Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Pesan Ira


__ADS_3

''Untuk sementara ini, Raga harus ikut tinggal bersama Ummi! Raga akan Ummi masukkan kedalam pesantren! Dan setelah itu, ia akan melanjutkan sekolahnya ke Inggris. Begitu perintah Opa nya. Apakah kamu siap berpisah dengan suami mu, Nak?''


Deg!


''Berpisah??'' beo Ira


''Ya!'' sahut Ummi Hani.


''Hah?'' Mulut Ira menganga.


Abi Hendra terkekeh. Sedangkan Raga semakin gelisah saja. Ia meremas kedua tangannya.


Ia tetap menunduk tidak berani menatap Ira. Karena semua ini di luar kendali nya. Rencana nya ingin dibicarakan saat ini juga tapi lebih keduluan dengan ummi Hani.


''Berpisah? Maksud Ummi gimana? Kakak belum paham loh..''


Lagi Abi Hendra terkekeh. Ummi Hani menghela nafas berat. Sedangkan Mak Alisa mengulum senyum.


''Begini Nak.. Raga sebentar lagi akan tamat. Jadi setelah tamat sekolah nanti, kalian berdua harus berpisah sementara. Karena Raga harus mondok, begitu juga dengan kamu kan?''


Ira mengangguk namun masih menyimak apa ucapan ummi Hani selanjutnya. ''Untuk itu Raga tidak akan tinggal disini akhirnya bersama mu. Raga akan tinggal bersama Ummi sampai nanti ia kuliah ke luar negeri. Kamu jangan khawatir, jika nanti Raga libur Ummi akan menyuruh nya untuk menginap disini. Untuk sekarang masih bisa lah. Tunggu sampai ijazah nya keluar dan juga ia akan mondok. Baru setelah itu kalian berdua akan berpisah sampai Raga lulus kuliah nanti nya. Kita akan adakan resepsi sekalian. Untuk mengumumkan tentang pernikahan kalian berdua.'' Jelas ummi Hani membuat Ira menoleh pada Raga.


''Kak??'' panggil Ira. Raga menoleh dengan mata berkaca-kaca.


''Maaf...'' lirihnya.


Ira tersenyum. Senyum yang sengaja ia paksakan. Hatinya sakit saat mendengar ucapan ummi Hani baru saja.

__ADS_1


''Tak apa Ummi.. toh memang ini kan yang seharusnya terjadi ? Cepat atau lambat kami pasti akan berpisah. Tidak karena sekolah bisa juga karena hal lain? Begitu kan Ummi?''


Deg!


Raga tersentak mendengar ucapan Ira. Ia menatap nanar pada pujaan hati nya itu. Ira tersenyum tipis.


Bohong jika Ira tidak sakit ketika mengatakan hal itu di depan semua orang. Tapi inilah kenyataan yang harus ia jalani.


Sekarang saja bisa berpisah. Tidak menutup kemungkinan bukan, jika nanti mereka akan berpisah karena hal lain?


Raga menghela nafas berat. Ia menatap Ira yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ummi Hani terkekeh melihat pasangan labil itu. Begitu juga dengan Abi Hendra. Ummi Hani mengkode Raga untuk mengajak Ira masuk ke kamar dan membicarakan hal ini.


Raga mengangguk patuh. "Ummi, Abi, Mak.. kami ke atas ya? Ada PR yang harus kami kerjakan. Ayo Ra.." ajak Raga pada Ira.


Ira enggan, tapi karena Raga menariknya terpaksa ia menuruti mau Raga. Mereka berjalan beriringan menuju kamar Ira.


Karena sudah waktu dhuhur. Raga menghela nafasnya. Ia pun bergegas berwudhu, setelahnya melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.


Selesai sholat, Raga duduk berhadapan dengan Ira. Ira ingin bangkit tapi ditahan oleh Raga.


"Sebentar sayang, duduk dulu ada yang ingin kakak sampaikan." Imbuh Raga dengan menatap lekat pujaan hatinya itu.


Ira menurut, namun wajah itu begitu datar terkesan seperti Ira tidak ingin mendengar ucapan Raga.


"Maaf..." lirih Raga sembari memegang tangan Ira.

__ADS_1


Ira mengernyitkan dahinya. "Maaf? Buat apa?"


Raga menoleh Ira dan menatapnya. "Maaf jika kamu harus tau lebih dulu dari Ummi bukan dari ku.. sebenarnya tadi, Kakak ingin mengatakan nya pada mu. Eh, tak taunya keduluan sama Ummi.." lirih Raga lagi.


Ira menghela nafasnya. "Sudahlah Kak.. aku tak apa. Bukankah memang ini yang harus terjadi? Seharusnya kita di nikahkan saat nanti kamu selesai sekolah mu diluar negeri. Begitu juga dengan ku. Kita berdua sama. Tapi inilah takdir yang harus kita jalani. Sebaiknya ikuti takdir ini. Aku tak tau apa yang terjadi dengan masa depan. Jika ingin mendapat masa depan yang baik, maka mulai sekarang kita harus sering berdoa yang baik kepada Allah. Agar kelak doa itu dikabulkan oleh Nya."


"Aku tak tau apa yang kamu pikirkan tentang ku Kak Raga. Bukan maksudku menuduh mu berbuat tidak baik nantinya. Tapi kamu lelaki. Lelaki jika disuguhkan dengan perhiasan dunia yang lain, pastilah ia akan terpikat. Apalagi aku jauh dari mu! Aku tidak yakin kamu bisa menjaga dirimu. Kamu bisa menjaga diri dari hal yang tidak baik, tapi kamu tidak bisa menjaga dirimu dari yang namanya wanita. Karena parasmu akan banyak wanita yang menyukai mu selain aku."


"Pesanku, jika suatu saat kamu mulai bosan denganku, maka tolong katakan. Jadi aku bisa bersiap untuk pergi darimu tanpa merasakan yang namanya nya sakit hati. Aku masih kecil kak.. tapi pengalaman hidup mengajarkan ku tentang hal ini. Jauh sebelum ini, rumah tangga Mak ku bersama Ayahku, akulah yang menjadi saksinya. Begitu berat cobaan yang Mak ku hadapi. Tapi ia tetap bersabar menghadapi nya. Aku tidak sama dengan Mak, Kak Raga. Aku memiliki jiwa yang lain dari dirinya."


"Jika suatu saat kamu melakukan hal yang sama seperti ayah ku lakukan, maka aku lebih memilih mundur! Aku tidak mau terluka terlalu dalam seperti Mak ku. Buat apa aku bertahan jika yang ku pertahankan tidak menginginkan ku sama sekali? Lebih baik aku pergi daripada harus menderita. Aku tak mau merasakan sakit lagi. Jika kamu tidak mau melepaskan, maka aku yang akan melepasmu." Lirih Ira


Tanpa di pinta buliran bening itu mengalir di pipi nya. "Aku tidak akan pernah melepaskan mu! Sekalipun aku melakukan kesalahan seperti ayahmu, aku tidak akan melepaskan mu! Bukankah masih ada kesempatan kedua? Apakah kamu tidak ingin memberikan kesempatan kedua pada ku?"


"Aku akan memberikan kesempatan kedua padamu Kak Raga, karena aku memang menginginkan mu. Tapi bagaimana dengan Papi ku? Apakah ia akan menerima kelakuan mu yang seperti itu? Apakah ia akan mengizinkan mu untuk kembali lagi padaku? Secara kamu telah menyakiti perasaan ku ? Kurasa tidak! Aku tau seperti apa Papi ku. Papi Gilang! Bukan Ayah Emil!"


Deg!


Terkejut Raga mendengar nya. "Kenapa kamu berfikiran seperti itu sih? Kamu menuduhku? Kita kan hanya berpisah sementara? Lalu apa yang kamu takutkan?"


"Aku bicara fakta Kak Raga! Bukan aku menuduh mu seperti itu. Aku tidak takut apapun! Aku hanya takut pada Allah saja. Kita memang berpisah sementara. Tapi dalam sementara itu pastilah terselip ujian bagi kita berdua. Pesanku untuk yang terakhir kalinya. Dengar kan baik-baik."


"Jika suatu saat kamu memilki cinta yang lain, maka katakan padaku! Jangan sembunyikan apapun dariku! Katakan yang sejujurnya, agar aku tau apa yang menjadi keinginan mu. Dan aku akan pergi dari kehidupan mu selamanya."


Deg!


Deg!

__ADS_1


💕💕


TBC


__ADS_2