CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
KETAKUTAN ASYIFA.


__ADS_3

━━━•⊰❁🌸 MUTIARA HIKMAH🌸❁⊱•━━━


*Dalam kesakitan teruji kesabaran*


*Dalam Perjuangan teruji keikhlasan*


*Dalam Ukhuwah teruji Ketulusan*


*Dalam Tawaqqal teruji keyakinan*


*Dalam Puasa teruji Ketaqwaan*


(Hidup ini amat INDAH jika ALLAH menjadi tujuan)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


━━•⊰❁🌸❁⊱•━•⊰❁🌸❁⊱•━•⊰❁🌸❁⊱•━━


Setelah permainan bercinta Wira dan Asyifa usai, Wira mengajak Asyifa mandi bersama, dan baru saja mereka menyelesaikan ritual mandi wajibnya, tiba-tiba Asyifa terdiam cukup lama dengan wajah memucat.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Wira heran ia pun kembali menghampiri Asyifa yang masih berdiri didepan kamar mandi.


"Maas.." Panggil Asyifa dengan suara yang sudah sedikit bergetar.


"Iya sayang?, ada apa kamu merasakan sesuatu?" Tanya Wira yang kemudian ia memegang perutnya Asyifa, yang ternyata menegang, membuat ia menjadi khawatir, " Sayang perut kamu menegang apa sudah waktunya kamu melahirkan sayang?" Lanjut Wira membuat Asyifa semakin ketakutan.


"huumm Maas.." Wajah Asyifa semakin memucat ia tak berani bergerak membuat Wira semakin panik.


"Iya sayang, kamu pakai baju dulu ya, habis itu kita ke rumah sakit ya." Kata Wira yang kemudian ia pun menggendong Asyifa, karna Wira tahu kalau istri kecilnya takut untuk berjalan, karena sudah pasti ia merasa bila ia bergerak ia akan merasa bayi akan keluar.


Sesampainya di ranjang Wira menduduki Asyifa di tepi ranjang setelah itu ia pun memakaikan baju, bak seorang ayah yang sedang memakaikan baju untuk anaknya, sementara Asyifa hanya diam saja.


Setelah Wira memakaikan baju, ia juga mengeringkan rambut Asyifa yang panjang, setelah itu ia merapikannya dan juga mengucirnya, setelah itu barulah ia memakaikan hijab serta cadarnya Asyifa.


" Alhamdulillah, sudah siap sayang, sekarang kita ke rumah sakit ya." Ajak Wira lembut.


"Mas, Ara takut.." Kata Asyifa dengan suara yang masih bergetar.

__ADS_1


"Jangan takut Sayang, Mas akan selalu mendampingi kamu, sekarang kita ke rumah sakit ya." Balas Wira lembut, ia tahu saat ini Istri ketakutan makanya ia berusaha membesar hati Asyifa dengan ekstra kesabaran.


Wira kembali hendak menggendong Asyifa, namun di cegah oleh Asyifa, karena rasa malu Asyifa lebih besar dari pada rasa kesakitannya.


"Mas Ara jalan sendiri aja, Ara malu kalau di gendong nanti kalau di lihatin orang gimana?." Kata Asyifa mencegah tangan Wira yang hendak menggendongnya.


Melihat Asyifa menahan tangannya, Wira mengerenyitkan dahinya."Ya ampun Ara, kamu bisa ya memikirkan perasaan malu di saat seperti ini hm?." Terlihat Wira menjadi kesal, apalagi saat ini ia sangat mencemaskannya.


"Ara nggak mau aja mereka..."


" Hentikan Ara, anak kita mau lahir, kamu masih sempat memikirkan mereka hah?!" potong Wira, yang terlihat mulai kesal dengan sikap Asyifa.


Melihat suaminya marah, Asyifa langsung menunduk wajahnya. " Maaf Mas." Ucap Asyifa dengan wajah yang terlihat takut.


Melihat Asyifa menjadi takut karena emosinya yang meluap, Wira mengusap wajahnya dengan kasar, "Hah!, Astaghfirullah, sabar Wira, ingat istri kamu hanya seorang anak kecil, kamu harus sabar, sabar Wira kamu harus sabar!." _Batin Wira yang kemudian ia membuang nafasnya dengan kasar.


"Maaf Ara, emas nggak bermaksud marah sama kamu, hmm, ya sudah kalau kamu mau berjalan sendiri, ayolah." Ujar Wira yang kini suaranya sudah berubah lembut.


"Iya Mas." Balas Asyifa yang wajahnya masih tertunduk, lalu ia pun bangkit dari duduknya dan hendak melangkah, namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba sebuah cairan keluar dari bagian sensitifnya.


"Aakh!, Maas!" Pekik Asyifa dengan tubuh yang mulai gemetaran, membuat Wira semakin panik.


"Itu ada yang keluar." Kata Asyifa dengan suara yang bergetar, sambil ia mengangkat baju gamisnya yang bagian bawahnya.


"Astaghfirullah, apakah itu air pecahan ketuban sayang?" Tanya Wira semakin panik. " Ya sudah ayo kita ke rumah sakit sekarang!." Katanya yang kemudian tanpa basa-basi lagi ia langsung menggendong Asyifa, dan kemudian dengan langkah cepat ia keluar dari ruangannya.


Sesampainya di depan pintu ruangannya, mata Wira langsung mengarah ke kursi sekertarisnya.


"Ratna katakan pada Rendi untuk siapkan mobil dan tunggu di depan pintu lobby!" Ujarnya pada Wanita yang duduk tidak begitu jauh dari depan ruangannya.


"Baik pak!" Balas Ratna yang kemudian ia langsung meraih telpon yang ada di atas mejanya, setelah ia menghubungi Rendi, Ratna langsung menyusul Wira yang sedang menuju lift, karna ia tahu pasti bosnya itu akan kesulitan untuk membuka pintu lift, maka ia bergegas untuk membantunya.


Sementara wira yang berjalan menuju lift, jadi merasa terbantu oleh kedatangan Ratna, dan ia pun langsung memasuki lift tersebut, sementara Asyifa hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Wira, dengan tubuh yang gemetar dan sangat terasa oleh Wira.


TING!. Begitu pintu lift terbuka, dengan langkah cepat, Wira berjalan menuju pintu lobby yang disana sudah ada Rendi yang sedang membuka pintu mobilnya, dan dengan cepat juga Wira memasuki Asyifa kedalamnya, setelah itu ia juga ikut masuk.


"Cepat Ren!, Kita kerumah sakit!" Titah Wira Tegas.

__ADS_1


"Baik pak!" Balas Rendi, karena melihat wajah bosnya yang terlihat panik dengan cepat Rendi melanjukan mobilnya.


Sementara wira yang melihat wajah ketakutan Asyifa, ia pun berinisiatif memanggil seseorang lewat via hp, dan ia mengambil benda pipihnya dan kemudian ia pun melakukan panggilan setelah ia mendapatkan kontak orang tersebut.


📱"Halo Assalamu'alaikum, bang" Jawab seorang wanita dari seberang, setelah panggilan tersambung.


📱"Wa'alaikumus salam," balas Wira.


📱"Ada apa bang?" Tanya Wanita itu lagi.


📱"Anisah, bisa kamu ke rumah sakit sekarang?, sepertinya Asyifa mau melahirkan, tapi sepertinya ia sedikit ketakutan." Jawab Wira.


📱" Oh, baiklah Bang, Nisah kesana sekarang, ya sudah Nisa tutup ya, Assalamu'alaikum."


📱" Iya Nisah, terimakasih sebelumnya, Wa'alaikumus salam." Sambungan langsung terputus,


Setelah itu Wira kembali menyimpan benda pipihnya ke dalam kantongnya, setelah itu ia mengelapkan keringat Asyifa yang mulai membanjiri wajahnya, Wira sangat memahami kalau saat ini Istrinya sedang ketakutan yang teramat sangat.


"Sayang tenanglah, jangan seperti ini, bukankah seharusnya kamu merasa senang, karena sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak-anak kita?" Ujar Wira menenangkan hati Asyifa yang mungkin saat ini sedang bergemuruh.


"Humm, Iya Mas, tapi sakit sekali Mas." Kata Asyifa dengan suara yang terdengar tertahan, seperti ia menahan sesuatu yang amat sakit.


Mendengar itu Wira pun mengusap-usap perut Asyifa, yang kemudian ia menundukkan wajahnya dan mendekati perut Asyifa " Anak-anakku sayang, sabar sebentar ya, jangan membuat Mymah kalian kesakitan, karena gerakan kalian di sana sayang." Katanya pada perutnya Asyifa dengan tangan yang masih mengusap-usap di sana.


"Eh, Udah nggak sakit Mas." Kata Asyifa yang terlihat lebih tenang.


"Alhamdulillah, Anak-anak Pypah pintar dan juga penurut, terimakasih Sayang." Ucap Wira pada anak-anaknya yang berada di perut Asyifa dan di waktu bersamaan mobil mereka pun berhenti di depan pintu rumah sakit yang ternyata di sana sudah ada Ardiyan dan Anisah.


"Alhamdulillah syukurlah kalian sudah sampai." Kata Wira saat melihat sahabatnya sudah datang.


"Iya Wir, cepat taruh Asyifa di sana " Ujar Ardiyan, yang ternyata ia juga meminta para Suster membawakan sebuah brankar.


"Baiklah terimakasih Ar." Balas Wira yang kemudian ia langsung membaringkan Asyifa di atas brankar tersebut.


"Mas Ara takut!."


*********

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉 Syukron 🙏🥰.


__ADS_2