
"Jangan cintai orang yang tidak mencintai Allah.
Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu"
(Imam Syafi'i)
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Wira yang telah selesai mandi pun kembali menghampiri Asyifa yang masih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu dengan perlahan ia membuka selimut tersebut ternyata istri kecilnya sudah tertidur..
"Ay.. sudah Bobo Suantix, rupanya istri kecilku " gumamnya sambil tersenyum senang karena pada akhirnya Asyifa tertidur dengan nyaman di ranjang yang bersepraikan putih itu, lalu ia pun mendekati wajah Asyifa dan dengan perlahan ia mengecup keningnya dengan lembut.
"Selamat bobo sayang.. mimpikan diriku yaa" bisik Wira lalu kembali mengecup kening Asyifa, dan kemudian ia pun pergi meninggalkan Asyifa yang sedang tertidur, dan dia melangkah menuju ruang kerjanya.
Sesampainya disana, ia memanggil Rendi lewat HPnya, dan tak lama Rendi pun datang.
"Ada apa pak?" Tanya Rendi setelah di ruang kerja Wira.
"Gimana perusahaan Ren, apa aman terkendali?" Tanya Wira tegas. Pada Asisten kepercayaannya itu, iya selama Wiraxsana sibuk mengurus istri kecilnya Rendilah yang menangani perusahaannya, ia juga sudah menjadi wakil Wira dalam menangani urusan perusahaannya.
"Perusahaan aman terkendali pak, " jawab Rendi lagi
"Baguslah,! Apa ada berita lain?" Tanya Wira, sembari membuka laptopnya.
"Berita lain, teman anda pak Ardiyan mengalami kecelakaan pak" jawab Rendi tegas
"Astaghfirullah, lalu gimana keadaannya sekarang? Dan apakah Dimas juga ikut dalam kecelakaan itu?." Tanya Wira penasaran.
"Sepertinya pak Dimas tidak di dalam mobil itu, karena yang saya tahu dia baik-baik saja pak"
"Ceritakan kronologis kejadiannya?"
"Informasi yang saya dapatkan, pak Ardiyan baru pulang meeting dan ketika ia keluar dari pertemuan itu ada yang mengikuti mereka pak, dan sepertinya memang ingin mencelakai mereka" jelas Rendi.
"Siapa yang menginginkan Ardiyan mati?" Wira tampak berpikir, siapa musuh Ardiyan?.
"Saya belum tahu pak, tapi sepertinya ini berhubungan dengan nona Giovani.."
"APA?!! Mengapa perempuan itu selalu membuat masalah sih, ya sudah kamu tetap selidiki, dan ingat jangan sampai lengah,!" Tegas Wira mengingatkan Rendi.
"Baik pak!"
"Ya sudah antar saya kerumah sakit!" Perintah Wira tegas.
"Baik pak!"
__ADS_1
"Oh iya suruh anak mbok nah menjaga istri saya, siapa itu namanya?"
"Marni pak"
"Iya itu, dan bilang padanya, agar menyiapkan apapun kesukaan isteri ku!"
"Baik pak"
"Ya sudah kamu boleh pergi, dan siapkan mobil!" Perintah Wira lagi.
"Baik pak, saya permisi" setelah menundukkan badan sebagai hormat Rendi pun pergi meninggalkan ruang kerja Wira, sedangkan Wira bergegas kembali ke kamarnya.
Dan dia masih melihat istrinya yang masih tertidur nyenyak, lalu ia pun pergi ke ruangan gantinya, untuk menganti pakaian, setelah tapi ia kembali keluar, dan menghampiri isterinya.
"Sayang, aku pergi sebentar ya, semoga kamu tak marah saat aku kembali nanti" ucap Wira pelan, lalu ia kembali mengecup kening istrinya. Setelah selesai, ia kembali keluar kamar dan pergi menuju halaman rumah tempat mobilnya terparkir
Wiraxsana pun memasuki mobilnya, dan setelah sang bos telah duduk Rendi pun masuk dan duduk di belakang kemudinya, dan tak berapa lama mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah sakit tempat Ardiyan di rawat.
tak membutuhkan waktu yang lama, hanya 40 menit, mereka pun sampai tepat di depan rumah sakit Wira pun turun dan di ikuti oleh Rendi, saat ia mau memasuki pintu rumah sakit tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya..
"Honey I miss you so much'.." ucap seseorang yang ternyata wanita, Wira pun menoleh sembari melepaskan pelukan wanita itu.
"Giovani?! jangan sentuh gue !!" serunya lalu ia pun menghentakkan tangan wanita itu yang ternyata Giovani dan mendorongnya kuat, hingga ia terjatuh dan terduduk.
"kenapa bisa bertemu Giovani di sini?_Batin Wira
"Cih, nggk usah berdalih, mengatakan kata-kata yang membuat gue jijik mendengarnya!!" senggak Wira kesal, "Mau apa Lo kesini?! lanjutnya lagi masih suara bentakan.
"itu.. aku mendengar Ardiyan mengalami kecelakaan, jadi aku berniat menjenguknya" ujar Giovani
"Cih, jangan mimpi Lo bisa menjenguknya!!"
"Kenapa?, hmm kamu cemburu ya honey.." ujar Giovani sembari memeluk lengan kanan Wira tapi tetap di tampik oleh Wira kasar.
"JANGAN SENTUH GUE!!, Kamu mengerti bahasa tidak!!" bentak Wira yang semakin kesal dengan ulah Giovani "PERGILAH MENJAUH DARI GUE, DAN JANGAN PERNAH MUNCUL DI HADAPAN GUE" Lanjut Wira mengusir Giovani,
sembari ia berlalu meninggalkan Giovani di lobby rumah sakit.
"Honey, jangan tinggalkan aku, biarkan aku menjelaskan, apa yang terjadi waktu itu,!" Teriak Giovani karena Wira yang semakin menjauh, sedangkan ia ingin mengejar Wira namun ditahan oleh dua orang anak buah Wira.
"Aaaah !! lepaskan gue!!" jerit Giovani pada Anak buah Wira, menyentak tangannya dan akhirnya ia pun terlepas dari jeratan tangan anak buah Wira. lalu iapun melangkah keluar dengan mulut yang masih mengomel-ngomel.
"Kalian semua terlalu sombong! lihat saja nanti, akan aku hancurkan kalian satu persatu, hari ini Ardiyan lolos dari maut, tapi tidak untuk selanjutnya, kalian semua harus mati!" Gumam Giovani dengan mata geram yang penuh dendam. lalu ia kembali berjalan menuju mobilnya dan disana sudah ada dua orang menunggunya, yang di pastikan itu anak buahnya sampainya di sana..
"Kau pergi ketempat bos Bagong, minta anak buah untuk menculik istri-istri mereka semua, soal bayar tidak perlu khawatir" perintah Giovani pada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi" bales anak buah Giovani, dan ia langsung pergi,
"Jalan kembali ke mansion!" perintahnya kembali tapi kali ini pada supirnya.
"Baik Bu" lalu mobil pun mulai melaju meninggalkan Area rumah sakit.
******
Sementara di sisi lain..
"Awasi dia terus, jangan sampai lengah.." ucap Ardiyan pada Rendi
"Baik pak" bales Rendi singkat.
"Ren kita bertukar jas, gue jijik mencium aroma wanita gila itu yang masih nempel di jas gue" ujar Wira sambil membuka jasnya dan di berikan pada Rendi.
"Baik pak" Balesnya yang juga membuka jas dan di berikan kepada bos, dan akhirnya mereka bertukar jas. dan tak terasa mereka sampai di ruangan Ardiyan.
"Assalamu'alaikum" salamnya saat memasuki ruang rawat Ardiyan.
"Wa'alaikumus salam, " jawab mereka serentak, dan disana sudah ada Dimas, Dika, Anisah Nina, sedangkan Ardiyan masih terbaring di atas ranjangnya dan masih tak sadarkan diri.
"Lo kok tahu wir, kalau Ardiyan lagi di rawat?" tanya Dimas heran kenapa Wira bisa datang.
"Apa sih yang gue nggak tahu.. bahkan warna dalaman Lo aja gue tahu warna dan nomornya" ujar Wira sedikit menyombong.
"Idiih Abang genit deh, pasti Abang sering ngintip ekey yaa" bales Dimas dengan gaya ngondek nya.
"Cih, najis ngintip Lo, yang ada mata gue belekan dah" Ucap Wira geli lihat ngondeknya Dimas.
"Ya habis Abang sih nakal, nyinggung-nyinggung dalaman ekey" kata Dimas masih ngondeknya.
"iikh, amit-amit dah"
**BERSAMBUNG.
SYUKRON YAA YANG MENYUKAI NOVEL INI π
TETAP DUKUNG AUTHOR YA
LIKE
VOTE
KOMENTAR
__ADS_1
JANGAN LUPA AKU SELALU SETIA MENUNGGU KRITIK DAN SARAN KALIAN
LOVE YOU ALL ππ**