
◎❅❀❦||🌹 MUTIARA HIKMAH 🌹 ||❦❀❅◎
"Mungkin kita takkan pernah MENGERTI apa yang terjadi dikemudian hari,
JANGAN pernah berhenti untuk PERCAYA bahwa setiap PERBUATAN pasti akan menghasilkan buah, maka ingat selalu jangan pernah berhenti untuk BERSYUKUR,
Serta tetaplah berusaha berbuat BAIk,walau pun belom baik, jangan pernah dengar apa yang mereka bilang tetang kamu yang tau hatimu kan hanya ALLAH,,
Semoga kita selalu dalam keadaan bahagia,sehat, Istiqomah dan bersyukur,, Aamiin Ya Rabbal A'lamiin 💕🙏
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ___
❅❀❦◎❅❀❦◎❅❀❦💜❦❀❅◎❦❀❅◎❦❀❅
"Nadziha?!" Andi tersentak kaget saat ia melihat istrinya, yang berdiri tak begitu jauh dari belakangnya, dengan tatapan yang terlihat ada kesedihan dan marah.
"Kenapa kaget?, karena melihat ada Ziha disini iya Mas?, dan kenapa tidak di jawab pertanyaan Ziha, itukah alasan kamu mas, tidak bisa mengantar Ziha kerumah sakit, karena kamu sedang sibuk mengantar wanita yang pernah kamu cintai, dan apakah yang ada di perutnya anak kamu mas?" Tanya Ziha dengan sorot mata yang menyelidik.
"Sayang kamu jangan berpikir macam-macam, Mas hanya menolongnya atas permintaan ayahnya Mirna dan Mas..." Ucapannya Andi langsung terpotong oleh Nadziha.
"Oh iya atas permintaan ayahnya, tapi Ziha lihat Mas terlihat panik, seakan dia adalah istrinya Mas, kalau sama Ziha Mas terlihat cuek tuh!." Potong Nadziha yang nampak ada kemarahan dalam matanya.
"Nad, Mas mohon percayalah, Mas hanya sekedar membantu dia, tidak ada maksud apa-apa Nad, kalau kamu tidak percaya tanya pada Beny." Jelas Andi sambil ia berjalan mendekati Nadziha.
" Ben!, jelaskan pada istriku cepat!" Titah Andi pada Beny, yang memang kebetulan berada di dekat mereka
"Nggak perlu!, ya sudah kalau memang begitu, mas lanjutkan saja sana!, Ziha mau pulang saja, Assalamu'alaikum." Kata Nadziha langsung pergi sebelum Andi sampai kepadanya.
__ADS_1
"Sayang, tunggu!" panggil andi yang kemudian ia mengejar Nadziha, sampai akhirnya ia dapat meraih tangan Nadziha.
"Ada apalagi Mas?, bukankah kamu mau mengurus dia, pergilah, biarkan Ziha mau pulang sendiri!." Ujar Nadziha datar, sambil ia berusaha melepaskan tangannya dari Andi.
"Sayang, kamu kok gini sih?, kamu marah ya sama Mas?" Tanya Andi yang masih berusaha menahan tangan Nadziha yang masih berusaha melepaskan dirinya dari tangan Andi.
"Marah untuk apa?, sudahlah Mas, sana pergi mantan kamu pasti membutuhkan kamu tuh!" Ujar Nadziha ketus, yang kemudian ia langsung hendak pergi saat tangannya telah terlepas dari Andi, Namun tertahan kembali, karena Andi memeluknya dari belakangnya.
"Sayang, kamu lagi cemburu yaa?." Tanya Andi sedikit berbisik.
"Eh, apaan sih!, siapa juga yang cemburu!." Balas Nadziha ketus.
"Tapi sayang Mas suka kok, tau kenapa?, itu menandakan cinta kamu semakin besar pada Mas." Kata Andi sembari ia mengecup puncak kepala Nadziha.
"Iss, Gr!, orang Ziha nggak cemburu pun!." Balas Nadziha "Mas lepas!, malu tau' di lihat orang." kata Nadziha lagi yang masih berusaha melepaskan pelukan Andi.
"Biarin mereka lihat, Mas tidak akan melepaskan kamu, sebelum kamu berhenti marah pada Mas." Kata Andi yang masih mempertahankan lingkaran tangannya yang berada di perut besar Nadziha.
"Alhamdulillah." Ucap Andi lalu ia pun melepaskan lingkaran tangannya " Oh iya apakah kamu sudah jadi periksa kandungan kamu Nad?, " Tanyanya sambil ia membalikkan tubuh Nadziha agar mereka saling berhadapan.
"Belum!" Balas Nadziha masih sedikit ketus.
"Loh kok belum, kenapa sayang?" Tanya Andi penasaran.
"Sudah hilang moodnya, setelah melihat seseorang lebih mengutamakan orang lain, dari pada istrinya sendiri, kalau sama istrinya bilangnya nggak sempat selalukan?, jadi mungkin yang di sini bukan anaknya kali!" Kata Nadziha ketus dan terlihat juga di matanya sudah berkaca-kaca, dan kemudian ia langsung berjalan dengan cepat meninggalkan Andi.
"Astaghfirullah!, kamu kok ngomong seperti itu sih Nad?," Tanya Andi yang kembali ia mengejar istrinya yang terlihat berjalan begitu cepat, Namun dengan cepat Andi kembali meraih tangannya.
__ADS_1
"Lepas Mas!, Ziha mau pulang!" Kata Nadziha yang kembali berusaha melepaskan tangannya yang sudah di genggam oleh Andi.
"Sayang Maafkan Mas, hari ini memang sebenarnya Mas ada meeting tapi karena Ayah Mir.." Jelas Andi namun di potong oleh Nadziha dengan
"Sudahlah Mas!, Jangan beralasan lagi, bukan hari ini sajakan kamu seperti itu, bulan-bulan kemarin jugakan, kamu seperti tidak peduli dengan anak kita!" Kata Nadziha yang akhirnya Air matanya lolos hingga terlihat di kain hitam yang menutupi wajahnya basah, saat ia mengeluarkan unek-unek yang selama ini tersimpan, Awalnya ia memaklumi kesibukan Andi, namun setelah hari ini dan apalagi saat ia melihat perut Mirna yang besar dan di tambah melihat kepanikan Andi saat memanggil para suster, membuat Nadziha sedih dan marah.
"Astaghfirullah sayang, kata siapa Mas tidak peduli pada anak kita, lalu untuk apa Mas bekerja seperti ini kalau bukan untuk kalian sayang." Jelas Andi dengan lembut.
"Maafkan Mas, kalau disaat jadwal kamu priksa Mas nggak bisa nemanin itu karena memang tuntutan pekerjaan terlalu padat sayang, tolong ngertiin Mas, dan hari ini mengapa Mas di sini, itu karena pak Rojak, meminta Mas untuk membalasan Budi karna Mirna pernah menolong Mas, jadi untuk itu mas lakukan agar dia tidak menuntutnya lagi tentang balas Budi itu Sayang, dan Mas juga tidak mau terikat, jadi pahamilah dan jangan berpikir yang tidak-tidak sayang, karena setelah kita menikah tidak ada sedikitpun, hati ini berpikir tentang wanita lain lagi, karena bagi Mas kamu adalah paket yang komplit, bidadari Mas di dunia dan in syaa Allah juga di akhirat, sayang." Jelas Andi lagi panjang lebar.
Mendengar penjelasan Andi seketika Nadziha langsung memeluk suaminya, dan ia pun menangis di dadanya Andi tanpa mengatakan apapun. dan Andi memakluminya,
"Maafin Mas ya, karena kesibukan Mas, kamu merasa terabaikan oleh Mas, " Kata Andi lagi seraya ia mengecup puncak kepala Nadziha.
"Hu'um, hiks..Ziha juga minta maaf, hiks..karena sudah su'uzon sama emas hiks..." Ujar Nadziha yang masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
"Iya sayang, mas memaklumi itu kok, siapapun pasti akan marah bila melihat suaminya, melakukan apa yang mas lakukan tadi." Balas Andi lembut sambil mengelus punggung Nadziha.
"Iya Apalagi kalau wanitanya yang di tolong pernah singgah di hati suaminya, siapa juga yang tidak kesal hiks...hiks" Gumam Nadziha lirih yang di sertakan oleh Isaknya, Namun gumamnya masih terdengar oleh Andi.
" Iya mas yang salah, Maafin Mas ya, jangan menangis lagi dong sayang, kan nanti anak kita ikut sedih juga." Kata Andi lagi.
"Iya nggak nangis lagi." Balas Ziha.
"Nah gitu dong sayang, ya sudah sekarang kita periksa kandungan kamu yuk." Ajak Andi dan di anggukkan oleh Nadziha, dan di saat mereka hendak berjalan tiba-tiba..
"Aaakh!!"
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏 Syukron 🙏.