Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Jangan membunuh nya, Ummi!


__ADS_3

''Emang kenapa sih? Loh? Itu kakak kenapa?! Lah? Raga? Ragata udah pulang dari luar negeri?! Baik! Aku akan kesana. Rayyan! Antar kan Mami kerumah kakakmu, sekarang!'' seru Mak Alisa dengan suara melengking nya.


Papi Gilang meringis, setelah itu terkekeh. ''Kamu lihat Ragata? Bahkan Mak mertua mu pun sangat senang mendengar jika kamu sudah pulang! Bagaimana kalau dia tau jika kamu membuat ulah, menghancurkan kehidupan putrinya sebelum kamu menyentuhnya?


Deg!


''Nggak! Itu tidak mungkin! Aku tidak percaya jika ini adalah Ira. Hunnyku! Istriku!''


Deg!


''A-apa?! Istri katamu?!'' pekik Sonia begitu terkejut.


Raga menatap datar pada Sonia. ''Ya, istriku! Ira Sarasvati binti Milham Syahputra. Istri sah secara hukum dan agama sejak sembilan tahun yang lalu!''


Ddddduuuaaarrrr...


Tubuh Sonia oleng ke belakang. Ia jatuh terduduk disofa dengan bibir memucat. ''Enggak! Nggak mungkin! Kamu bilang, kamu sudah bercerai darinya?! Bagaimana bisa-,''


''Aku melakukan semua ini karena sedang mencari bukti tentang siapa sebenarnya yang telah menodai mu hingga kamu hamil, Sonia! Bukan aku pelakunya! Jika memang aku pelakunya, bagaimana bisa aku lupa dengan apa yang telah aku lakukan terhadap mu? Kau kira aku mabuk? Aku tidak mabuk Sonia! Aku sadar saat itu! Hanya saja aku merasa sangat pusing dan ingin tidur. Dan saat terbangun, kau sudah ada di sisiku tanpa busana! Sedang aku? Bahkan CD ku pun tidak terbuka! Lalu, bagaimana bisa aku menghamili mu?''


''Aa-apa?!? Nggak! Itu nggak mungkin! Itu kamu Ragata!!! Kamu yang telah menodai ku!!!! Kamu yang telah menghancurkan hidupku, hingga sekarang aku hamil anak mu!!!''


Ragata terkekeh, ''Anak katamu! Sejak kapan aku memilki anak dengan mu?! Menyentuhmu pun aku tidak pernah! Bahkan ketika sadar pun, aku tidak memeluk tubuhmu! Aku tidur sendiri tanpa kamu Sonia! Jangan lagi aku membohongi ku!!'' sentak Ragata hingga Ira terjingkat kaget begitu juga dengan Sonia.


Bibir wanita itu semakin pucat. ''Nggak! Aku nggak percaya!! Jika di nggris kita tidak tidur bersama, lalu bagaimana saat di rumah ini? kamu selalu tidur bersama ku Ragata! Bahkan saat aku bangun pun kamu ada disamping ku?! Apa maksudnya itu?! Kau ingin menyangkal nya?! huh?! Kau ingin menyangkal jika kau tidak pernah tidur denganku?! lalu bagaimana setiap malam dirumah ini, Ragata?!?!?'' pekik Sonia begitu lantang.


Suaranya hingga menggema ke seluruh ruangan. Ummi Hani, Abi Hendra, Mak Alisa serta Rayyan berdiri mematung di depan pintu.


''Apa?! Apa kamu bilang?! Ragata sudah tidur denganmu?! Bagaimana bisa?!'' Pekik Mak Alisa tak kalah nyaring dari suara Sonia.


Sonia terkejut. Ia menoleh dimana asal suara. Bibirnya semakin pucat melihat wajah siapa sekarang yang ada di hadapannya.


''Nyo-nyonya Hani! Tu-tuan Hendra!!''


Ummi Hani tak menyahuti, wajahnya begitu dingin saat ini. Dengan segera ia masuk dan melangkah kan kaki nya menuju Ragata dan Sonia.


Plaakk.


Plaakk..


Plaaakk..


Plaakk..


''Ummi!!!!'' pekik Ira, saat melihat ummi Hani dengan kasarnya menampar Ragata hingga terhuyung jatuh kelantai tepat di dekat Ira.

__ADS_1


Brruukk..


''Kamu tak apa By? Mana yang sakit? Tunggu sebentar, aku bilang kompres!'' ucap Ira begitu panik.


Air mata mengalir dipipi tirusnya. Begitu juga dengan Ragata. Ia menatap kosong pada Ira yang berlari ke dapur untuk mengambil kotak P3K.


Sementara ummi Hani, berjongkok di depan Ragata dengan wajah dinginnya. ''Kamu masih ingat Ragata? Apa yang pernah Ummi katakan padamu? Jangan menerima bantuan dari gadis ular itu! Tapi apa yang kamu perbuat? Kamu berzina dengan nya?! huh?!!?!'' pekik Ummi begitu melengking di seluruh ruangan itu.


Dengan cepat tangan halus itu menyentuh leher Ragata. Ummi Hani mencekik Ragata begitu kuat.


''Hani!!! Jangan! kamu bisa membunuhnya!!!'' pekik Mak Alisa. Ia segera berlari mendekati ummi Hani, tapi belum sempat berada di dekat ummi Hani, Abi Hendra mencekal tangannya.


''Biarkan Lis! Dia berhak mendapatkan itu! Karena sebelum ini terjadi, kami sudah mewanti-wanti dirinya. Tapi lihatlah sekarang? Dia menghamili wanita itu dan membawa pulang kerumah nya. Bahkan tidur satu kamar tanpa ada ikatan yang sah! Lalu bagaimana dengan putrimu? Tidakkah kau pikirkan Alisa?''


Mak Alisa tertegun sejenak. Namun dengan cepat ia melepas cekalan tangan Abi Hendra yang memegang tangannya.


''Hentikan Hani! Bukan begini cara kita menyelesaikan masalah. Istighfar Hani!!'' seru Mak Alisa.


Ummi Hani tak peduli. Ia masih mencekik Ragata dengan kedua tangannya. ''Aku malu memilki putra sepertimu! Aku malu melahirkan putra seperti mu Ragata! Jika ku tau kau membuang kotoran langsung tepat di depan wajahku, maka aku tidak akan pernah melahirkan mu ke dunia ini Ragata! Aku menyesal melahirkan mu Ragata!!!'' pekik ummi Hani begitu lantang.


Pyarr..


Suara gelas kaca jatuh berderai di lantai nan dingin. ''U-ummiii...'' lirih Ragata dengan wajah yang sudah memerah menahan nafas yang tinggal sejengkal lagi.


Dengan segera ia memeluk Ragata. Sementara Ragata tidak bisa berkata-kata lagi. Nafasnya semakin pendek saat ini.


Dalam mata yang terpejam, ia merasakan Jika Ira dengan memeluknya. Suara Isak tangis itu begitu terdengar lirih di telinganya.


''Hentikan Ummi.. jangan bunuh suamiku. Ummi boleh menghukum nya tapi jangan bunuh dia Ummi.. hiks.. aku masih menginginkan nya hidup, Ummi.. Kakak mohon.. lepaskan Kak Raga, Ummi.. lepaskan Ummi. Jika tidak untuknya, lakukan untukku Relakah ummi jika Kakak menjadi janda di usia yang begitu muda? Hentikan ummi. Hiks, hiks.. hentikan ummi.. Kakak mohon...'' pinta Ira masih dengan tangan sebelah memeluk Ragata, sementara tangan satu lagi memegang tangan ummi Hani.


Tangan Ira bergetar hebat berada di tangan ummi Hani. Ummi Hani menoleh padanya. Ummi Hani melepaskan tangannya dari leher Ragata.


Brruukk..


Ragata dan Ira jatuh bersama ke lantai. Ira masih menangis dengan memeluk tubuh Ragata yang sudah lemas.


Ragata tak bergerak sama sekali. Ira yang sadar jika Ragata Tidak bernafas menjadi panik.


''Kak Raga! Bangun! Bangun Kak! Bangun! Ummi, Abi! Kak Raga tidak bernafas! Papi!! Tolongin!!'' seru Ira, tapi keempat orang itu berdiri mematung saja.


''Ya Allah.. apa yang harus aku lakukan? hiks.. pompa jantung! Nafas buatan!'' seru Ira dengan panik.


Ira merebahkan kepala Ragata di lantai nan dingin rumahnya. Dengan segera ia memompa terus dada Ragata.


''Bangun By! Jangan tinggalin aku! Kamu udah janji By! Bangun By!'' seru Ira.

__ADS_1


Tangannya terus bergerak memompa dada Ragata. Ia meletakkan telinga nya di mulut Ragata, tak ada tanda kehidupan.


Pompa lagi, hingga berulang kali. Karena tak ada respon, dengan cepat Ira menyingkap kain tipis di wajahnya dan mulai memberikan Ragata nafas buatan.


Satu kali, tidak ada.


Dua kali, masih sama.


Pompa lagi, nafas buatan lagi. Hingga berulang kali Ira melakukan itu. Air mata itu terus bercucuran di pipinya.


Tapi ia tak peduli. Baginya, Ragata harus tetap hidup. Letih sudah memberikan nafas buatan, Ira memeluk Ragata dengan erat.


Ira menangis meraung memanggil nama Ragata, namun yang di panggil tak kunjung bangun.


Kelima orang itu membeku di tempat menyaksikan Ira meraung memanggil nama Ragata.


''Tidaaaaaakkkkk... banguuuunnnn... haaaaa.. jangan tinggalin aku Kaaaaakkk.. Banguuuunnnn.. haaaaa.. Ragataaaaaaa... aaaaa...'' Raung Ira begitu pilu.


Bik Surti menangis sesegukan melihat itu. ''Kamu hiks nggak hiks boleh hiks pergi! Aku hiks ikut hiks kamu, Ragataaaaaaa... aaaa ambil juga nyawaku!! Bangun Ragataaaaaaa... aaaaaaa.. haaaaaaa...'' Semakin lama semakin kuat raungan itu.


Hingga...


''Hu-hun-hunny...''


Deg!


''Kamu bangun? Kamu bangun sayang


? Haaaa.. Ragata ku kembali iii... Alhamdulillah ya Allah...''


''Kamu! Kamu penyebab dari semua ini! Aku akan membalas mu Sonia!!!''


Deg!


Deg!


💕💕💕💕💕


Hiks.. maaf telat! Othor sibuk nulis yang di sebelah.


Disana udah tamat. Jadi othor bisa fokus kesini! Hiks.. sesak dada othor nulis part ini.


Part ini sama kayak kejadian Maulana dulu yang di cekik hampir mati oleh Ayah nya. 😭😭😭😭


Hiks.. othor nggak sanggup! 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2