Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Proses Penyembuhan


__ADS_3

Keesokan paginya.


Pagi-pagi sekali Raga dan Ira sudah bangun untuk membersihkan seluruh ruangan itu. Rencananya, keluarga besar mereka akan berkumpul dirumah itu nanti.


Raga bertugas membersihkan ruang tamu, sedang Ira sibuk memasak. Semua makan ia masak sendiri.


Hanya dibantu sedikit oleh Bik Surti. Ternyata wanita paruh baya itu masih bersedia bekerja di keluarga Abi Hendra yang sudah sangat berjasa dalam kehidupan nya.


Pukul sepuluh pagi saat Ira dan Raga masih di dalam kamar, keluarga besar Mak Alisa dan Abi Hendra berkumpul diisana.


Termasuk Kakek Yoga, dan adik-adiknya. Suara gemuruh tawa itu Sampai ketelinga pengantin baru itu yang sedang berolahraga.


Mereka berdua tidak perduli jika keluarga sudah datang. ''By.. mereka udah datang loh.. uhh..''


''Hemm.. biarin! Tadi malam aku nggak dapat jatah dari kamu! Jadi sekarang aku menagihnya.. uhh.. nikmatnya..'' racau Raga.


Ia masih sibuk dengan aktifitas nya. ''By? Kode pintunya Abang tau loh..''. ucap Ira lagi di sela-sela aktivitas panas mereka berdua.


''Nggak akan! Kali ini nggak akan ada yang tau! hemmm.. hanya aku sendiri yang tau! Biarin mereka nunggu! Suruh siapa ke rumah orang lagi bulan madu?? ughhh...''


Ira tidak bisa berbicara lagi, karena Raga sudah sibuk mencari bibirnya oleh Raga agar tidak berbicara lagi.


Hingga dua jam kemudian, kedua pengantin baru itu keluar dengan wajah berseri. Lana yang melihatnya, memutar bola mata malas.


''Ck! Kami datang kakak malah enak-enak di kamar! Ishh.. kalau aja aku tau berapa kode pintu kamar kalian, habis kalian sama aku!'' ketus Lana begitu heran dengan kelakuan kakaknya ini.


''Tamu datang kok malah di kamar sih?!'' sungutnya lagi.


Ira dan Raga terkekeh. Saat ini seluruh keluarga sedang melaksanakan sholat dhuhur di mushola dekat rumah Ira.


Sementara Yang lainnya, masih sholat di mushola rumah mereka yang berada disudut kiri kolam renang rumah tu.


''Kalian udah sholat?'' tanya Ira pada Lana.


''Sudah!'' ketus Lana. Rayyan yang sedang masuk bersama yang lainnya terkekeh.


''Hehehe.. Abang kesal kak sama pintu kalian yang nggak bisa dibuka tadi. Padahal udah sepuluh kali ia mencobanya, namun tetap gagal!'' celutuk Rayyan dengan segera duduk di sebelah Ira dan Raga.


Rayyan berbisik di telinga Ira. ''Abang lagi ngambek kak. Kak Maura nggak mau nemuin dia. 'Kan hari ini Abang mau balik tugas lagi? Jadi senewen dia nya Kak! hihihi ...'' Ira terkikik geli mendengar bisikan Rayyan.


Raga terkekeh mendengar nya. Ia pun ikut mendengar bisikan Rayyan. Sedang Ira tergelak keras hingga kepalanya terdongak ke atas.


''Terus... terus.. kamu ledekin Abang, Dek! Ck! Sial amat sih hari ini?? Ck! Lebih baik Abang balik ke asrama lagi! Biar otak ini seger nggak konslet kayak sekarang!'' ketusnya sambil memandangi Ira dan Raga.


Pasangan pengantin usang itu tertawa-tawa melihat Lana jutek seperti itu. Seluruh keluarga besar bersuka cita di rumah Ira dan Raga.


Karena hari ini, semua keluarga akan balik ke kampung lagi. Untuk melanjutkan tugas mereka.

__ADS_1


Sore harinya seluruh keluarga itu mulai kembali ke kediaman masing-masing. Tinggal lah Ira dan Raga yang sedang sibuk membereskan sisa alat makan mereka yang masih kotor.


Bik Surti sempat ingin menginap, tapi Raga menolaknya secara halus. Karena Raga sudah memikirkan ide lagi untuk bisa menggempur Ira sebelum tanggal bulanan nya datang.


Raga sengaja menggempur Ira, ia ingin memastikan sendiri jika obat yang ia berikan selama dua Minggu ini bereaksi di tubuh Ira.


Sehabis membereskan peralatan dapurnya kini mereka berdua duduk di meja makan. Dengan Ira diatas meja dan Raga di kursi di depan Ira.


Mereka berdua begitu kelelahan membersihkannya sisa-sisa piring kotor dan makanan sisa tadi saat mereka makan bersama.


''Hunny??''


''Hem?''


''Main yuk?''


''Eh? Main apa? Jangan aneh-aneh By! Ini udah malam. Jam sembilan loh..'' ucap Ira merasa heran dengan tingkah Raga.


Raga terkekeh. ''Bukan main keluar loh.. tapi main disini. Aktivitas panasss...'' bisik Raga di telinga Ira.


Plaak..


''Allahu Akbar! Sakit hunny!! Kok di pukul sih? Nggak kasihan apa kamu sama aku yang masih belum sehat ini?''


Ira mendelik. ''Baru aja tadi pagi Kak Raga!! Masa iya sih, kamu mau lagi?! Aku capek loh..''


Tanpa menunggu lama, bibir itu sudah bertaut lagi. Mereka akan bertempur kembali untuk mereguk manisnya pernikahan yang baru saja dua hari ini mereka rasakan.


Seminggu berlalu sejak dimana Raga selalu menggempur Ira, hari ini mereka berdua berangkat kerumah sakit bersama.


Raga ingin masuk sendiri. Apakah obatnya ini berfungsi atau tidak. Karena Jika tidak, maka ia akan ambil tindakan untuk melakukan operasi.


Tiba di rumah sakit, mereka berdua sudah disambut oleh Dokter Salim dan juga ustadzah Zafa.


Saat pernikahan mereka seminggu yang lalu, Mereka berdua tidak hadir. Di karena kan Dokter Salim mendapat tugas untuk melakukan seminar di luar kota.


Ia membawa serta Zafa bersama nya. ''Assalamu'alaikum.. Ra? Gimana? Udah isi belum?'' goda Zafa.


Ira terkekeh. ''Mana ada isi Kak! Ini aja baru mau diperiksa?'' Ira terkekeh begitu juga dengan ustadzah Zafa.


''Ayo masuk Kak. Suami kita kita udah duluan masuk itu. Dokter Salim dulu yang di periksa!'' kekeh Ira saat mengatakan hal itu.


Ustadzah Zafa pun ikut terkekeh. Mereka berdua masuk keruangan Dokter Ragata Hariawan Sp.OG.


Setelah mereka masuk, Raga langsung saja memulai pemeriksaan nya. Raga menjelaskan detailnya sakit yang di derita oleh Dokter Salim.


Satu persatu tangga Raga jelaskan. Dokter Salim dan Zafa menganggu paham. ''Jangan lupa di minum obatnya. Sehari dua kali pagi dan malam.''

__ADS_1


''Baik, terimakasih dokter Ragata.''


''Sama-sama dokter Salim. Semoga cepat sembuh ya? Istirahat yang cukup, makan buah-buahan yang banyak mengandung asam folat agar metabolisme di dalam tubuh mu terutama di saluran itu, bisa cepat sembuh. Anda bukan mandul dokter, hanya ada penurunan aktivitas pada bibit unggul Anda! Semoga cepat bisa memiliki momongan ya?'' Kata Raga dengan tersenyum pada dokter Salim dan dokter Zafa.


''Terimakasih dokter! Saya pun mendoakan juga kalian berdua agar cepat memiliki momongan. Kalau begitu, kami permisi. Ayo sayang!" Ustadzah Zafa mengangguk.


Ia berpamitan pada Ira. Setelah mereka keluar, tinggal lah Ira dan Ragata sekarang. Dan juga seorang perawat perempuan yang ditugaskan untuk membantu Raga.


"Ayo, hunny! Sekarang giliran mu. Buka saja hijab dan baju gamis mu. Pakai baju dua 'kan?''


Ira mengangguk. Dengan cepat ia membuka baju gamisnya. Saat ingin membuka hijab nya, tangan Ira berhenti.


Raga yang sedang di sebelah nya pun ikut terdiam. Karena mereka sadar jika itu bukanlah di rumah. Tapi di rumah sakit.


Raga dan Ira terkekeh terkejut. Sementara perawat itu terdiam melihat Ira dan Raga. Ragata berdehem untuk mengurangi rasa malunya.


''Berbaring hunny!'' Ira menggangguk.


Dengan segera Raga menyingkap baju Ira, dan terlihatlah kulit putih mulus yang tertutup itu terpampang dihadapan seorang perawat baru.


Yang baru saja bertugas hari ini. Ia melototkan matanya saat Raga meraba dan menekan bagian perut Ira.


Ingin berbicara tapi tidak berani. Takutnya di pecat. Ia hanya menatap datar pada Ira dan Raga.


''Kamu lihat hunny! Ada sesuatu yang menyumbat di saluran itu. Apakah ketika datang bulan sering kali sakit??'' tanya Raga dengan mata fokus pada layar monitor.


Ira terdiam,. ''Kadang, sih.'' sahutnya.


Begitu juga dengan Ira. Matanya fokus melihat pada layar monitor itu. ''Kita tunggu selama seminggu lagi ya? Jika tidak ada perubahan, maka kamu harus melakukan tindakan operasi.''


Deg!


Deg!


''O-operasi By??''


''Ya, operasi! Kamu harus siap ya?''


''Tapi ...''


Cup!


''Eh?''


💕💕💕💕💕


Eh? Apa tuh?

__ADS_1


__ADS_2