Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Semua untukmu hunny..


__ADS_3

Ceklek,


Pintu terbuka lebar. Lagi, mulut Ira menganga melihat ruangan tamu mereka dihias seperti dulu lagi saat mereka baru selesai resepsi.


Kali ini rumah itu sudah disulap menjadi kamar yang begitu cantik. Kamar yang dipenuhi dengan bunga mawar merah.



Ira sampai mematung melihat nya. Raha terkekeh, melihat tingkah sang istri.


''By??''


''Hem?'' sahut Raga dengan segera memeluk erat tubuh Ira dari belakang. Dengan dagunya ia letakkan di bahu Ira.


Jantung keduanya berlomba begitu cepat. ''Apa? Kenapa diam? Ingin tanya apa?'' lirih Raga dengan mata terpejam.


Saat ini, ia sedang meresapi wangi tubuh Ira yang selalu bisa menenangkan nya. Ira masih terdiam membisu.


Mulutnya tidak bisa bicara, karena tangan Raga sudah masuk menelusup kedalam gamisnya bagian depan.


Mencari tempat ternyaman untuk ia letakkan kedua tangan hangatnya. Ira menggigit bibir untuk menahan suara indahnya.


Raga terkekeh, ''Di lepas hunny.. kenapa ditahan begitu? Di rumah ini hanya kita berdua. Ummi tidak akan pulang kesini, karena kakak sudah melarang nya. Ini malam pertama kita setelah kesembuhan mu.. hemm... nyamannya..'' lirih Raga semakin menelusupkan kedua tangannya menuju bukit kenyal yang menantang untuk ia sentuh.


Ira sudah tidak konsen, Raga tau itu. Ia menuntun Ira untuk menuju pembaringan mereka.


Tiba disana, Raga melepas kan satu persatu kain yang melekat di tubuh sang istri. Wajah Ira merona.


Sama seperti pertama kali Raga menyentuh nya dulu. Raga terkekeh. ''Semoga kali ini, bibit unggul ku bisa membuahi sel telur mu. Agar menjadi seonggok daging yang merupakan buah cinta kita berdua. Kamu siap hunny??''


Raga menangkupkan tangannya di pipi Ira. Ira tersenyum dan mengangguk. Raga maju untuk memulai penyatuan mereka untuk yang kesekian kalinya.


Tiada lagi rasa sakit saat benda lunak tak bertulang itu memasuki rumahnya. Yang ada hanya suara lenguhan dan desahaan dari dua orang yang sedang memadu kasih.

__ADS_1


Berharap, di bulan berikutnya mereka berdua akan mendapatkan kabar gembira dari sang Maha Kuasa.


Amiiinnn..


Semoga saja.


Dua Minggu berlalu saat malam penyatuan itu. Kini ada yang aneh dengan Raga. Sehabis subuh ia kembali tidur lagi. Tidak biasanya Raga bertingkah aneh seperti itu.


Ira terkekeh melihat itu. ''By...''


''Hemm...'' jawab Raga dengan mata terpejam.


''Bangun... udah siang loh.. kamu nggak praktek hari ini? Tak ada pasien kah??''


''Hemmm.. ada. Tapi nanti siang. Pagi ini sengaja kakak kosongkan. Ngantuk, hunny...''


Ira tertawa kecil. Ia mengusap pipi Raga yang halus itu tanpa bulu sedikit pun. ''Kalau begitu, biarkan aku yang menjadi pasienmu. Gimana? Mau?''


Raga tak peduli, matanya tetap terpejam. Sangat lengket sangat sukar untuk dibuka. ''By... ayolah..'' pinta Ira.


Karena kedua adik kembarnya ingin mengadakan ulang tahun kecil-kecil an dengan mengundang anak jalanan dan yatim piatu.


Ira menghela nafasnya. Lelah, membujuk akhirnya Ira turun. Dan memilih duduk di dapur bersama Bik Surti.


Siang hari nya Raga terbangun dengan kepala pusing dan mual tiba-tiba. Ia berlari sempoyongan dan hampir saja menabrak pintu, jikalau tidak berhenti.


Mual itu begitu mendesaknya untuk mengeluarkan isi perutnya. Ira yang baru saja datang dari dapur, sengaja untuk membangunkan Raga untuk siap-siap, malah mendengar suara Raga muntah-muntah di kamar mandi.


Ira terkejut, dengan cepat ia berlari menuju kamar mandi untuk melihat sang suami. ''Astaghfirullah! Kamu kenapa, By! Kenapa duduk dilantai gini? Ada apa? Kamu masuk angin?'' cecar Ira dengan banyak pertanyaan.


Ia memeriksa seluruh tubuh Raga. Barangkali memang benar masuk angin. Ia memijat lembut punggung Raga.


Raga tidak bisa menjawab. Seluruh tubuhnya lemas tak berdaya. Seperti tak bertulang. Ingin menjawab ucapan Ira pun ia tak mampu.

__ADS_1


Semua sarapan tadi pagi yang ia makan setelah subuh, keluar semua. Hingga terakhir muntah pahit yang keluar.


''Lemas hunny.. peluk!'' pintanya dengan lirih.


Ira memeluk tubuh tegap Raga yang sudah kembali seperti dulu lagi. Ira mengusap lembut kepala dan tubuh Raga.


''Kamu kenapa? Masuk angin? Sanggup jalan? Ayo, kita rebahan diranjang saja ya?'' Raga mengangguk.


Dengan perlahan, ia di papah oleh Ira dan dibaringkan diranjang mereka. Ira dengan sigap mengoleskan minyak telon di tubuh Raga.


Ia usap keseluruhan di tubuh nya membuat Raga merasa nyaman. Hanya bau itu yang Raga tahan.


Sedang yang lain, Raga bisa pusing. Termasuk parfum miliknya. ia hanya mau wangi minyak telon. Aneh sih. Tapi itulah yang terjadi padanya selama dua Minggu ini.


Ira tertawa saat menyaksikan Raga membalur tubuhnya dengan minyak telon. Katanya, Raga seperti bayi.


Deg!


Mata Raga terbuka sempurna. Ia menatap kalender yang berada di atas nakas. Ia memicingkan matanya saat melihat tanggal yang biasanya Ira datang bulan tidak ada.


Sejak dua Minggu terakhir, dan juga setelah malam penyatuan mereka setelah Ira dinyatakan sembuh, Ira belum mendapatkan tamu bulanan nya.


Seutas senyum terbit di bibir tipisnya. Dengan segera ia memeluk perut Ira dan mengecupnya berulang kali.


Ira tidak tau akan perbuatan Raga. Karena Raga akan selalu tidur dipangkuan nya dikala mual dan pusing itu melanda dirinya.


Ia mengecup perut Ira berulang kali sambil berdoa di dalam hati.


''Semoga kalian sudah berada di perut ummi, ya sayang? Abi akan menunggu hari dimana kalian lahir ke dunia ini. Abi percaya, gejala yang Abi alami sekarang, pasti karena kalian bukan? Masyaallah.. secepat inikah kalian hadir nak? Semoga ya? Dua Minggu dari sekarang, Abi akan periksa ummi kalian. Semoga tebakan Abi ini benar! Hunny... akan ku lakukan apapun untukmu. Apapun.. semuanya hunny.. semuanya. Karena hidupku adalah kamu dan anak-anak kita nanti. Semoga di dalam rahim mu ini sudah tumbuh buah cinta kita. Buah cinta yang sangat kita nanti-nanti. Semoga ya.. Amiiinnn...'' pinta Raga dalam hati.


Ia terus menerus mengecup perut Ira yang tertutup dengan baju gamisnya.


Semoga saja.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Maaf ye terlambat lagi euuyy.. 😁😁


__ADS_2