
Andai hidayah itu
Seperti buah yang bisa kubeli,
Maka akan kubeli berkeranjang keranjang
Untuk aku bagikan kepada orang orang yang Aku cintai.
💮-Imam Syafi'i-💮
♻️,♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻
04:30
Hari menjelang Subuh, seperti biasa Asyifa pasti terbangun walaupun tanpa alarm. dan saat ia membuka matanya ia begitu terkejut melihat wajah Wira yang berada tepat di hadapannya.
DEG... jantungnya langsung berdendang..
Tuk sesaat ia memperhatikan wajah Wira.
"Maa syaa Allah, ternyata wajah suamiku begitu tampan sekali..eh suamiku?" Batin Asyifa yang masih memandangi suaminya.
Dan tampa ia sadari tangannya mulai menyentuh pipi Wira dan mengelusnya.
"Maa syaa Allah halus sekali kulitnya"_ Batin Asyifa lagi.
Setelah dari pipi ia kembali menyentuh Alis Wira yang nampak tebal tersusun rapi dan dari Alis langsung turun ke matanya yang berbulu panjang dan lentik.
"maa syaa Allah, Alisnya yang tebal hmm dan bulu matanya panjang dan lentik, begitu sempurna ciptaan mu ya Rabb" Batin Asyifa lagi.
lalu ia juga menyetuh hidung Wira yang mancung lalu turun kebibirnya yang merah.
" Maa syaa Allah, hidungnya mancung sekali, dan bibirnya merah hmm tadi malam bibir ini menyentuh bibir ana,.. Astaghfirullah apa yang sudah ana lakukan"_ masih batin Asiyfa dan ia mulai menyadari dengan keberaniannya menyentuh seluruh wajah suaminya.
Dan saat bersamaan ia menarik tangannya, ia di kejutkan dengan suara basis Wira..
"Sudah puas menyentuh wajah suamimu Ara?" tanya Wira dan ia pun membuka matanya sambil tersenyum manis pada Asyifa, Yaa ternyata saat Asyifa tersentak dari tidurnya sebenarnya Wira sudah bangun tapi ia berpura-pura tertidur, agar istrinya tak merasa canggung terhadapnya, dan dia begitu senang tatkala Asyifa mulai berani menyentuh wajanya maka ia membiarkan sang istri terus mengapsen seluruh wajahnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Istriku, selamat pagii" lanjutnya lagi. membuat Asiyfa tersipu malu karena ketahuan ia telah menyentuh wajah Wiraxsana.
"Eh..w. wa'alaikumus salam..ma..maaf karna ana sudah lancang " bales Asiyfa gugup.. sambil bangun dari tidurnya dan langsung duduk, dan di ikuti oleh Wira yang ikut duduk di sebelahnya, namun Wira menghadapi tubuhnya menghadap Asyifa.
"Kenapa harus minta maaf Ara,? itu tidak salah, Ara ingat kamu punya hak atas diriku, jadi kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau tanpa harus meminta izin dariku, Karena aku suamimu Syifa " ujar Wira lembut sembari mengambil kedua tangan Asyifa dan di letakkan pada ke kedua pipinya..tuk beberapa saat mereka saling bertatapan, dan dengan perlahan Wira pun mendekati wajah istrinya, lalu kembali ia mengecup singkat bibir Asyifa membuat Asyifa terkejut dan langsung menarik tangannya dan ia tertunduk malu. membuat Wira tersenyum penuh kemenangan.
"Sekarang kita Wudhu yuk sudah masuk waktu sholat subuh" ujar Wira dan di anggukkan oleh Asyifa.
"Aku gendong ya, kakimu kan masih sakit" Lanjutnya lagi dan di anggukkan lagi oleh Asyifa, setelah mendapatkan izin Wiraxsana pun mengendong Asyifa ke kamar mandi dan mendudukinya di sebuah kursi plastik yang ia sengaja taruh sejak Asyifa datang.
"Ya sudah aku ada di depan pintu, nanti kalau sudah siap panggil aku ya.." Ujarnya lagi, dan tetap masih di anggukkan oleh Asyifa. kemudian Wira pun keluar sedangkan Asiyfa tetap berada di dalam untuk melakukan ritualnya setelah selesai ia pun memanggil Wira.
"Kak Wira Ara sudah selesai " serunya dan tak lama Wira pun masuk dengan tangan yang sudah terbuka kain,
"Sudah siap Ara?" tanya Wira ingin memastikan.
"Alhamdulillah sudah kak" bales Asyifa lagi.
"Alhamdulillah, ya sudah yuk" bales Wira sambil ia kembali menggendong Asyifa ala bridal style kembali kekamar mereka dan di letakan di atas sejadah yang sudah dipersiapkan oleh Wira.
Setelah selesai Wira pun mengajak Asyifa mengaji bersama, Nampak ada kepancaran kebahagiaan di hati keduanya. setelah selesai Asyifa memberanikan diri untuk bertanya kepada Wira.
"Kak hari ini jadikan kita ke pondok?" tanya Asiyfa pelan.
"Iya jadi Sayang..tapi kita sarapan dulu yaa" jawab Wira, membuat jantung Asyifa mendesir lagi Tatkala mendengar Wira mengatakan "Sayang"
"Ya sudah mari kita keruang makan untuk sarapan dulu oke " ujarnya sambil ia kembali menggedong Asyifa, membuat jantung Asyifa berdetak kencang, ia tak berani menatap wajah Wira, ia hanya tertunduk malu.wira tahu kalau istrinya sedang malu, membuat ia tersenyum gemas melihat istrinya yang sudah memerah wajahnya.
Wira berjalan dengan santai karena dia ingin menikmati aroma tubuh istrinya yang ada di dalam gendongannya dan Apalagi Asyifa berpegang dengan cara memeluk lehernya membuat ia semakin senang karena tanpa sengaja Asyifa termasuk sedang memeluknya
makanya ia berjalan pelan karena tak ingin momen ini cepat berakhir.
Dan di saat ia sedang menuruni anak tangga tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
"Pagi pak" ucap pria itu membuat Asyifa terkejut lalu dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya di dada Wira, karena saat ini ia tak memakai cadarnya. Wira semakin senang tapi ia menyembunyikan rasa senangnya takut Asyifa tambah malu.
" Ada apa?" Tanya Wira singkat.
__ADS_1
"Tadi pak Dimas telpon bapak di minta ke rumah sakit" jawab pria itu tak lain Asisten Wira yang bernama Rendi.
"Katakan padanya aku mau mengantar istriku kepondok dulu" ujar Wira lagi.
"Baik pak kalau begitu saya permisi" bales Rendi.
"Iya jangan masuk kalau saya belum mengizinkan!! " titah Wira tegas
"Baik pak" lalu Rendi pun pergi meninggalkan mereka menuju keluar rumah.
sedangkan Wira kembali membawa Asyifa keruang makan dan di sana sudah di sediakan berbagai macam makanan, lalu ia pun mendudukkan Asyifa di sana, setelah itu ia mengambilkan sepiring nasi yang ia beri beberapa lauk-pauk, setelah itu ia letakkan di meja di hadapan Asyifa.
" Sekarang Makanlah Ara "
"Eh.. Syukron kak.., maaf seharusnya Ara yang mengambilkannya untuk kakak, karena..." ucapnya tapi di potong oleh Wira.
"Sstth Nggak boleh protes, kamukan lagi sakit, jadi sudah seharusnya aku merawatmu kan? " potong Wira, membuat Asyifa tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sekarang makan ya, biar kita bisa cepat pergi kepondok" lanjutnya lagi dan di anggukkan oleh Asyifa, lalu mereka pun makan dengan penuh hikmah. dan tak berapa lama mereka pun selesai.
Setelah selesai Wira pun mengajak Asyifa bersiap untuk pergi ke pondok pesantren tempat yang di inginkan Asyifa, setelah selesai Wira pun kembali menggendong Asyifa menuju ke mobilnya dan mendudukkan di kursi belakang dan setelah itu Wira pun ikut duduk di sampingnya.
Setelah di rasa kedua majikannya siap Rendi pun mulai melajukan mobilnya menuju kepondok pesantren An-Nur, dengan kecepatan sedang..
**BERSAMBUNG LAGI AKH..
Seru loh melihat para Readers pada penasaran.
Jadi maaf ya bila perbuatan Author ini jadi membuat kalian jadi kecewa yaa..
Tapikan seru kalau tidak ada bumbu penasaran dari para Readers terasa kosong mah. dan sudah pasti tidak ada yang komen dong.
makanya Author melakukan itu supaya para Readers jadi pada komen deh
I am sorry guys** 🙏
Tapi tetap dukung Author yaa.🙏😉
__ADS_1