
"Kecantikan bukan terletak pada
pakaian yang dipakai tetapi ia
bergantung kepada
keelokan akhlak dan budi pekerti."
🌿 _Ali bin Abi Thalib_🌿
Sudah puas rasa kedua orang tua Wira mengobrol, bercanda tawa, begitu senangnya mereka, dan tak terasa hari pun sudah menjelang siang, dan kedua orang tua Wira harus terpaksa menghentikan kebersamaan mereka.
"Nak mami dan papi, sudah hampir seminggu Disni, dan sudah hampir seminggu juga papi meninggalkan perusahaan jadi nanti sore kami berencana kembali ke kota J. Nak..kamu nggak papakan kalau mami dan papi pulang?" Ucap papi Wira yang terasa berat meninggalkan anak dan mantunya..
"Nggak papa Pi, lagian wira juga masih harus menstabilkan perusahaan kita yang di sini dan Wira juga sudah memiliki tanggung jawab di sini jadi Wira nggak bisa ikut kalian pulang ke kota J." Bales Wira yang paham kalau sebenarnya orang tuanya seperti berat meninggalkannya.
"Ya papi mengerti, yang penting kalian selalu akur ya nak, selalu jaga kesehatan dan jagalah anak mantu Papi, nanti bila kakinya sudah benar-benar sembuh bawaklah dia ke rumah kita di kota J. Oke"
"Oke Pi, in syaa Allah, papi dan mami juga ya harus jaga kesehatan juga, yaa" bales Wira, sambil memeluk Papinya..
"Asyifa, sering-sering telpon mami ya nak.. biar mami nggak kesepian di sana" ujar mami Wira pada Asyifa..
"Iya umi in syaa Allah " bales Asyifa lembut,
"Dan ingat kalau kamu sudah bisa jalan normal kamu harus mengunjungi mami yaa pasti mami akan bahagia "ucap mami Wira lagi " Apalagi,kalau kesana bersama hadiah yang lucu, pasti sangat, sangat bahagia mami nak" lanjut mami Wira dengan mata memberi isyarat menunjukkan ke arah perut Asyifa, dan di lanjutkan dengan kedipan matanya, membuat wajah Asyifa memerah karena malu..
"Iiss mami apaan sih.. Syifa masih berumur 17 tahun mi " protes Wira pada maminya karena dia takut istri kecilnya menjadi takut padanya..
"Heei mami 17 tahun juga sudah mengandung kamu loh.. dan lagian Asyifa juga sebentar lagi 18 tahunkan nak?" Ujar mami Wira nggak mau mengalah, membuat Asyifa jadi bingung..
"Sudahlah mi, biarkan itu menjadi rahasia Allah, kalau sekiranya kami sudah pantas di berikan Amanah-Nya, maka kabar gembira itu pasti akan sampai pada kita mi" Sambung papi menengahi perdebatan kecil Antara istri dan anaknya..
"Itu baru pas mi, biar Allah saja yang menentukan takdir kami mi, jadi mami cukup memberikan doa untuk kami" ujar Wira senang karena dapat belean dari papinya..
"Ikut kata kalian saja dah" bales mami males.
__ADS_1
"Jangan ngambek dong mi.. malu tuh di lihati Ara, pasti dia heran mami masih seperti anak kecil kok minta cucu" ujar papi Wira sedikit menggoda..
"Biarin!!" bales mami ketus Asyifa yang menyaksikan drama orang tua Wira hanya senyum-senyum saja, beda dengan Wira dia malah senyum-senyum juga karena melihat Asyifa yang nampak manis di pandangannya kala ia tersenyum.
"Ya sudah deh papi ngalah.. sekarang kita harus segera berangkat mi karena jam penerbangan kita sebentar lagi loh.." ucap papi Wira lagi..
"Iya iya.. ya sudah mami pamit ya sayang, kamu harus cepat sembuh oke dan ingat selalu telpon mami ya nak" ujar mami Wira sembari memeluk dan mengecup kening Asyifa dengan lembut
"Iya umi, umi jaga kesehatan ya, " bales Asyifa membalas pelukan mami Wira.
"Iya sayang muach" kembali ia mengecup kening Asyifa. lalu bergantian dengan sang papi.
"Papi juga pergi ya nak, telpon papi juga kalau suamimu nakal oke" Ujar papi Wira sembari memeluk dan mengecup kening Asyifa juga..
sedangkan Asyifa mendengar kata suami tiba-tiba jantung kembali berdebar.
"Eh..iya Abi, in syaa Allah" bales Asyifa singkat karena jantungnya dia rasa tidak normal lagi
"Assalamu'alaikum" ucap papi dan mami serentak
"Wa'alaikum salam" Jawab Wira dan Asyifa.
Lalu mereka pun pergi meninggalkan Wira dan Asyifa,
Setelah kepergian orang tua Wira, ruangan yang tadi menghangat kini tiba-tiba berubah menjadi suasana penuh canggung..
untuk beberapa saat mereka saling bertatapan namun tak berapa lama Asyifa tersadar lalu ia menundukan wajahnya.
"*Astaghfirullah.. kenapa dengan jantung ana ya Allah, berikan lah ketenangan pada jantung hamba ya Allah,\_batin Asyifa*.
"*aduh kenapa jadi canggung gini..
wahai jantung ku tenanglah, jangan membuat gue jadi sesak nafas karena degupanmu yang terlalu kencang"\_Batin Wiraxsana*
__ADS_1
Begitulah yang terjadi di ruangan Asyifa dirawat berubah jadi hening karena mereka di sibukan dengan pemikirannya masing-masing.
"Ehem.." deheman Wira memecahkan keheningan, "Hmm sebaiknya sekarang kamu istirahat Syifa, pasti kamu sudah lelah karena ocehan mami yang kayak burung Betet itu" ujar Wira ya memang mami Wira kalau sudah ngobrol sulit berhenti.
"Eh kok burung Betet sih akhy" protes Asyifa, membuat Wira semangat..
"*Hmm awal yang bagus" \_batin Wira*.
"kok akhy lagi sih Ara?" protes Wira mulai tidak suka di panggil akhy karena dia sudah tahu artinya ketika ia menguping saat papinya bicara. " tadi saat ada papi sama mami, kamu panggil aku kan kakak" masih protes.
"Eh, m.maaf Syifa lupa.." bales Asiyfa kikuk.
"Kok Syifa lagi sih? tadikan kamu sudah panggil diri kamu Ara..?" protes Wira lagi. membuat Asyifa makin salah tingkah, membuat Wira tersenyum tipis melihat istrinya memerah wajahnya, dan membuat ia gemas..
"Eh..iya iya Ara salah.. maaf akh..eh kakak maksudnya" bales Asyifa gugup membuat Wira semakin semangat menggodanya.
"*Maa syaa Allah, kamu kok menggemaskan sekali sih Ara, jadi Ingin Menggoda Kamu terus deh\_ Batin Wiraxsana*
"Hayoo mau bilang Akhy lagikan tadi"
"enggak kok, udah akh, syif..eh Ara mau bo..eh tidur dulu" bales Asyifa tambah gugup, sembari ingin meniduri kepalanya, namun ia lupa dengan posisi nya yang masih dekat dengan dipan kepala tempat tidur hingga akhirnya kepalanya terjedut oleh besi kepala tempat tidur.
TAANGH
" AAAKH" Pekiknya..
"Astaghfirullah.."
\*\*BERSAMBUNG
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa..
Syukron untuk like dan komentarnya..
Apalagi pada yang sudah membonusi Vote nya Author benar-benar Syukron banget 🙏😊**
__ADS_1