
β πΈMUTIARA HIKMAHπΈβ
Di saat Allah memberikan ujian,
Diamlah seribu bahasa, senyumlah tanpa kata
Dan rasakanlah nikmat ujian dari Allah.
Karena ujian itu tanda Allah sayang.
__(Quotes of the day)__
ββββββββββββπΈβββββββββββ
Andi dan Dika terkejut dengar perkataan dari Ariya ayah dari Nadziha, membuat keduanya jadi terpelongo.
"Loh, kok jadi pada melongo gitu?" tanya Ariya sembari tersenyum melihat Andi dan Dika melongo secara bersamaan.
"Eh, maaf pak, tapi apakah bapak nggak salah bicara?" Andi Akhirnya tersentak setelah tersadar ia pun bertanya kebenarannya pada Ariya.
"Saya tidak salah bicara Nak, saya benar-benar ingin melamar kamu" ujar Ariya yang mengulang kata melamar.
"Eh, tapi apa nggak terbalik pak, bukankah seharusnya pihak laki-laki ya yang melamar wanita?" protes Dika yang sedikit heran.
" Dok, Dalam urusan melamar, Islam tidak melarang apabila seorang wanita ingin meminang laki-laki. Islam tidak mensyariatkan bahwa yang boleh mengajukan lamaran hanya laki-laki.
Ibunda Khadijah pun dulu yang pertama melamar Nabi Muhammad ο·Ί.
Khadijah mengutus seorang perantara untuk menyampaikan niatnya kepada Nabi. Dalam Tarikh Ibn Hisyam disebutkan Khadijah berkata, "Wahai anak saudara pamanku, sesungguhnya aku telah tertarik kepadamu dan kekeluargaanmu, sikap amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan benarnya kata-kata mu."
Khadijah berani melamar Nabi karena keindahan akhlak yang dimilikiNya. Nabi yang setuju akhirnya didampingi Abu Thalib, datang kerumah Khadijah untuk bertemu dengan keluarga dan melakukan lamaran secara resmi," Jelas Ariya membuat Dika pun paham.
"Gimana nak Andi apakah kamu mau menerima lamaran saya?" tanya Ariya lagi.
"Pak, bukan saya ingin menolak lamaran bapak, tapi bukankah bapak tahu kondisi saya sekarang, jadi saya takut tidak bisa membahagiakan putri bapak" tutur Andi sopan.
__ADS_1
Ariya Tersenyum " Nak yang memberikan kebahagiaan itu bukan di ukur dari kondisi, materi atau sebagainya tapi kebahagiaan itu hadir karena rasa syukur nak, dan saya yakin kamu pasti bisa membahagiakan anak saya" tutur Ariya memberikan sedikit pencerahan, mendengar perkataan Ariya Andi pun langsung memandang Nadziha yang sejak tadi menundukan wajahnya.
"Apakah, dia mau menerima saya yang sudah tidak bisa berjalan ini?" tanya Andi dengan tatapan masih tertuju pada Nadziha. mendengar perkataan Andi Ariya pun langsung bertanya pada Nadziha.
"Nak?, apakah kamu mau menerima kekurangan nak Andi sekarang ini?" tanyanya pada Nadziha.
"In syaa Allah ana menerimanya pah" ucap Nadziha lembut.
"Alhamdulillah, gimana nak Andi,? anak saya menerimanya" ujar Ariya lagi.
"Baiklah, pak saya mau menerima anak bapak juga! " Bales Andi tegas.
"Alhamdulillah, karena Niat baik tidak boleh di tunda-tunda maka dalam waktu tiga hari Acara Ijab akan segera di laksanakan" tutur Ariya membuat Dika dan Andi Kembali terkejut.
"Eh, kok cepat sekali pak?" tanya Andi kaget.
"Iya nak, Agar secepatnya Nadziha merawat kamu" balas Ariya, membuat Andi kembali memandang wajah Nadziha yang masih tertunduk.
"Tapi pak, saya..."
"Tidak ada tapi-tapian nak Andi itu sudah keputusan mutlak dari saya" potong Ariya saat Andi ingin protes, dan Andi langsung menatap Dika, Dika yang sepertinya paham akan tatapan itu ia pun mengagguk tanda ia setuju.
"Bagus, kalau gitu saya permisi dulu Assalamu'alaikum" pamit Ariya pada Andi dan Dika.
"Wa'alaikumus salam" setelah keduanya menjawab salamnya Ariya dan Nadziha pun pergi meninggalkan ruangan Andi. setelah mereka tak terlihat lagi..
"Maa syaa Allah, mimpi apa Lo tadi malam di lamar Anak Pemilik rumah sakit ini Ndi?" tanya Dika yang ikut senang akhirnya Sahabatnya juga akan menikah.
"Apa?!, jadi dia Pemilik rumah sakit ini dik?" tanya Andi kaget.
"Iya Ndi, gue nggak nyangka Ternyata Nadziha juga bisa berpakaian seperti bini gue, padahal dulu nggak loh." tutur Dika teringat masa Nadziha belum pakai cadar.
"Jadi Lo pernah lihat wajahnya dong?" tanya Andi penasaran.
"Iya pernah saat ia baru tamat SMA. dia cantik kok, Ndi, gue yakin Lo bakalan cinta deh sama dia " ujar Dika.
__ADS_1
"Tapi cinta gue dah mentok sama minul" ucap Andi yang tatapannya menerawang mengingat wajah minul.
"Akh, ngapain ingat sama calon istri orang sih,!" tegur Dika mulai nggk suka dengar nama minul.
"Ya sudah sebaiknya Lo istirahat dulu nanti setelah tugas gue selesai gue akan Antar Lo pulang!" lanjut Dika lagi.
"Iya dah gue tidur aja dari pada kebayang wajah minul"
"Bagus, ya udah gue keluar ya Assalamu'alaikum" Pamit Dika.
"Wa'alaikumus salam" Dika pun langsung pergi meninggalkan Andi, sementara Andi langsung memejamkan matanya, berharap saat ia bangun kakinya kembali normal..
******
Sementara Di sisi lain..
Nampak Asyifa sedang mengikuti program thafisnya, dan suasana pondok pun sedikit ramai karena para santriwati sedan mencari Sa'ba, riuh suara mereka melantunkan Ayat-ayat suci Al Quran dan hanya Asyifa yang sejak tadi memegang kepalanya, dan itu terlihat oleh Nina.
"Syifa Anti kenapa?" tanya Nina sedikit penasaran.
"Kepala ana sedikit pusing Ustadzah" jawab Asyifa apa adanya.
"Oh, ya sudah sebaiknya Anti kembalilah ke pondok Anti dan istirahat gih" titah Nina, yang melihat wajah Asyifa yang nampak memang pucat.
"Baiklah Ustadazah, kalau gitu ana pamiit ya, Assalamu'alaikum"
"Na'am wa'alaikumus salam" setelah. mendapatkan jawaban dari Nina, syifapun langsung melangkah keluar dan pergi menuju pondoknya, di dalam perjalanannya menuju pondok rasa sakit di kepalanya semakin kuat.
"Sssht, Astaghfirullah, kenapa rasa sakit ini sekarang semakin sering ya, ada apa dengan kepala ku ya Allah?" Batin Asyifa,
Asiyfa kembali berjalan sembari memegang kepalanya, namun rasa sakit membuat ia kehilangan keseimbangannya dan..
BRUUUKX..
BERSAMBUNG
__ADS_1
___________
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys π