
Ceklek!
Pintu terbuka.
Saat pintu terbuka, mereka semua terkejut melihat wajah Ira begitu berseri. Senyum di bibirnya begitu manis.
Sangat manis. Bahkan salah satu dari mereka, memikirkan hal aneh tentang Ira. Apakah Ira sudah gila? Kenapa tersenyum disaat suaminya meninggal?
Ira tidak peduli dengan tatapan terkejut mereka. Baginya, hari ini adalah hari bersejarah di dalam hidupnya karena sang suami telah kembali lagi dari tidur panjangnya.
Semua yang ada disana tertegun. Termasuk anak Alisa dan Papi Gilang. Masih dengan senyum tersungging di bibir tipisnya, Ira melihat ummi Hani, Abi Hendra, dan juga adik-adik nya yang lain sedang menatapnya dengan aneh tapi sedikit iba.
''Masuklah! Kak Raga sudah bangun!''
Deg!
Deg!
''Apa?!'' pekik mereka semua yang ada disana.
Ragata terkekeh didalam sana. Begitu juga dengan Ira. Namun air mata itu tidak berhenti mengalir.
''Ra...''
''Kak...''
''Nak..'' panggil mereka semua
Ira terkekeh lagi. Ia mengangguk mantap. ''Beneran! Kakak tidak bohong! Ayo, masuk! Dan lihat sendiri!'' kata Ira, sambil membuka pintu lebar-lebar.
Ummi Hani dan Abi Hendra yang berjalan duluan. Tiba di depan pintu, matanya melotot melihat putra sulungnya sedang duduk bersandar dan tersenyum padanya.
''Um-mi.. A-bi...'' panggil Ragata.
Mata ummi Hani berkaca-kaca, begitu juga dengan Abi Hendra. Dua paruh baya itu tertawa namun air mata bercucuran.
''Hiks.. putraku... kamu kembali Nak?? hem? cup. cup.cup.'' ummi Hani mengecup seluruh wajah tampan Ragata yang terlihat begitu kurus
Abi Hendra memeluk mereka berdua sibuk terus terisak. ''Abi yakin, nak. Kamu pasti bangun. Karena Abi tau, yang kamu mau hanya Ira. Istrimu. Selamat kembali ke dunia fana ini nak.. Abi sangat bahagia sudah kembali lagi. Abi tidak percaya dengan ucapan dokter tadi pagi. Kamu masih hidup, putraku...'' lirih Abi Hendra masih dengan memeluk kedua orang yang aku sayangi.
Dirasa cukup, Abi Hendra dan ummi Hani bergeser untuk memberi ruang kepada keluarga Mak Alisa.
Mak Alisa tersedu melihat Ragata sudah kembali. Padahal baru tadi ia mendapat kabar jika Ragata sudah meninggal dunia.
Serasa runtuh dunia Mak Alisa saat mendengar suami dari putri sulungnya meninggal dunia. Apa yang terjadi pada Ira, jika sampai Ira tau.
''Kamu bangun nak?? Mak pikir kamu...'' ucapannya terhenti, karena ia sudah memeluk tubuh kurus Ragata.
''Mak...''
Mak Alisa semakin mengeratkan pelukannya. ''Kamu harus cepat sembuh, hem hiks.. kami semua akan mengurus segala keperluan mu.'' imbuh Mak Alisa, ia mengurai pelukannya dari tubuh Raga untuk memberi kesempatan pada yang lain.
__ADS_1
Ragata tersenyum saat melihat kedua adiknya menangis terisak. Raga membuka tangan kurusnya untuk sang adik.
Mereka berdua berlari dan memeluk Raga dengan erat. Sambil terus terisak, adik Raga mengecup seluruh wajah tampan Raga yang begitu kurus.
Raga tertawa. Begitu juga dengan Rayyan. Pemuda kecil dengan tinggi 165 itu ikut tersedu di pelukan Raga bersama Annisa, Algi dan Nara.
Raga terharu. Ternyata seluruh keluarga besarnya begitu merindukan dirinya untuk bangun.
''Hunny...''
''Ya, kamu mau apa? Biar aku ambilkan.'' sahut Ira.
Raga tersenyum. ''Ha-us.. la-par..'' ucap Ragata masih dengan terbata.
Semua yang ada disana terkekeh bersama. ''Lapar juga ya kamu ternyata? Papi pikir, selama setahun ini kamu kenyang. Karena harus makan dari infus setiap harinya?'' seloroh Papi Gilang.
Semua yang ada disana terkekeh lagi. Termasuk Ragata. ''Kamu harus diperiksa dulu, By baru setelah kamu makan. Biar aku buatkan bubur di dapur rumah sakit ya? Kamu disini sama ummi saja. Aku cuma sebentar!'' ucap Ira, Raga mengangguk.
Dengan segera Ira ingin keluar, baru ingin membuka pintu ia kembali mendengar suara lirih Raga.
''Hunny...''
''Ya?''
''Ini...'' tunjuk Raga pada kain tipis penutup wajah Ira.
Ira terkejut. ''Astaghfirullah! Niqob ku!'' serunya terkejut.
Setelah mendekat, Raga segera memakaikan niqob itu ke wajah Ira. Ira tersenyum manis pada Ragata.
''Su-dah,'' katanya. Ira mengangguk.
''Tunggu ya? Sepuluh menit saja!'' ucap Ira lagi, sembari berlalu meninggalkan Raga yang mengangguk dan tersenyum padanya.
Setelah Ira pergi, dokter pun masuk. Karena mendapat panggilan darurat dari Abi Hendra. Dokter yang selama ini mengurus Ragata terkejut melihat pasiennya hidup lagi.
''Ragata masih hidup? Bagaimana bisa? Bukankah tadi...''
Abi Hendra menepuk pundak dokter muda dan tersenyum bangga pada putranya itu. ''Diagnosa dokter bisa salah. Tapi keyakinan seorang ayah dan seorang istri pastilah di percaya. Lihat dan buktikan sendiri. Apakah Ragata sudah meninggal seperti diagnosa kalian, atau masih hidup seperti keyakinan kami?'' kata Abi Hendra pada dokter itu.
Dokter itu semakin terkejut saat memeriksa seluruh tubuh Raga yang sudah dialiri darah kembali.
Bahkan seluruh alat Vital nya Bekerjs dengan baik. ''Alhamdulillah ya Allah.. ini mukjizat namanya. Kembali dari kematian adalah hak yang mustahil di dunia kedokteran. Kamu percaya dengan mati suri yang berarti itu koma. Tapi ini? Masyaallah.. tabarakallah... selamat kembali ke dunia dokter Ragata Hariawan!'' ucapnya dengan begitu senang dan terharu.
Ragata tersenyum dan mengangguk. ''Te-ri-ma-ka-sih Dok-ter!'' jawab Raga masih dengan terbata.
''Um-mi..''
''Ada apa nak??'' tanya ummi Hani.
''Ira...''
__ADS_1
Ummi Hani tersenyum, ''Sabarlah sebentar lagi. Baru lima menit loh..'' goda ummi Hani sambil tersenyum jahil pada Ragata.
Ragata terkekeh, ''La-par um-mi...''
Mendengar itu, dokter pun berkata. ''Sebaiknya dokter Ragata jangan makan makanan yang keras dulu ya? Kalau bisa makan bubur saja dulu. Agar pencernaan nya bisa beroperasi dengan baik. Anda sudah lama tidur dokter! Jadi anda paham bukan?'' tanya dokter yang bernama Salim itu.
''Ya,'' sahut Ragata masih lemah.
Ia memejamkan kedua matanya saat merasakan lapar yang begitu mengiris ulu hatinya.
Ia bersabar sampai sang istri kembali padanya.
Sepuluh menit itu kemudian. Ira kembali dengan membawa nampan bubur dan segelas air hangat untuk sang suami.
Ira masuk tanpa mengetuk pintu, membuat dokter Salim tertegun dengan Ira. Dokter muda sebaya Ragata itu menatap instens pada Ira yang berlalu melewati nya.
Ragata membuka matanya dan tersenyum. ''Makan dulu, baru setelah ini badan kamu dibersihkan ya? Ayo, kamu bangun dulu,'' kata Ira pada Raga.
Raga tersenyum dan mengangguk. ''Hunny...''
Dokter Salim terkejut lagi. Ia tetap menatap Ira yang dengan cekatan mengurus Ragata. ''Hem? Mau apa? Minum?''
Ragata mengangguk. ''Haus...'' lirihnya.
Ira tersenyum lagi, tapi tidak terlihat oleh mata dokter Salim Karena tertutup niqob. Tapi Raga tau jika sang istri sedang tersenyum.
''Ini, Bismillahirrahmanirrahim..'' ucap Ira sambil menyodorkan minum hangat yang akan bawa tadi dari dapur rumah sakit.
Dengan cekatan, Ira menyuapi Raga. Raga menyambutnya dengan senang. Tatapan mata itu tidak putus dari Ira.
Lagi dan lagi, dokter Salim tertegun. ''Apakah ini isterinya? Istri yang sering disebut mau dikala tengah malam tiba?''' gumam Dokter Salim di dalam hatinya.
''Alhamdulillah habis...'' ucap Ira dengan tersenyum begitu lebar. Raga tertawa.
''Lapar banget ya?''
''Ya, iyalah Abang laper Kakak. Kan puasa selama setahun?'' sahut Kiara.
Semua yang ada disana tertawa mendengar ucapan Kiara. Begitu juga dengan dokter Salim.
Ia terharu melihat pasangan itu. Baru ia tau, Jika Hunny yang sering di panggil Raga saat pukul tiga pagi adalah wanita cantik tertutup niqob ini.
''Ya Allah.. berikanlah aku seorang calon istri seperti istrinya dokter Ragata ini.. Amiiin...'' lirih dokter Salim dalam hati.
Kembalinya Raga membuat seluruh keluarga besar bersuka cita. Termasuk Opa dan Oma Raga yang berada diluar negeri.
Mereka begitu bahagia mendengar kabar tentang Raga yang telah sadar dari komanya Karena Ira sudah kembali.
💕💕💕💕💕
Sudah sejauh ini, gimana menurut kalian cerita Ragata dan Ira ini?
__ADS_1