
Ira dan Raga sudah pulang kerumah kemarin sore. Karena Ira normal dan tidak mengalami hal apapun, makanya Ira di perbolehkan pulang oleh dokter Chika dan bidan Astrid.
Dan sudah tujuh hari usia bayi kembar sepasang mereka berdua. Dan hari ini merupakan hari aqiqah untuk bayi mereka berdua.
Dan juga pemberian nama untuk bayi mereka berdua. Dengan memakai gamis putih berikut dengan hijab dan niqobnya, Ira sudah duduk manis lesehan dilantai di temani ummi Hani dan Mak Alisa.
Saat ini seorang ustad sedang memberikan sedikit pencerahan atas nama apa yang baik dan bagus untuk kedua bayi kembar mereka ini.
Pilih dan pilih. Hingga terbentuk dua nama untuk bayi sepasang itu. Semua yang suka menyebutkan dan membisikan nama itu di telinga kedua bayi kembar sepasang itu.
Dengan di gendong Raga dan Opa Gilang, kini sepasang bayi kembar itu sedang berkeliling dengan Abi dan Opa nya.
Setiap nama pun mereka bisikkan. Dan setelah itu, diletakkan dalam salah satu gelas yang tersedia disana.
Selesai dengan itu, kini kedua bayi itu di dipangku oleh dua orang ustad. ''Baiklah, kita buka ya isi gelasnya. Kemudian kita akan vote suara terbanyak dari pilihan dua nama tadi. Satu orang dua nama kan yah?'' kata ustad Mahmud.
Dan semuanya mengangguk. ''Tentu ustad silahkan!'' kata Abi Hendra.
__ADS_1
Dengan segera dua orang perwakilan dari ustad itu membuka dan menghitung jumlah nama yang terbanyak untuk kedua putra dan putri Ira.
Hingga sudah terpilih semua, kedua nama itu sudah berada di tangan sang ustad. ''Baiklah, akan saya bacakan siapa nama pemilik gadis cantik yang sedang saya pangku ini. Ini kakak kan yah?''
''Ya,'' sahut seluruh keluarga begitu kompak.
Ustad Mahmud terkekeh, ''Betul! Seorang putri merupakan perisai bagi kedua orangtuanya kelak ketika di akhirat. Hem.. bayi kecil nan cantik ini sesuai dengan namanya ya? ZIARA PUTERI HARIAWAN dan sang adik bernama ARGANTARA PUTERA HARIAWAN. Nama yang baik sesuai dengan pemilihan seluruh keluarga ya? Bismillahirrahmanirrahim...'' ustad Mahmud mulai membacakan doa kepada bayi kembar sepasang itu dan memberikan setetes madu dan santan di mulut kedua bayi itu.
Untuk pembuka mulut bayi yang baru lahir. Dan juga saat berbicara nanti ia akan lancar. ( mitos atau fakta othor nggak tau ya? yang Jelas, setiap bayi lahir jika kami orang Aceh akan melakukan hal ini.)
Keturunan pertama Mak Alisa dan ayah Emil, dan juga sahabatnya. Ummi Hani dan Hendra Hariawan.
Cinta pertama yang tidak kesampaian oleh Abi Hendra tapi di tuntaskan oleh putra sulungnya, Ragata Hariawan.
Ia tersenyum saat mengingat dua puluh enam tahun yang lalu, Abi Hendra yang pernah berjanji pada Mak Alisa saat menghadiri pernikahan Mak Alisa dan ayah Emil.
Bahwa kelak, akan ada penerus nya yang akan melanjutkan kisah cinta nya yang tertunda bersama Mak Alisa. Yang sekarang telah menjadi besannya.
__ADS_1
Cinta pertama itu tidak akan pernah hilang walau kita sudah mendapatkan penggantinya. Cinta pertama akan selalu melekat di dalam hati hingga kita tiada nanti.
Beruntung lah bagi orang yang bisa bersatu dengan cinta pertamanya. Dan ada juga yang tidak seberuntung mereka ini, bisa menikah dengan cinta pertama nya.
Namun, ia memilki cinta terakhir. Dimana cinta itulah tempat akhirnya ia melabuhkan separuh hati dan seluruh hidupnya hanya untuk yang terkasih.
Sedangkan Ira dan Raga.
Mereka berdua merupakan cinta pertama yang tertunda. Cinta pertama yang sering disebut dengan cinta monyet.
Kini telah bersatu untuk selamanya setelah mengalami parahara yang begitu pelik ketika mereka berumah tangga saat umur mereka masih sangat kecil.
Tapi siapa sangka, jika cinta monyet itu akhir nya bersatu dalam biduk rumah tangga? Siapa yang sangka jika sepasang anak manusia itu bisa bertahan dari badai topan yang menerjang biduk rumah tangga mereka.
Tak ada yang tau seperti apa jalannya hidup. Begitu juga dengan Ira dan Raga. Akhirnya mereka biasanya bersatu setelah perjalanan cinta mereka sempat goyang saat badai menghantam nya.
💕
__ADS_1