Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Sakit yang sama?


__ADS_3

''Ra... kamu?'' tanya Zafa pada Ira. Ia menatap Ira dengan tatapan terkejut.


Ira mengangguk dan semakin tersedu. ''A-aku juga mandul kak.. aku ma-mandul...''


Ddddduuuaaarrrr..


Kedua orang itu terkejut bukan main. Ira semakin tersedu di pelukan Raga. ''Astaghfirullah.. ya Allah...'' lirih Zafa dan dokter Salim


''Hunny! Dengarkan aku! Kamu akan sembuh. Aku yang akan mengobati mu! Percaya lah tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua pasti bisa. Kamu harus yakin, kamu bisa mengandung penerus ku! Aku yakin, kamu bisa, Hunny! Aku yang akan mengobati mu! Lihat Kakak, Hunny!'' titah Raga


Ira menoleh dengan sesegukan. Wajah ayu itu yang tertutup niqob itu, melihat Raga. Raga mendekati wajah nya.


Cup!


Ira memejamkan kedua matanya, Ira memegang tubuh kurus Raga dan memeluknya dengan erat.


Ia semakin tersedu di pelukan Raga. ''Hiks... aaa... aku sakit Kak... aku sakit... aku tak akan sembuh... aku tak akan sembuh huhuhu..'' Ira tersedu di pelukan Raga.


''Kamu pasti sembuh Hunny. Aku yakin itu. Kamu harus percaya kepada sang maha pencipta! Dia punya segalanya yang kita tidak punya. Ia bisa melakukan sesuai dengan keinginan nya! Kamu tidak perlu ragu. Aku saja yang sakit gini percaya kamu kembali. Lalu, kenapa kamu tidak percaya Jika kamu juga pasti akan sembuh melalui tanganku. Untuk sekarang Kakak belum bisa mengobati mu Hunny.. bukankah kamu sendiri yang mengatakan, Jika sekarang waktunya untuk kamu yang menjadi perawat ku? Setelah sembuh, baru kita gantian? Bukan begitu?'' tanya Raga pada Ira.


Ia menangkup kedua tangannya di wajah Ira yang tertutup niqob. Masih dengan sesegukan, Ira mengangguk pasti.


Raga tersenyum.


Cup!


Lagi, ia labuhkan kecupan sayang di dahi Ira. Ia mengusap wajah ayu yang tertutup niqob itu dengan lembut.


''Percaya padaku, hem?'' kata Raga lagi. Ira mengangguk.


Ia menyeka buliran bening yang terus membasahi pipinya. Ia tersenyum melihat Zafa.


''Maaf Kak.. aku jadi melankolis seperti ini.. maaf.. hehehe..''


Zafa tersenyum, ''Tak apa Ra.. maaf jika tadi..''


''Tak apa Kak. Aku dan dokter Salim, kami berdua memiliki penyakit yang sama. Tapi Tak apa. Kita punya dokter spesialis. Dia pakar bagian itu. Tapi sekarang dia sakit, kita harus bersabar dulu. Bukan begitu Hubby?''


Raga mengangguk dan terkekeh. ''Tentu saja. Tidak mungkin dong, aku mengobati kalian berdua sementara tubuhku kurus ceking seperti ini?'' seloroh Raga.

__ADS_1


Zafa dan dokter Salim terkekeh-kekeh mendengar gurauan Raga. Mereka berempat kembali lagi sarapan bersama setelah drama tadi yang menguras air mata.


Selesai makan, Ira bertanya langsung pada intinya. ''Kalau begini ceritanya, kapan kak Zafa dan dokter Salim menikah? Kan udah sama-sama Suka sedari dulu?'' goda Ira


Raga terkekeh. ''Betul itu! Biar aku punya pasien dua sekaligus setelah sehat nanti,'' seloroh Raga lagi.


Zafa dan dokter Salim tertawa. ''Dek.. Jika memang kamu masih bersedia menerima kekurangan ku yang akan membuatmu kecewa nantinya, maukah kamu menikah dengan dokter penyakitan seperti ku ini?''


Deg, deg, deg.


Jantung Zafa berdetak tak karuan. Wajahnya memanas.


Ira membulatkan matanya. ''Haisshh... kenapa nggak romantis banget sih ngelamar nya?! hem?'' cebik Ira dengan sebal.


Ragata tertawa. Begitu juga dengan dokter Salim. Zafa menundukkan wajahnya. ''Kamu jangan tertawa by! Kamu juga Sama! Masa' iya ngelamar aku di dalam hutan disaat kita tersesat! Ck!'' Ragata tertawa lagi.


''Tapi kamu menerima nya 'kan?'' goda Raga lagi.


''Ck! Gimana nggak terima coba?! Wong, cuman kamu yang ada di dalam hutan itu? Kalau aku nolak, kamu pasti ninggalin aku! Ishh..'' gerutu Ira semakin kesal.


Mengingat masa lalu mereka dulu. Ragata semakin tertawa saat melihat Ira semakin kesal.


Raga tertawa lagi. ''Siapa juga yang mau berbagi sama kamu! Mendingan aku berbagi dengan istriku! Sono! Halalin Zafa dulu, baru kamu bisa berbagi!'' kata Raga meledek dokter Salim


''Oke! Siapa takut. Sore ini aku akan kerumah Zafa untuk meminta izin pada Abi untuk segera menikahinya. Kamu tunggu saja!''


''Weleh? Gercep Bang?'' goda Raga lagi.


Ira tertawa, sedangkan Zafa menunduk malu. ''Persiapkan dirimu. Dua hari dari sekarang kita akan menikah Zafa!''


Deg, deg, deg.


Jantung dua orang itu berpacu dengan cepat. Ira terkikik geli saat melihat dua orang yang sedang salah tingkah itu.


''Jangan lupa mengundang kami ya? Ya.. walaupun hanya istriku nanti yang akan hadir, cukuplah untuk mewakili ku?''


''Tentu, Ayo Zafa. Kakak antar kamu pulang. Mumpung belum ada pasien kawan masih lagi dan juga jam praktek ku nanti siang, jadi kita bisa membahas pernikahan kita dirumah. Ayo!'' ajak dokter Salim.


Zafa mengangguk. ''Kalau begitu, kami permisi pulang. Kakak pulang Ra .. assalamualaikum..''

__ADS_1


''Waalaikum salam... jangan lupa undangan nya!'' celutuk Ragata


Ira tertawa. Begitu juga dengan Ragata. ''Ayo kita ke kamar. Sakit udah ini punggung kurus ceking ini bersender terus,'' ucap Raga pada Ira.


Ira tertawa. ''Baiklah My Prince Kak Ragiiii...''


Ragata mendelik. ''Raga Hunny! Bukan Ragi!'' ketus Raga.


''Hihihi...'' Ira cekikikan


Raga semakin kesal, namun ia tersenyum dalam hati. Jika sang istri tidak bersedih lagi seperti tadi.


Tiba di dalam ruangan VVIP mereka, Raga merebahkan dirinya disana, dengan Ira juga ikut naik dan tidur bersama nya.


''Ngantuk lagi, By... hooaamm.. belum puas tidur bersama mu!''


Ragata terkekeh, ''Segitu kangennya ya Sama kakak? Sampai tidur pun tidak mau lepas?'' goda Ragata.


''Lima tahun By. Lima tahun aku menunggu mu. Biarkan sejenak hati, pikiran dan tubuh ini istirahat dalam pelukan mu. Aku sangat merindukan mu. Saking rindu nya aku, baju piyama mu yang berwarna biru pun aku bawa kabur!''


''Heh? Kok bisa? Seingat kakak kamu nggak bawa apa-apa loh..''


Ira tertawa. ''Baju terakhir kamu pakai pagi itu dan kamu lupa meletakkan nya dalam keranjang kotor. Jadi aku berinisiatif untuk mengambil bajumu melewati kamar utama. Aku melihat baju Sonia ada disana, tanpa curiga aku membawa turun baju itu hingga ke dapur. Sebelum di cuci aku terbiasa merogoh dulu sakunya. Dan tepat, saat itu aku melihat foto itu, foto kamu dan Sonia sedang melakukan itu...'' lirih Ira dengan dada sesak.


Ragata memeluk tubuh Ira dengan erat. Ia menghela nafasnya. ''Itu memang aku, Hunny... tapi bukan sedang melakukan itu dengannya! Namun sedang berusaha menolak tubuh nya itu. Dia memaksaku untuk melakukan hal menjijikkan yang halal kita lakukan tapi haram untuk ku lakukan dengan nya! Waktu itu aku dalam pengaruh obat, Hunny..''


''Obat??''


''Ya, obat perangsang dosis tinggi!''


''Astaghfirullah...''


💕💕💕💕💕💕


Nah loh.. mau di jelasin tuh sama Raga.


Ikutin terus ye?


Jempol di goyang, kembang di siram! jangan lupa! 😒

__ADS_1


Hihihi..


__ADS_2