
*Kesabaran itu ada dua macam:
Sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan
Sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini*
~>๐ธAli bin Abi Thalib๐ธ<~
Pertanyaan Dika membuat Nina jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, dan ia juga tidak berani memberi jawaban yang hanya sepihak dari dirinya saja, karena ia masih memiliki orang tua,
Karena Nina hanya diam Dika pun mengulang perkataannya, tapi kali ini seperti memberi keyakinan buat Nina.
"Ustadzah apakah saya punya kesempatan untuk mengkhitbah Ustadazah?, Dalam hal ini saya serius ustadazah, saya tidak akan main-main" ujar Dika meyakinkan Nina, Nina yang yang merasakan keseriusan Dika akhirnya buka suara.
"Maaf akhy, ana tidak bisa menjawabnya sekarang karena, diri ini bukan hanya milik ana seorang, Jadi mintalah pada Sang Pemilik-Nya, dahulu dan setelah itu, akhy juga harus meminta juga pada orang tua ana, kalau mereka menerima maka itulah jawaban ana" ujar Nina dengan suara lembutnya, Namun perkataan Nina membuat Dika bingung.
"Eh bukankah dia tadi bilang dia tidak memiliki calon, tapi kenapa harus meminta pada pemiliknya , Dia milik siapa? dan sepertinya dia itu lebih tinggi derajatnya dari orang tuanya"\_Batin Dika bingung
"Maaf, Ustadazah saya tidak paham dengan perkataan ustadazah tadi? dan saya juga bingung, tadi bukankah ustadazah mengatakan belum memiliki calon suami? jadi apa maksud tadi saya harus minta pada pemilik ustadazah?" tanya Dika yang memang ia sangat bingung.
"kalau akhy tidak paham coba akhy bertanya pada Ustadz Khairul nanti" bales Nina membuat Dika semakin penasaran.
"Kenapa harus bertanya pada Ustadz, kenapa tidak ustadazah saja yang menerangi" ujar Dika lagi.
"Tidak Akhy, sebaiknya akhy bertanya pada beliau karena akan menambah ilmu buat akhy juga" bales Nina lembut.
"Baiklah kalau begitu nanti akan saya tanyakan pada Ustadz Khairul." ucap Dika pasrah, dan tak lama mereka pun sampai di Area pondok pesantren An Nur mobil juga sudah masuk di dalamnya, berhenti tepat di pondok utama ya itu rumah ustadz Khairul.
Dan kebetulan Ustadz Khairul sedang duduk-duduk bersama umi syadiah di teras rumah.
Nina dan Dika pun turun dari mobil.
"Assalamualaikum umi, Abi Ustadz" Salam Nina terlebih dahulu.
"Wa'alaikumus salam nak, " jawab keduanya
"Kamu sudah pulang nak" tanya umi pada Nina,
"Sudah umi.. kalau gitu Nina kembali ke pondok santriwati ya umi" Pamit Nina sepertinya ia tak ingin berlama-lama di sana.
"iya nak pergilah" bales umi
"Assalamualaikum, Abi Ustadz, umi, " salamnya kembali..
__ADS_1
"Syukron Akhy dokter sudah antar ana, kalau gitu ana pamit juga Assalamualaikum" uajarnya pada Dika dan di akhiri salam
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" Bales mereka, setelah di jawab salam nya Nina pun pergi meninggalkan mereka, sementara Dika tanpa sadar masih memperhatikan Nina yang berjalan menuju pondok khusus santriwati. hingga ia di kejutkan oleh sua deheman.
"Ehem, ehem ehem" yang ternyata suara berasal dari ustadz Khairul.
"Eh, hehehe Ustadz " Dika terkekeh di buat-buat karena malu. terpergok sudah curi pandang pada Nina.
"Kalau punya Niat di minta pada pemilik-Nya" ujar Ustadz Khairul, dan perkataan itu mengingatinya dengan perkataan Nina tadi.
"Nah itu dia Ustadz ana mau menanyakan itu" bales Dika tanpa Ragu
"Wah, sepertinya seru nih, nak dokter nampaknya lagi semangat 45 ya" ledek Ustadz Khairul, yang ternyata ia juga bisa bercanda.
"Eh hehehe.. Ustadz.?, Dika jadi malu deh" ujarnya sembari cengengesan.
"Nggak usah malu sini duduk mau tanya apa nak, eh tunggu dulu, umi bikinkan teh manis buat nak dokter ya" ujar Ustadz Khairul mempersilahkan Dika duduk, dan juga meminta umi membikinkan minuman.
"Iya by, ya sudah umi kedalam dulu ya by, nak dokter" pamit umi syadiah.
"iya umi" bales mereka. setelah umi syadiah masuk Dika pun langsung buka suara.
"Boleh tapi ada syaratnya" bales Ustadz Khairul.
"Ehุ. masa cuma minta supaya ustadz panggil nama Dika aja pakai syarat sih ustadz" protes Dika.
"Iya harus itu, biar sama-sama enak Nak Dokter" bales Ustadz Khairul, yang sepertinya sengaja menekan kata nak dokter.
"Baiklah Ustadz, apa syaratnya?" ujar Dika pasrah.
"Syaratnya panggil saya Abi saja, gimana mau tidak?" tanya Ustadz Khairul sambil tersenyum melihat Dika tadi seperti ada ketakutan kalau-kalau sang ustadz memberi syarat yang berat.
"Eh hanya itu? oke deh ust, eh Abi dengan senang hati Dika akan memanggil Abi ujar Dika senang.'
" Ya sudah sekarang nak Dika mau tanya apa ? tanya Ustadz Khairul, namun belum sempat di jawab oleh Dika, Umi syadiah sudah datang dengan membawa teh manis, berserta cemilan.
"Di minum tehnya nak dokter, " Ucap umi syadiah, sembari menyodorkan gelas berisikan teh manis kepada Dika.
"Terimakasih miุ eh, tapi jangan panggil nak dokter mi, panggil Dika saja ya mi" ujar Dika pada umi syadiah.
__ADS_1
"Baiklah nak Dika, ya sudah kamu ngobrol sama Abi dulu ya umi masuk ya nak?" bales sang umi
"Iya Umi sekali lagi terimakasih" Bales Dika juga. lalu sang umi pun masuk tinggallah Dika dan Ustadz Khairul.
"Lanjutkanlah apa yang ingin kau tanyakan tadi?" Ustadz Khairul melanjutkan percakapan tadi.
"Abi, tadi saat saya mencuri pandang pada Ustadazah Nina, Abi mengatakan mintalah pada pemiliknya, dan sebenarnya tadi ke Tika di mobil, ustadazah Nina juga mengatakan itu Abi, tapi saya tidak mengerti" ujar Dika menceritakan juga kala ia semobil dengan Nina
Ustadz Khairul tersenyum mendengar perkataan Dika
"Ma syaa Allah, sepertinya Abi tadi benar ya, bahwa nak Dika sudah memiliki niat yang baik terhadap Nina kan?" Tanya Ustadz Khairul
"Iya Abi, saya ingin serius padanya" jawab Dika mantap.
"Alhamdulillah Abi senang mendengarnya nak" ujar Ustadz Khairul lagi.
"Iya Abi, tapi saya tak paham apa yang di maksud Meminta pada pemilik nya" kata Dika lagi masih penasaran.
"Nak, tubuh ini jiwa ini adalah milik Allah dan Dia menitipkan kepada Kita sebagai Amanah, kemana akan kita bawak, apakah untuk menuju kebaikan, ataukah menuju keburukan itu tergantung kita nak, maka saat ia mengatakan mintalah pada pemiliknya, itu menandakan Nina ingin kamu Meminta pada Rabb nya nak, agar pilihan mu tidak salah maka istiqorohlah nak dan minta petunjuk dari Allah" penjelasan Ustadz Khairul, membuat Dika malu, karena selama ini ia merasa tubuhnya adalah miliknya.
"Astaghfirullah, saya malu Abi, saya salah selama, ini mengira tubuh ini milik saya hingga saya telah banyak berbuat dosa Abi" Ujar Dika dengan penuh penyesalan
"Alhamdulillah, ternyata Allah masih menjaga hati mu, hingga kamu masih merasa malu dan menyesal, itu tandanya Allah masih sayang pada mu nak, dan ingin engkau kembali kejalannya, dengarlah nak semua manusia memiliki kesalahan tapi yang paling baik adalah yang mau bertaubat, seperti di dalam hadits:
"Setiap manusia pernah berbuat salah.
namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat".
( HR. Tirmidzi no. 2499 )
"maka sekarang perbaikilah hubungan mu pada Rabb mu, maka ia akan memberikan yang terbaik untuk mu juga" ucap Ustadz Khairul penuh dengan Nasehat, membuat Dika menjadi tersentuh dan ingin banyak belajar tentang agama.
"in syaa Allah Abi, Dika akan berubah menjadi orang baik, dan Dika juga minta bantuan sama Abi untuk ngajarin Dika ya?"
"iya nak in syaa Allah, dengan senang hati"
**BERSAMBUNG
Maaf ya all sekarang updatenya agak lama, itu karena diriviewnya yang sekarang lama ๐
Tidak seperti kemarin-kemarin, jadi Author berharap para Readers mau bersabar menanti kelanjutan ceritanya ya..
Jangan lupa ya..
VOTE~\> Hadiah buat Author yg puas akan novel ini
LIKE~\> Pemicu semangat Author
__ADS_1
KOMENTAR~\> Pemicu Inspirasi buat Author**