Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Cerita tentang Sonia


__ADS_3

Malam ini ummi Hani dan Mak Alisa menginap dirumah mereka. Satu malam saja. Besoknya akan kembali kerumah masing-masing.


Dan saat ini, Ira dan Raga sedang berbaring diranjang. Mereka saling memadu kasih setelah kenyang makan tadi sore.


Cup.


Raga mengecup kening Ira dengan sayang. Ira memeluk Raga. ''Jangan peluk hunny.. nanti bayi kembar kita gepeng loh..'' tegur Raga sambil terkekeh.


Ira pun ikut terkekeh. ''Ya sudah, begini saja. Ishhh.. kehalang lagi nih sama bocil kamu!'' gerutu Ira, tapi terkekeh.


Raga tersenyum, setelahnya ia mulai merangkul leher Ira dan menyandarkan di dada bidangnya.


Ira mendongak melihat Raga, ''By??''


Raga menunduk. ''Apa?'' tanya nya sambil menatap Ira.


''Emm.. kamu belum cerita loh.. sama aku. Suara siapa yang ku dengar saat aku berdiri di depan pintu kamar utama saat Sonia kamu bawa kesini satu setengah tahun yang lalu? Bisakah kamu jelaskan? Soalnya aku begitu penasaran dengan suara itu? Sama seperti readers yang begitu penasaran dengan suara di dalam kamar itu. Suara desahaan siapa itu sebenarnya? Kamu dan Sonia kah??


Raga terkekeh mendengar pertanyaan Ira. ''Beneran, kamu ingin tau??'' Ira mengangguk mantap.


''Baiklah, kamu pasti tidak akan percaya dengan ucapanku. Ayo turun. Kita buka cctv satu setengah tahun yang lalu di kamar utama. Jika aku bercerita aku akan jijik mengatakan nya.'' Kata Raga pada Ira.


Dengan segera Raga bangun. Ia berdiri dengan belalai gajah yang masih tegak berdiri seperti pohon kelapa.


''Astaghfirullah! Itu kenapa belalai itu tidak mau turun sih?!''


Raga tertawa. ''Jika berdekatan denganmu, dia tidak pernah mau turun. Pasti akan naik saja. Ingin mendaki lagi dan lagi! Cup.'' Raga mengecup sekilas bibir sang istri.


Ira terkekeh. Kemudian ia juga mulai duduk dan bersandar. Dengan selimut menutup seluruh tubuhnya.


Raga menuju lemari dan mengambil laptop yang dulu di gunakan sebagai monitor oleh Raga saat dikamar mereka.


Setelah nya, ia kembali duduk dan mulai membuka kejadian satu setengah tahun lalu saat di dalam kamar utama.

__ADS_1


Mata Ira fokus pada layar laptop itu yang sedang Raga tekan di tombol keyboard nya.


Raga tersenyum saat melihat dokumen satu setengah tahun yang lalu masih tersimpan rapi disana.


''Ini dia!'' kata Raga.


Dengan segera jari telunjuknya menekan salah satu tombol itu hingga terdengar seperti suara..


Klik!


''Ahh.. uhh.. emm.. aahh..'' Ira melotot ketika mendengar suara itu.


Matanya membola sempurna saat melihat pemandangan yang begitu menjijikkan disana. Raga terkekeh melihat Ira seperti itu.


Cup.


Raga mengecup pipi Ira sambil terkekeh. ''Sudah tau?'' tanya Raga asih dengan kekehan di bibirnya.


Raga tidak ingin melihat Sonia tanpa sehelai benang pun di layar laptop itu. Ia lebih suka mengusap kedua janinnya yang sedang bergerak lincah di dalam perut Ira.


Ira masih sibuk dengan benda pipih itu. Rasa penasaran nya semakin menjadi. Sebab, bukan sekali dua kali Ira mendengar suara itu, tapi setiap malam.


Klik.


Lagi, mata Ira membola melihat Sonia begitu gila saat itu. ''Astaghfirullah... By! Itu alat apa?! Kenapa bentuknya seperti belalai kamu?! Ya ilahi... seperti menunggang kuda pula dia!!'' kata Ira dengan suara naik satu oktaf.


Raga terkekeh dihadapan perut Ira. Perut Ira semakin kencang saat mendengar suara kekehan Raga.


Seakan tau, jika itu adalah Abi nya. Herlan di perut Ira semakin menjadi. Ira sampai meringis menahan geli.


''Ssstt... udah By! Kencang ini perutku! Ayo, ada yang aku tanyakan lagi. Duduk dulu dan tutup laptopnya,'' titah Ira pada Raga.


Raga mengangguk. Dengan segera ia menutup laptop itu tanpa mengembalikan kembali dokumen itu agar tersimpan.

__ADS_1


''Apa yang ingin kamu tanyakan lagi, hem? Belum puas melihat kelakuan Sonia seperti orang yang haus akan belalai lelaki??''


Ira tertawa hingga kepalanya mendongak keatas. ''Hahaha... kamu bisa aja sih, By!''


Raga pun ikut tertawa. ''Kan beneran hunny.. tidakkah kamu lihat saatt dia menunggangi benda seperti belalai kami para lelaki. Terlihat jelas sekali bahwa Sonia sudah terbiasa melakukan hal itu dengan Sandi. Bukan hanya Sandi tapi juga dengan Riki, dan pemuda bule lainnya. Entahlah terbuat dari apa itu palung surga miliknya hingga mau berbagi dengan pria lain! Hiiii.. aku yang lelaki saja jijik, bagaimana dengan mu??''


Ira terkekeh. ''Aku pun sama By.. hanya saja.. Sonia ini sudah seperti wanita malam saja. Yang pekerjaannya itu cuma sekitar itu-itu saja. Jika dia sudah menekuni kegiatan itu, maka tidak ada kata berhenti dalam hidupnya. Sama seperti kita. Ingin lagi dan lagi. Dan yang ingin kutanyakan adalah... kemana kamu saat Sonia melakukan hal itu di dalam kamar utama milik kita??''


Raga tersenyum lagi. Ia mengusap pipi Ira dengan lembut dan menatap dalam pada manik mata hitam milik Ira yang begitu berkilauan karena terpapar sinar lampu kamar mereka.


''Sonia sempat memaksaku, tapi aku berlasan jika aku ada tugas jaga dirumah sakit. Awalnya ia tidak percaya. Namun aku menghubungi Zidan pada waktu itu yang sudah mengenaliku. Aku tunjukkan percakapan kami melalui pesan WhatsApp, barulah Sonia percaya. Sering kali ia memaksa ku untuk melakukan hubungan suami istri dengan nya. Tapi aku tidak mau. Tujuan ku membawanya hanya untuk mencari bukti dan akan melaporkan nya pada pihak yang berwajib karena telah berani mengancam dan mendesak ku untuk melakukan hal tidak senonoh padanya. Semua bukti itu ada. Termasuk bukti, saat pertama kali Sonia melakukan hal itu bersama Sandi di apartemen miliknya. Dan juga beberapa bukti, bahwa ia bersedia menukar tubuhnya dengan setiap profesor di rumah sakit tempat kami koas, agar ia lulus menjadi sarjana kedokteran!''


''Astaghfirullahal'adhimm...'' Ira tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena semua yang Raga katakan itu memang benar adanya.


''Jadi... sekarang Sonia sudah bebaskan?''


''Belum. Ia di hukum selama empat tahun penjara karena telah berani melakukan ancaman dan perbuatan tidak senonoh nya itu padaku. Kamu tenang saja.. semuanya sudah usai. Ia tidak akan pernah kembali lagi dalam kehidupan kita. Kakak pastikan itu. Sekarang.. yang penting bayi kembar kita ini. Lihatlah! Ia selalu bergerak saat tanganku mengelus perut mu!'' ucapnya kegirangan.


Ira terkekeh geli. Mereka akhirnya bisa melupakan masa lalu yang kelam dan melanjutkan hidup kembali.


Sebentar lagi, hanya dua bulan lagi sebelum bayi kembar mereka lahir. Saat ini mereka hanya sedang menikmati hari-hari dimana sebentar lagi akan menyambut kelahiran buah cinta mereka berdua.


💕💕💕💕


Satu aja ya?


Othor nggak bisa crazy up seperti kemarin. Bocil othor sedang sakit. Jatuh kemarin saat bermain.


Dan keplanya itu terbentur tepi lemari dan semen. Ini lagi anteng, othor bisa nulis. Tapi ya cuma satu.


Mohon doanya untuk kesembuhan bocil othor ye? Agar othor bisa menyelesaikan cerita ini akhir bulan ini. Dua hari lagi.


See you.. 😖😖😖

__ADS_1


__ADS_2