Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Kamar Rahasia


__ADS_3

''Aku merindukan mu Hunny..'' bisik Ragata di ceruk leher Ira.


Deg, deg, deg.


Lagi jantung itu berdegup semakin kencang. Ira menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa berdebar yang sedang terjadi pada jantung nya saat ini.


''Hunny?''


''Ya?''


Deg!


Raga mengurai pelukannya. Ira tersadar. Dengan segera ia berlari ke dapur. Raga tercenung lagi.


''Hunny? Kau kah itu?'' tanya Ragata pada Ira yang sudah berada di dapur.


Ira menahan gemuruh di dadanya saat ini. Ingin sekali ia mengatakan 'ya' tapi itu tidak bisa.


Karena ia pun ya misi yang harus ia selesaikan. ''Siapa kamu?'' tanya Ragata saat sudah berada di belakang Ira.


Ira terdiam. ''Aku hanya pembantu dirumah ini, tuan. Maaf.. jika tadi aku salah menyahuti panggilan mu. Aku spontan saja menyahutinya. Jangan hiraukan. Masuklah tuan. Sudah malam. Saya pun akan masuk ke kamar setelah pekerjaan saya selesai.'' Imbuh Ira, membuat Ragata kecewa.


''Baiklah..'' sahutnya begitu lesu.


''Maafkan aku Hubby.. maaf...'' lirih Ira dengan bahu berguncang.


Sementara di atas sana, Ragata menoleh lagi pada Ira yang sedang sibuk di dapur.


Dahinya mengernyit saat melihat sesuatu yang ada ditangan Ira. ''Itu...''


''Sayang... masuk ih! Temani bobok!'' ucap Sonia begitu manja di depan pintu kamar itu.


Ragata menghela nafasnya. ''Jika bukan karena sebuah bukti akurat, maka aku tidak ingin tinggal bersama mu walau cuma satu detik saja! Tunggu kau Sonia! Tunggu pembalasan ku!'' gumam Ragata dalam hati.


Ia mengepalkan tangannya dengan erat untuk mengurangi amarah yang sedang melanda dirinya.

__ADS_1


Sementara Ira, lagi. Hatinya sakit saat mendengar suara manja gadis itu. ''Aku harus bertahan.. kuatkan aku ya Allah.. Aku sedang mencari sesuatu dirumah ini. Bantu aku ya Robb..'' lirih Ira, dengan segera ia masuk ke kamar dan mulai melaksanakan ibadah malamnya.


Sementara Ragata harus berperang melawan marahnya sendiri karena menghadapi Sonia yang begitu keras kepala.


''Hah! Aku lelah!'' pekik Ragata dalam hati.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Ira sudah bangun dan menyiapkan sarapan mereka semua. Termasuk si gadis tamu yang tinggal di rumah mereka.


Jam tujuh lewat empat puluh lima menit, Ragata keluar bersama gadis itu dan duduk di meja makan.


Seperti tadi malam, Ira menyiapkan sarapan pagi untuk Ragata. Tapi tidak untuk Sonia. Seutas senyum terbit di bibir tipis Raga. Sangat tipis.


Gadis yang bernama Sonia itu merengut masam. Ira tak peduli. Baginya, sarapan untuk sang suami sudah ia hidangkan di piringnya. Masa bodoh dengan gadis itu. Jika Sonia ingin makan, ya ambil sendiri dong! Pikir Ira.


Ragata mengulum senyum. Tapi tidak ingin terlalu terlihat, ia menarik nasi goreng seafood itu dan meletakkan di dalam piring Sonia.


Setelah itu mereka sarapan. Selesai sarapan Ragata mencari Ira, ingin berpamitan. Ia keliling melihat kesana kemari, namun tak jua ia temukan.


Ya, senyum palsu. Senyum keterpaksaan.


Sementara Ira sedang masuk ke dalam kamar utama dirumah itu. Ia menekan gagang pintu dan membukanya.


Baru saja pintu terbuka, Ira sudah mual dengan bau parfum milik Sonia. ''Hueeeekkk.. bau amat yak ni kamar? Kok bisa gini sih bau nya? Hii.. Kak Raga lagi! Kok betah sih tidur sekamar dengan gadis itu. Hueeekk!'' mual perutnya begitu terasa saat mencium bau parfum milik Sonia.


''Astaghfirullah! Kenapa pula itu Kasur jadi jumpalitan seperti itu? Mereka perang kah tidurnya? Ah! mana mungkin Kak Raga tidurnya seperti itu? Apa mungkin mereka...'' Ira memejamkan matanya saat membayangkan sesuatu yang buruk terjadi di dalam kamar itu.


''Allahu Akbar! Fokus Ira! Jika kamu percaya pada suami mu, ayo kita buktikan!'' ucapnya pada diri sendiri.


Dengan segera Ira berdiri di depan pintu yang ada lemari buku milik Raga. Ia menekan kode tombol disana dan mulai masuk kedalamnya.


Ira masuk dan menelisik seluruh kamar. Rapi dan bersih. Bahkan wangi parfum Ragata masih tertinggal disana.


Ira terkekeh geli. ''Hihihi.. berarti tebakan ku bener dong?'' imbuh Ira lagi sambil terkikik geli.

__ADS_1


Ia melihat ada satu buah baju yang terlipat rapi disana. Ia tersenyum. ''Bahkan kamu tidur pun masih memeluk bajuku. Sabar Kak.. aku juga sangat merindukan mu. Tapi semenjak gadis itu masuk dalam hubungan kita dua tahun yang lalu, aku merasa dia sengaja menjebak mu dengan akal liciknya.''


''Hah! akan aku buktikan jika tebakanku ini benar. Jika bayi yang dikandung Sonia bukanlah darah dagingnya. Tapi jika sampai itu terbukti, maka aku akan pergi selamanya dari mu. Aku tidak mau memisahkan Ayah dan anaknya. Walaupun nanti aku akan terluka, aku akan tetap bersabar. Semoga kamu adalah jodohku, Ragata Hariawan. hah! Aku sangat ingin tidur di kamar ini berdua denganmu!'' rengek Ira di ujung kalimatnya.


Ira merebahkan tubuhnya di ranjang mereka. ''Lebih baik aku bersihkan saja kamar itu.'' gumam Ira dengan mata terpejam. Sangat nyaman ketika tidur di ranjang yang sama tempat Raga tidur disana.


Ira keluar dari bilik rahasia itu dan mulai membersihkan kamar Sonia. Ia menggeleng kan kepala nya melihat seluruh pakaian Sonia berantakan.


Setelah selesai, Ira turun kebawah untuk bersiap-siap menuju tempat ia mengajar sebagai guru selama ini.


Sore harinya.


Ragata dan Sonia tiba dirumah mereka sudah jam enam sore. Saat Raga masuk, rumah itu begitu sepi.


Yang terlihat hanya Ragata saja. Ia langsung naik ke kamar atas. Disana Sonia sudah duluan masuk ke kamar utama itu.


Sedangkan Raga masuk ke kamar rahasia miliknya melalui pintu yang lain. Raga masuk dan meneliti seluruh ruangan itu.


''Ada yang berbeda.'' gumamnya. ''Tapi apa?'' gumamnya lagi.


Ia menelisik seluruh kamar itu. Tidak ada perubahan hanya ada bau harum yang begitu ia rindukan.


Ia memejamkan matanya. Seutas senyum terbit di bibir tipisnya. ''Hunny... kamu kesini? Setiap hari?'' gumam Ragata pada seluruh ruangan yang hanya ada dirinya sendiri.


''Hanya aku dan Ira yang tau tentang kamar rahasia ini. Apakah Ira tadi kesini? Lalu, dimana dia? Kenapa tidak menemui ku?'' gumam Raga lagi.


''Ah, mana mungkin Ira kesini. Kalau ia kesini pasti ia tau jika di kamar sebelah sudah ada yang tidur disana Walaupun bukan aku! Hah! Mungkin ini hanya halusinasi ku saja karena sangat merindukan nya! Ya Allah.. kapan semua ini selesai? Aku lelah jika harus terus berpura-pura baik di hadapan gadis itu. Aku sudah muak dengan nya! Ck! Aku belum sholat lagi gara-gara aku harus menemaninya ke salon! huh! Gadis ini sangat berbeda dengan hunny ku! Ira tidak pernah ke salon hingga butuh waktu dua jam! Ya Allah .. beri aku kesabaran .. agar aku sanggup menghadapi gadis ular ini! Astagfirullah ya Allah..'' lirih Ragata.


Dengan segera ia menuju ke kamar mandi dan mulai melaksanakan ritual mandi yang tertunda begitu juga dengan sholatnya gara-gara harus mengantar Sonia ke salon.


💕💕💕💕


Tuh udah othor kasi bocoran dikit. Masih marah kah sama Raga?


Tenang.. kalian akan tau nanti. Banyak kejutan-kejutan kecil yang akan menanti Ragata dan Ira disana nanti.

__ADS_1


So .. ikutin terus kelanjutannya! 😉


__ADS_2