
Dika dan Nina kini sudah berada di atas ranjang mereka, dengan keduanya yang masih bermandikan keringat, karena dua jam sebelumnya saat Dika mengatakan rindu dan mendengar lenguhan dari sang istri, ia pun tak mampu lagi menahan hasratnya yang memang sudah tertunda selama ini karena tugas kedokterannya. dan ia pun langsung menggendong Nina dengan ala bridal style dan membawanya ke kamar mereka hingga akhirnya pertempuran panas pun terjadi.
Bagaikan orang yang kehausan, Dika melepaskan dahaga hasratnya hingga ia melakukan pelepasan dua kali dan kalau saja Nina tidak mengatakan malu takut terdengar orang mungkin ia masih ingin melakukannya lagi.
"Uda masih ingin lagi sayang" ucapnya saat pertempuran kedua telah, usai, dan Sambil ia mengusap keringat yang ada di wajah cantik Istrinya itu.
"Maaf da, tapi Nina takut terdengar para santriwati, karena inikan siang Da" bales Nina lembut sembari ia juga membantu Dika menyeka keringat yang ada di wajahnya juga.
"Baiklah kalau begitu, sebagai gantinya kamu harus mau ikut berbulan madu denganku Ok?"
"Bulan madu?, emang Uda mau bulan madu kemana?"
"Soal itu, kamu yang putuskan ya, karena aku ingin mengikuti keinginan kamu sayang"
"Hmm, bagaimana kalau ke Mekah saja Da, kita bisa umroh bersama, karena sebenarnya Nina hanya ingin kesana " balas Nina dengan mata yang berbinar.
"Sesuai keinginanmu sayang, " kata Dika sembari mengecup kening Nina lembut.
"Eh, tapi Da, gimana tugas Nina di sini da?" bales Nina yang tiba-tiba teringat kalau dia memiliki tugas sebagai Ustadzah di pondok pesantren An-Nur.
"Kamu tenang saja sayang, nanti Uda akan meminta izin pada Abi, agar ia mencari pengganti mu ya" Ujar Dika sembari ia memberikan kecupan lembut di pucuk hidung mancung Nina.
"Baiklah da, Eh lalu bagaimana dengan rumah sakit da?, Nina lihat sepertinya Uda sangat sibuk sekali hingga siang dan malam Uda bertugas" tanya Nina, yang sebenarnya ia juga ingin tahu, karena selama ini ia sudah merasa di abaikan oleh suaminya itu.
"Maaf ya sayang, mungkin belakangan ini kamu merasa terabaikan, tapi Uda lakukan itu, agar Uda mendapatkan cuti untuk bulan madu kita sayang" jelas Dika membuat Nina terharu dan juga merasa bersalah karena ia sempat su'uzon pada suaminya itu.
"Maa syaa Allah, Terimakasih ya da, dan maaf Nina sempat su'uzon pada Uda, Nina berpikir
Uda sudah..." perkataan Nina terhenti karena Dika menutup mulut Nina dengan jari telunjuknya.
"Sssth, jangan berpikir yang tidak-tidak ya sayang, Percayalah, aku tak akan melakukan hal-hal yang akan menyakitimu, karena aku sangat mencintaimu sayang " Ujar Dika sembari mengecup kening Nina penuh kasih sayang.
"Terimakasih ya da" bales Nina yang juga langsung memeluk suaminya itu.
__ADS_1
"Iya sayang, tapi kalau kamu tak segera mandi, aku jadi ingin melakukannya lagi sayang " bisik Dika di telinga Nina membuat Nina bergidik.
"Eh, Iiss Uda!, Nina mau mandi akh" sentaknya dan ia pun langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan ia pun langsung berlari ke kamar mandi, dengan wajah yang sudah memerah, Melihat tingkah Nina yang nampak memerah karena malu itu, nampak terlihat lucu di mata Dika hingga membuat ia pun tertawa.
"Hahaha, lucu sekali sih dia, bikin gemas saja melihatnya " ujar Dika, Sambil terkekeh dan setelah Istrinya sudah tak terlihat lagi, ia pun langsung turun dari ranjangnya, dan kemudian iapun memakai celana pendek dan kemudian ia langsung melangkah keluar kamar dan langsung menuju kamar mandi yang berada di dapur pondok.
Tak membutuhkan waktu lama setelah selesai ia melakukan mandi wajibnya ia pun melangkah kembali menuju kamar mereka, karena di lihatnya Istrinya nampak belum selesai, ia pun langsung melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian bersihnya dan langsung memakainya, tak berapa lama Nina pun keluar dari kamar mandi yang ternyata ia juga sudah memakai baju gamisnya.
"Kamu sudah selesai sayang?" tanya Dika, saat istrinya keluar dari kamar mandi.
"Sudah Da, " bales Nina singkat.
"Ya sudah sekarang kamu bersiaplah, aku mau menemui Abi dulu, karena setelah itu kita pulang dulu kerumah besar dan dari sana kita baru ke bandara ok" tutur Dika lembut.
"Baiklah da"
" Ya sudah Uda ke rumah Abi dulu ya Assalamu'alaikum" pamit Dika.
"Na'am wa'alaikumus salam" setelah mendapatkan jawaban dari Nina, Dika pun langsung bergegas menuju ke pondok utama tempat Ustadz Khairul berada, sesampainya di sana, ternyata Abi sedang bersenda gurau pada Twins anak Ardiyan dan Anisah.
"Wa'alaikumus salam nak" bales Ustadz Khairul yang saat ini juga sedang menggendong Farah.
"Maa syaa Allah, cepat sekali kalian besar ya, rasanya baru kemarin kalian masih nampak merah " Ujar Dika sembari mengecup pipi gembul si baby Farhan.
"Ya begitulah nak, mungkin karena kita jarang melihat mereka, jadi kita merasa mereka sudah besar, lalu kapan nih, nak Dika akan menyusul memberikan Abi cucu juga?" tanya Ustadz Khairul sembari mengedipkan matanya. membuat Dika langsung menyengir.
"Nah itu dia Bi, Dika Rencananya ingin berbulan madu sama Nina dan karena itu juga Dika kesini mau minta Izin, untuk membawa Nina Bi, " Ujar Dika, yang mengungkapkan Rencana bulan Madunya.
"Oh, maa syaa Allah, itu Rencana yang bagus, maka pergilah nak, dan ingat setelah pulang Abi akan mendapatkan oleh-oleh seperti ini" bales Ustadz Khairul sembari memberikan isyarat dengan mata mengarah ke Twins.
" Eh, hehehe, In syaa Allah Bi, doakan juga ya Bi" kata Dika sembari cengengesan.
"Iya nak, in syaa Allah Abi doakan kok,"
__ADS_1
"Aamiin Terimakasih ya Bi"
"Iya nak, oh iya kapan Rencana kalian berangkat dan mau kemana nak?" tanya Abi penasaran.
"Nina Meminta ke Mekah Bi, mau sekalian Umroh"
"Maa syaa Allah, keinginan yang mulia, lalu kapan berangkatnya?" tanya Abi, lagi.
"Tidak ada yang boleh berangkat kalau kita berempat tidak ikut!" Ujar seorang pria yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
"Eh Ardiyan Lo ada di sini?" sentak Dika kaget saat melihat Ardiyan yang muncul.
"Iya gue di sini, maka dari itu gue sudah mendengar rencana bulan madu Lo, " Ujar Ardiyan dengan wajah datarnya.
"Ya terus mau Lo gimana?, gue nggak bisa menunda lagi karena gue sudah ngambil cutinya mulai dari sekarang Ar, makanya gue berencana nanti malam sudah berangkat." jelas Dika.
"Ya sudah kalau begitu, berarti kita akan berangkat semuanya dan saat ini mereka juga sedang mendengarkan pembicaraan kita" ujar Ardiyan sembari menunjuk benda pipihnya yang ternyata ia sedang melakukan panggilan video call kepada ketiga temannya yang lain..
"Haaah??" Dika terpelongo saat ketiga temannya yang ada di layar kaca HP ardiyan sedang melambaikan tangannya.
"Hai?, kami ikut bulan madu ya, ?" kata Dimas dengan gaya ngondeknya sembari mengedipkan matanya..
"Wah, bisa kacau nih, kalau si somplak ikut". ujar Dika sedikit frustasi, membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak..
*******
Wah kayaknya seru nih 😉
Oke guys, Jangan lupa dukung Author terus ya, dan juga jangan lupa tinggalkan jejaknya..
VOTE Bonusin Author kalau menyukai cerita Author ini ya.
LIKE DAN KOMENTAR, adalah pemicu inspirasi Author loh, jadi jangan lupa ya guys.
__ADS_1
SYUKRON 🙏😊