
๐น๐ ๐ธ MUTIARA HIKMAH ๐ธ๐ ๐น
"Allah selalu memberikan hal yang indah dalam mencipta kisah bagi kehidupan hamba-hamba-Nya, Walaupun harus diawali dengan kisah tidak menyenangkan diawalnya
Maka tetaplah bersyukur dengan segala keadaan yang Allah berikan, tetaplah bersyukur atas keadaan sulit yang Allah tetapkan, karena bagaimanapun pasti akan ada kebaikan yang telah Allah siapkan menjadi akhirnya.
So tetap berbaik sangka kepada Allah, karena sungguh semakin kamu berbaik sangka kepada-Nya, maka hatimu akan luluh dengan kesabaran yang tidak pernah terbatas.
sแดแดสษชแดs แดา แดสแด แด แดy
โโโโโโโ๐น๐ท๐ ๐ท๐นโโโโโโ
Melihat para istri mereka masing-masing memegang busur panah, membuat para suami Akhirnya mengangkat kedua tangan mereka masing-masing tanda mereka menyerahkan diri.
"Ampun para Ustadzah, kami menyerah!" kata Dimas sembari ia melambaikan tangannya yang ada sapu tangan putihnya.
"Bagus kalau kalian sudah menyerah ekarang katakanlah, apa tujuan kalian membawa kami kesini?!" Tanya Anisah yang perkataannya di bikin tegas, namun tetap ada kelembutannya.
"Kami membawa para Ustadzah kesini, bermaksud ingin menyenangkan dan menghibur para Ustadzah, karena pasti kalian semua telah capek mengurus rumah suami dan anak-anak makanya itu kami membawa kemari agar penat kalian hilang" jelas Ardiyan yang juga ikut mengangkat tangannya.
"Oh gitu?, nama Apakah kalian sudah merasa membuat Kami senang dan terhibur?" tanya Anisah lagi.
"Belum sayang, kan kita baru sampai " Bales Ardiyan.
" Baru sampai?, perasaan tadi kita sampai jam 3 kan?" tanya Anisah kepada teman-temannya.
"Na'am ty, kita jam 3 sampainya" jawab Nina
"Oh, Sekarang sudah jam berapa?" tanya Anisa lagi kepada teman-temannya lagi
" Sekarang sudah jam 5.30 ty" kali ini Lisa yang menjawab pertanyaan Anisah
"Sekarang Apa alasan bapak-bapak ini? yang baru pulang jam segini? " tanya Anisa kali ini ini tatapannya mengarah kepara suami
"Sebelumnya kami minta maaf para ibu-ibu kami juga tidak bermaksud pulang jam segini cuma tadi ada insiden kecil di surau tempat kami shalat ashar tadi, di serang oleh preman, dan itu menyebabkan bapak Andi terluka." Jelas Wira dengan gaya seperti orang ceramah.
__ADS_1
Mendengar nama suaminya di sebut, dengan spontan Nadziha kaget " Apa mas Andi terluka?" tanyanya yang langsung melepaskan busur panahnya dan langsung menghampiri Andi yang memang wajahnya sedikit pucat karena darahnya tadi banyak juga yang keluar.
"Kamu terluka mas? tanya Nadziha sembari mencari lukanya tersebut, dan saat ia membuka jaketnya Andi terlihat banyak darah di kaos putihnya, "Astaghfirullah darahnya banyak sekali mas" Pekik Nadziha kaget, dan ia malah langsung terkulai lemas karena melihat darah Andi,
Andi yang di dekatnya dengan cepat menangkap Istrinya sebelum ia benar-benar terjatuh " Astaghfirullah Nad!, kamu kenapa?" kata Andi yang langsung menggendong Nadziha dan langsung membawanya ke dalam.
Setelah kepergian Andi dan Nadziha, Anisah pun meminta penjelasan pada Ardiyan, setelah mereka menaruh busur panah mereka masing-masing, dan mereka juga langsung mengajak mereka masuk,
"Sekarang jelaskan hubby, sebenarnya apa yang telah terjadi di surau itu.?" tanya Anisah saat mereka sudah berada ada di ruang keluarga.
" Tadi saat kami berjalan-jalan sebentar kami melihat seorang anak kecil yang sholat di kebun gitu Nis, tapi kami pikir karna ia memang sedang ingin sholat di sana, dan kemudian kami mencari Surau untuk sholat Ashar, tapi ternyata surau tak begitu jauh dari tempat kami melihat anak itu, tapi kami tidak berpikir yang aneh-aneh saat itu, dan kami langsung melakukan sholat di surau itu " tutur Ardiyan yang akhirnya ia menceritakan semuanya termasuk menceritakan tentang Ja'far.
"Astaghfirullah, kok ada ya orang setamak itu, hanya karena mencari kepuasan dunia hingga tanah wakaf pun di jual?" bales Lisa sembari bergidik.
"Seperti itulah manusia yang tak pernah bersyukur, jadi yang dia dapatkan hanya kehausan akan harta." timpal Anisah.
"Benar sayang makanya ubby, tadi sengaja menambahi dengan apa yang dia pinta, agar ia mau menyerahkan lahan yang ada suraunya itu, untuk ubby jadikan Mesjid dan rumah thafidz juga" kata Ardiyan yang menuturkan niatnya juga.
" Alhamdulillah semoga diberi kemudahan ya By?" kata Anisa.
"Kalau begitu kami minta maaf ya by, bang Dimas bang Wira, bang Dika, karena kami sudah su'uzon pada kalian semua" kata Anisah yang juga mewakili para sahabatnya.
" Iya Sayang, kami juga minta maaf ya karena membuat kalian jadi menunggu" bales Ardiyan juga.
" iya by, Ya sudah sekarang kalian mandilah, karena sebentar lagi mau Maghrib." kata Anisah lagi
"Ya sudah kalau kami mandi dulu ya," kata para suami dan di Anggukkan oleh para istri dan setelah itu mereka pun menuju ke kamar mereka masing-masing untuk mandi dan bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib.
*****
sementara dikamar Andi dan Nadziha,
Andi yang baru saja menyelesaikan sholat Maghribnya, langsung menghampiri ranjangnya dan melihat istrinya yang belum juga sadarkan diri Andi pun memberikan minyak kayu putih ke hidungnya Nadziha, berharap ia akan sadar setelahnya, dan benar saja tak berapa lama Nadziha pun membuka matanya.
"Alhamdulilah Akhirnya kamu sadar juga sayang, " kata Andi saat melihat mata Nadziha terbuka dengan sempurna.
__ADS_1
"Mas Ziha ya karena sudah su'uzon pada mas " kata Nadziha yang terlihat sedih saat melirik perut Andi, yang ada perbannya.
"Iya sayang, mas juga minta maaf ya karena tadi pergi tidak pamiit sama kamu"
"Iya mas, Apakah itu sakit Mas?"
"Tidak sayang, ini hanya luka kecil, cuma karena di bagian perut jadi darah cepat sekali keluar" jelas Andi.
"Eh, tunggu Kenapa kamu tidak mual, Nad?, padahal kita sedang berdekat?" tanya Andi heran.
"Eh, Ziha juga nggak tahu mas" kata Nadziha mengatakan apa adanya.
"hmm, apakah itu artinya si entong boleh menelusuri hutan rimba Nad" kata Andi sambil ia mengedipkan mata nakalnya.
" Eh, Iis emas!, kamukan masih luka Mas, pasti sangat sakit nanti !" protes Nadziha.
"Sakit karena luka tak seberapa Nad, dibandingkan sakitnya si entong yang sudah menahan kerinduannya pada hutan belantaranya, kamu ingatkan sudah sebulan si entong tidak berjumpa dengan kekasihnya jadi sekarang dia sedang rindu sayang." kata Andi yang kemudian ia langsung meraih bibir ranum Istrinya dengan lembut, bibir yang amat ia rindukan itu sudah seperti permen baginya karena kecapannya terdengar jelas sekali.
"Bolehkan Nad?" tanya Andi dengan suaranya yang terdengar sudah berat setelah tautannya terlepas.
"Kamu yakin mas akan tidak apa-apa dengan luka kamu?" tanya Nadziha yang terlihat cemas, namun ia juga tak ingin membuat suaminya kecewa.
"Tidak apa sayang, dia tidak akan menggangu kita kok hum" kata Andi, yang sangat kelihatan sekali kalau hasratnya sudah tidak ingin di tunda-tunda lagi,
"Tapi mas Ziha taku..Uhmm!" ucapan Nadziha langsung terputus, karena Andi sudah tak ingin ada bantahan lagi, dan akhirnya Nadziha mengikuti permainan sang suami dengan pasrah, hingga akhirnya pertempuran pun tak bisa terhindari lagi..
Setelah itu Author tidak yg tahu lagi..
Ya sudah Bersambung saja.
*******
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys.
maaf agak kurang fit๐ค๐ค jadi mau update jadi selalu tertunda akibat mengantuk karena obat jadi Author harap para Readers yang sabar ya.. ๐๐
__ADS_1