di lantai.


''Bang.. Lana nggak sanggup.. kita pergi Bang.. uhuk.. uhuk..'' sahut Lana, dengan terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar lagi dari mulutnya.


Raga semakin panik. ''Ya Allah.. Dek! Ayo, Abang cari kamar lain untukmu ya?''


''Uhukk.. hiks.. Lana nggak sanggup Bang.. uhuk .. Lana ingin Papi.. Lana ingin Papi Gilang.. tapi kenapa Papi.. uhukk.. kenapa harus menikah dengan orang lain Bang.. kenapa?? Uhuk.. hiks..'' ujar Lana lagi semakin membuat hati Raga begitu sakit.


Hingga tanpa sadar, air mata itu mengalir di pipi nya. ''Hiks, sabar.. semua ini sudah menjadi takdirnya .. kita bisa apa? hem? hiks..'' sahut Raga sembari terisak.


''Lana ingin Papi.. hanya Papi Bang.. bukan yang lain.. ingin Papi... Papi Gilang... uhuk.. uhuk..'' Lana terbatuk-batuk saat ia terus berusaha menyebut nama Gilang.


Raga tak tahan, akhir nya membopong Lana dan memanggil dokter dengan cara berteriak keras.


Dokter terkejut saat melihat pasien yang di katakan koma, kini telah sadar. Ini suatu keajaiban. Pikirnya.


Raga segera meletakkan Lana di bangkar. Setelah nya ia ingin pergi menemui orang yang bernama Papi Gilang itu.


Tapi belum sempat Raga pergi, tangan Lana mencekal tangannya. ''Jangan pergi Papi.. Abang butuh Papi.. Abang sayang Papi.. jangan tinggalkan Abang Pi.. Abang mohon.. uhuk.. uhuk..'' Raga yang mendengar itu semakin teriris hatinya.


Begitu istimewanya sosok Papi Gilang ini bagi Lana. Namun, mengapa tadi sekilas Raga mendengar jika ia menolak kehadiran Gilang? Dan berada di satu ruangan yang sama?? Pikir Raga.


Dokter yang mendengar nya pun terenyuh. Lagi, dibawah alam sadarnya Lana bergumam memanggil nama Gilang.


''Abang sayang Papi .. jangan Pergi Pi .. Abang nggak sanggup... Abang mohon Pi.. Abang hanya kecewa.. bukan benci sama Papi.. jangan tinggalkan Abang Pi .. Abang mohon.. Abang butuh Papi.. Papi.. jangan pergi.. Abang sayang Papi Gilang.. Papi.. jangan pergi...'' Lagi, suara lirih itu begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar nya.


Raga semakin menangis melihat kerapuhan seorang Maulana Akbar. Diluar keras seperti batu, tapi di dalam?? Ia begitu rapuh.


Bahkan saking rapuhnya, ia tak sanggup kehilangan orang yang begitu ia sayangi.

__ADS_1


Flashback off


Dan Hari ini Lana dan Papi Gilang sudah di izinkan untuk pulang, karena sudah sembuh dan sehat.


Hanya saja, semua kegiatan mereka berdua harus di batasi. Jika Papi Gilang cidera pada bagian tulang rusuk belakang, sedang Lana pada tempurung otak sebelah kiri.


Itu makanya mereka koma beberapa jam. Sebenarnya dokter mengatakan, jika mereka berdua tidak akan sadar.


Mengingat benturan yang begitu kuat, sangat kecil kemungkinan mereka berdua bisa sadar. Tapi sepertinya keajaiban sedang berpihak pada nya.


Begitu lah ucapan dokter beberapa saat yang lalu kepada Papa Angga dan juga Mak Alisa. Kini kedua orang tua itu akan pulang dan keluar dari rumah sakit.


''Sudah siap??'' tanya Mak Alisa pada Lana.


''Ya,'' sahutnya datar tanpa ekspresi.


Setelah kejadian dimana ia mengungkapkan keinginannya, agar Papi Gilang tidak pergi tidak juga terkabul, Lana berubah menjadi datar dan dingin.


Mak Alisa hanya bisa pasrah sekarang. Melihat kelakuan Lana berubah menjadi dingin dan datar. Persis seperti Papi Gilang ketika tidak ingin di ganggu.


Mak Alisa terus mendorong kursi roda itu bersama Raga. Hanya mereka berdua. Sedangkan Ira menunggu mereka di rumah. Begitu juga ummi Hani dan Abi Hendra.


Setibanya di lobi, sekilas Papi Gilang melihat Mak Alisa yang sedang menatapnya. Wajah itu begitu sendu.


Setelah nya mobil yang dinaiki Mak Alisa benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan mata dua orang itu.


Mak Alisa mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya. Lana melihat sekilas namun wajah itu tetap datar dan terkesan cuek.


Raga yang melihatnya menghela nafas berat. Jika di pikir-pikir, ia sangat kasian kepada adik iparnya ini.


Tapi ia bisa apa? Jika seperti inilah takdir yang harus ia jalani. Lebih baik berdamai dengan takdir agar kelak kita bisa di bertemu lagi dengan orang yang kita sayangi.


Daripada harus memaksa tapi malah rasa sakit dan penderitaan yang di dapat. Lagi, Raga menghela nafasnya.


Satu jam kemudian, mereka tiba di kediaman Mak Alisa. Mereka disambut hangat oleh Abi Hendra dan Ummi Hani.


Lana dibawa masuk oleh Raga menuju kamarnya. Setiba nya disana, Lana langsung saja tidur.


Ia tak memperdulikan Raga dan Ira yang menatap nya dengan tatapan sendu. Ia menutup matanya, ia tau tadi sekilas melihat Papi Gilang.


Walaupun sekilas, ia tau jika itu Papi Gilang.


''Aku sangat merindukan Papi.. terimakasih karena telah melihat kami walau sejenak. Sampai kapan pun, Papi tetap lah Papi Abang.. Abang akan menunggu Papi sampai kapan pun..''

__ADS_1


''Abang sayang Papi.. sangat menyayangi Papi..'' Batin Lana


Melihat Lana sudah tertidur kini Ira dan Lana keluar dari kamar itu. Kedua pasangan labil itu menemui kedua orang tua mereka.


''Abang sudah tidur?'' tanya Mak Alisa.


Ira mengangguk begitu juga dengan Raga. ''Duduklah! Ada yang ingin kami katakan kepada kalian berdua. Terutama kamu Raga.'' Ucap Ummi Hani, Abi Hendra mengusap lembut tubuh belakang Ummi Hani.


''Sabar...''


''Ya, aku tau By! Kamu tau, kenapa Ummi ingin berbicara kepada mu??'' tanya Ummi Hani.


Raga menggeleng. Ia tau, namun terpaksa menggeleng demi menjaga hati Ira dan juga Mak Alisa.


Raga menundukkan kepalanya. Tangan nya berubah menjadi dingin. Ira yang melihat Raga seperti itu, keheranan.


''Sayang.. Ummi mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu. Karena Raga, kamu yang menanggung akibatnya. Maafkan Raga ya, Nak??'' Ucap ummi Hani, sembari menatap lekat pada Ira.


''Maksud Ummi apa? Kakak nggak paham loh.. emang ada apa sih?'' tanya Ira begitu polos.


Kamu memang baik Nak.. pantas Raga sangat menyukai mu. Ia rela pindah sekolah agar kamu tidak menderita lagi. Batin Abi Hendra.


Raga semakin gelisah saja. Ummi Hani menghela nafas berat. Ia melihat Mak Alisa. Sedang Mak Alisa tersenyum dan mengangguk.


''Untuk sementara ini, Raga harus ikut tinggal bersama Ummi! Raga akan Ummi masukkan kedalam pesantren! Dan setelah itu, ia akan melanjutkan sekolahnya ke Inggris. Begitu perintah Opa nya. Apakah kamu siap berpisah dengan suami mu, Nak?''


Deg!


''Berpisah??''


''Ya!''


''Hah?''


💕💕


Maafkheun jika semalam othor nggak update, di tempat othor mati lampu euuuyyy. Satu harian pula!


Malamnya othor nulis, tapi cuma satu bab. Itu pun karya yang satunya. 😁


Ikutin terus kelanjutannya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2