
━━•⊰❁🌸 MUTIARA ALFAQIRAH🌸❁⊱•━━
" Kunci Utama dalam mengahadapi suatu cobaan adalah sabar, ikhtiar dan tawakal. Karena Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melebihi batas Kemampuan Mereka"
___"Ali Bin Abi Thalib"___
❁━•⊰❁🌸❁⊱•━•⊰❁🌸❁⊱•━•⊰❁🌸❁⊱•━❁
"Selamat anak ketiga bapak kali ini laki-laki lagi, luar biasa hebatnya istri bapak, ia begitu kuat melahirkan secara normal, saya benar-benar salut." Ujar sang Dokter sembari ia menangani bagian sensitif Asyifa dan membersihkan sisa-sisa darah disana.
"Terima kasih Dok, benar Dok ia memang wanitaku yang paling cantik dan kuat." Kata Wira yang masih mengelus-ngelus Rambut Asyifa, sesekali ia juga memberikan kecupan lembut di sana.
" Terima kasih sayang, kamu telah memberikan Mas anak-anak yang tampan dan cantik, lengkap sudah kebahagiaan Mas sayang, memiliki kamu dan sekarang memiliki tiga mutiara yang sangat berharga, Terimakasih sayang." Ucap Wira penuh haru, air matanya yang tadi belum kering kini mengalir kembali.
Mendengar perkataan by suaminya Asyifa tersenyum lemah.. "Sama-sama Mas..Araa.. juga.. bahagia..." Ucapnya dengan suara yang begitu lemah dan terbata-bata.. " Terima .kasih..Mas.." lanjut Asyifa dan ia langsung menutup matanya.
DEGH!!
Jantung Wira berdetak kencang, saat melihat istrinya terkulai lemah dengan wajah yang memucat, membuat rasa takut Wira menyelimuti tubuhnya, hingga tubuhnya bergetar hebat.
"DOKTER!, ADA APA DENGAN ISTRIKU, CEPAT DOKTER!" Teriak Wira, memanggil dokter yang baru saja menyelesaikan etingan di bagian sensitif Asyifa, mendengar teriakkan Wira membuat sang Dokter kaget dan ia langsung memeriksa keadaan Asyifa.
"Sebaiknya Bapak keluar dulu ya, saya akan menangani istri Anda." Ujar sang dokter menyuruh Wira untuk keluar agar sang dokter lebih leluasa bergerak menangani Asyifa. " Suster tolong antar bapak ini keluar." Titah sang Dokter pada salah satu perawat yang ada di ruangan tersebut.
"Baik Dok!, Mari pak, kita keluar dulu." Ujar sang suster mengantar Wira yang terlihat ia pun lemah setelah ia melihat istrinya tidak sadarkan diri.
Sedangkan Anisah dan Ardiyan yang sedang menunggu di depan ruangan bersalin langsung kaget melihat Wira yang sedang di papah oleh suster ia terlihat begitu lemah.
"Ada apa ini?, kamu kenapa Wir?," tanya Ardiyan yang langsung memegang sahabatnya dan kemudian ia memapahnya ke sebuah kursi yang ada di koridor rumah sakit.
Karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Wira Ardiyan pun langsung beralih bertanya kepada sang suster yang telah memapah Wira tadi.
"Ada apa sebenarnya ini sus?, kenapa teman saya ya jadi seperti ini?." tanya Ardian pada sang suster.
__ADS_1
"Maaf pak, bapak ini syok karena istrinya tidak sadarkan diri setelah melahirkan ketiga anaknya." jelas sang suster.
"Ma syaa Allah, maksudnya kembar tiga sus?." tanya Anisah setelah mendengar perkataan sang suster.
"Iya Bu, bayinya kembar tiga, dua laki-laki satu perempuan Bu " jawab sang suster.
"Ma syaa Allah, Allah maha besar," Ucap Anisah memuji Rabb nya. " Lalu gimana keadaan ke tiga bayinya sus?." tanya Anisah lagi yang terlihat ia semakin penasaran.
"Ketiganya sehat Bu," Jawab sang suster " Ya sudah saya permisi ya Bu, karena saya harus bantu Dokter lagi " Lanjut sang suster, mengakhiri pembicaraan agar Anisah tak bertanya lagi.
"Oh iya silahkan sus, dan terimakasih." Balas Anisah dan di anggukkan oleh sang suster, lalu ia pun berlalu meninggalkan mereka.
Setelah kepergian sang suster, Ardiyan pun langsung duduk di sebelah Wira, sedangkan Anisah ia duduk di samping Ardiyan.
"Lo baik-baik ajakan Wir?, lo harus kuat Wir, jangan lemah seperti ini." Ujar Ardiyan yang terlihat tidak tega melihat sahabatnya yang terlihat lemah dan tidak bersemangat.
"Syifa akan baik-baik saja kan Ar?, dia tidak akan meninggalkan gue kan?" tanya Wira dengan suara lirih namun masih terdengar oleh Ardiyan dan Anisah.
"Karena saat ia selalu bertanya pada ku Ar, dan pertanyaan itu, selalu membuat gue takut." Kata Wira yang tak terasa air bening kembali keluar dari pelupuk matanya.
"Apa yang di tanyakan oleh Syifa bang?" tanya Anisah menjadi penasaran setelah ia mendengar perkataan Wira.
"Syifa selalu bertanya apakah gue akan sedih kalau dia pergi, hiks..dan ia sering merancau tentang kematian hiks.. seolah..hiks . seolah ia memberikan isyarat hiks padaku, kalau ia akan pergi Nis.. Hiks.. apakah Asyifa akan pergi Nis?.hiks..hiks..." tangis Wira pecah ia tak mampu lagi menahannya karena terasa sesak bila ia harus menahan dukanya.
"Sssth, jangan berkata seperti itu Bang, ingat loh Allah selalu bersama prasangka hamba-hambanya, seperti yang di katakan di dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda :
عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال : قال النبي - صلى الله عليه وسلم - : يقول الله تعالى : أنا عند ظن عبدي بي ، وأنا معه إذا ذكرني
" Sesungguhnya Allah Ta'ala berkata: "Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku"
__ADS_1
(HR Muslim)
Ibnu Atha'illah dalam kitab Hikam mengungkapkan bahwa siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka lihatlah seberapa tinggi kedudukan Allah dalam hatinya. Demikian pula, siapa yang ingin mengetahui seberapa dekat Allah dengan dirinya, maka lihatlah seberapa dekat Allah dengan hatinya.
Dalam hadits ini tersirat sebuah ajakan dari Rasulullah ﷺ agar kita berusaha selalu dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berbaik sangka (husnudzan) dan tidak berburuk sangka (su'udzhan) kepada-Nya. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala "berbuat" sesuai prasangka hamba-Nya. Bila seorang hamba berprasangka bahwa Allah itu jauh, maka Allah pun akan "menjauh", sebaliknya bila ia berprasangka bahwa Allah itu dekat, maka Allah pun akan "mendekat" kepadanya.
Lewat hadits ini Rasulullah SAW pun mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir positif dalam segala hal. Karena semua kejadian, apa pun itu, berada sepenuhnya dalam genggaman Allah SWT dan terjadi karena seizin-Nya. Dengan berpikir positif, seseorang akan mampu menyikapi setiap kejadian dengan cara terbaik.
"Selain itu Bang, kita akan mampu menghadapi hidup dengan optimis. Betapa tidak, kita dekat dengan Allah Dzat Penguasa yang ada. Karena itu, Rasulullah ﷺ mengungkapkan bahwa orang beriman itu tidak pernah rugi, diberi nikmat dia bersyukur. Syukur adalah kebaikan bagi dirinya, diberi ujian dia bersabar, dan sabar adalah kebaikan bagi dirinya." Jelas Anisah panjang lebar membuat hati Wira kini menjadi tenang ia pun menjadi optimis dan berpikir kalau Asyifa akan baik-baik saja,
"Terima kasih Nis, perkataan mu membuat Abang sadar kalau selama ini Abang jadi berpikiran kotor setiap mendengar perkataan Asyifa, tapi kini Abang sudah tenang, dan Abang akan selalu yakin kalau Asyifa akan baik-baik saja." Ujar Wira yang kini ia terlihat lebih tenang dari yang tadi.
"Iya Bang, sama-sama, apakah tadi Abang sudah mengadzani dan mengkomatkan anak-anak Abang?" Tanya Anisah,
Wira tak menjawab pertanyaan Anisah karena ia langsung berdiri ketika ia melihat Dokter yang baru saja keluar dari ruangan bersalin tadi. jantung kembali bergemuruh, melihat sang dokter.
DAGH..DIGH..DUGH..
____________
Jangan lupa untuk dukung author terus ya..
Berikan VOTE LIKE DAN KOMENTAR.. Agar Author selalu semangat update oke guys 😉🙏.
Oh iya jangan lupa juga untuk kunjungi aplikasinya Novel terbaru Author, kepoin ya guys 😉🙏
Juga berikan VOTE LIKE DAN KOMENTARnya dan di favoritkan juga oke 🙏😉
JANGAN LUPA YA READERS 🙏😉 DUKUNGAN KALIAN SANGAT AUTHOR TUNGGU 🙏🥰
SYUKRON 🙏🥰.
__ADS_1