
Buliran bening mengalir di pipinya. Ummi Hani pun ikut menangis. ''Jangan jauhi Raga Nak.. Kalian berdua harus bersatu dan melewati ujian ini bersama. Mak yakin, kamu dan Raga pasti bisa melewati ini semua. Ini hanya sebagian kecil dari ujian yang kamu dapatkan. Bagaimana jika suatu saat kamu mendapatkan ujian yang lebih besar dari ini? Mampukah Kamu menghadapi nya saat Raga tidak ada bersama mu?? Jalani semua ini bersama Raga dan saling menguatkan. Dan apabila suatu saat nanti kejadian yang sama terulang lagi, kamu sudah siap dengan hati dan pikiran mu nantinya. Allah sengaja menguji mu saat ini agar kamu bisa pantas di kemudian hari. Agar kamu siap menghadapi apa yang terjadi di kemudian hari. Tidak menutup kemungkinan bukan jika di masa akan datang ini terulang lagi??''
Ira semakin tertegun dengan perkataan Mak Alisa. Begitu juga dengan Raga yang berdiri disampingnya pintu kamar mereka yang terbuka. Apakah ia mampu nantinya? Ataukah ia akan memilih mundur?
Raga terdiam membisu tanpa tau apa yang harus ia perbuat dimasa akan datang jika sampai itu terjadi lagi pada mereka berdua.
Mak Alisa melanjutkan lagi perkataan nya. ''Berbesar hatilah menerima kehadiran nya. Karena kamu dan Raga adalah sepasang anak manusia yang sudah terikat sejak dini oleh takdir. Bukan karena dua teman Raga yang menjebak mu, tapi memang takdir lah yang dengan sengaja menuntun kalian berdua ke hutan itu, untuk bisa menyatukan kalian berdua. Percayalah Nak, kamu dan Raga memang sudah ditakdirkan bersama jauh sebelum kamu dan Raga terlahir ke dunia. Kamu percayakan dengan takdir, sayang??''
Ira mengangguk, ia menubruk Mak Alisa dan menangis disana. Ummi Hani terharu mendengar ucapan Alisa.
Baginya sahabat nya ini memang lah yang paling bijak sana setelah dirinya. Ummi Hani mengelus kepala Ira dengan sayang.
Ummi Hani melihat Raga berdiri mematung disana, dengan mata menatap lurus ke depan.
''Nak?''
''Hah? Eh, iya Ummi. Aku ke bawah dulu. Kalian lanjutkan saja,'' sahut nya
Kemudian ia berlalu turun ke bawah. Tapi belum sempat Raga turun ke bawah, Ira sudah memanggil nya.
''Kak Raga..'' lirih Ira, walau masih dalam pelukan Mak Alisa.
Ummi Hani dan Mak Alisa saling pandang. Mereka mengangguk.
''Bicaralah dengan nya. Jangan menolaknya lagi. Karena sampai itu terjadi, kamu akan menyesal nantinya, Nak..'' nasihat ummi Hani.
Ira mengangguk patuh. Sedangkan Raga masih berdiri di undakan tangga dengan membelakangi pintu kamar mereka.
Ummi Hani dan Mak Alisa berjalan melewati Raga. Mak Alisa tersenyum pada nya, sedangkan ummi Hani menepuk lembut pundak putra sulung nya itu.
''Masuklah!''
Raga mengangguk patuh, ia berlalu masuk dan menutup pintu kamar mereka. Raga mendekati Ira yang sedang duduk menatap dirinya.
''Ehm, kamu istirahat saja. Kakak mau mandi dulu, gerah.'' katanya
Ira diam, ia ingin melihat sejauh mana Raga menolak dirinya setelah tadi ia menolaknya dengan cara mengamuk.
__ADS_1
Raga berlalu dari hadapan Ira setelah mengambil handuk dan baju gantinya. Handuk yang sama selalu dipakai oleh Ira saat mandi.
Walaupun ada handuk lain, Raga tetap menginginkan handuk Ira. Pernah Ira bertanya kenapa selalu ingin memakai handuknya, padahal di dalam lemari tiga pintu itu ada handuk baru disana.
Raga hanya bilang, ia sangat menyukai aroma tubuh Ira. Membuat gadis belia itu tersipu malu.
Lima belas menit kemudian Raga selesai mandi. Ia sudah mengenakan pakaian nya di kamar mandi.
Biasanya ia selalu memakai baju di dalam kamar itu di depan Ira. Tapi hari ini, seperti ada penghalang diantara mereka berdua.
Ira membuang nafas gusar. Rasanya sangat berat walau hanya untuk mengucapkan maaf saja.
Lain Ira lain juga dengan Raga. Pemuda tampan itu memilih menyibukkan dirinya dengan mengerjakan PR nya dilantai.
Ia tidak ingin berbicara apapun. Sangat sakit jika sampai pujaan hatinya menolak lagi dirinya.
Ia menyibukkan diri tanpa melihat Ira yang menatapnya dengan raut wajah sendu. Bukan tidak ingin berbicara, ia hanya takut.
Takut, jika nanti Ira menolak nya kembali. Karena baginya, lebih baik mati daripada harus ditolak seperti tadi.
Satu menit, sepuluh menit, hingga setengah jam, Raga masih menyibukkan diri dengan PR nya.
Ia turun dari ranjang nya dan menubruk tubuh Raga dari belakang.
Grep!
Raga tersentak merasakan tubuhnya di peluk begitu erat oleh Ira. Ingin ia tertawa senang, tapi tak berani.
Jadilah ia terdiam dengan Ira sudah terisak di belakangnya. ''Hiks.. maaf Kak.. maaf..'' lirih Ira di belakang tubuhnya.
Ira menangis tersedu disana. Namun Raga masih tetap diam. Ia ingin tau apa yang akan dilakukan oleh istrinya saat dirinya menolak kehadiran Ira.
Ira semakin tersedu saat Raga tidak menoleh ataupun berbicara padanya. Raga mencoba melepas pelukan Ira dari tubuhnya, agar ia bisa berbalik untuk memeluk istri nya itu.
Namun tak disangka, ia bangkit dan berlari ke depan nya. Ia bersimpuh di hadapan Raga dengan bersujud.
Raga terkejut dengan perbuatan Ira. Maksud hati ingin berbalik dan memeluknya, malah sekarang Ira lah yang bersimpuh di kaki nya.
__ADS_1
Ira memegang kedua tangan Raga sambil menangis. ''Maafkan aku Kak... maafkan aku.. aku salah.. maafkan aku.. maaf..'' ucap Ira masih dengan menunduk dihadapan Raga.
Raga mematung dengan sikap Ira. Ingin berbicara tapi tak bisa. Mulutnya seperti terkunci.
Ingin menyentuh Ira pun tangan nya masih di pegangin oleh Ira. ''Maafkan aku Kak.. maafkan aku.. jangan diam kan aku seperti ini.. bicara Kak.. Maafkan aku..'' lirih nya lagi.
Tak tahan dengan perlakuan Ira seperti itu, Raga menarik tangan nya dari tangan Ira. Ira tersentak dengan perlakuan Raga.
Ia semakin tersedu.
Raga? Apalagi. Kedua matanya sudah basah dengan air mata. Lidah nya terasa Kelu untuk berbicara.
Takut jika nanti salah ucap akan berakibat seperti tadi lagi. Raga tidak mau itu terjadi. Sekuat tenaga ia menarik tangan nya dari Ira.
Plak.
Tangan itu terlepas dari genggaman Ira, tanpa sengaja menyentuh pipi Ira. Ira semakin menangis.
Ia pikir Raga menolaknya karena kejadian tadi pagi. Ira semakin tersedu dan ia menunduk tidak berani menatap Raga.
Raga mendekati Ira dan memeluknya dengan sayang. Ira tersentak namun tidak menolak Raga memeluk nya.
''K-Kak..'' lirih Ira dalam pelukan Rega.
''Jangan menolakku sayang.. aku akan mati jika sampai itu terjadi.. aku mohon.. tetaplah bersamaku ku walau apapun yang terjadi..'' bisik Raga di telinga Ira.
Ira semakin tersedu. Ia melingkarkan tangannya di tubuh Raga dan memeluknya. Mereka menangis bersama.
Ummi Hani dan Mak Alisa yang berdiri di depan pintu kamar mereka tersenyum haru. Ia memeluk Mak Alisa yang juga dibalas peluk oleh Mak Alisa.
Dua hati yang sama-sama menginginkan, tapi karena satu ujian mereka hampir saja berpisah.
Semoga ke depan nya mereka akan tetap bersama.
Semoga!
💕
__ADS_1
TBC