Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Memaksakan kehendak


__ADS_3

Dari dalam mobil Ira sudah melihat jika ada seseorang yang sedang menunggui mereka. Ira menatap datar pada gadis yang menjadi rival nya itu.


Rival? Dalam hal apa? Bukankah ia dan Raga sepasang suami istri? Apa yang harus ia takutkan lagi sekarang?


Ira terus saja menatap Arumi yang berada di luar mobil mereka hanya berjarak dua meter saja.


Arumi sengaja mengikuti kemana pun Raga pergi, karena ia ingin tau siapa sebenarnya gadis yang sedang bersama Raga.


Ia cemburu melihat calon suami nya lebih memilih wanita lain. Ia mengepalkan tangannya saat melihat Raga semakin erat memeluk Ira dan dengan sengaja Raga menyurukkan wajahnya ke leher Ira.


Ira masih saja menatap datar pada Arumi diluar sana. Ia mencoba berbicara dengan Raga.


''Sekarang aku tanya sama kamu Kak Raga! Kamu memilih ku? Atau calon istrimu?'' tanya nya.


Sengaja untuk memastikan. Walau ia tau jika jawaban Raga akan sama seperti apa yang ia pikirkan.


''Aku memilih mu sekarang ataupun nanti! Selamanya hanya ada kamu hunny! Cup!''


Raga mengecup pipi serta bibir Ira sekilas. Semua itu tak luput dari pengawasan Arumi. Dadanya sesak dan terasa panas.


Ia ingin meledak rasanya saat melihat Raga mengecup pipi dan bibir wanita lain selain diri nya.


''Astaghfirullah!! Ya Allah.. benar-benar kelewatan mereka! Aku harus melaporkan hal ini kepada Abi Kak Raga, agar gadis buluk itu di marahi! Dasar Gadis gatel! Bisa-bisanya masih dalam kawasan pesantren mereka melakukan hal tidak senonoh seperti itu!'' ketus Arumi.


Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju mobil Raga. Ira tau jika Arumi marah padanya.


Terlihat dari wajah Arumi yang menahan marah. Ia semakin dekat dengan mobil itu. Sekarang terlihat jelas jika Raga sedang berusaha menenangkan Ira yang berwajah datar.


Ira masih saja melihat ke belakang Raga. Sedang Raga dengan sabar berusaha membujuk istrinya itu agar tidak marah lagi.


''Hunny .. jangan marah ya? Tega kamu, Kakak mau nuntut ilmu loh.. bakalan jauh dari kamu. Masa' iya wajah jutek begini yang di tinggalkan? Hunny.. lihat Kakak! Jangan keluar! Apa sih yang kamu lihat keluar? Jangan bilang, kamu menyukai laki-laki di pesantren ini! Jangan harap hunny! Jika sampai aku mengetahui itu, aku akan mematahkan tulang lehernya! Akan kucabik-cabik bajunya, terus ku lempar dia ke lubang buaya! Biar jadi santapan buaya sekalian! Enak aja mau ngambil hunny ku! Memang dia pikir siapa? Berani melawanku, maka dia akan habis di tangan ku!'' ucap Raga begitu geram.


Wajah putih mulusnya begitu terlihat menggemaskan sekarang di mata Ira. Hatinya tergelitik untuk tertawa.


''Hahaha... kamu lucu Kak! Cup!''


Deg!

__ADS_1


Raga membeku. Belum pernah selama ini Ira berani seperti ini padanya. Jika tidak ia yang memulainya, maka tidak akan ada yang nama nya sesi romantis dalam hubungan mereka.


Raga menatap Ira dengan lekat. Sedang Ira masih saja tertawa. Begitu cantik dimata Raga.


Bibir itu.. bibir yang tadi mengecup sekilas pipinya. Dengan cepat Raga mengecup balik bibir itu.


Hingga sang empu terkejut dan membulatkan matanya. Namun ia mencoba untuk menenangkan hatinya, bahwa pemuda ini adalah suaminya.


Di tengah pergumulan mereka, Arumi semakin kelamaan melihat adegan itu. Wajahnya merah padam melihat kelakuan Raga.


Sebenarnya kaca mobil milik Abi Hendra ini berwarna hitam. Tapi tidak sepenuhnya gelap. Apa saja gerakan di dalam mobil itu bisa terlihat sekilas jika di perhatikan dengan lekat.


Ya.. seperti Arumi sekarang. Ia semakin kepanasan melihat tingkat Ira. Menurut nya, Ira lah yang menggoda Raga.


Sementara di dalam mobil milik Abi Hendra, dua pasangan yang sama-sama saling mencintai sedang menyalurkan rasa sayangnya melalui kecupan hangat diantara mereka.


Setelah dirasa cukup, Raga melepaskan tautan nya dan menyatukan kening mereka berdua.


Jantung keduanya berdebar kencang. Seperti ingin lari keluar. Wajah Ira merona. Raga terkekeh melihatnya.


''Hah? Apanya yang lagi?'' tanya Ira bingung.


Raga tertawa. Ternyata istrinya ini memanglah masih polos. Tidak seperti diri nya yang sudah terkontaminasi selama berdekatan dengan Ira.


''Ini! Cup!'' lagi Raga mendarat kan kecupan basah di bibirnya. Semakin membuat Ira terkejut.


Rasa yang tadinya belum hilang sepenuhnya, kini sudah bertambah lagi. Cukup puas dengan vitamin nya, Raga melepaskan tautan itu.


Lagi, ia terkekeh. Mendapati sang istri dengan wajah merah merona nya. ''Cukup! Kakak takut ke blablasan! Bisa berabe nanti jika itu benar-benar terjadi. Kamu sangat manis! Kakak suka!''


''Manis?? Apanya yang manis? Memangnya aku makan apaan hingga Kakak bilang manis?'' tanya nya lagi masih dengan wajah bingung.


Raga tertawa. Gemas ia mengecup sekilas pipi Ira. Membuat Ira lagi dan lagi terkejut. Saking terkejutnya, mulut Ira menganga dengan mata melotot.


Raga tertawa melihat itu. Ia puas telah mengerjai istri nya. Bukan ia tak tau, jika ada Arumi diluar sana.


Raga tau jika Arumi disana. Ia bisa melihat dari kaca spion mobil mereka. Raga tersenyum smirk melihat itu.

__ADS_1


Sementara kedua pasangan yang sedang di mabuk cinta itu sedang melepas kerinduan mereka, Ummi Hani dan Abi Hendra dibuat kesal karena pemilik pesantren ini terus memaksakan kehendak nya agar mau menerima putrinya menjadi menantu dari keluarga Hariawan.


''Bagaimana Nak Hendra, bisakan kita lanjutkan hubungan yang terputus ini. Sekalian untuk silaturahim dengan keluarga besar kalian. Saya sedari dulu sangat ingin berbesan an dengan mu, Nak. Belum lagi, putriku sangat menyukai putra kalian. Apalagi yang kita tunggu? Tidak baik loh.. menunda-nunda dalam hal kebaikan?'' imbuh nya dengan memaksa ummi Hani dan Abi Hendra.


Abi Hendra tersenyum canggung saat ini. Ia bingung harus menjawab apa tentang hal ini. Abi Hendra menatap ummi Hani.


Sedangkan ummi Hani, wajahnya sudah tidak enak dipandang. ''Ummi.. ngomong atuh.. semuanya Abi serahkan sama ummi. Cepat atau lambat mereka pasti akan tau nantinya,'' lirih Abi Hendra begitu pelan di telinga ummi Hani.


Ummi Hani menoleh dengan raut wajah datar. Abi Hendra tersentak. Jika sudah seperti ini, maka Abi Hendra tidak bisa berkutik.


Ia tau seperti apa ummi Hani. Wanita lembut dan bijaksana. Tapi apabila dirinya sudah terganggu, maka inilah yang terjadi.


Aura ummi Hani begitu dingin sekarang. Ia menatap datar pada ummi Siti dan ustad Sofian.


''Sebenarnya apa yang kalian inginkan dengan menjodohkan putri kalian dengan keluarga kami? Ingin merubah nasib? Atau ingin di pandang sederajat oleh rekan-rekan ustad karena telah berhasil masuk ke dalam keluarga besar Hariawan?''


Deg!


Ummi Siti dan ustad Sofian terkejut mendengar ucapan ummi Hani.


''Nak Hendra.. apa maksud ucapan istrimu?''


''Anda tau apa maksudku Bapak Sofian Al Mashsyri! Anda ingin menyuap kami dengan putri anda, agar nanti pesantren ini bisa mendapatkan suntikan dana dari perusahan Hariawan? Picik sekali pikiran mu, ummi Siti!''


Deg!


Deg!


💕


Weleh? Ummi Hani kenapa tuh? Ini Mak Mak kalau udah ngamuk serem ya? Nggak perlu ngamuk dengan otot.


Cukup dengan kata-kata saja! ups!


Just kidding ✌️


TBC

__ADS_1


__ADS_2