
✧ ⃟ ⃟ ⃟ ━ೋ๑୨MUTIARA HIKMAH୧๑ೋ━ ⃟ ⃟ ⃟✧
*HAL KECIL YANG SERING TERLUPAKAN*
"Ada tiga kata yang luar biasa pengaruhnya bila sering diterapkan pada keseharian hidup kita. Yaitu kata Tolong, Maaf, dan Terimakasih.
"Kali ini tentang MAAF.
Sekecil apapun kesalahan yang telah kita buat jangan sungkan ucapkan kata maaf. Percayalah, dengan meminta maaf posisi kita akan lebih mulia, bukan hanya di mata manusia tapi juga di mata Sang Maha Pencipta."
🔹🔷 Quotes of the day 🔷🔹
◎❅❀❦ೋ๑୨ೋ๑୨💠୧๑ೋ๑ೋ❦❀❅◎
Mendengar suara pekikkan seseorang, membuka Dimas yang ada di dekat suara tersebut pun menoleh ke sumber suara tersebut dan terlihatlah Andi yang sedang memegang perutnya yang nampak berdarah.
"Andii!" seru Dimas saat melihat temannya itu terluka.
"Gue nggak papa guys!, hanya luka goresan saja!, sebaiknya cepatlah Amankan mereka!" pekik Andi, agar temannya tidak lengah menghadap para pria bertubuh besar itu.
Setelah mendengar perkataan Andi yang mengatakan dia tidak apa-apa, membuat para temannya kembali fokus menghajar para pria bertubuh besar dan kali ini Semangat mereka semakin menggebu-gebu hingga dengan cepat mereka akhirnya berhasil meringkus ke-limanya,
"Cih, hanya begitukah kemampuan kalian?, ternyata hanya badan saja yang besar dan hanya anggar wajah seram kalian saja tapi kenyataan kalian sangat lemah!"' Ujar Dimas yang nampak sangat geram pada ke-lima pria bertubuh besar itu.
"Masih ingin melarang warga sini untuk ke surau hah!" Bentak Dimas lagi masih dengan wajah kemarahannya.
"Tidak bang!, kami juga sebenarnya tidak ingin melakukannya, tapi karena kami di paksa dengan ancaman akan membunuh keluarga kami makanya kami menuruti perintahnya bang" kata salah satu dari kelima pria itu, yang akhirnya mereka mengakui Apa sebab mereka melakukan perbuatan yang jahat itu.
"Siapa nama kalian? " tanya Ardiyan setelah mendengar pengakuannya.
"Namaku Bonar bang, dan ini Gultom dan yang itu si Poltak, dan yang itu si bujang, dan yang sebelahnya Togar bang" kata si Bonar yang memperkenalkan nama teman-temannya satu persatu.
"Oh, jadi kau,. yang namanya naga Bonar?, sudah ku bilang jangan bertempur, kau bertempur juga! sekarang berdarahlah kau!" kata Dimas dengan logat bicara Dedy Mizwar di film Naga Bonar.
__ADS_1
"Maaf bang!, tapi Aku bukan jenderal Naga Bonar itu, aku hanya Bonar saja bang." protes Bonar dengan logat yang sama seperti Dimas tadi.
"Akh, sama saja itu!, sama-sama ada Bonarnya, dan kau juga bicara kayak si naga Bonar!" timpal Dimas lagi masih ngikutin logat yang sama, di film Naga Bonar.
"Itu karena kami sama-sama dari suku Batak bang" ujar Bonar lagi.
"Akh, sudahlah itu!, sekarang kau ceritakan dulu sama kami!, kenapa warga di sini tak boleh beribadah di surau ini?" tanya Ardiyan yang akhirnya nada bicaranya mengikuti Nada Dimas dan sih Bonar.
"Bah!, kenapa juga kau ngikutin nada bicara mereka hah?!" tanya Wira yang ternyata nada bicaranya pun ikut menular juga dengan mereka.
"Akh, banyak cakap kau!, kau sendiri juga sama dengan mereka!, " protes Andi yang juga bernada sama dengan mereka, semabari ia memegang perutnya yang masih berdarah.
"Ondeh Mandeh, manga kawan-kawan Ambo ba kece ba urang Batak Pulo, saki' kapalo Denai mandanganyo "Keluh Dika dalam bahasa padangnya, sembari ia menepuk keningnya
"sudahlah, dari pado lamo-lamo di siko, kepala Ambo tambah saki' labih ranca' Ambo Pai maube' si Andi, yang sadang luko!" lanjut Dika lalu ia pun langsung menghampiri Andi. " Ayo Andi gue priksa luka Lo di surau itu" kata Dika lagi yang kini bicaranya Kembali normal.
"Yo wes lah, ayo, aku milu kue waelah, kalau ngono, nang kene pun endasku milu mumet!" kata Andi yang akhirnya ia pun mengikuti Dika ke surau.
"sekarang Cepat kau ceritakan mengapa warga di sini tidak boleh beribadah di surau ini?" Tanya Ardiyan Kembali dengan pertanyaan yang sama seperti yang ia katakan tadi.
"Gini bang, sebenarnya kawasan surau ini adalah tanah yang sudah di wakafkan untuk membangun surau untuk para warga di sini bang, oleh bapak bang Jafar, tapi setelah bapaknya meninggal, bang Jafar tidak terima bang, makanya ia mengambil kembali tanah ini dari warga, dan katanya mau ia jual kembali, pada orang kota yang katanya mau membangun hotel gitu bang" ujar Bonar menceritakan yang sebelumnya pada Ardiyan dan kawan-kawannya.
"Wah, dasar Anak durhaka yang gila harta, bapaknya mau cari pahala, eh dia malah mau menghancurkan niat baik bapaknya" protes Dimas yang nampak kesal setelah mendengarkan penjelasan dari si Bonar.
Ardiyan mengerenyitaya setelah mendengar kata orang kota " Orang kota?, apakah kau tahu siapa orang kota tersebut?" tanyanya Penasaran.
"Aku nggak tahu bang, cuma ku rasa itu orang sangat pemaksa kayaknya, hingga bang Jafar jadi kejam sekarang sama kami" kata Bonar lagi.
"hmm, ya sudah sekarang kalian antar kami ke rumah bang Jafar itu," ujar Ardiyan meminta mereka mengantar dirinya dan teman-temannya untuk ke rumah bos ke lima preman itu.
"Mau apa bang ke rumah bang Jafar?" tanya Bonar yang terlihat sekali sepertinya ada rasa ketakutan sekilas di raut wajahnya.
"Gue mau beli tanah ini, cepat antar kami!" titah Ardiyan tegas.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu bang, mari ikuti kami" Ajak Bonar, dan akhirnya Ardiyan dan kawan-kawannyanya semua pun mengikuti bonar,. termasuk Andi dan Dika yang telah selesai membalutkan luka Andi, makanya mereka akhirnya ikut rombongan Ardiyan juga.
Di dalam perjalanan mereka menuju rumah bang Jafar, Wira buka suara."Lo yakin Ar, mau beli tanah surau itu?" tanyanya penasaran.
"Iya gue yakin, karena gue kasihan sama bapaknya di Jafar itu, dia sudah berharap warga di sini bisa beribadah di surau itu, eh anaknya malah menghancurkan keinginannya, lagian dari pada tempat itu di bangun hotel lebih baikkan kalau kita bangun mesjid yang besar, biar para musafir bisa singgah di mesjid itu" Ujar Ardiyan meyakinkan dirinya.
"Maa syaa Allah, niat yang sangat mulia, kalau begitu gue dukung deh, gue juga nanti akan berinvestasi juga dalam pembangunan masjid itu" Ujar Wira yang terlihat ikut bersemangat.
"Gue juga deh ikutan cari pahala." Sambung Dimas juga.
"gue juga mau Ar" Sambung Dika juga.
"Gue sama dengan kalian semua" kata Andi juga yang tak mau kalah.
"Alhamdulillah, baiklah kawan, kita berlima akan membangun mesjid di sana, dan kalau bisa ada rumah thafidz gratisnya juga buat anak-anak sekitar sini" ujar Ardiyan lagi, yang sama semangatnya dengan para teman-temannya.
"Maa syaa Allah, gue setuju banget Ar, semoga keinginan membangun mesjid kita ini mendapatkan Ridho dari Allah ta'ala, sehingga Ia akan memberikan kemudahan kepada kita semua." Ujar Wira lagi.
"Aamiin" jawab mereka serentak dan saat bersamaan mereka pun sampai di rumah Bang Jafar, yang terlihat lumayan besar serta di jaga ketat oleh beberapa pria bertubuh besar juga yang di yakini kalau mereka adalah para bodyguardnya si Jafar dan saat mereka ingin memasuki rumah tersebut, tiba-tiba satu orang pria bertubuh besar menghalangi mereka.
"Siapa mereka Bonar?, kenapa kau Bawak mereka kemari?" tanya pria itu dengan tatapan tajamnya pada Bonar.
"Mereka orang kota bang Tigor, dan mereka ingin bertemu dengan bos Jafar" bales Bonar.
"Mau apa mereka ingin bertemu bos Jafar?" tanya pria itu lagi.
"Katanya mereka mau beli tanah surau itu bang" kata Bonar lagi, saat Bonar menjelaskan maksud kedatangan Ardiyan dan kawan-kawannya tiba-tiba seorang pria berkumis tebal muncul dari dalam
"Apaa?!!
**********
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉 SYUKRON 🙏😊
__ADS_1