
Aura ummi Hani begitu dingin sekarang. Ia menatap datar pada ummi Siti dan ustad Sofian.
Matanya menatap tajam pada dua orang paruh baya yang ada di depannya. ''Sebenarnya apa yang kalian inginkan dengan menjodohkan putri kalian dengan keluarga kami? Ingin merubah nasib? Atau ingin di pandang sederajat oleh rekan-rekan ustad karena telah berhasil masuk ke dalam keluarga besar Hariawan?''
Deg!
Ummi Siti dan ustad Sofian terkejut mendengar ucapan ummi Hani. Ia menatap nyalang pada ummi Hani, namun karena ada Abi Hendra, ia sengaja merubah raut wajahnya itu.
Abi Hendra terkejut melihat perubahan yang ada pada ustad Sofian ini. Ummi Hani menoleh pada Abi Hendra dan tersenyum sinis.
''Nak Hendra.. apa maksud ucapan istrimu?'' tanya ustad Sofian setelah lama ia menatap dua orang yang ada didepannya ini.
Ummi Siti begitu geram dengan ummi Hani. Ingin sekali rasanya, ia menampar ummi Hani saat ini.
Tapi ia tahan, demi kelangsungan pesantren mereka.
Abi Hendra menatap ummi Hani, ummi Hani tau jika sudah seperti itu, maka dia yang akan menyelesaikan ini semua.
''Anda tau, apa maksudku Bapak Sofian Al Mashsyri! Anda ingin menyuap kami dengan putri anda, agar nanti pesantren ini bisa mendapatkan suntikan dana dari perusahan Hariawan? Picik sekali pikiran mu, ummi Siti! Tega-teganya kau menjual putri mu kepada kami untuk mendapatkan dana dari perusahaan. Cih! Aku? Tidak akan pernah Sudi menerima putri mu yang kecentilsn itu untuk putra ku! Aku sudah memiliki calon sendiri untuk putraku, bahkan lebih baik dari putri mu yang bermuka dua itu! Sama seperti mu Ummi Siti!''
Deg!
Deg!
Ummi Siti melotot mendengar ucapan ummi Hani. Ia menatap nyalang pada ummi Hani.
''Kau-,''
''Ayo, By! urusan kita disini telah selesai! Tujuanku datang kesini hanya untuk mengantarkan putraku untuk menuntut ilmu disini. Jika kalian keberatan, silahkan keluar kan Ragata dari pesantren ini. Dengan senang hati, aku akan membawa anakku pergi dari sini! Pikirkan baik-baik! Jangan berani-berani untuk mengusik keluarga Hariawan. Karena jika itu sampai terjadi, maka ku pastikan! Jika pesantren ini akan tinggal nama dalam waktu satu malam.'' Tegas ummi Hani.
Aura nya begitu dingin. Abi Hendra yang melihatnya pun sampai bergidik ngeri. Abi Hendra berdehem untuk mengurangi rasa kaku yang terjadi diantara mereka.
''Ehm, baiklah kalau begitu. Anda harus ingat ustad Sofian! saya datang kesini karena permintaan Papa saya. Untuk masalah perjodohan, aku menolak perjodohan antara putri mu dan putra tunggal ku! Terserah anda mau atau tidak! Saya tidak peduli. Bagi saya, kebahagiaan putra saya itu yang terpenting. Untuk masalah dana perusahaan, istri saya yang mengurus nya. Karena dialah Direktur keuangan di perusahaan itu. Ayo sayang , kita pulang! Assalamualaikum..''
Dengan segera Abi Hendra bangkit begitu juga dengan ummi Hani. Ummi Hani berjalan tergesa memikirkan menantu kesayangan nya.
''Tunggu Ummi!'' cegat Arumi.
Ummi Hani tak peduli. Dengan segera ia keluar dari pesantren itu dan berlari menuju mobil mereka. Yang ia pikirkan adalah Ira, menantunya saat ini.
Tiba disana, ia mematung melihat Ira sedang tertawa bersama Raga di bawah pohon rambutan.
Dengan Raga sedang memanjat pohon rambutan yang rindang itu. ''Yang itu By! Yang itu! bukan yang itu! Ishh.. itu masih muda hubby!'' seru Ira dengan merengut sebal.
__ADS_1
Raga terkekeh geli. Ia sengaja menggoda Ira. Karena sedari tadi, gadisnya itu terus saja berwajah datar.
Untungnya disisi pagar pesantren ada pohon rambutan yang rindang. Sengaja di tanam untuk meneduhkan lokasi pesantren.
''Hunny.. ini kan juga sudah matang loh.. kan merah juga ini..''
''Ishh.. di bilangin bukan yang itu! Gimana sih?! Kamu tunggu disitu. Aku akan kesitu untuk mengambil buahnya!'' ketus Ira.
Dengan segera ia melepaskan sepatu flat shoes nya dan menaiki pohon rambutan rindang itu.
Raga melototkan matanya. Begitu juga dengan ummi Hani dan Abi Hendra. ''Lah, loh hunny! Aduh.. jangan kesini .. nanti kamu jatuh sayang!'' tahan Raga saat Ira sudah mendekati dirinya.
Kini jarak mereka berdua begitu dekat. Hanya sejengkal saja. Ira menatap malas pada Raga. ''Aku nggak akan jatuh! Sebelum aku manjat di pohon ini, aku juga sudah lebih dulu manjat pohon yang lebih tinggi dari ini. Awas By!''
Raga melongo mendengar ucapan Ira. ''Hu-hunny.. turun yuk! aku takut kamu jatuh loh..'' larang Raga lagi.
karena melihat Ira semakin melewati diri nya. ''Nggak akan! Kan ada kamu suamiku? Cup!'' Ira mengecup sekilas bibir Raga.
Raga melotot tak percaya. ''Hunny!''
''Apa?? Isshh.. pegangin Hubby! Udah dapat ini buahnya ah! kok malah bengong sih?'' sungut Ira, ia merasa jika Raga sengaja menahannya, padahal buah itu sudah ia dapat kan.
''Iya, iya.. aku pegangin! Nih!'' Sahut Raga dengan jahil ia menelusup kan tangannya ke hijab besar Ira.
Padahal mah ingin tertawa melihat Ira mematung seperti itu. Ira menghela nafas panjang.
''Tangan mu hubby! Awas ih! geli aku..'' keluh Ira.
Raga cekikikan. ''Biarin! Siapa suruh kamu mau naik hingga sampai kesini, hem?''
Lagi, Ira menghela nafasnya. Dasar jahil! Umpat Ira dalam hati.
''Kamu kok ngeselin sih Kak? Lepas ih! Malu tau diliatin orang!''
''Nggak ada yang lihat! Aku senang bisa menyentuh dan berdekatan dengan mu seperti ini! Ini vitamin untukku!''
Ira memutar bola mata malas. ''Yang tadi emang kurang ya?'' tanya Ira polos.
Raga mengangguk dan tersenyum manis. ''Nanti saat kamu udah selesai kuliah baru bisa!'' celutuk Ira.
''Nggak mau! Maunya sekarang! pengen... please..'' pinta Raga dengan wajah memelas.
Lagi Ira menghela nafasnya. ''Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Tapi nggak sekarang Hubby! Kamu harus masuk loh..''
__ADS_1
''Nggak mau! Maunya seperti ini aja!'' sahut Raga.
Dengan segera ia masuk ke dalam hijab Ira dan berdiam diri disana. ''Kak.. kita di atas pohon rambutan loh.. masa iya disini sih? Tadi di mobil udah loh.. awas ih! Kurang kenyang apa? Kayak yang aku makanan aja!'' sewot Ira dengan bibir mencebik.
Raga tidak mendengar kan. Ia semakin erat memeluk tubuh istri nya. Setelah dirasa cukup, Raga keluar dari hijab Ira dan menatapnya lekat.
''Karena kebersamaan ku dengan mu akan berkurang setelah ini. Belum tentukan setiap Minggu aku akan pulang untuk bisa melepas rindu bersama mu?''
''Iya sih.. eh, eh, eh... Aaaaa ...''
Bruuuukkk...
''Astaghfirullah!!'' pekik ummi Hani dan Abi Hendra.
Mereka berlarian mengejar Raga dan Ira yang terjatuh dari pohon rambutan. Raga tersenyum jahil.
Ia sengaja membawa Ira turun sedikit demi sedikit dengan rayuan matanya tadi. Dan benar, Ira hanyut akan rayuan nya itu.
Akhirnya mereka jatuh dengan Ira diatas tubuh Raga. Bukannya merasa bersalah, malah Raga dengan segera mengecup lagi bibir Ira.
Ira melotot. Ia memukul-mukul dada Raga. Tapi dasar Raga. Ummi Hani dan Abi Hendra semakin melongo dengan perbuatan putranya ini.
Dengan segera ummi Hani mendekati mereka dan menarik Ira dari tubuh Raga.
Ah..
Plak.
Plak.
''Aduh.. kok di geplak sih Ummi?!''
''Dasar! Anak sama Abi nya sama saja! Ayo nak kita pergi!''
Abi Hendra dan Raga saling pandang. Kemudian menghela nafas panjang. ''Sabar...''
💕
Dasar nggak tau tempat! untungnya di luar pesantren?
Hihihi..
TBC
__ADS_1