
''Semoga Sandi dan Sonia bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi. Dan juga, semua kejadian ini mereka jadikan pelajaran untuk kedepannya,'' imbuh ummi Hani sambil memegangi tangan Nyonya Anita.
Nyonya Anita membalas ummi Hani dengan memegang tangan itu lebih erat lagi. ''Anda yang sabar Nyonya Hani.. semua pasti ada hikmah nya. Tidak ada kejadian tanpa ada hikmah yang menyertai nya. Saya pun berharap, Ragata cepat bangun dan kami sekeluarga bisa bertemu dengan nya untuk meminta Maaf.''
''Tentu, Nyonya Anita. Kami tinggal menunggu Ira saja untuk menemuinya. Karena saya yakin, jika hanya Ira yang bisa membawa Raga kembali. Mungkin inilah yang di inginkan oleh putra kami. Ia tertidur karena tidak ada Ira bersama nya. Untuk itu, ia akan menunggu sampai Ira pulang untuk menjenguk nya dan Ragata pasti akan bangun. Saya yakin itu.'' ucap ummi Hani dengan tersenyum manis pada Nyonya Anita.
Nyonya Anita dan tuan Krisna pun mengamini doa Ummi Hani. Puas dengan bercakap-cakap sebentar.
Setelah itu mereka kembali dengan harapan semoga Ragata bangun saat sang istri kembali lagi.
Satu tahun kemudian.
Hari ini Ira dan keempat temannya akan pulang kembali ke Medan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan untuk menuju ke Medan.
Dalam perjalanan menuju ujung ke Medan, Ira menerima telepon dari Abi Hendra. Ia menanyakan sudah sampai mana, bakar nabati Abi Hendra yang menyusul nya.
''Assalamualaikum, Abi..''
''Waalaikum salam, Nak. Sudah berangkat?'' tanya Abi Hendra melalui sambungan video call.
Ira tersenyum dan mengangguk. ''Sudah Abi.. ini sudah di jalan. Besok, kalau udah sampai kakak kabari Abi, ya? Kak Raga mana? Kok selama setahun ini, tidak ada kabar sama sekali? Apakah terjadi sesuatu dengan nya??'' tanya Ira dengan raut wajah panik
Abi Hendra tersenyum namun sendu. ''Pulang lah dulu kesini. Nanti kamu akan tau apa yang terjadi dengan suami mu. Saat ini, Ragata sedang menunggu kepulangan mu.''
Ira semakin panik. ''Ada apa Abi? Apa yang terjadi dengan Kak Raga?! Kenapa dengan nya?! Kenapa Abi?!'' seru Ira semakin panik.
Ummi Hani mengambil alih ponsel Abi Hendra, ''Nak? Dengarkan Ummi!'' titah ummi Hani dengan suara tegas.
Ira terdiam, wajah panik dan ketakutan itu begitu terlihat disana. Sebenarnya ummi kasihan melihat Ira.
Bukan hanya Ragata, tapi Ira juga sama sepertinya. Wajahnya begitu kurus. Sangat kentara terlihat.
Walaupun tertutup hijab dan niqob, ummi Hani bisa tau, jika Ira juga sama seperti Ragata.
''Pulang lah kemari dulu. Besok pagi, Abi yang akan menyusul mu. Tunggu saja ya? Untuk sekarang, jangan berpikir macam-macam. Kamu jangan panik dan jangan takut. Ragata baik-baik saja.'' ucap ummi Hani menenangkan Ira.
Ira akhirnya bernafas lega. ''Baiklah Ummi, kakak tutup dulu telepon nya. Besok, kalau udah sampai kakak kabari ummi.''
''Ya, hati-hati di jalan. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam Ummi..'' jawab Ira.
Setelah itu sambungan video call itupun terputus. Ira menatap keluar jendela melihat jalan yang di laluinya.
Tadi, sebelum berangkat Ira sempat kerumah Nenek Alina untuk berpamitan. Nenek Alina sempat berpesan, apapun yang terjadi nanti, ia harus kuat dan Sabar.
Ira sempat bingung. Ketika ditanya ada apa, Nenek Alina bilang jika ia akan tau saat pulang ke Medan nanti.
Itu semakin membuat Ira kepikiran. Ada apa sebenarnya? Apakah terjadi sesuatu? Terus, kemana Ragata selama setahun ini tidak menghubungi nya?
__ADS_1
Ada apa?
Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya Ira. Hatinya menjadi tidak tenang. Ia merasa seluruh keluarga besar nya sedang menutupi sesuatu darinya.
Lelah memikirkan hal itu, Ira lebih memilih memegang tasbih untuk menenangkan hatinya.
Lidah terus berzikir, namun hati meraba-raba entah kemana. Hingga tanpa sadar Ira terbangun saat ustadzah Zafa membanguni nya untuk melakukan sholat Maghrib dan isya dulu.
Mereka turun untuk melaksanakan sholat maghrib dan isya. Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk menjual kembali ke kota Medan.
Keesokan harinya.
Pukul tujuh pagi Ira sudah sampai di terminal Bus. Ia turun dengan pikiran berkecamuk. Ia tidak sadar jika Abi Hendra dan Rayyan sudah berdiri untuk menyambut nya.
Ira berjalan linglung tak tentu arah. Rayyan yang melihat gelagat Ira menjadi aneh, dengan segera mengejar nya.
''Kakak!!'' panggil Rayyan.
Ira menoleh. ''Rayyan? Kamu kesini? Mana Kak Raga? Apa dia tidak menyusul Kakak?'' tanya Ira sambil celingukan kesana kemari mencari Ragata.
Rayyan tercubit hatinya melihat Ira begitu merindukan Ragata dan berharap jika suaminya itu yang menyusulnya.
Rayyan menahan sesak di dada. ''Ayo, bang Raga udah nunggu kita. Makanya Abang susulin kakak berdua sama Abi. Ayo, itu Abi Hendra.'' tunjuk Rayyan pada Abi Hendra.
Abi Hendra tersenyum, Dengan segera ia memeluk tubuh ringkih Ira yang semakin kurus.
''Assalamualaikum, Nak?'' sapa Abi Hendra sambil memeluk Ira dengan erat.
Belum puas rasanya Jika belum mendapatkan jawaban dari mereka berdua. ''Ayo, Abi akan membawa mu pada Ragata. Saat ini dia sedang menunggu kepulangan mu.''
Ira mengurai pelukannya, ''Maksud Abi apa??'' tanya Ira semakin kebingungan.
Sementara Rayyan yang sudah tidak tahan lagi langsung berlalu meninggalkan Abi Hendra dan Ira.
Ia mengambil mobil milik Papi Gilang dan berhenti tepat di hadapan Ira. ''Ayo naik. Nanti kamu akan tau dimana suami kamu. Ayo,'' paksa Abi Hendra lagi.
Ira semakin dibuat tidak tenang. ''Ada apa Bi? Kenapa Kakak merasa jika kalian menutupi sesuatu tentang kak Raga?'' tanya Ira semakin tidak tenang.
Ani Hendra mengulas tentang terpaksa pada Ira. ''Bersabarlah. Sebentar lagi, kamu pasti akan tau. Istirahat aja dulu. Atau kamu mau sarapan pagi?''
Ira menggeleng, ''Kakak udah makan tadi di Berastagi. Sekarang kakak kenyang. Ini ada apa sih?'' tanya Ira untuk yang kesekian kalinya.
''Sabar...'' hanya itu yang bisa Abi Hendra ucapkan saat ini.
Sepanjang perjalanan, Ira tetap saja gelisah. Matanya awas melihat perubahan raut wajah Abi Hendra dan Rayyan yang semakin sendu setelah mereka berdua menemani telepon dari ummi Hani.
Satu jam kemudian.
Mereka tiba di halaman rumah sakit Adam Malik Medan. Ira mematung melihat itu. Pikirannya sudah bisa menerka, pasti terjadi sesuatu yang buruk pada Ragata.
__ADS_1
Karena mental Rayyan Abi Hendra bergantian. ''B-bi.. Dek?? I-ini???'' tanya Ira dengan wajah pucat.
Tubuhnya gemetar karena rasa takut. ''Ayo Kak. Kuatkan dirimu. Abang ada didalam sedang menunggu mu.''
''Apa?! Tapi.. tapi kenapa??'' tanya Ira dengan panik.
Rayyan terus memaksa Ira berjalan. Ia menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya agar bisa ia tuntun keruangan Raga.
Sepanjang jalan, Ira semakin dibuat tidak tenang. Tiba di depan pintu ruang VVIP, Ira mematung.
Suara tangisan sahut menyahut sudah terdengar dari dalam. Kaki Ira semakin lemas. Ia luruh kelantai, beruntung nya Rayyan cepat menangkap tubuhnya.
''Ayo, bang Raga ada didalam!''
Ceklek,
Pintu terbuka. Semua yang ada disana mematung melihat Ira. Ira semakin lemas lututnya saat melihat ummi Hani menangis sesegukan. Begitu juga dengan Mak Alisa.
''Dek???'' panggil Ira pada Rayyan.
Rayyan mengangguk, namun air mata itu sudah beruraian. ''Abang menunggu kakak. Ayo!'' katanya lagi.
Ia menuntun Ira menuju bangkar dimana Ragata berada. Mata Ira tertuju pada tubuh yang tergeletak di ranjang pasien.
Semakin dekat, semakin sesak dada Ira. Tiba di tengah ruangan, kakinya membeku di tempat.
Terlihat seseorang di bangkar itu sudah tertutup kain putih. Ira menatap Rayyan, tapi Rayyan tidak mampu menahan Isak tangisnya.
''Itu siapa Dek? Kak Raga kah?'' tanya Ira dengan air mata yang sudah bercucuran.
Rayyan hanya bisa mengangguk, tidak bisa menjawab ucapan Ira. ''Kenapa?'' tanya Ira lagi.
Matanya masih menatap tubuh kaku yang tertutup kain putih itu. Rayyan menggeleng dan terus saja terisak.
''Raga sudah tiada nak tiga puluh menit yang lalu. Ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya...'' lirih Mak Alisa dengan bibir bergetar.
Ira menggeleng tak percaya. ''Kak Raga? Meninggal? Meninggalkan ku?'' tanya nya lagi.
Rayyan tidak sanggup untuk berkata lagi. Dengan segera ia menuntun Ira untuk menuju pada bangkar Raga.
Ira menurut. Tubuh nya kaku seperti kayu. Rayyan dapat merasakan itu. Dengan segera tangan gemetar ummi Hani, membuka kain putih itu.
Deg!
Tubuh Ira membatu di tempat. Wajahnya pucat seperti mayat. Bibirnya kelu untuk berbicara.
''Hiks.. Tidaaaaakkk... Kak Ragaaaa... haaaaa...''
Ddddduuuaaarrrr...
__ADS_1
💕💕💕💕
Hiks.. masih ada lagi!