
Ummi Hani dan Mak Alisa saling pandang saat Raga mengungkap kan rasa dihatinya. Ummi Hani memeluk putra nya itu dengan sayang.
''Sudah.. jangan menangis. Kamu yang sabar! Saat ini Ira sedang sakit. Dia butuh dukungan kita, Nak.. cobalah pahami apa keinginan nya. Jangan pernah menyerah untuk bisa meluluhkan hatinya. Berdoalah agar pintu hatinya terbuka untukmu dan di dalam hatinya terselip hanya nama mu saja.'' Ucap ummi Hani, ia semakin erat memeluk Raga yang sedang tersedu disana.
Dokter Andini tersenyum. ''Ini hanya masalah hati, untuk pengobatan nya berjalan baik. Besok, saya akan kembali lagi. Saya permisi Hani, Alisa. Assalamualaikum...''
''Waalaikum salam..'' sahut ummi Hani dan Mak Alisa.
''Nak.. biarkan kami berdua berbicara pada nya dari hati kehati. Mungkin setelah mendengarkan kami, mana tau Ira bisa menerima mu lagi? Iyakan?? Udah ah! Jangan cengeng! Laki kok cengeng! Gimana mau lindungi istri kamu coba, kalau kamu nya mellow kayak begini! Paras aja garang, tak tau nya hati mellow kayak hello Kitty!'' seloroh Ummi Hani, Mak Alisa tertawa mendengar nya.
''Ummii.... Aku kan juga manusia biasa! Punya hati dan perasaan! Gimana sih?!'' protes Raga.
Ummi Hani tertawa. ''Gitu dong.. udah! Kamu tunggu disini, sebentar lagi ada Abi yang menemani kamu! Kami harus lihat keadaan Ira dulu.''
Raga mengangguk. Kemudian Mak Alisa dan ummi Aini berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamar mereka.
Samar-samar terdengar suara isakan tangis yang begitu lirih. Namun menyayat hati.
''Hiks.. hiks.. Aku juga menyayangi mu, Kak.. sangat menyayangi mu! Bahkan jika suatu saat, kamu harus ditukar dengan nyawaku, aku rela.. aku ikhlas. Karena memang inilah aku.. aku mencintai mu karena Allah Ragata. Aku memang masih kecil, tapi aku belajar mencintai dari Mak. Mak selalu mendahulukan orang yang dicintainya! Aku mengikuti itu Kak.. Maaf jika aku membuat mu terluka.. aku juga sama terlukanya dengan dirimu.. hiks.. Papi... Kakak rindu Papi... pulang Pi.. hiks.. Kakak harus apa Pi?? Kakak harus apa?? Haaaa..aaa.. Pulang Papi.. pulang...''
Deg!
Mak Alisa mematung di undakan tangga begitu juga dengan ummi Hani. Mereka berdua berdiri terpaku disana karena mendengar ungkapan hati Ira baru saja.
Mereka berdua saling pandang. ''Hiks ..Papi... pulang Papi... kakak harus apa Pi.. hiks.. berat banget ujian nya Pi.. Kakak nggak sanggup... huhu.. huhu...'' Ira tersedu di tepi undakan tangga.
Mak Alisa yang mendengar nya pun ikut menangis. ''Nak...'' panggil nya dengan bibir bergetar.
''Hiks.. Pa .. Pi.. hiks.. Kakak mau Papi...'' lirih Ira lagi, semakin membuat Mak Alisa menangis.
__ADS_1
Begitu juga dengan ummi Hani. Ia mendekati menantunya itu dan memeluknya. Ira semakin tersedu di dalam pelukan dua orang yang begitu menyayangi nya.
''U..ummi.. Mmm..Mak.. Kakak hiks mau Papi...'' lirih nya lagi masih dalam pelukan ummi Hani.
''Sabar sayang... sabar Nak..'' Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Ummi Hani
Sedangkan Mak Alisa semakin tersedu ketika mengingat seseorang yang telah pergi meninggalkan nya untuk menuntut ilmu.
Terakhir kali ia bertemu hanya pada saat keberangkatan nya ke Amerika di bandara Kuala Namu.
''Ayo Nak! Kita masuk ke kamar dulu ya?'' bujuk Mak Alisa.
Ira mengangguk. Walau masih sesegukan dibantu ummi Hani, Ira berjalan tertatih menuju ke kamar mereka.
Raga menatap nanar pada mereka yang ada di atas sana. ''Nak??''
''Eh, iya Bi!'' sahut Raga, mendengar panggilan Abi Hendra.
''Astaghfirullah! Raga lupa Bi! Ya sudah, Raga sholat dulu ke Mushola. Abi tunggu bentar ya?''
''Ya,'' sahut Abi Hendra.
Raga berlaku dan meninggalkan Abi Hendra seorang diri disana. Karena lelah Abi Hendra merebahkan dirinya. Ia pun ketiduran dilantai yang beralaskan Ambal tebal milik Annisa saat nonton tivi.
Di dalam kamar.
''Nak??'' panggil Alisa.
''Kakak nggak kuat Mak.. terlalu banyak rintangan untuk kami berdua.. kakak nggak sanggup...'' keluh Ira masih dengan menangis.
__ADS_1
Mak Alisa menghela nafasnya. ''Kakak masih ingat nggak, bagaimana dulu Mak sama Ayah? Berapa lama Mak bertahan dengan Ayah mu? Kamu masih ingat kan? Sebenarnya pun Mak tidak sanggup waktu itu, tapi karena memikirkan kalian bertiga makanya Mak bertahan dari sikap Ayah mu yang keterlaluan itu.''
''Memang berat, Nak.. tapi itulah yang namanya ujian hidup. Ujian pertama di dalam rumah tangga mu bersama suami mu. Allah tidak akan memberikan ujian kepada kita diluar batas kemampuan kita. Allah tau kita seperti apa. Karena dia tau, hanya kita yang bisa. Hanya kamu yang mampu melewati semua ini. Bersabarlah, itu kuncinya. Jangan mengeluh dengan apa yang terjadi. Kalian berdua sedang di tempah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.''
Ummi Hani menggangguk. ''Benar itu sayang.''
''Maka dari itu, kuatkan hatimu. Mak yakin kamu pasti bisa! Hanya orang-orang pilihan yang bisa mendapatkan ujian dari Allah SWT. Salah satu nya kalian berdua. Jangan menyalahkan takdir. Itu tidak baik. Terima dengan lapang dada apa yang sudah digoreskan oleh Nya untuk mu dan suami mu. Inilah ujian rumah tangga kalian. Disini kalian di tuntut harus saling melengkapi, bukan menjauhi.''
''Tidak semua dari ujian itu akan berakhir dengan buruk, pasti ada hikmah nya. Kakak masih ingat, bagaimana kita pertama kali bertemu dengan Papi Gilang??''
Ira tertegun mendengar pertanyaan Mak Alisa. Setelahnya ia mengangguk. ''Mak tak pernah menyesal bertemu dengan nya. Malah Mak sangat bersyukur. Karena kehadiran nya kalian bertiga akhirnya memilki ayah sambung seperti Papi Gilang. Siapa sangka pemuda berandalan itu bisa menjadi Papi untuk kalian bertiga, hem?''
Ira sesegukan. ''Setiap ujian itu ada hikmah nya Nak.. tidak sembarangan orang bisa mendapatkan ujian seperti itu. Awalnya dulu kakak tau kan seperti apa Mak sama Papi mu? Mak selalu jutek pada nya, selalu kesal terhadap nya! Namun siapa sangka, kini dia itu berbalik sama Mak. Malah Mak sangat menginginkan Papi kalian ada disini bersama kita..'' lirih Alisa dengan menunduk.
Buliran bening mengalir di pipinya. Ummi Hani pun ikut menangis. ''Jangan jauhi Raga Nak.. Kalian berdua harus bersatu dan melewati ujian ini bersama. Mak yakin, kamu dan Raga pasti bisa melewati ini semua. Ini hanya sebagian kecil dari ujian yang kamu dapatkan. Bagaimana jika suatu saat kamu mendapatkan ujian yang lebih besar dari ini? Mampukah Kamu menghadapi nya saat Raga tidak ada bersama mu?? Jalani semua ini bersama Raga dan saling menguatkan. Dan apabila suatu saat nanti kejadian yang sama terulang lagi, kamu sudah siap dengan hati dan pikiran mu nantinya. Allah sengaja menguji mu saat ini agar kamu bisa pantas di kemudian hari. Agar kamu siap menghadapi apa yang terjadi di kemudian hari. Tidak menutup kemungkinan bukan jika di masa akan datang ini terulang lagi??''
Ira semakin tertegun dengan perkataan Mak Alisa. Begitu juga dengan Raga yang berdiri disampingnya pintu kamar mereka yang terbuka. Apakah ia mampu nantinya? Ataukah ia akan memilih mundur?
Raga terdiam membisu tanpa tau apa yang harus ia perbuat dimasa akan datang jika sampai itu terjadi lagi pada mereka berdua.
💕
Ujian itu memang berat, tapi kita harus saling menguatkan. Karena dengan ada nya ujian, maka akan mendidik diri kita menjadi lebih kuat lagi.
Cerita ini berdasarkan kisah nyata ya. Semua yang tertuang disini, bukti nyata dari othor sendiri.
Tentang ujian nya aja ya! Bukan pada bab-bab yang udah lalu. 😄😄
Ikuti terus kelanjutannya!
__ADS_1
TBC