CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
MAAF SYSIFA


__ADS_3

Wira begitu sedih karena Asyifa sama sekali tidak menanggapinya bahkan ia tak mau melihat Wira sedikit pun, dengan langkah gontai ia pun berjalan menuju pintu tanpa ingin melihat kebelakang lagi, namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena mendengar suara lirih dari belakangnya.


"Maaf.." suara yang terdengar sangat lirih


"Maaf akhy.." suara itu terdengar lagi, membuat Wira dengan reflek membalikkan badannya...


"Asyifa..? Alhamdulillah.." ucap Wira sambil melangkah perlahan mendekati Asyifa kembali, ia begitu senang mendengar Asyifa mengeluarkan suaranya.


"Tidak, kamu tidak salah Syifa, akulah orangnya yang paling bersalah.. maafkan aku Syifa " ucap Wira sambil berlutut dan nyatukan kedua tangannya.. Asyifa yang melihat itu terkejut..


"Tidak Akhy, jangan seperti itu..ana tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, bangunlah akhy.." Ucap Asyifa sedikit panik melihat Wira yang berlutut untuknya.


"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku Syifa.."ucap Wira masih kekeh berlutut.


"Tidak ada yang perlu di maafkan akhy, justru ana yang bersalah, karena sudah menyalahkan akhy, atas takdir yang berikan Allah kepada ana dan nenek anak hiks.. maaf " Ucap Asyifa dengan suara bergetar dan tanpa terasa air matanya mengalir, melihat Asiyfa menangis Wira pun berdiri dan mendekati Asiyfa.


"Asyifa.. jangan menangis lagi, aku nggak tahan melihat mu menangis Syifa..kamu nggak salah kok, Syifa, kamu benar, seandainya waktu itu aku tidak muncul dan mendengar kamu mengaji, mungkin kamu tidak akan seperti ini, dan mungkin..ne..nek kamu tak akan per..gi.. maaf Syifa.. Maafkan. aku" ucap Wira dengan suara bergetar dan sedikit terbata karena menahan tangis. Namun tak berhasil karena air matanya pun lolos.


"Tidak hiks, akhy tidak..salah hiks itu memang..hkis kehendak Allah..dan ana hiks..akan berusaha.. ikhlas.. Syukron sudah..hiks menjaga ana..dan merawat ana..hiks.." bales Asyifa sambil menundukkan kepalanya dengan tangisnya yang tak mampu terbendung lagi.


"Jangan berkata begitu Asyifa, apa kamu lupa, aku siapa?..aku suamimu sekarang Asyifa, jadi sudah kewajiban ku untuk menjaga dan merawat mu, jadi kamu tidak perlu berterimakasih padaku Syifa" ujar Wira sambil memberanikan diri menghapus air mata Asyifa.


"Jangan menangis lagi Syifa, aku sedih bila melihat mu menangis, sekarang istirahatlah kamu pasti masih lemaskan?, Atau kamu mau makan dulu aku suapi ya? Lanjut Wira, tapi di tanggapi dengan gelengan kepala.


"Ya sudah kalau kamu tidak ingin makan, sekarang istirahatlah, agar besok kamu akan semakin membaik" tambah Wira lagi, dan sambil membenarkan selimut Asyifa, belum berani melakukan yang lainnya dan Asyifa pun mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


"Maaf Asyifa, aku tahu pernikahan kita begitu mendadak dan pasti membuat mu merasa aneh, bagemana tidak aku yang orang asing tiba-tiba menjadi suamimu, Maaf Asyifa aku sudah merubah hidup mu dalam sekajap, tapi aku janji akan membayarnya dengan kebahagiaan,_ ucap Wiraxsana di dalam hatinya.


Saat di rasanya Asyifa sudah terlelap dengan nyenyak, Wira pun memberanikan dirinya untuk mengecup kening Asyifa dengan lembut.


"Selamat malam istri kecilku, semoga kamu bermimpi indah, dan semoga Kesedihan hari ini berganti kebahagiaan pada hari esok" gumam Wira saat setelah mengecupnya sang istri kecilnya.


Cukup lama Wira memandangi istrinya, ada perasaan lega karena melihat Asyifa yang sudah sadar, jadi saat memandang istrinya tanpa terasa ia pun tertidur dengan posisi duduk berbantalkan tangan kirinya yang bertumpu di pembaringan sisi kanan Asyifa sedangkan tangan kanannya memegang tangan kanan Asyifa. Ruangan itu kini kembali hening, karena penghuninya sudah memasuki Alam mimpinya masing-masing.


_______


04:30


Malam pun terlewatkan dan kini menjelang subuh, Asyifa yang sudah terbiasa bangun jam segitu, Agak sedikit tersentak karena saat membuka matanya ia melihat Wira yang masih tertidur dengan menggenggam tangannya.


"Astaghfirullah..apakah ia tidur seperti ini semalaman?, ya Allah maaf karena hati hamba belum menerima kehadirannya sebagai suami hamba, tapi hamba mohon luluhkanlah hatiku agar bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah pilihan Mu, yang terbaik untuk ku" ucapan Asyifa di dalam hatinya, sambil matanya memperhatikan Wira yang sedang tertidur pulas,


"Eh, m..maaf akhy s.sudah membuat mu terbangun" ucap Asiyfa gugup karena canggung..


"Hmm tidak papa Ara..eh Syifa justru aku yang minta maaf karena telah lancang menggenggam tangan mu" bales Wira yang sedikit canggung juga.. namun tak di bales oleh Asyifa, ia malah seperti berusaha ingin bangun.


"Eh, kamu mau ngapain Ara? eh Syifa?" tanya Wira agak bersalahan memanggil Asyifa, sebenarnya ia ingin memanggil Asyifa, Ara tapi waktu Asyifa sadar ia memanggil Ara sepertinya malah membuat Asyifa sedih karena ia teringat dengan neneknya yang hanya neneknyalah yang memanggil Asyifa, "Ara".


"eng..itu..ana i.ingin..ke..k..kamar..m..mandi" bales Asyifa gugup dan ia tertunduk malu, Wira yang tahu kalau istrinya sedang malu, ia pun tersenyum.


"Aku bantu yaa..kakimu kan masih sakit, jadi biarkan aku membantu mu ya Syifa?" ujar Wira lembut..

__ADS_1


"Eh..ti.tidak..a.ana..bi.sa sendi...."


"Sssth, menurutlah,, ingat kita sudah sah menjadi suami, istri, dan sudah halal bila saling bersentuhan, jadi jangan merasa canggung dan malu terhadap ku Syifa, " ucap Wira lembut memotong perkataan Asyifa tadi.


"hmm..ta..tapi..Aakh..tu..turuni..ana.." saat Asyifa ingin membalas perkataan Wira, ia malah terpekik kaget karena Wira tiba-tiba sudah menggendong dirinya,


"Sssth, nanti ada yang mendengar, berpikir kita melakukan yang aneh-aneh loh.." goda Wira, membuat Asyifa malu dan menyembunyikan wajahnya ke dada bidang wira dengan pasrah. membiarkan dirinya di gendong oleh Wira.


Wira yang melihat wajah istrinya memerah karena malu tersenyum senang, lalu ia berjalan menuju kamar mandi, dan sesampainya dikamar mandi ia menurunkan Asyifa di sebuah kursi yang sudah ia persiapkan untuk Asyifa, agar ia tak terlalu mengerakkan kakinya..


" Sudah sampai Asyifa.." ucap Wira membisikkan keteli ga Asyifa, karena ia belum melepaskan pegangannya di leher Wira dengan wajah yang masih di sembunyikan di dada Wira..


Saat mendengar bisikan Wira, sepontan Asyifa melepaskan pegangannya. dan wajahnya yang semakin memerah, membuat Wira gemas melihat istri kecilnya, ingin rasanya ia mencubit gemas pada Asyifa, tapa ia tahan karena Asyifa masih menjaga jarak padanya makanya menurutnya belum saatnya ia berharap lebih.


"Eh.. maaf..eh te.. terimakasih " balesnya gugup, karena sedari tadi dadanya gemuruh tidak menentu..


Dag...Dig....Dug..Dag..Dig...Dug..Dueerr..


**BERSAMBUNG AKH, 😜😜



biar para reders ikutan dag, dig. dug..duer😁😁


terimakasih ya yang masih setia menanti C.S.S.

__ADS_1


dan Syukron yang sudah komen dan yang memberikan likenya, dukung terus ya..πŸ™πŸ˜Š


karena dukungan kalian adalah penyemangat Author πŸ˜‰**


__ADS_2