
''Ayo, masuk ke dalam. Semua sudah menunggu mu disana! Ayo, kamu cantik banget sayang! Heels ini sangat membantu menunjang penampilan mu malam ini. Ayo, ayo! Ummi sudah tidak sabar melihat kamu maju ke panggung!''
''Eh? Pa-pangggung Ummi? Buat apa?!'' seru Ira dengan suara naik satu oktaf.
Raga dan ummi Hani tertawa. Sadar jika suaranya meninggi karena terkejut, Ira berdehem.
Wajahnya memerah karena malu. ''Hehehe.. maaf ummi, Kak Raga..'' Ira tersenyum namun nyengir kuda.
Raha dan Ummi Hani tau itu. Mereka tertawa bersama sambil terus berjalan. ''Baikalh semuanya, kita sambut pemilik baru rumah sakit ini. Yaitu Nyonya Ira Sarasvati Hariawan!!'' seru suara di panggung depan sana.
Ira mematung lagi. Kakinya terpaku ditempat. Ia melihat jika disana sudah tertera fotonya yang sedang menatap rumah sakit itu dengan dalam satu bulan yang lalu.
Abi Hendra teryawa melihat tingkah menantinya itu yang begitu lucu. ''Silahkan nak. Mari naik ke panggung. Untuk serah terima jabatan dari pemilik Lama menjadi pemilik baru. Yaitu kamu, nak.'' Ucap Abi Hendra dengan tersenyum melihat Ira.
Mata Ira tetap fokus ke depan. Di mana sebuah gambar dirinya sedang belajar di pesantren dan juga saat membuat kelakar di pesantren itu.
Belum lagi, suara Ira yang begitu fasih saat mengajar bahasa Inggris sangat terdengar jelas disana.
Sangat fasih.
Ira menoleh pada Raga. Raga tersenyum. ''Ayo.. Abi sudah menunggu mu dan pemilik rumah sakit ini. Mereka ingin berkenalan dengan mu, hunny.'' Ucap Raga masih dengan memegang tangan Ira yang begitu dingin.
''Ayo, nak?'' ajak ummi Hani lagi
Dengan terpaksa Ira mengangguk pasrah. ''Ya..'' sahutnya dengan bibir bergetar.
Raga dan ummi Hani terkekeh lagi.
Prokk..
Prokk..
Prokk..
Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan terbuka itu. Ira naik ke panggung di temani oleh Raga.
Raga tetap setia berdiri disampingnya. ''Ayo, nak. Pak Irwan sangat ingin mengenalmu. Pemilik sah dari rumah sakit ini.'' Imbuh Abi Hendra dengan tersenyum menatap Ira.
Ira pun ikut tersenyum, Walau hati dan pikiran masih bingung dengan semua itu.
__ADS_1
''Selamat malam Ibu Ira Sarasvati.. perkenalkan saya Direktur Irwan pemilik sah dari rumah sakit ini. Mari kita berdiri disana Bu? Untuk tanda tangan kepemilikan serta serah terima jabatan dari saya untuk anda,'' ucap Pak Irwan selaku pemilik sah dari rumah sakit itu.
''Salam kenal kembali untuk anda, Pak Irwan! Baik, silahkan!'' jawab Ira.
Raga tersenyum tipis mendengar suara Ira yang tegas saat berbicara dengan Direktur utama pemilik rumah sakit yang dia punya sekarang.
Begitu juga direktur Irwan. ''Mari Bu, silahkan ditanda tangani disini dan disini.'' katanya pada Ira.
Ira mengangguk, dengan segera Ira menanda tangani dokumen itu dengan tinta berwarna emas.
Gambar Ira terlihat jelas sekali di layar lebar di belakang nya. Lampu sorot itupun mengarah padanya yang saat ini sedang menandatangani dokumen kepemilikan yang akan diserahkan kepadanya.
''Baik, milik hari ini dan seterusnya rumah ini sudah menjadi milik Anda Nyonya Ira Sarasvati Ragata Hariawan!!''
Prok..
Prokk..
Prokk..
Suara tepuk tangan itu menggema di seluruh penjuru di taman belakang rumah sakit itu. Ira terharu sekali.
Mereka berdua menganga dokumen itu bersama. Sebelah Ira yang memegang nya. Dan sebelah lagi, direktur Irwan yang memegangnya.
Semua kamera menyorot padanya.
Kilasan-kilasan cahaya putih itu begitu menyilaukan mata Ira. Namun ia tersenyum. Walaupun tidak terlihat, tapi bisa terlihat dari kerutan di kedua pipinya yang saat ini sedang tersenyum.
''Mari Nyonya! Silahkan sampaikan sepatah dua kata dari anda untuk kami semua.''
Ira mengangguk, kemudian ia maju ke mimbar tempat dimana mereka tadi menandatangani dokumen itu disana.
Raga mengangguk, dengan segera ia duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya bersama Abi Hendra dan Direktur Irwan.
''Ehem, Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim.. assalamualaikum.. selamat semuanya..''
''Waalaikum salam.. selamat malam Nyonya Ira...'' jawab seluruh anggota ruang sakit itu.
Semuanya menatap Ira dengan terharu. ''Hehehe... jangan tatap saya begitu atuh .. malu euuyy!!'' celutuk Ira.
__ADS_1
''Hahaha...'' semua yang ada disana tertawa semua.
Termasuk ummi Hani dan Abi Hendra. Apalagi Raha dan direktur Irwan. ''Saya bisa melihat dokter Ragata. Istri anda pasti akan disenangi di rumah sakit ini. Terlihat jelas sekali bahwa mereka semua menyukai istri anda. Direktur utama di ruang sakit ini,'' ucapnya sibuk terus tersenyum bahagia pada Raga.
Raga mengangguk. ''Benar sekali Tuan! Istri saya ini memang unik!'' Pak Irwan tertawa mendengar ucapan Raga.
''Saya tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Semua ini seperti mimpi untuk saya. Bisa menjadi seorang istri dari dokter Ragata saja saya tidak pernah terpikirkan sama sekali. Tapi saya bersyukur dengan apa yang saya dapatkan ini. Semua ini merupakan amanah yang harus saya jaga. Yang harus saya tunaikan hingga ajal menjemput saya.''
''Jika kalian berpikir, wah.. enak ya jadi istri dokter Ragata? Sudah dicintai sepenuh hati, dapat mertua baik hati, juga mendapat kan rumah sakit ini tanpa bersusah payah. Kalian salah jika berpikir seperti itu!''
Deg!
Seseorang disana menunduk malu, karena telah berpikir yang tidak-tidak untuk pemilik rumah sakit mereka yang baru.
''Saya tidak pernah tau tentang rumah sakit ini sama sekali. Karena suami pun tidak ngomong apa-apa sama saya. Begitu juga dengan kedua mertua saya. Mereka kompak untuk membuat kejutan ini untuk saya.''
''Hehehe...'' terdengar suara kekehan dari seluruh orang di bawah sana.
Ummi Hani dan Abi Hendra pun ikut terkekeh. ''Dan mendapatkan mertua seperti mereka merupakan suatu keberuntungan untuk saya. Saya tidak pernah berpikir sama sekali, bahwa jodoh saya ini ternyata cinta monyet saya dulu ketika umur saya sembilan tahun. Pemuda kecil yang pernah menolong saya dari kecelakaan dua belas tahun yang lalu.''
Semua yang ada disana terdiam. ''Jika kalian pikir, saya ini terlahir dari anak orang kaya, kalian salah!''
Deg.
Deg.
Lagi, jantung beberapa orang disana berdegup tak beraturan. Mereka salah duga lagi tentang direktur mereka yang baru.
''Saya terlahir dari wanita biasa. Mak saya wanita biasa yang tidak kuliah. Beliau hanya tamat SMA saja. Begitu juga dengan ayah saya. Beliau hanya tamatan SMP. Saya terlahir dari orang kalangan bawah. Bukan berkasta tinggi seperti suami saya. Tapi saya tidak berkecil hati dengan itu. Saya tetap bangga memilki kedua orang tua seperti mereka. Ya.. walaupun akhirnya mereka tidak bisa bersama. Tidak jodoh kali ya?'' Ira terkekeh
Begitu juga dengan yang lainnya.
''Namun, saya bersyukur sekali bisa di kelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangi saya. Saya sebenarnya tidak sehat seperti yang kalian lihat. Saya itu memiliki penyakit yang dianggap tidak bisa memilki keturunan. Alias mandul!''
Deg.
Deg.
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Weleh? Kak Ira buka kecil itu!