
''Ih, sumpah mati aku begitu jijik dengan wanita ular itu! Sial sekali burung perkutut ku masuk ke liang lahat!'' umpat Riki semakin kesal dengan Sonia.
Ardan dan Arman tertawa terbahak-bahak. Sementara Raga, ia memikirkan sesuatu yang ia sendiri pun bisa menebak nya.
''Apakah mungkin, Sonia dan Sandi itu...''
''Ga! Ragata!!'' pekik Riki.
''Eh? Astagfirullah!! Ada apa?'' tanya Ragata dengan panik.
''Ck! Kita sudah sampai Raga! Apa sih yang kamu pikirkan, sampai kamu melamun sambil berjalan?!'' Gerutunya lagi dengan kesal.
Ragata menggeleng cepat. Ia masih belum fokus. Mereka terus berjalan dan tiba di ruangan masing-masing.
Tiba di ruangan nya Raga merasakan ada keanehan disana. ''Ada sesuatu? Tapi apa?'' gumam Ragata dalam hati.
Tanpa melihat kesana kemari, ia duduk di tempat duduknya. Dengan segera ia membuka map dan memeriksa catatan orang yang akan ia periksa hari ini.
Deg!
Mata Ragata menatap sesuatu di sudut ruangan. ''Itu dia! Ternyata, kamu meletakkan kuah di ruangan ku?! Ck! Dasar wanita ular!'' gumam Ragata dalam hati.
Wajahnya tetap datar seperti biasanya. Ragata mengingat ummi Hani akan menghubungi nya hari ini. Dengan segera ia bangkit dan meninggalkan ponselnya disana.
Ia pura-pura keluar untuk mencari angin sebelum tugasnya di mulai. Ragata menuju ke taman samping rumah sakit itu yang terbebas dari kamera cctv.
Tiba disana, ia segera mengeluarkan earphone dan menghubungi ummi Hani melalui ponsel Indonesia miliknya.
Tersambung.
''Hallo Nak, assalamualaikum...''
''Waalaikum salam ummi..'' bisik Ragata begitu lirih.
Ummi Hani terkejut. ''Ada apa?'' tanya ummi Hani dengan serius.
__ADS_1
''Aku tunggu ummi menghubungi ku, tapi kenapa tidak di hubungi?'' lirih Ragata lagi pura-pura sedang menatap taman bunga di depan nya.
''Ummi baru saja menelpon nomor kamu yang satunya. Tapi tidak kamu angkat. Jadilah ummi biarkan. Ummi pikir, kamu sedang sibuk.''
''Ummi... aku sudah tidak tahan lagi... Aku mau pulang ummi...'' lirih Ragata dengan menunduk. Namun ekor mata itu tetap waspada melihat keadaan sekitar taman.
''Sabar Nak.. enam bulan lagi. Setelah enam bulan ini, kamu boleh pulang ke Indonesia. Abi mu sedang mencari bukti kejahatan Sonia saat kalian masih SMP dulu. Sabar... tapi ingat! Kamu jangan macam-macam! Jika sampai kamu berani membawa wanita itu pulang, seperti dua tahun yang lalu, Maka akan ummi pastikan. Kamu akan habis di tangan ummi!''
Deg!
Deg!
''Apa yang harus aku lakukan ya Allah...'' bisik Raga dalam hati.
''Kamu dengar Ragata?! Ingat pesan Ummi! Jangan sekali-kali kamu membawa wanita ular itu pulang ke Indonesia bersama mu! Jika tidak-,''
''Tapi dia mengancam ku ummi.. dia mengancam ku..'' lirih Ragata lagi. Matanya awas menatap sekitar.
''Ummi tau semua tentang mu selama disana Ragata! Dengarkan Ummi! Jangan biarkan wanita ular itu pulang ke Indonesia! Tahan dia disana! Kalau bisa kamu harus kabur darinya! Kamu harus bisa melawan nya Ragata! Jang terlalu bodoh dan selalu ingin di tekan olehnya! Berapa kali ummi bilang, jangan takut dengan keadaan istrimu. Dia baik-baik saja disini! Tidak perlu cemas! Lakukan apa yang harus kamu lakukan selama tinggal disana! Cari semua bukti, dan bawa pulang ke Indonesia! Sampai disini, kita akan melaporkan nya pada polisi atas tuduhan ancaman pembunuhan dan pencemaran nama baik! Ingat Ragata! Kamu harus bisa melawan gadis itu! Kaka bisa bersandiwara kah sampai bukti, siapa ayah dari bayi yang dikandung wanita ular itu kamu ketahui! Ingat Ragata! Sabar dan berpura-pura lah! Ummi tutup dulu! Tunggu enam bulan lagi. Setelah itu, kamu baru boleh pulang! Kami juga sedang berusaha disini. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' lirih Ragata dalam hati.
Sonia menatap aneh pada Ragata. ''Kenao kamu memakai earphone? Dan kenapa kamu bisa di sini? Bukankah kamu sedang ada praktek sekarang? Kenapa pagi-pagi begini kamu sudah berdiri di taman ini?'' cecar Sonia dengan banyak pertanyaan.
Ragata tersenyum, ''Aku ingin menenangkan kan diri di taman ini. Aku sangat rindu ingin pulang ke Indonesia. Jadi untuk mengurangi rasa rinduku ini, aku mendengar kan musik Indonesia melalui ponsel ku. Dan aku menatap lurus ke depan! Apakah salah?'' tanya Ragata dengan raut wajah sendu.
''Pura-pura sedih, itu lebih baik!''' gumam Ragata dalam hati.
Sonia menghela nafas lega. ''Syukurlah..'' gumam Sonia, tapi masih bisa terdengar oleh Ragata.
Ragata tersenyum smirk.
''Ayo kita masuk! Tugasmu sudah menantimu! Nanti sore, temani aku ke salon ya?''
Raga tersenyum manis, manis sekali. ''Tentu sayang! Ayo!''
__ADS_1
''Tunggu! kamu bilang apa?''
Raga tersenyum lagi. ''Mulai sekarang, aku akan memanggilmu sayang. Bolehkan?'' tanya Ragata masih dengan tersenyum manis pada Sonia.
Padahal Ragata sangat muak. Tapi demi sebuah bukti, Raga rela bersikap manis pada nya.
''Tentu, sayang! Aku menyukai nya! Ayo!''
''Ya, ayo!'' mereka berdua berjalan bersama, dengan Ragata memasang wajah malas terhadap Sonia.
Namun, ketika Sonia menoleh. Ragata tersenyum manis. Manis sekali. Sampai-sampai Riki yang melihat nya merasa mual.
Sejak saat itulah, Ragata berperan sebagai kekasih dan tunangan yang baik untuk Sonia. Hubungan itu berlanjut hingga enam bulan ke depan.
Karena ummi memerintahkan Ragata untuk bertahan selama enam bulan. Entah apa maksud dan tujuannya, Ragata pun tidak tau.
Satu pesan yang Ragata lupa, kalau Sonia tidak boleh pulang ke Indonesia bersama nya saat ia kembali nanti ke tanah air.
Namun apa yang terjadi, tidaklah demikian. Ragata terpaksa membawa Sonia pulang, karena dia ngotot ingin ikut Ragata ke Indonesia.
Jika tidak, Opa, Oma, dan istrinya yang akan menjadi taruhannya. Ragata terpaksa menurut.
Dan ia berpikir akan menyembunyikan Sonia dirumah baru mereka saat mereka kembali nanti dari luar negeri. Rumah hadiah pemberian Abi Hendra Dan Papi Gilang untuk mereka berdua.
Tekanan demi tekanan terus Sonia berikan padanya. Ragat tak peduli. Yang penting bukti. Bukti agar ia bisa terbebas dari jerat tali yang mengikatnya selama hampir tiga tahun ini.
Sementara Sonia seperti itu, Ragata juga semakin gencar mencari bukti tentang Sonia.
Juga tentang ayah dari bayi yang dia kandung saat ini pun Ragata sudah tau. Ragata punya bukti percakapan mereka.
Saksi kunci pun sudah ada. Hanya tinggal menjebloskan Sonia bersama antek-antek nya ke penjara.
Rencana yang sudah tersusun dengan matang. Tapi semua itu harus hancur, saat Papi Gilang memergoki mereka berdua dirumah itu.
Dengan Ira juga berada disana. Sedangkan Ragata tidak tau jika itu adalah sang istri. Dan yang lebih buruk lagi, kelakuan Sonia tiap malam begitu membuatnya muak setiap kali melihat pergerakan Sonia dari cctv tersembunyi di kamar utama itu.
__ADS_1
Padahal hari itu, Ragata akan mendapatkan keseluruhan bukti yang ia kumpulkan bersama seorang detektif di Inggris.
Malang nasib Raga. Semua Tidka sesuai dengan rencana. Laut boleh berencana. Tapi Tuhan lah yang menentukan nya.