Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Annisa ngamuk


__ADS_3

''Mak ku bukan pembawa sial! Hiks .. tega sekali mereka mengatakan jika Mak ku pembawa sial. Emang mereka itu siapa? Apakah mereka tau seperti apa Mak ku selama ini hidup? Hiks.. kejam! Nggak Ayah Emil, wanita tua itu juga sama! Aku kecewa! Kenapa Papi harus memiliki ibu sepertinya! Menuduh seseorang tanpa mengenal nya lebih dulu. Aku doakan semoga Nenek itu nantinya kualat! Ia akan menerima Mak ku menjadi menantu nya. Menantu kesayangan!'' Gumam Ira dalam hati.


Ia terus berusaha menenangkan Mak Alisa yang terus menangis sedari tadi. Walau pun hatinya menggerutu, tapi ia tetap menemani Mak liska disana.


Karena jarak antara Mama Dewi, Mama nya Papi Gilang hanya empat meter saja. Alisa masih mematung karena masih mendengar hinaan untuk dirinya.


''Ma... sudah! jangan terus mengumpat wanita itu! Ini sudah takdir, Ma! kita harus ikhlas dan pasrah atas semua yang telah terjadi pada Gilang. Karena inilah ujian dalam rumah tangga nya.'' ucap Papa Angga yang Ira tau jika itu adalah Papanya Papi Gilang.


Sengaja untuk tidak meneruskan Mama Dewi untuk menghina orang lain yang tidak bersalah sama sekali.


''Biarin! Memang bener kok gara-gara wanita pembawa sial itu. Semenjak Gilang kenal dengan wanita itu, semakin banyak perubahan yang Gilang lakukan terhadap kita! Termasuk menolak menikahi Vita. Pasti wanita pembawa sial itu yang meracuni pikiran putra kita!'' sahutnya menggebu-gebu.


Ia begitu kesal dengan ibu dari anak kecil yang bersama Gilang. Yang ternyata adalah Mak Lana dan Ira. ''Andai tadi bisa menahannya, pastilah tidak terjadi kecelakaan itu!'' ketusnya lagi.


''Apa sih istimewanya wanita itu dibandingkan dengan Vita?! Vita masih gadis, sedang dia?! Hanya seorang janda?! Suatu saat jika Mama bertemu dengan wanita itu, Mama akan menghajar nya karena telah berani meracuni pikiran putra kita untuk membenci Vita calon istrinya. Dan sekarang, saat Vita sudah sah menjadi istrinya pun, wanita itu tetap membayang-bayangi hidup GIlang! huh.''


Deg.


Deg.


Deg.


''I-is-istri?! Papi udah punya istri?!?'' ucap Ira sembari menoleh pada gadis yang sedang duduk di dekat Mama Dewi.


Ira semakin terkejut melihat gadis itu. Tidak jauh beda umurnya dengan Gilang. Wanita itu cantik menurut Ira.


Ummi Hani mengusap lembut tubuh Mak Alisa yang mulai bergetar karena menangis. ''Sabar...'' Hanya itu yang bisa Ummi Hani ucapkan untuk menyemangati Alisa.


Setelah beberapa saat mereka disana, ke lima orang itu pergi dari depan raungan Papi Gilang dan Lana yang sedang dirawat.


Kakek Kosim yang melihat Mak Alisa duduk menangis dengan mata sembab menyapa nya.


MElihat para majikan nya sudah pergi, Pak Kosim melangkahkan kakinya untuk menemui Alisa.


''Neng...''


Alisa mendongak. ''Pak...''


Wajah yang tadinya ayu, kini berubah sembab karenanya terus menangis sedari tadi.


''Ayo! Neng Alisa dicari den Gilang. Sudah sedari tadi. Tapi sengaja Bapak tahan. Takutnya kedua orang tua den Gilang akan tau yang mana Neng Alisa..'' lirih pak Kosim.


Pak Kosim menceritakan apa yang sebenarnya kepada Mak Alisa tentang Papi Gilang.

__ADS_1


Ummi Hani dan Ira yang mendengar nya hanya bisa menghela nafasnya. Selesai dengan bahasan itu, Mak Alisa berjalan tergesa memasuki ruangan Papi Gilang.


Ummi Hani yang melihat Mak Alisa melangkah masuk tergesa menggeleng kan kepalanya. Dari kejauhan ia melihat Abi Hendra dan juga Raga sedang berjalan ke arah mereka dengan tergesa.


''By!'' sapa Ummi Hani.


''Ummi! kamu harus pulang bersama Ira dan Raga, Annisa mengamuk dirumah. Ayo sekarang. Biar Abi yang disini!'' ucap Abi Hendra dengan nafas terengah-engah.


''Astaghfirullah! lupa ummi, By! ya sudah, sebentar!''


''Kak! ayo kita pulang! biarkan Mak mu disini. Kan ada Abi nanti yang menemani. Ayo! Annisa ngamuk! Kiara udah menangis dirumah karena semakin susah untuk di diamkan!'' ucap ummi Hani, membuat Ira mengangguk cepat.


Tanpa berpamitan pada Alisa, mereka bertiga berlarian di koridor rumah sakit. Abi Hendra mendatangi Pak Kosim dan duduk di sebelah nya.


Sedangkan Ira dan ummi Hani berlari dengan tergesa-gesa hingga Ira hampir menabrak pintu saking buru-buru nya.


''Astaghfirullah!!''


''Hati-hati sayang! Tenang.. adek pasti nggak apa-apa bersama Kiara di rumah.'' tegur Raga dengan memeluk Ira dari samping.


Ira masih saja gemetaran. Ummi Hani yang merasa jika kedua anak itu tidak ada terkejut. ''Lah? Ini pada kemana sih? Katanya tadi buru-buru? Tapi mengapa sekarang malah nggak ada?''


Ummi Hani mencari ke seluruh koridor rumah sakit. Hingga mata setengah tua nya itu melihat Ira dan Raga sedang berangkulan bersama.


''Kamu kenapa? Sakit lagi kah? Kambuh lagi? Kalau kambuh, ayo sekalian kita periksa! Mumpung dirumah sakit.'' Ucap Ummi Hani kahwatir melihat keadaan Ira yang pucat pasi.


Raga terkekeh. ''Ummi tenang aja.. Ira tidak apa-apa kok. Hanya terkejut saja tadi.'' Sahut Raga sembari terkekeh.


Puk!


Ira menepuk ringan lengan Raga. Raga tertawa. ''Kamu apaan sih By! Jangan di dengerin Ummi. Kak Raga sengaja. Usil banget sih!'' sungut Ira.


Raga semakin tertawa melihat tingkah Ira. Ummi Hani menggeleng kan kepalanya melihat tingkah laku kedua anak itu.


Tiba di mobil, dengan segera Raga membawanya menuju kediaman Mak Alisa.


***


Tiba disana, sudah terdengar suara lengkingan Annisa. Dari kejauhan sudah terdengar suara Annisa yang mengamuk histeris.


''Astaghfirullah!! Adek beneran ngamuk Ummi!''


''Sabar! jangan turun dulu! Sebentar lagi kita sampai.'' Cegat ummi Hani pada Ira, karena Ira bergegas ingin membuka pintu mobil.

__ADS_1


Mereka bertiga tambah panik saat melihat Pak RT dan Bu RT sedang merebut Annisa dari Kiara.


''Berhenti kak!!'' pekik Ira, Raga yang terkejut menginjak pedal rem dengan tiba-tiba.


Dengan cepat Ira membuka pintu dan berlari menyongsong Annisa yang berada di tangan Bu RT.


''Maaf Kek, Nek! Adik saya! Adek!!!!'' panggil Ira pada Annisa.


Bayi kecil itu menoleh pada Ira dengan wajah berlinangan air mata. Annisa menyulurkan tangannya pada Ira.


Ira mengambilnya dengan cepat dan membawanya masuk ke dalam, disusul Kiara dan juga Pak RT.


Bu RT berbicara dengan ummi Hani sebentar. ''Ada apa dengan Bu Alisa, Bu Hani? Terjadi sesuatu kah dengan nya? Saya terkejut tadi saat Pak Hendra menghubungi kami. Padahal kami sedang kedatangan tamu di kantor desa.'' Tanya Bu RT dengan. raut wajah khawatir.


''Terimakasih sebelumnya Bu RT. Ya, putra Alisa mengalami kecelakaan dan saat ini putra kami sedang kritis. Saya tidak tau pasti seperti apa. Karena saya pulang terburu-buru karena mendengar Annisa mengamuk.'' Balas Ummi Hani.


''Benar Bu Hani. Tadi, putri Bu Alisa terus saja menunjuk pada figura di dalam sana. Ia menunjuk-nunjuk gambar itu. Kami tak tau maksudnya apa. Kami bertiga kewalahan menangani putri Alisa tadi. Putri Bu Hani saja sampai menangis karena tidak tau harus berbuat apa.'' Cerita Bu RT.


''Tak apa Bu. Itu sebuah petunjuk untuk kami. Bahkan bayi kecil itu lebih peka dibandingkan kita orang dewasa. Sekali lagi, terimakasih Bu RT. Mari kita masuk!'' ajak ummi Hani dengan segera masuk kedalam rumah Alisa.


Tiba disana, suara Annisa sudah lenyap entah kemana. Yang terdengar hanya suara lantunan sholawat yang dibawakan Lana tadi pagi.


Ira menangis sesegukan ketika menyandung sholawat itu. Dengan Annisa sudah tertidur di dalam pelukan nya.


''Maula ya sholli wa Salim da iman abada.. 'alal Habibi ka Khairi kulli kholbi hibi.. Muhammad ini Mustafa.. hiks.. hiks.. hmmm..hmm.. hiks.. hiks..'' senandung sholawat Ira begitu menusuk relung hati bagi siapa saja yang mendengar nya.


Termasuk ummi Hani, Bu RT, Pak RT, Kiara dan Raga. Raga melangkah kaki nya menuju Ira.


Ia memeluk pujaan hatinya itu yang sedang menangis. Begitu juga dengan diri nya pun ikut menangis.


Mereka berdua menyandungkan sholawat terakhir Lana sebelum kecelakaan.


💕


Nyesek othor nulis part ini. Apalagi part dimana Lana kecelakaan bersama Papi Gilang. 😭😭😭


Sholawat terakhir Lana untuk Papi Gilang. Hiks.. Kalau mau tau ceritanya seperti apa, mampir aja ya!


Ceritanya pun tak kalah seru dari cerita ini. 😭


Othor tunggu like dan komen klean. 🤧🤧


TBC

__ADS_1


__ADS_2