
''Kita pulang, Pi! Bawa serta putri mu! Aku harus menenangkan Rayyan yang sedang mengamuk disana! Kamu tau kan seperti apa Rayyan kalau sudah mengamuk?'' tanya Mak Alisa pada Papi Gilang.
Papi Gilang mengangguk, ''Ya, ayo sayang! Kita pulang! Biarkan ia dengan masalahnya! Tugasmu sudah selesai disini! Tinggal tunggu surat cerai dari nya! Ayo!'' ajaknya lagi.
Raga menarik tangan Ira agar berhenti untuk mengikuti Papi Gilang. ''Nggak! aku Tak akan melepaskan Ira, Papi! Ira istriku! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan nya!'' seru Ragata.
''Terserah padamu! Saya tak peduli! Yang penting putriku harus ikut pulang bersama ku! Kita pulang Nak. Jangan sampai adikmu yang akan menyeretmu nantinya! Lihat disana! Wajahnya sangat tidak bersahabat saat ini! Kamu kenal siapa putra Papi, kan Kak??'' tanya Papi Gilang dengan menunjukkan wajah merah padam Rayyan saat ini.
Ira mengangguk patuh. Dengan segera ia melepas belitan tangan Ragata dari tubuhnya dan berlalu pergi meninggalkan Ragata yang mematung seorang diri disana melihat kepergian nya.
''Hunny... jangan pergi... aku bisa mati tanpamu Hunny...'' lirih Ragata dengan air mata yang menganak sungai lagi.
Ummi Hani menatap datar pada Sonia yang jauh sedang menatapnya. ''Hiks.. Hunny.. tolong jangan tinggalkan aku Hunny.. please Hunny.. ini hanya salah paham. Aku punya bukti untuk menjelaskan semua ini. Tunggu Hunny...'' lirih Raga begitu lirih.
Kakinya tak sanggup untuk melangkah lagi. Hancur hatinya melihat Ira pergi tanpa berbalik lagi padanya.
Sementara Ira, ia mengepalkan kedua tangannya. ''Hiks.. maaf By.. ini yang terbaik! Selesaikan masalahmu dengan nya. Apapun keputusan mu, aku terima. Apapun keputusan mu. Karena sedari dulu pun aku selalu menerima keputusan mu..'' lirih Ira tanpa berbalik.
''Hiks .. tunggu Hunny.. jangan tinggalkan aku... aku akan mati tanpa mu.. hiks . jangan pergi.. kamu hidupku Hunny.. selama ini aku bertahan karena mu.. hiks.. Hunny.. jangan pergi..'' lirih Ragata begitu menyayat hati.
Ira Hanya seorang istri yang begitu menyayangi suaminya ingin berbalik, tapi suara rendah seseorang membuatnya urung untuk berbalik dan mendekati Ragata.
''Sekali Kakak berbalik, maka dua kali aku akan menghancurkan hidupnya! Pulang Kak!'' seru Rayyan dengan suara rendah nya namun begitu dingin.
Ira berdiri terpaku di depan pintu rumah mereka. ''Hunny... hiks . jangan tinggalkan aku.. aku akan mati tanpa mu.. Hunny...'' lirih Ragata begitu menyayat hati.
Lagi, Ira mengepalkan tangannya. Ini pilihan yang sulit untuknya. Ingin bertahan tapi takut terluka.
Tidak bertahan pun, ia sangat mencintai Ragata. ''Kakak!!'' sentak Rayyan
Ira terkejut. Jantung nya berdegup kencang. ''Maafkan aku Hubby.. maafkan aku...'' lirih Ira dengan begitu sesak di dada.
Ia berlari meninggalkan Ragata yang semakin lirih memanggil namanya. ''Ra... ajang pergi.. Aku akan hancur tanpa mu.. Hunny.. hiks Hunny...'' lirih Ragata semakin lirih.
Bahkan Kaki nya pun tak mampu untuk menopang daya tahan tubuhnya. Ia jatuh ambruk dilantai nan dingin.
__ADS_1
Brruukk..
''Astaghfirullah!! Ragata!!!'' pekik ummi Hani.
Deg!
Lagi, jantung Ira berdenyut sakit melihat sang pujaan hati jatuh terkapar tak berdaya dengan mata terpejam.
''Bangun Nak! Kamu Kenapa jadi begini? By! Apa yang terjadi dengan putraku?! Kenapa dengan Ragata?!!'' pekik ummi Hani.
Abi Hendra menghela nafas nya. ''Inilah yang aku takutkan. Pasti selama ini ia sangat tertekan dengan keadaan yang menimpanya ini. Ayo kita baringkan di sofa dulu. Kamu urus gadis itu! Keluarkan semua pakaian nya! Sebentar lagi, kedua orang tuanya akan datang! Aku sudah menghubungi mereka!''
Ummi Hani mengangguk dan menatap tajam pada Sonia. ''Keluar kan semua barangmu dari kamar putra dan menantuku!'' seru Ummi Hani begitu dingin.
Dengan segera ia berjalan menuju tangga. Bik Surti yang melihatnya pun ikut masuk ke dalam.
Tiba disana dengan segera ummi Hani membereskan sisa baju Sonia. Semuanya. Tanpa tersisa. Dibantu Bik Surti barang itu ia bawa ke bawah.
Bertepatan dengan Sonia yang baru saja tiba. Ummi Hani melewati nya. Ia sangat muak melihat gadis ular itu.
Sonia mematung. Ia tidak berani mengatakan apapun. Bibirnya tertutup rapat saat melihat Raga begitu terpuruk melihat istrinya pergi meninggalkan dirinya.
''Duduk kamu di ujung situ. Tunggu sampai kedua orang tua mu tiba Sonia!'' ketus Ummi Hani.
Ia mengambil minyak kayu putih dari kotak P3K milik Ira dan segera mengoleskan minyak angin itu pada tengkuk, pelipis dan hidung Raga.
Lima belas menit kemudian, Raga sadar. Tapi orang yang pertama ia cari adalah sang istri yang telah pergi dari rumah mereka.
''Hunny.. jangan pergi.. Hunny.. ummi.. Hunny ku.. Hunny...'' lirihnya masih dengan mata terpejam.
Ummi Hani sakit melihatnya. Bukan dia tidak tau seperti apa Ragata selama diluar negeri. Ummi Hani tau semuanya.
Hanya saja, kepulangan nya dari Inggris membawa serta gadis ular itu yang ummi Hani tidak tau.
Ragata berbohong padanya. Itu kesalahan Ragata pada ummi Hani. Bahkan ummi Hani tau, jika Ragata tidak pernah sekalipun tidur dengan Sonia.
__ADS_1
Mengenai tuduhan Ira, mungkin Ira salah paham karena melihat Ragata masuk ke kamar utama yang ada wanita ular itu di dalam.
''Bangun Nak.. ummi tau semuanya tentang mu. Bangun! Kamu harus kuat! Kamu harus bertahan, ummi yakin Ira tidak akan pergi meninggalkan mu. Bangun Nak! Selesai kan masalahmu dengan gadis ini, agar kamu bisa secepatnya menjemput Ira, istrimu.'' ucap Ummi Hani pada Ragata, tapi Ragata tak menyahutinnya.
Air mata itu terus mengalir membasahi pipinya. Sementara di luar sana, terdengar suara deru mesin mobil kedua orang tua Sonia.
Mereka begitu terkejut mendapati kenyataan jika anaknya telah kembali ke Indonesia tanpa memberi tahunya.
''Assalamualaikum, tuan Hendra, Nyonya Hani!'' seru tuan Krisna.
Nyonya Anita mematung melihat putrinya bisa terdampar dirumah yang ia sendiri tidak tau.
''Waalaikum salam! Silahkan duduk. Ada yang harus saya luruskan disini. Pertama tentang putrimu! Dan kedua tentang janin yang ada di dalam perut putri mu itu!'' ketus ummi Hani. Ia menatap datar Pada kedua orang yang begitu terkejut mendengar ucapan ummi Hani.
Mendengar suara tuan Krisna, Ragata membuka matanya. Ia menatap datar pada kedua orang itu.
''Bawa pulang putri anda tuan Krisna! Saya terpaksa membawanya kerumah saya karena dia mengancam akan membunuh istri saya jika saya menolaknya!''
''Apa?!'' pekik Nyonya Anita.
''Dan untuk kehamilan putrimu, bukan saya yang melakukan nya! Saya berani bersumpah di atas Al-Qur'an! Saya di jebak di apartemen saya sendiri oleh putri anda Nyonya! Saya ingin melaporkan kasus ini ke jalur hukum! Semua bukti sudah ada di tanganku, siapa dan dimana putri mu melakukan kegiatan haram itu hingga berulang kali dengan lelaki yang berbeda!''
Ddddduuuaaarrrr..
Sonia terkesiap mendengar ucapan Raga. Ia menatap takut pada Ragata. ''Rencananya hari ini aku akan mengungkapkan bukti itu, tapi aku kalah cepat dengan mertuaku! Dia lebih dulu tau, tentang apa yang aku lakukan bersama putrimu di rumah ini! Sementara aku tidak melakukan apapun yang mereka tuduhkan! Aku punya bukti. Bukti percakapan dan perilaku bejat putrimu yang menjebak ku dengan tidur bersama nya dan juga sebuah foto yang beredar di media sosial!''
Deg!
💕💕💕💕💕
Hayoo Sonia!
Kita mundur ke dua tahun yang lalu ye! Biar nyambung!
Ikutin terus kelanjutannya! 😉
__ADS_1