
Raga berulang kali menghela nafasnya. Ia menatap Ira yang begitu pucat dan bibir nya hampir membiru.
''Maafkan kakak sayang.. kakak terpaksa melakukan ini .. kakak tidak punya cara lain..'' lirihnya dengan terus mendekati wajah Ira.
Raga mendekat dan..
Cup.
Terasa begitu lembut dan, dingin! Raga sadar itu salah. Tangan Raga mencoba menutup hidung Ira mencoba memberi pernapasan melalui mulut.
Sekali, gagal.
Dua kali, masih gagal
Tiga kali, Raga menangis dan Ira tak kunjung merespon. Raga terus menekan dada Ira dan memberi nafas buatan.
Sesekali ia mengusap tangan Ira yang begitu dingin.
Raga menangis, ia sangat takut apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi. Raga kalut, tidak tau harus berbuat apa lagi.
Dengan peralatan seadanya, Raga mencoba lagi untuk menyadarkan Ira. Tapi tak juga membuahkan hasil.
Buliran bening terus mengalir di pipi Raga. Raga terisak.
''Bangun sayang! kakak bilang bangun!'' titah ya dengan bibir bergetar.
''Bangun sayang! kamu tega ninggalin kakak, hem?'' ucapnya masih dengan terus memompa dada Ira.
Jangankan untuk bangun, bereaksi pun tidak. Raga semakin menangis.
''Bangun sayang... hiks.. bangun... jangan tinggalin kakak, Ira!!!'' serunya lagi masih dengan terisak dengan tangan terus memompa dada Ira.
Sesekali ia memberikan nafas buatan, berharap Ira cepat sadar. Tetap tak bisa. Raga lelah karena terus memompa dada Ira.
Raga semakin menangis saat merasakan tubuh Ira yang begitu dingin begitu juga dengan tubuhnya.
Nafas Ira bahkan tidak keluar sama sekali. Raga mengangkat tubuh itu dan memeluknya.
''Nggak! kamu nggak boleh pergi! bangun sayang! bangun!'' teriak Raga.
Ira tetap diam. Bahkan tubuhnya sudah mulai kaku. Raga menggeleng kan kepalanya.
''Nggak! Ira ku tak boleh matiii!!! Ira ku belum matiii!! nggaakkk!!!'' pekiknya lagi.
__ADS_1
Saat ini udara begitu dingin dan mencekam, tapi Raga tidak merasakan sama sekali. Yang ia ingin dan lihat adalah Ira bernafas.
''Bangun sayang!!!! bangun... Tidaaaaakkk...haaaaa... tidaaaaakkk...'' teriak Raga begitu menggelegar di kesunyian malam.
Raga semakin menjerit histeris, dan tak karuan. Hatinya begitu hancur saat menyadari jika Ira tidak bernafas lagi.
Tubuh Ira yang sudah mulai kaku terus ia dekap. Ia peluk tubuh itu dengan erat. Raga semakin menjerit tak menentu.
Sekarang hati nya begitu sakit dan terima dengan keadaan.
''Nggak! aku yakin kamu masih hidup! bangun sayang! jangan kecewakan kakak! kamu tau, setelah acara ini selesai, kakak akan menikahimu! Abi dan ummi sudah setuju. Bangun sayang! jika kamu tidak bangun, maka kakak akan benci diri kakak sendiri sampai mati! karena tidak bisa menyelamatkan mu! Bangun sayang! jangan buat kakak kecewa! Ayo! kamu pasti bisa! Kakak yakin kamu masih hidup!!'' seru Raga dengan sesekali masih sesegukan.
Hawa dingin yang begitu menusuk ke tulang tidak ia pedulikan, baginya Ira. Itu saja. Raga terus berbicara tanpa henti walau Ira tidak merespon sama sekali.
Jika seluruh teman-teman nya melihat Raga yang histeris seperti itu, entah apa yang mereka pikirkan.
Sedangkan di perkemahan sana, Risa dan Wahyu semakin cemas saja. ''Kak.. gimana ini?? Kak Raga dan Ira belum kembali kak!'' ucap Risa, ia begitu gelisah memikirkan sahabatnya itu dan juga ketua OSIS mereka.
Wahyu pun sama, tapi apa daya jika tadi sebelum raga masuk ke hutan, ia sempat mengirim pesan ke Wahyu, jika Wahyu tidak boleh berbicara apapun kepada dewan guru dan juga teman-teman yang lain.
''Kakak nggak bisa Risa.. tadi Raga udah kirim pesan. Jika sampai besok pagi mereka juga belum balik maka baru kakak beri tahu pak Madan, begitu pesannya.'' sahut Wahyu.
Membuat Risa semakin khawatir. ''Ini udah malam loh kak... gimana dengan mereka berdua??''
Risa yang bisa pasrah dan diam. Ia harus mengikuti perintah Raga yang ia kirimkan kepada Wahyu sebelum tadi masuk ke dalam hutan.
''Kamu dimana Ga...'' gumam Wahyu masih terdengar oleh Risa.
Risa semakin menguatkan cengkraman tangannya pada Wahyu. Dari semenjak sore, Risa tidak mau jauh dari Wahyu.
Banyak dari mereka yang meledek Wahyu dan Risa. Tapi mereka berdua tidak peduli. Bahkan Wahyu dan Risa harus tidur satu tenda karena Risa tidak mau lepas dari Wahyu.
Wahyu hanya bisa pasrah. Mereka di buly habis habisan. Tapi mereka berdua tak perduli.
Pak Madan melarang Risa, tapi Risa tetap kekeuh. Risa begitu khawatir dengan Ira, hingga ia sampai demam.
Jadilah Wahyu yang mengurusnya. Karena Risa tak mau jauh dari Wahyu.
Sedangkan Raga di dalam hutan, masih saja berteriak histeris. Habis sudah tenaganya. Lemas sudah tubuhnya.
Sakit hatinya saat menyadari jika sang pujaan hati tidak sadar-sadar juga sedari tadi. Ia semakin kuat menangis.
Hingga yang terdengar di tengah hutan di kesunyian malam, hanya lah suara Raga yang begitu histeris.
__ADS_1
''Bangun sayang.... bangun hiks.. bangun hiks.. kakak nggak sanggup hidup tanpa mu... bangun sayang.. jika kamu pergi kakak pun ikut pergi bersama mu... bangun Ra... bangun hiks..''
Raga masih saja histeris disana seorang diri dengan Ira di dalam pelukannya. Raga memeluk Ira begitu erat.
Baju yang basah tidak ia pedulikan. Rasanya baju itu sudah mengering dengan sendirinya Karena hawa panas dari tubuh Raga.
''Bangun sayang... haaaaa... bangun... aaaaa... bangun... jangan tinggalin aku.... huhuhu....''
Masih sama seperti tadi, Raga terus berbicara sendiri dengan Ira yang sudah tidak sadarkan diri.
Tidak sekalipun Raga melepaskan Ira. Tubuhnya yang dingin sudah terasa kaku. Raga merasakan itu.
Tapi ia yakin, jika Ira, kekasihnya, jodoh masa depannya masih hidup. Ia yakin, Ira belum pergi.
Ia hanya sedang tidur. Raga terus mensugesti dirinya sendiri bahwa Ira masih hidup dan belum meninggal.
''Bangun sayang... bangun...'' lirihnya di telinga Ira.
Raga masih memeluk tubuh kekasih hatinya itu, ia masih mendekap tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
Saat Raga ingin menjerit lagi, ia merasakan keanehan pada tubuh Ira. Ia merasakan jika jantung Ira mulai berdetak tapi sangat lemah.
Raga terdiam, ia meresapi rasa debaran dari dadanya dan juga dari dada Ira. Semakin lama semakin cepat detak jantung Raga.
Begitu juga dengan Ira. Tubuh yang tadinya kaku, kini sudah mulai lemas kembali. Raga bisa merasakan itu.
Raga terdiam dengan mata terpejam merasakan kehangatan dari tubuh sang pemilik hatinya.
Saat ia sudah yakin jika Ira sudah sadar, Raga mengendurkan pelukan itu, dan menatap wajah pujaan hatinya.
Terlihat hawa panas keluar dari tubuh Ira begitu juga dari area hidung nya. Raga tersenyum.
Ia mengecup kening Ira berulang kali. Dan mengucap syukur ribuan kali. Hatinya begitu senang, saat tau jikak Ira sudah kembali lagi bersama nya.
''Bangun sayang... kakak disini...''
''K-kak Ra ga...''
💕
Huaaaa... othor nangis nulis part ini hiks. ðŸ˜ðŸ˜
Like dan komen ye! hiks..
__ADS_1
TBC