
══ ✥.❖.✥ 💗Kalam Habaib 💗✥.❖.✥ ══
"Allah Maha Lembut kepadamu, maka Berlembutlah kepada orang lain. Allah Maha Baik kepadamu, maka baiklah kamu kepada orang lain. Allah Maha Menolong kepadamu, maka saling tolong-menolonglah kamu kepada orang lain"
📚[ Al Habib Umar Bin Hafidz ]📚
ೋ๑୨୧๑ೋೋ๑୨୧๑ೋೋ๑୨୧๑ೋ
setelah mereka berpamitan pada Ustadz dan para warga, Ardian dan teman-temannya berjalan menyelsuri jalan setapak menuju ke Villa mereka yang memang lumayan jaraknya cukup jauh, di tambah lagi mereka hanya berjalan kaki, membuat mereka sedikit lelah.
"Hah!, capek banget gue Kenapa kita tadi tidak membawa mobil sih?, " protes Andi yang terlihat nafasnya sudah terengah-engah karena mereka memang sengaja berjalan agak cepat.
"Mobil mana yang mau lo bawa?, mobil bus itu?, emang muat jalan ini?," tanya Dika yang ia pun sama seperti Andi sudah terengah-engah juga nafasnya.
"Hah!, ternyata ribet juga nggak bawa mobil!, tau bakalan begini, gue suruh Roy deh ikut naik mobil!," keluh Dimas dengan nafas yang juga ngos-ngosan.
"Haiis, kalian nih!, mengeluh saja kerjanya, bukannya bersyukur, bisa berjalan, nikmati sajalah itung-itung kita olahraga" kata Ardiyan yang nampak tulus berjalan hingga ia nampak tenang dan tak begitu terlihat nafasnya yang tersengal-sengal juga.
"Olahraga tengah malam?, olahraga apa namanya coba?" protes Dimas lagi
"Olahraga jalan dan melatih mental lah biar kucur lo punya tau" jawab Wira yang terlihat sedikit santai.
"Siapa juga yang kucur, sembarangan kalau ngomong!" balas Dimas yang terlihat tidak terima di bilang penakut oleh Wira.
"Iya iya deh, Abang Dimas kan emang pemberani." timpal Benny.
"Hah! Lo ikut-ikutan aja sih, sama aja sama bos Lo " Sambung Dimas lagi.
"Heh, gue dah diam masih juga nama gue di bawa bawa!, nggak tahu apa gue udah engap berjalan capek ey!" protes Andi yang memang ia terlihat dah engos-ngosan.
"Sudah sudah jangan banyak mengeluh lagi semakin kita mengeluh semakin terasa capek guys, nikmatin aja ngapa." hujan Ardian lagi mengingatkan teman-temannya.
"Tau tuh, Lo apa nggak ingat Ndi?, ketika Lo tidak bisa jalan hah?" tanya Wira dia pun sama seperti Ardiyan yang nampak santai berjalan.
"Astaghfirullah, maaf, maaf, Maafkan Andi ya Allah, Andi tidak bermaksud mengeluh, hanya saja Andi capek ya Allah" kata Andi sembari ia menengadahkan keduanya, dan dia berdoa seperti anak kecil di film Baim yang sedang berdoa.
__ADS_1
"Udah di maafin, kalau capek istirahatlah Andi" kata Dimas dengan suara di besarkan seolah-olah ia seperti makhluk yang ada di film hantu.
"Heh?, hahaha sikucur ngomong dah kayak jin tomang nanti nongol betulan jin Tomang nya lu ngibrit lagi." ledek Dika Sambil terkekeh.
"Hahaha tau tuh, gayanya aja pemberani, padahal penakutnya nggk ketolongan." Sambung Wira juga yang ikut terkekeh.
"Sembarangan aja kalian ngomong!, siapa bilang gue penakut, gue nggak takut tau,!" Ujar Dimas yang tak terima di bilang penakut.
"Oh iya kalau begitu buktikan dan Lo jalan duluan sana." tantang Andi. mendengar tayangan Andi Dimas melihat kedepan ternyata ia melihat villa sudah dekat Dimas menerima dan akhirnya ia menerima tantangan Andi,
"Oke siapa takut !," kata Dimas yang kemudian ia pun mulai berjalan duluan dengan santainya, dan di saat ia sudah mulai dekat di pintu gerbang Villa, tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang wanita, ia pun menghentikan langkahnya dan kemudian ia pun melihat sekelilingnya namun ia tak menemukan apapun dan itu membuatnya tiba-tiba merinding karena hanya suara tangisnya aja yang ada sedangkan orangnya tidak ada.
"Eh, kok nggak ada orangnya, aduuh, maaf ya Mbah saya nggak ganggu kok" Ujar Dimas yang matanya masih mencari siapa yang nangis namun langkahnya menjadi mundur, dan akhirnya ia melompat dan berlari ke arah teman-temannya yang masih di belakang.
"Huaaah ada hantuuuu!" pekik Dimas dan ia langsung melompat ke tubuh Ardiyan dan nemplok di sana,
Ardiyan yang mendapatkan tubuh Dimas secara mendadak membuat pertahanan tubuh agak oleng dan hampir saja jatuh, untung saja Dika dan Wira menahannya.
"Apaan sih Lo!, main nemplok aja!, Turun cepat!" Bentak Ardiyan geram, karena hampir saja ia jatuh, karena ulah Dimas.
"Gila nih anak ya, lama-lama gue mati ke cekik oleh Lo tau!, turun cepat!" Bentak Ardiyan sembari ia menghentak tangannya Dimas hingga ia pun terjatuh dan terduduk tepat di depan Ardiyan dan itu membuat teman-temannya menjadi mentertawakan Dimas.
"Aduh!" pekik Dimas merasakan sakit di bokongnya. " Aduuh, tega amat Lo Ar, bokong gue jadi sakitkan" kata Dimas dengan suara yang tertahan karena menahan sakit.
"Mampos Lo! lagian sembarangan aja main nemplok di badan gue" tegur Ardiyan masih kesal.
"Gue begitu karena gue denger Wanita menangis bro, cobalah kalian dengar" kata Dimas membuat teman-temannya jadi penasaran dan mereka pun pergi menuju tempat awal Dimas berlari,
Sesampainya di sana ternyata mereka ikut mendengar suara tangisan itu.
"Tuh kan, benarkan kalau ada suara wanita yang sedang menangis" kata Dimas yang kemudian ia merangkul tangan Dika,
"Iya Ar benar, sepertinya memang ada Wanita yang menangis" sambung Wira.
"Iya benar kayaknya di bus itu deh" Sambung Andi sembari menunjuk bus yang terparkir di halaman Villa.
__ADS_1
"Aduh jangan-jangan yang nangis itu penunggu bus lagi!" kata Dimas yang terlihat ia sangat ketakutan.
"Hus!, sembarangan aja kalau ngomong!, ya sudah sebaiknya kita periksa saja" kata Ardiyan dan akhirnya mereka pun sama-sama mendekati bus yang membawa mereka kemarin, dan setelah mereka sudah mendekati bus ternyata pintu bus sedikit terbuka Ardiyan langsung membukanya dengan lebar, dan terlihatlah seorang wanita bercadar sedang duduk di salah satu kursi penumpang di bagian depan.
"Hantuuuu!" Jerit Dimas yang langsung lari kebirit-kebirit menuju pintu Villa dan hilang di balik pintu, sementara mereka berempat masih memperhatikan siapa wanita tersebut namun tiba-tiba Wira teringat akan baju yang di pakai Wanita tersebut.
"Asyifa!" Sentaknya dan ia pun langsung naik ke atas bus.
"Hah?!, Benarkah itu Asyifa?" tanya Andi Seperti tidak percaya.
"Kayaknya iya" kata Ardiyan.
"Ngapain dia di sini?" Tanya Andi heran.
"Jangan terlalu Heran, bukankah bini-bini kalian juga sedang hamil dan berlaku yang aneh-aneh?” kata Ardiyan sembari ia berjalan menuju pintu Villa, sedangkan Andi dan Dika malah saling berpandangan.
"Iya juga ya, bini gue juga suka ngelakuin yang aneh-aneh" kata Andi yang teringat Nadziha yang juga sedang ngidam.
"Sama gue juga!, Nina juga Aneh" curhat Dika juga yang akhirnya mereka berdua pun ikut masuk ke dalam villa,
Sementara Wira yang berada di dalam bus dan memeriksa si wanita yang ternyata Asiyfa Istrinya "Sayang kamu kenapa?, Astaghfirullah kamu sampai tertidur begini sih?" kata Wira yang terlihat cemas, pada Asiyfa yang mungkin ia kelelahan menangis dan akhirnya tertidur di kursi penumpang di dalam bus.
Wira pun langsung menggendong Asyifa ala bridal style dan membawanya turun dari bus tersebut, dan ia pun langsung membawanya masuk dan saat ia hendak menaiki tangga tiba-tiba Asyifa terbangun.
"Mas Wira?" sentaknya saat melihat wajah suaminya.
"Iya sayang ini mas, kamu kenapa sayang, kenapa kamu bisa berada di dalam bus?" tanya Wira yang kini mereka sudah memasuki kamar mereka..
"Huaa mas Wiraa hiks, heuheuheu hiks"
Bersambung Akh 😉
***************
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏 SYUKRON 🙏😊.
__ADS_1