Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Malu


__ADS_3

Raga masih betah berlama-lama memandang pujaan hatinya. Sesekali ia terkekeh lucu. Ira yang merasa terganggu karena kekehan Raga menggumam.


''Ishhh.. jangan recok napa?! Kakak mau tidur .. capek ngerajin tugas Mulu dari tadi! Itu lagi kak Raga! Kenapa sih harus boncengan sama si ulat keket?? Ishh... kesel aku! pingin tak tinju wajah tampan kak Raga! huh!'' gerutu nya tanpa sadar.


Raga yang mendengar ucapan Ira tertawa. Hingga membuat Ira terlonjak kaget. Saking kagetnya, ia menjedug dagu Raga yang sedang tertawa diatas wajahnya.


Dug.


''Aduhh... sayang! kok di jedug sih?! sssttt.. sakit inihh.. auuhh.... obatin!'' ucap Raga dengan menatap Ira tajam.


Ira yang mendengar nya jadi ketakutan. Raga terus saja mengusap dagunya yang kesakitan.


''Sayang! obatin ih! sakit ini dagu nya...'' rengek Raga, membuat Ira semakin kelabakan.


''Maa-maaf Kak! Aku nggak sengaja! Habisnya kakak tertawa di telinga ku.. ya.. aku pikir itu suara genderuwo... yang masuk ke dalam kamar ku...'' sahut Ira begitu lirih.


Ia tak berani menatap wajah Raga. Raga yang melihat wajah Ira ketakutan dan merasa bersalah menjadi gemas.


Raga menyentuh pipi Ira. ''Kamu kok takut gitu sih? Emang nya kakak bakalan makan kamu apa?! Nggak akan sampai kesitu sayang.. kakak cuma minta kamu obatin! bukan yang lain.. ayo.. sebentar lagi kita harus sholat! sudah masuk Maghrib loh..'' tegur Raga membuat Ira mendongak.


''Maaf...'' ucapnya, sambil menatap Raga.


Raga tersenyum. ''Kakak mau mandi, ambilkan baju ganti kakak Yang ada dikamar Abang. Udah adzan. Ayo.. kita sholat dirumah aja ya?? Dikamar kamu!''


''Eh?? dikamar ku??''


''Ya. kita sholat berjamaah! ayo.. kakak tunggu kamu selesai mandi!'' titah nya pada Ira.


''Tapi...''


''Kakak nggak akan ngapa-ngapain sayang... janji!'' ucapnya dengan menunjukkan jari kelingking nya pada Ira. Dan Ira menautkan jari kelingking nya di jari Raga.


''Beneran??''


Raga mengangguk. ''Ya, kakak mau mandi!'' ucapnya kemudian berlalu masuk ke kamar mandi Ira.


Sedangkan Ira berlalu ke kamar Lana ingin mengambil baju Raga yang sengaja ia simpan disana.


Selesai dengan baju, kain sarung, peci dan sajadahnya, Ira masuk ke kamarnya bertepatan dengan Raga yang juga baru siap mandi.


Ira mematung melihat Raga yang hanya memakai handuknya sebatas lutut dengan dada terbuka.


Pipi Ira merona melihat pemandangan itu. Raga merasa ada yang menatapnya menoleh.

__ADS_1


Ia tersenyum melihat Ira dengan pipi yang sudah merah merona.


''Sayang...'' Ira tak menyahuti, ia masih menatap Raga dengan pipi yang bersemu merah.


''Sayang... bajunya!'' lagi Raga memanggil Ira, sedang yang dipanggil masih menatapnya tanpa kedip.


Raga yang gemas mendekati Ira. Ira yang melihatnya melotot.


''Ka-kamu mau ngapain kak?!''


Raga terkekeh. ''Mana bajuku! lain kali simpan dikamar mu saja! karena setelah ini, aku akan sering menginap disini! Nanti pindahkan ya?? Semuanya tanpa terkecuali!'' titah Raga membuat Ira mematung.


''Ba-baju kakak?? Disini?? Di kamar ku??''


''Ya! dikamar mu! Hayu ah! nanti waktu Maghrib habis loh.. mau kena azab??''


Ira menggeleng cepat. Secepat kilat ia menyambar handuk yang di berikan Raga.


Ia juga mengambil baju gantinya dan berlari ke dalam kamar mandi.


Raga yang melihat Ira ngacir tertawa. ''Handuk yang di tangan ku pun kamu rampas? Apakah sudah tidak ada handuk lain??'' ia terkekeh melihat Ira bertingkah seperti itu.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Ira keluar dan menuju dimana Raga sedang menunggu nya.


Raga mencium aroma mawar menusuk hidung nya. Ia tersenyum. ''Sudah selesai??'' tanya Raga.


Raga tersenyum. ''Dari mana kakak tau jika aku sudah ada disini? Bahkan ketika aku berjalan saja tidak menimbulkan suara??'' tanya Ira masih dengan menatap Raga.


Lagi Raga tersenyum. Senyum yang menghiasi wajah tampan nya. ''Wangi tubuh mu selalu ada dalam ingatan ku. Walaupun aku tidak melihat mu datang, tapi wangi dari tubuh mu itu aku tau. Jika kamu sudah ada di belakang ku.'' sahut Raga masih dengan senyum tersungging di bibirnya.


''Bagaimana jika nanti ada seorang gadis yang sama dengan wangi tubuhku, apakah kakak bisa membedakan nya??'' tanya Ira masih dengan menatap Raga.


''Tentu! Karena kakak mengenali dirimu bukan dari wangi tubuh mu saja. Tapi dari hati. Saat getaran itu datang, perasaan hangat dan nyaman disaat itulah kakak tau, jika kamu ada di belakang kakak. Wangi sebuah parfum bisa ada pada tubuh gadis lain, tapi getaran dari hati hanya ada ketika bersama mu sayang..'' imbuh nya dengan menatap dalam pada Ira.


Ucapan yang benar-benar datang dari hatinya. Bahkan degub jantung nya sekarang seperti sedang menggila.


Ira mematung mendengar ucapan Raga. Setelah sadar, semburat merah timbul di kedua pipi nya.


Raga yang melihatnya terkekeh. ''Ayo kita sholat! Setelah ini bakalan banyak cerita yang harus kamu dengar! Ayo, pakai mukenahmu!'' titah Raga dan dingguki Ira.


Setelah nya Raga bersiap dengan iqomat dan mengangkat takbir.


''Allahu akbar.'' takbir pertama ia takbir kan membuat seseorang diluar kamar mereka berdiri mematung.

__ADS_1


''Raga...'' lirih Mak Alisa.


Mak Alisa mematung melihat Raga yang sedang sholat bersama dengan putrinya. Ia terharu, hingga menitikkan air mata.


''Kamu memang anak yang Sholeh. Oleh karena nya Mak, menerima mu.. tapi ini salah, Nak.. bukan seperti ini yang Mak mau. Seperti ini jika kamu sudah sah dengan putri, Mak. Aku harus bertindak tegas agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.'' gumam Mak Alisa sembari berjalan turun ke bawah.


Sedangkan kedua anak manusia yang baru saja selesai sholat, mereka duduk tepekur bersama.


Menyadari jika semua ini adalah salah, Raga mengucapkan istighfar berulang kali. Demikian juga dengan Ira.


Setelah selesai, Raga berbalik dan mengulurkan tangannya ke Ira dan disambut baik oleh Ira.


Cup.


Di hadiahi sebuah kecupan mesra di kening Ira, membuat gadis belia itu malu. Ia tak berani menatap Raga.


''Maaf Sayang... jika kakak boleh meminta, kakak ingin menikahi mu secepat nya. Agar semua yang kita lakukan itu sah dimata agama. Kamu mau kan??'' tanya Raga dengan menatap Ira begitu dalam.


''Tapi... kita masih sekolah kak... bagaimana mungkin..''


''Bisa! kita nikah secara agama saja dulu. Tapi jangan sampai pihak sekolah tau.. nanti akan kakak bicarakan dengan ummi dan Abi.. untuk sekarang biarlah seperti ini dulu.. Besok kita kan mau camping?? Kamu udah siap kan barang-barang keperluan untuk kita berkemah??'' tanya Raga untuk memastikan.


''Sudah kok. Tuh...'' tunjuknya pada sebuah ransel yang sudah ia isi dengan perlengkapan untuk berkemah selama tiga hari.


Raga tersenyum. ''Ya sudah, ayo kita turun. Pasti Mak udah nungguin. Setelah ini kakak harus pulang, besok kita ngumpul disekolah ya??''


Ira mengangguk. ''Oke! ayo kita turun!'' ujarnya begitu semangat.


Membuat Raga tertawa.


Setelah nya mereka berdua turun ke bawah dengan jalan berdampingan, sesekali tertawa sambil mereka menuruni tangga.


Sesampainya dibawah.


''Cieee... cieee... kayak pengantin baru aja!'' celutuk Lana, membuat kedua pasang anak manusia itu Malu.


''Huss.. abang! nggak boleh kayak gitu ah!'' tegur Mak Alisa.


Lana tertawa nyengir. Sedangkan kedua pasang anak manusia itu masih menunduk dengan raut wajah memerah karena malu.


Alisa tersenyum melihatnya.


💕

__ADS_1


Otw air terjun ya!


TBC


__ADS_2