
''Aku tidak pantas dengan mu Kak Raga.. bukan kamu. Kamu sangat layak dan pantas. Tapi aku lah yang tidak pantas berada di samping mu.'' gumam Ira dalam hatinya.
Ingin sekali Ira mengatakan hal itu kepada Raga, tapi ia tidak ingin menyakiti hati kekasih halal nya itu.
Selesai dengan ibadahnya, Ira mengambil hijab dan keluar dari kamar nya. Tiba di depan pintu, ia berbalik dan menatap Raga datar.
''Pulanglah! tempat mu bukan disini, tapi disana! Dengan orang-orang waras. Tidak seperti aku yang tidak waras ini. Pulanglah Ragata!''
Deg!
Berdenyut jantung Raga mendengar ucapan Ira. ''Kenapa??''
''Tidak ada alasan apapun untuk itu. Selagi aku belum sehat, pulanglah! Aku tidak mau ada kamu disini! Pulanglah Kak Ragata!'' ucap Ira begitu dingin.
Bagai tertusuk duri hati Raga. Sangat sakit mendengar pujaan hati nya berkata seperti itu.
''Aku tak akan pergi dari sini! Kamu adalah istriku! Dan aku berhak terhadap mu!'' tegas Raga.
''Dan aku tidak menginginkan kehadiran mu disini! Kehadiran mu membuat penyakitmu kembali kambuh! Pergilah!'' usir Ira, ia berkata tanpa melihat Raga sedikitpun.
''Maafkan aku Kak..'' lirih Ira dengan leher tercekat. Dadanya begitu sesak saat ini. Nafas nya seakan terhenti di tempat.
Ira berpegang pada tepian tangga saat merasakan dadanya begitu perih. Ia menahan rasa sakit itu dengan menutup kedua matanya.
Tes!
Tes!
Dua insan yang saling terpaut hatinya ini sama-sama meneteskan air mata. Raga mendekati Ira, yang sedang mencoba menghirup udara sebanyak mungkin.
''Sakit??'' tanya nya sembari mengelus punggung Ira.
Lagi, rasa sesak itu menghimpit dadanya. ''Pergilah Ragata! Aku tidak menginginkan kehadiran mu disini!'' kata Ira lagi.
__ADS_1
''Tidak akan! Tempatku disini bersama mu! Bukan dirumah Abi atau dimana pun! Kamu istri ku, Ira Sarasvati!'' seru Raga begitu keras hingga Mak Alisa dan Lana terkejut mendengar suara lengkingan Raga.
''Tapi aku tidak menginginkan mu Ragata Hariawan!! Pergiii... pergiii...'' sahut Ira pula dengan memekik juga.
Dua orang dibawah yang sedang menyiapkan makan malam terkejut. Mereka berlarian dimana Raga dan Ira berada.
Tiba disana, mereka berdua mematung. ''Pergi kataku!!! Aku tak ingin bersama mu!! Pergiii...'' jerit Ira lagi semakin histeris.
Ia memukul dadanya dengan kuat. ''Nggak akan! Sampai matipun aku tidak pergi dari sini! Jika aku pergi, maka kamu pun ikut bersama ku!!'' sahut Raga tak kalah kuat.
Mereka berdua saling dorong dan tarik diatas undakan tangga. Mak Alisa mematung melihat mereka berdua.
Melihat jika Ira semakin histeris, Mak Alisa berlari naik ke undakan tangga. Begitu juga dengan Lana.
Beruntung nya Annisa masih tertidur dibawah di dalam ayunan. Tapi tak menutup kemungkinan jika Annisa juga akan bangun bukan??
Raga dan Ira mereka berdua sama-sama menjaga, dengan Raga memeluk Ira dengan erat sedangkan Ira mencoba untuk melepaskan nya.
''Hiks.. lepas! Pergi kamu! Pulang kerumah Abi! Aku tidak butuh kamu disini! Pergi!!'' seru Ira lagi dengan terus terisak.
Ira menggeleng. ''Nggak!! Aku tidak pantas dengan mu! Pergilah! Kamu akan menderita mendapatkan istri seperti ku! Aku gila! Aku tidak waras! Carilah istri yang waras yang bisa memenuhi semua kebutuhan mu! Biarkan aku! Aku tidak bisa! Lepas! Lepaskan aku Ragata!!!''
Deg!
Mak Alisa berdiri mematung di undakan tangga. Saat ini jarak antara Mak Alisa dan mereka berdua hanya dua tangga lagi.
''Nak??''
''Mak! Katakan pada nya! Suruh dia pergi! Aku tak ingin bersama nya! Bilang pada nya, agar dia mencari gadis lain! Bukan aku! Aku gila Mak!! Tidak waras!!'' pekik Ira masih dalam pelukan Raga.
Raga Semakin terisak mendengar ucapan Ira. Sekarang Raga baru tau, ternyata Ira sengaja menyuruh nya pergi hanya untuk menutupi kerapuhan yang ada pada dirinya saat ini.
''Aku tidak akan pergi! Sampai kapan pun! Sekali aku mengucap janji atas nama mu, maka selamanya akan seperti itu! Walaupun kamu menolakku, aku tak peduli! Yang aku inginkan hanyalah kamu! Kamu nggak gila! Kamu sakit! Aku tau itu! Aku tak pernah malu memiliki istri seperti dirimu! Jangan lagi katakan jika kamu tidak pantas dengan ku! Kamu sangat pantas dengan ku Ra.. sangat pantas melebihi mereka yang ada diluar sana!''
__ADS_1
Ira terenyuh mendengar ungkapan hati Raga. Hanya saja.. ia takut jika nantinya Raga akan pergi meninggalkan dirinya.
Mak Alisa ikut menangis melihat keadaan putri sulung nya itu. Raga melihat Ira melemas dan tidak lagi meronta seperti tadi.
Dengan sigap, Raga menggendong nya menuju kamar mereka di ikuti oleh Mak Alisa. Sedangkan Lana sudah turun kebawah karena Annisa sudah bangun dan menangis.
Tiba di kamar mereka, Raga menidurkan Ira disana, dan menyelimutinya. Ia pergi meninggalkan Ira seorang diri.
Raga dan Mak Alisa turun ke bawah. Mereka berdua duduk di meja makan dengan diam.
''Mak.. Raga ambilkan makanan dulu ya untuk Ira. Nanti Mak nyusul aja ya? Kayaknya Ira lapar deh!'' ucap nya sembari tangan nya terus cekatan mengambil makan untuk Ira.
''Kamu makan juga ya Nak?? Jangan karena mengurus Ira, kamu jadi tidak makan. Mengurus orang sakit itu butuh tenaga. Dan harus banyak stok Sabar..'' lirih Mak Alisa dengan leher tercekat.
Raga tersenyum walau sendu. ''Tentu! Raga ke atas dulu ya Mak??''
''Ya,'' sahut Mak Alisa.
Raga membuka pintu kamar mereka dan melihat Ira sudah bangun dan sedang duduk dengan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
''Sayang.. makan dulu ya?? Kakak mau sholat dulu. Belum Maghrib. Kamu makan aja duluan, nanti Kakak nyusul!'' ucap nya sembari berlalu meninggalkan Ira yang memandangnya datar.
''Kenapa??''
Raga berhenti dan menoleh, ''Karena aku mencintaimu! Sebanyak apapun kamu menolakku, aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini. Jika pun aku pergi, maka kamu pun akan pergi bersama ku! Aku memilihmu karena kamu istimewa sayang! Tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang ada diluar sana! Makan lah! Nanti aku menyusul.'' Setelah mengatakan hal itu, Raga masuk ke kamar mandi dan mulai berwudhu.
Ira menahan sesak di dadanya. ''Jangan aku Kak.. aku tidak pantas bersanding dengan mu.. kenapa kamu begitu keras kepala??''
''Aku bukan keras kepala, tapi ini memang pilihan ku dan hidupku! Aku yang membawa mu kedalam kehidupan ku! Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu karena akulah yang bersalah disini!''
Ira terdiam tidak berani mengatakan apapun lagi. Ada rasa hangat dihatinya saat Raga mengatakan hal itu kepada nya.
💕
__ADS_1
Lagi??
TBC