
Sedari tiba Ira sudah merasakan tidak enak dengan hatinya. Entah mengapa, ia pun tak tau.
Matanya menilisik sekitar. Hingga mata bulat bening itu memicing ketika melihat seorang gadis tersenyum malu-malu disana.
Ia tersenyum malu melihat pemuda tampan yang sedang bersama Ira. Ira bisa melihat dimana gadis itu sedang tersipu malu tiap kali ia menatap Raga. Ira menghela nafasnya.
Raga melihat Ira menghela nafas kasar menoleh, ''Sayang..'' panggil Raga.
Ia menoleh ke sekitar untuk mencari sebuah objek yang sedang di lihat oleh istrinya sekarang.
''Inilah yang aku tidak inginkan! Melihatmu di sukai oleh gadis lain yang sebaya dengan ku!''
Deg!
Raga terkejut, ia melihat seorang gadis dibalik tembok sedang menatapnya dengan tersenyum malu.
''Sayang.. dengarkan aku!''
''Tidak ada yang perlu di dengarkan! Sebelum aku mendengar mu, kamu dulu yang harus mendengar ku!'' lirih Ira agar suara nya tidak terdengar oleh ketiga orang sedang berbicara itu.
Melihat kondisi yang tidak baik, Raga menarik lembut tangan Ira untuk dibawa kedalam mobil kembali.
Dengan segera ia membuka pintu itu dan mendorong Ira masuk ke dalam nya. Raga dengan segera memeluk tubuh ringkih Ira.
Ira terdiam, mulutnya yang sedari tadi mengomel menjadi diam saat Raga memeluk tubuhnya.
Sesuatu yang selama ini ia rindukan saat bersama Raga. Demi menjaga hatinya, ia terpaksa menjauhi suaminya itu.
Padahal ketika malam ia selalu ingin di peluk oleh Raga. Lengan kurus itu memeluk tubuh Ira dengan erat.
''Kakak tidak akan seperti itu hunny.. Kakak sayang kamu! Walaupun nanti banyak gadis cantik disini, Kakak akan selalu menjadi milikmu.. percayalah. Kakak tidak akan berpaling darimu! Hanya kamu hunny.. hanya kamu.. cup.'' Lirih Raga.
Dengan segera ia mengecup lembut dahi Ira. Ia memejamkan kedua matanya. Ummi Hani celingukan mencari Ira dan Raga.
Dan saat melihat bayangan kedua sejoli sedang berpelukan, Ummi Hani menghela nafasnya.
Ummi Hani mengkode Abi Hendra agar segera membawa ustad Sofian untuk masuk ke dalam pesantren.
''Ayo ustadz, kita bicara di dalam saja. Pegal nih kaki saya sedari tadi berdiri terus!'' seloroh Abi Hendra.
''Astaghfirullah! Ah iya maaf Nak Hendra! Mari silahkan masuk! Bawa juga Raga nya kedalam beserta dengan adiknya.''
''Abi duluan saja. Ummi menyusul.''
''Oke. Mari ustadz!''
''Ya, ayo!'' sahut ustadz Sofian dengan segera menjauh dari mobil mereka.
__ADS_1
Setelah Abi Hendra dan ustadz Sofian pergi, ummi Hani melangkah kan kakinya untuk menemui dua sejoli muda itu.
Tok, tok.
Ummi Hani mengetuk kaca jendela mobil itu. Raga dan Ira tersentak. Mereka berdua melepaskan pelukannya dan membuka pintu untuk segera keluar.
''Ayo! Abi udah masuk duluan ke dalam! Kakak sama Ummi, biar Raga yang bawa semua koper ini.'' Ajak ummi Hani.
''Oke,'' sahut Raga dengan segera ia membawa semua koper nya untuk masuk ke dalam.
Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Ira di tengah-tengah mereka berdua. Tiba didalam sana, Ummi Hani masuk dan bersalaman dengan ustadzah disana.
Yaitu istri ustadz Sofian. Ummi Siti. Ia melihat Ira dengan bingung. Belum lagi tangan Raga sedari tadi memegang erat tangan gadis itu.
''Ini siapa Bu Hani? Kiara kah? Eh tapi Kiara kan lagi ada didalam?'' tanya nya dengan raut wajah bingung.
''Ini putriku. Dua tahun lagi, ia pun akan mondok kuah disini.'' Sahut Ummi Hani.
''Hoo..'' Ummi Siti menatap Ira dari atas hingga kebawah.
Ia melihat tangan Raga yang sedari tadi memegang erat tangan Ira. Ira yang ditatap seperti itu, merasa risih.
Ia melepas paksa tangan itu dan menarik nya. Tapi Raga tak mengijinkan nya. ''Kak...'' lirih Ira dengan menatap Raga.
Raga tersenyum melihat Ira. Ia tidak memperhatikan raut wajah ummi Siti yang ingin marah melihat Ira seperti itu.
Raga menoleh kebelakang Ira dan berbisik. ''Jangan lihat wajah ummi Siti. Mereka tidak tau Jika kamu istriku! Diam dan tetap jalani peran mu hunny!'' bisik Raga.
Setelah itu Raga Kembali seperti biasa. Menatap datar pada ummi Siti dan ustadz Sofian.
Ummi Hani yang melihat nya menggeleng kan kepala nya. Semua itu tak luput dari tatapan ummi Siti.
Entah kenapa, ia tidak menyukai Ira karena selalu berdekatan dengan Raga seperti itu. Raga yang ditatap seperti itu cuek saja.
Dengan jahilnya, ia menelusupkan tangannya ke dalam hijab Ira bagian belakang. Ira tersentak saat merasakan elusan lembut di punggung nya.
Wajahnya gadis belia itu memegang. Sedang sang empu cuek aja. Bahkan dengan sengaja ia terus menerus menyentuh tubuh Ira.
Deg!
Tatapan mata tajam itu bertemu dengan mata bulat bening nya. Ira menunduk. Ia berusaha menahan rasa geli dari elusan tangan Raga di tubuhnya.
Ternyata, sedari tadi Ummi Siti terus saja menatap Ira. Ada yang tidak beres antara Raga dan gadis itu, pikirnya.
''Astaghfirullah!'' Ira terkejut merasakan pinggangnya di tusuk oleh Raga dengan telunjuknya.
Ummi Hani menoleh pada Ira karena gadis itu terkejut entah karena apa. ''Kamu kenapa Nak??''
__ADS_1
''Hah? E-engak U-ummi! ada semut gigit Kakak! Ya semut, hehe..'' sahut Ira.
Sedang Raga mengulum senyum nya karena sudah berhasil menggoda istrinya itu. Biasanya Raga tidak usil seperti itu.
Tapi karena setiap harinya bergaul dengan Lana si usil, jadilah ia ikutan juga. Malah yang di usulin oleh nya adalah orang yang sama.
Ummi Hani saling menatap tak suka pada Ira. Ira menunduk, ia tak berani menatap ustadzah itu.
''Mari Nak Raga, Ustadz antar ke kamar kamu! Mari Nak Hendra. Akan saya tunjukkan dimana letak asrama untuk laki-laki. Begitu juga untuk anak perempuan.'' Imbuhnya, dengan segera ia bangkit dan berjalan keluar.
Di ikuti oleh Abi Hendra dan ummi Hani. Kemudian baru Ira dan Raga. Sekilas ummi Siti melihat tangan Raga keluar dari hijab panjang Ira.
Ia melototkan matanya melihat sepasang anak manusia labil itu. Semakin bencilah ia terhadap Ira.
''Ayo hunny!'' ajaknya pada Ira.
Ira semakin tidak enak melihat raut wajah ummi Siti. ''Mari Ummi.. kami duluan..'' lirihnya.
Dengan segera Raga menarik tangan Ira. Saking buru-buru nya hampir saja Ira jatuh tersungkur.
''Pelan-pelan By!'' tegur Ira.
''Kenapa? Kaki mu sakit? Mana sini ku lihat!''
''By.. kita lagi naggak dirumah loh..'' tegur Ira lagi, karena sudah merasa tak enak dengan tatapan para santri disana.
Raga menoleh ke sekitar mereka. Benar seperti apa yang Ira katakan. Ia menghela nafas panjang.
''Assalamualaikum.. Kak Raga..'' sapa seorang santri dari belakang mereka berdua.
''Waalaikum salam..''
''Masih ingat nggak sama aku?'' tanya gadis itu.
''Kamu Siapa?''
''Aku Arumi! Putrinya Ustadz Sofian! Calon istri kamu! Kamu ingat nggak ketika Pertama kali kamu datang kesini dulu, jika kita berdua sudah di jodohkan oleh kedua orang tua kita?''
Deg!
Deg!
TBC
Maaf ya othor selalu telat update nya. Othor lagi kebut di sebelah biar cepat tamat dan bisa fokus Sama yang disini.
Harap maklum ya! 😁😁
__ADS_1