
Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Kini hubungan Raga semakin renggang. Bukan Ira yang membuat renggang, tapi Ragata lah yang membuatnya.
Hubungan yang dulu dikira bisa di selamatkan oleh Ira, ternyata Ragata sendiri yang membuat ulah.
Berulang kali Ira bersabar dengan kelakuan Raga, tapi pemuda itu seperti sudah tidak ingat lagi dengan Ira, sebagai istrinya.
Setahun yang lalu, Raga pernah pulang. Tapi tak pernah menemui Ira. Ia sibuk dengan gadis baru.
Pertemuan itu tanpa sengaja mereka bertemu dengan Ragata tidak mengenali Ira Sam sekali. Hatinya hancur lebur saat mengetahui itu. Sesak sekali dadanya.
Ia meremas dadanya yang begitu sesak saat mendengar panggilan Ragata kepada gadis itu dengan kata sayang.
Mereka bertemu di saat Raga menemani Raga menemani gadis itu untuk belanja di pusat perbelanjaan Papi Gilang.
Hancur sudah harapan Ira untuk membangun mahligai rumah tangga bersama Ragata. Namun ia masih tetap mencoba bersabar.
Barangkali Raga sedang khilaf saat ini. Pikirnya. Dan hari ini, pemuda yang ia cintai akan pulang ke tanah air.
Ia menunggu Ragata di rumah baru mereka. Hadiah dari Papi Gilang dan Abi Hendra. Atas keteguhan nya selama ini dalam menunggu Raga.
Rumah baru itu, baru di huni satu bulan ini oleh Ira. Rumah impian Ragata dua tahun yang lalu sebelum kejadian ia membawa pulang gadis itu.
Ragata mendesain sendiri rumah mereka. Dari pertama di bangun hingga selesai. Yang Raga tidak tau ialah, jika rumah itu sudah di huni oleh Ira.
Awal mula kehancuran hidup Ragata.
Saat ini sedang bersiap-siap menunggu kedatangan Raga. Ia berhias secantik mungkin untuk menunggu suaminya tiba.
Ia sibuk dengan memasak di dapur makanan kesukaan Raga. Tanpa sadar waktu terus berlalu.
Ira melamunkan keadaan Raga saat ini. Pastilah suaminya itu semakin tampan selama tinggal di Inggris.
Lamunan itu buyar saat terdengar suara deru mobil diluar rumah mereka. Rumah bertingkat dua, yang sengaja di desain khusus oleh Ragata dan juga Ira yang tidak di ketahui oleh Ragata.
Ira tersenyum saat mendengar suara deru mesin mobil itu. Senyum terus terpatri di wajahnya.
Ia berlari menuju depan pintu rumah mereka. Ia membuka pintu dengan tergesa dan...
''Sayang, aku capek! Mana sih pembantu kamu? Pegel ini?'' rengek nya manja.
''Sebentar sayang. Rumah ini masih baru. Belum ada penghuninya palingan cuma pembantu. Makanya aku membawa mu kemari agar ummi dan Abi ku tidak mengetahui hubungan rahasia kita!''
__ADS_1
Deg!
''Uuuhh.. so sweeeeetttt... terimakasih ya? Makin cinta deh! Cup!''
''Untukmu apapun akan aku lakukan sayangku! My Sweety! My future Wife!!''
Ddddduuuaaarrrr...
Ira membeku di tempat mendengar suara itu. Ia menatap nanar pada dua sejoli yang sedang bermesraan di depan pintu rumah mereka.
Hancur, lebur, sakit menyatu di dalam dirinya. Bergetar seluruh tubuhnya. Keringat dingin mencuat di dahi mulusnya.
Tubuhnya oleng ke belakang, tanpa sadar ia menabrak pintu rumah mereka begitu keras.
Bbbrrruuaakk.
''Astaghfirullah.. ya Allah...'' lirih nya dengan bibir bergetar.
Mendengar suara hentakan pintu yang begitu kuat, Ragata dan gadis itu melepaskan pelukan mereka.
Ragata mengernyitkan dahinya bingung melihat gadis yang sedang menyender di depan pintu rumahnya.
Gadis itu berjalan mendekati Ira. ''Hei pembantu! Bawa semua barangku ke kamar kami!'' ketusnya.
Ira masih menatap nanar pada sosok yang selama ini selalu ia sebut dalam doa nya. Sembilan tahun pernikahan mereka harus hancur karena Ragata membawa gadis lain ke dalam rumah mereka tanpa ikatan pernikahan.
Ragata melupakan statusnya yang sudah menikahi Ira. Ira tersenyum getir. Sangat getir. Ternyata yang ia takutkan selama ini benar adanya.
Ragata masih terdiam di tempat. Ia masih menatap Ira tanpa berkedip. Sementara gadis yang sudah berjalan ke dalam rumah mereka, kembali keluar karena tak mendapati Ragata masuk kerumah itu.
Dengan segera ia keluar. Karena Ira menghalangi pintu, ia mendorong hingga jatuh kesamping.
''Minggirrrr! Halangin Pintu aja sih nih pembantu? Sayang? Ayo...'' rengek nya lagi begitu manja terdengar di telinga Ira.
Ira menatap nanar pada pasangan baru itu. Sakit sekali. Seperti di iris-iris sembilu. Sangat sakit.
Dengan segera gadis itu membawa Ragata dengan merangkul tangannya. Ragata mengikuti gadis itu namun matanya masih fokus menatap Ira.
''Siapa gadis ini? Mengapa aku merasa dia begitu dekat denganku? Pandangan matanya mengingat kan ku tentang.. Ira?'' gumam Ragata dalam hati.
Ia menoleh lagi kebelakang melihat Ira yang masih bersandar di tepi dinding pintu rumah mereka.
__ADS_1
Ia tertunduk. Ragata mengernyitkan dahinya bingung lagi. ''Kenapa dadaku berdesir saat melihat gadis itu? Siapa dia? Apakah aku pernah mengenal nya?'' gumam Raga lagi dalam hati.
Karena Raga terlalu lambat dalam berjalan, gadis itu menyentak Raga hingga terkejut. ''Iya sayang. Ada apa? Apa yang sakit? Perut mu sakit? Hati-hati. Saat ini kamu sedang hamil loh..''
Ddddduuuaaarrrr..
Lagi petir menyambar di atas langit rumah mereka. Pandangan Ira semakin buram. Seburam cuaca saat ini yang semakin gelap.
Petir terus menyambar disertai kilat. Ragata yang mendengar itu begitu terkejut. Ia menoleh lagi pada gadis itu.
''Bawa masuk barang-barang kami. Antarkan ke atas. Ke kamar utama!'' tegas Raga dengan segera ia berlalu meninggalkan Ira yang jatuh, rubuh, terhenyak dilantai nan dingin.
Tubuh nya bergetar. Sakit sekali. ''Ya Allah.. inilah mimpi yang dulu Kau tunjukkan pada ku? hiks.. kenapa sakit sekali saat aku melihatnya secara langsung? hiks.. Papi .. hiks.. Papi.. kakak mau Pa.. Pi...'' lirih Ira begitu menyayat hati.
Mbok Surti menangis melihatnya. Dari dapur ia bisa melihat semuanya bagaimana sang majikan tidak mengenali istri sendiri.
Sadar jika tas milik Ragata basah, Ira bangkit dan membawa tas itu menuju ke lantai atas. Tiba disana, ia masih melihat jika kedua pasangan itu sedang melihat-lihat isi kamar mereka.
''Aku suka kamarnya sayang. Sangat bagus!'' ucap gadis itu.
Ragata tersenyum, ''Untukmu, apapun akan aku lakukan dan bayi kita!''
Deg!
Lagi, jantung itu berdegup begitu kencang. Bertalu-talu seperti ingin melompat keluar. Raga merasa ada seseorang sedang berdiri di belakang nya.
Ia menoleh, dan melihat Ira mematung di depan pintu dengan tubuh basah kuyup. ''Letakkan disitu saja. Setelah ini siapkan makan malam kami. Jangan mengganggu kami sampai malam tiba.'' ucap Raga masih dengan menatap lekat pada Ira.
Ira hanya mampu mengangguk pelan. Tidak bersuara sedikit pun. Ia berlalu setelah menutup pintu.
Dari dalam terdengar suara pekikan gadis itu yang begitu manja. Lagi, Ira seperti dilempar dan di hempaskan ke bawah tanpa sebab.
Jatuh ke dalam jurang yang paling dalam, hingga rasanya sulit untuk bangkit lagi.
Sakit sekali. Kamar utama yang seharusnya menjadi kamar mereka berdua, malah menjadi kamar wanita lain.
''Hiks.. hiks.. Papi... kakak mau pulang... hiks.. Papi..'' isaknya sambil menuruni tangga.
''Tega kamu Hubby! Kamar yang seharusnya menjadi kamar kita, malah kamu berikan kepada perempuan lain yang sedang mengandung anakmu? Hiks. Kejam sekali kau Ragata! Bahkan selama sebulan ini, aku belum pernah tidur di kamar itu. Aku rela tidur di bawah di kamar tamu. Hiks.. tega kamu Ragata!'' seru Ira dengan bibir bergetar.
Sakit sekali. Siapa yang tidak sakit? Saat melihat pria yang kita cintai, selalu di sebut di dalam doa, malah membawa perempuan lain ke rumah mereka saat usia pernikahan mereka genap sembilan tahun lamanya.
__ADS_1
Mampukah Ira melewati masa-masa pahit itu? Ataukah ia memilih mundur?
Nantikan kelanjutannya!